
Hari ke 3 Stevent di rumah Sakit, Nisa telah menghubungi Semua kenalannya sesama Kedokteran, namun hasilnya nihil. Ia menghabiskan hari - hari bersama Stevent di rumah Sakit.
Nisa selesai sholat Dhuha di sudut kamar, ia membaca Alquran dengan suara lembut di telinga Stevent, karena Nisa tahu indera pendengaran Stevent berfungsi walaupun ia sedang tidur.
Terdengar nada panggilan dari ponsel Nisa, ia menyelesaikan bacaan Alquran. Nisa berjalan mendekati meja tamu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
Sebuah nama muncul di layar ponsel Nisa " Dokter Aisyah" .
" Masya Allah, Dokter Aisyah" gumam Nisa, ia segera menggeser kan icon hijau pada layar ponsel.
" Assalamualaikum Dokter Aisyah" suara lembut Nisa memulai panggilan.
" Waalaikumsalam, Nisa apa kabar?"
"Alhamdulilah Nisa sehat Dok, Dokter apa kabar ?" Nisa balik bertanya.
" Alhamdulilah sehat, Nisa saya mau mengucapkan selamat atas pernikahan kalian dan mohon maaf saya tidak bisa hadir, karena desa terkena bencana, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, Aamiin"
"Terimakasih, Dok, bencana apa yang melanda Desa?"
"Angin ****** beliung, merobohkan semua pohon dan tiang listrik, hampir 3 hari ini Desa terisolir, tidak ada listrik dan jaringan "
" Innalilahi wainnailaihi, bagaimana keadaan disana?" Nisa khawatir.
" Alhamdulilah, tidak ada korban, angin hanya menghantam pohon, tiang listrik dan tower" jelas Dokter Nisa.
Terdengar ketukan pintu,
" Dokter ada yang datang, nanti saya akan menghubungi Dokter lagi" ucap Nisa berjalan mendekati pintu.
" Baiklah, assalamualaikum " Dokter Aisyah memutuskan panggilan.
Nisa membuka pintu dan melihat seorang perawat.
" Selamat Pagi Dokter Nisa" sapa perawat.
" Pagi, silahkan " ucap Nisa.
" Saya hanya mengantar seorang ahli kimia, ia mengatakan mengenal Anda dan akan membantu mengobati Tuan Stevent " ucap perawat tersenyum Berjalan masuk ruangan.
Nisa sedang berpikir untuk menebak ahli kimia yang perawat maksud.
" Tidak mungkin Nathan kan?" pikir Nisa ia menoleh ke pintu seorang pria dengan Stelan putih telah berdiri di pintu.
" Nathan " Nisa terkejut hingga ia mundur beberapa langkah dari pintu.
" Terimakasih, Anda telah mengantarkan saya , Anda boleh pergi " Nathan melihat ke arah perawat yang Terus tersenyum karena terpesona oleh ketampanan Nathan.
__ADS_1
" Baik Tuan saya permisi" perawat meninggalkan ruangan. Nisa menatap tajam ke arah Nathan, ia harus mengawasi Nathan dan menjaga jarak.
" Nisa, apa kabar?" Nathan duduk di sofa.
" Kenapa kamu datang ke mari?" Nisa melirik Stevent, ia tahu Stevent pasti dapat mendengarkan suara Nathan dan dirinya.
" Aku telah menghubungi dirimu, tetapi kamu tidak menjawab panggilan dariku, dan aku telah menunggu dirimu selama tiga hari tapi kamu tidak menghubungi diriku" Nathan menatap tajam ke arah Nisa.
" Kenapa kamu melakukan ini kepada Stevent?" tanya Nisa berusaha tetap tenang.
" Karena dia merebut dirimu dariku " tegas Nathan beranjak dari kursinya berjalan mendekati Nisa.
" Aku akan mengatakan sesuatu kepada dirimu " Nathan memainkan ujung jilbab Nisa dengan jarinya.
" Setelah satu Minggu, Stevent tidak akan pernah bangun lagi" lanjut Nathan, ia menarik ujung jilbab Nisa dan menciumnya.
Nisa menarik jilbabnya dan mundur satu langkah.
" Apa kamu takut padaku?" Nathan menatap tajam Nisa, kembali memainkan ujung jilbab Nisa, memutar-mutar dengan jarinya hingga bergulung.
Nisa hanya terdiam
" Ya Allah lindungilah hambaMu, apakah aku harus bersikap kasar untuk melindungi kehormatan diriku?" Nisa berbicara dalam hati.
" Nathan pergilah dari ruangan ini, Kamu tidak pantas berada di sini !" tegas Nisa kembali menarik jilbabnya dan pindah mendekati Stevent.
" Dia adalah suamiku dan dia adalah jodoh ku" tegas Nisa menggenggam tangan Stevent.
" Dia tidak bisa melindungi dirimu " Nathan mencengkram leher Stevent.
" Apa yang kamu lakukan " Dengan sigap Nisa menarik tangan Nathan dan mendorong tubuh Nathan hingga terjatuh kelantai.
Nathan tidak siap, ia tidak menyangka Nisa akan merobohkan dirinya untuk melindungi Stevent.
" Jangan Sentuh suamiku" tegas Nisa.
" Tidak ku sangka kamu akan melawan ku untuk melindungi pria tidak berdaya ini" Nathan beranjak dari lantai merapikan jas putihnya dan mendekati Nisa.
" Nathan pergilah dari hadapan ku, kamu bukan lagi Nathan yang dulu" Nisa menatap sedih dan kecewa, ia mengikat gamisnya, Nisa selalu menggunakan celana panjang di dalam untuk perlindungan diri ketika ia harus berkelahi.
" Hei, apa yang kamu lakukan, apa kamu akan memukulku?" Nathan menatap Nisa.
" Jika untuk melindungi kehormatanku dan suamiku, apapun akan Aku lakukan" Nisa menatap tajam menyembunyikan kebencian kepada Nathan.
" Nisa, aku tidak ingin menyakiti dirimu, aku mencintaimu" Nathan berjalan mendekat.
" Jangan melangkah lagi !" Nisa telah siap dengan posisi kuda - kuda untuk tendangan atas.
__ADS_1
Nathan melangkah mendekati Nisa, dan tendangan dari Nisa mendarat di perut Nathan membuat Nathan mundur beberapa langkah,
Nisa telah menghapus rasa kasihan di hatinya demi menjaga kehormatan dirinya dan suaminya. Nathan berjalan mendekati Nisa dan ingin menyentuh Nisa.
Tendangan berputar menghantam wajah Nathan hingga tersungkur ke lantai bibir Nathan berdarah ia tersenyum.
Nisa berusaha menahan air matanya, namun butiran bening berhasil melewati sudut mata Nisa, ia tahu Nathan tidak ingin melawannya, Nisa tetap terpaksa menyakiti Nathan agar Nathan membencinya.
" Tenyata sentuhan dirimu dapat menghancurkan diriku " Nathan tersenyum mengusap perih bibirnya yang berdarah.
" Pergilah dari hadapan ku !" Suara Nisa tertekan, ia tidak ingin menyakiti siapapun.
" Aku selalu mencintaimu" Nathan merapikan kemejanya keluar meninggalkan ruangan. Nisa bergegas mengunci pintu, melepaskan ikatan gamis dan terduduk lemas di depan pintu ia memeluk kakinya dan menangis.
Pertahankan Nisa roboh, sekuat dan segar apa pun Nisa, ia tetaplah seorang wanita berhati lembut, ia tidak ingin menyakiti Nathan. Nisa sesegukan sendirian di depan pintu.
Air mata seakan tidak ingin berhenti terus mengalir membasahi wajahnya, mata indah Nisa telah bengkak. Ia merasa bersalah telah menyakiti Nathan.
Seorang yang sedang terpejam mengalirkan butiran bening dari sudut matanya, ia menahan kekesalan Karena tidak bisa melindungi istri tercinta yang dengan susah payah ia dapatkan.
Nisa mengerikan matanya, ia segera mengambil ponsel di saku gamisnya, membuka panggilan terakhir dan menghubungi Dokter Aisyah.
Panggilan terhubung, Dokter Aisyah segera menjawab panggilan Nisa.
Nisa menceritakan penyakit suaminya, namun Dokter Aisyah tidak bisa ke kota karena tidak ada kendaraan yang keluar masuk desa karena bencana yang telah melanda Desa.
Salah satu cara cepat adalah Nisa harus membawa Stevent ke klinik Dokter Aisyah, ramuan tradisional hanya ada kebun milik Dokter Aisyah, jika tidak ada maka mereka harus mencari ke hutan.
" Baiklah Dokter, Nisa akan membawa Stevent ke klinik Anda sekarang juga" ucap Nisa ia menatap Stevent.
Nisa memutuskan panggilan, ia menghubungi Jhonny agar segera ke rumah sakit, Nisa harus membicarakan sebuah rencana untuk membawa Stevent ke klinik Dokter Aisyah tanpa ada yang tahu.
Seseorang harus berpura-pura menjadi Stevent dan Nisa berasa di dalam ruangan, tidak ada yang boleh tahu rencana mereka. Nisa yakin Nathan memiliki mata - mata, Nisa tidak mau membuat Dokter Aisyah dalam bahaya. Perjalanan ke Desa sangat jauh dan membutuhkan waktu yang panjang.
Jhonny telah berada di ruangan, Nisa menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan, Stevent hanya memiliki waktu 4 hari lagi untuk membunuh virus dalam tubuhnya.
Rencana Segera di laksanakan, Perjalanan berbahaya pasangan pengantin baru menuju klinik Dokter Aisyah yang berada pada sebuah Desa terpencil dan terisolir di kaki bukit jauh dari keramaian kota akan segera di laksanakan.
*
*
*
🤗 Thanks for Reading ♥️
Jangan lupa like dan komentar, dikasih Vote alhamdulilah 😘
__ADS_1
♥️ Love You Readers 💓 Terimakasih 🤗