
Azan subuh berkumandang, Afifah terbangun dan tersenyum memandang wajah tampan Nathan yang masih terpejam. Jari lembutnya menyentuh hidung mancung suaminya. Dengan sigap pria itu menarik jari Afifah dan memasukan ke dalam mulutnya.
“Nathan, kamu jorok.” Afifah berusaha menarik tangannya tetapi pria itu segara memeluk tubuh istrinya.
“Apa kamu belum puas memandang wajahku? Kamu boleh menggigit hidungku.” Nathan mengeratkan pelukkannya.
“Sayang, waktunya subuh.” Afifah tersenyum.
“Oh My God, kamu sangat menggoda.” Nathan mencium bibir Afifah.
“Nathan, aku belum gosok gigi.” Afifah menutup mulutnya.
“Aku tidak perduli.” Nathan kembali mencium bibir Afifah.
“Bangunlah, kita harus salat subuh.” Afifah menyentuh pipi Nathan.
“Hmm.” Nathan mencium tangan Afifah yang telah duduk.
Sepasang pengantin baru beranjak bersama dari tempat tidur untuk menjalankan perintah Tuhan, meletakkan kepala pada sajadah yang sejuk, merasakan pelukan dan belaian dari tangan lembut pemilik Alam Semesta. Rutinitas sebagai pasangan suami istri melaksanakan ibadah bersama terasa sangat indah.
“Kamu mau kemana?” Nathan melihat Afifah yang akan keluar dari kamar.
“Aku akan ke dapur, apa kamu tidak mau memakan masakan ku?” Afifah menatap Nathan.
“Sayang, sudah aku katakan kamu tidak boleh keluar kamar tanpa diriku.” Nathan memeluk tubuh Afifah dari belakang.
“Apa aku harus berada di kamar sepanjang hari ketika kamu bekerja?” tanya Afifah.
“Kamu akan ikut kemanapun aku pergi dan aku akan mengikuti dirimu.” Nathan memutar tubuh Afifah.
“Bagaimana dengan kuliahku?” tanya Afifah lagi, ia merasa suaminya sudah mendekati sikap posesif.
“Aku akan menemani kamu di kampus.” Nathan tersenyum.
“Baiklah, apa kita bisa keluar kamar sekarang?” Afifah tersenyum, ia mulai khawatir dengan sikap Nathan.
“Tentu saja Sayang, tunggu sebentar.” Nathan mengambil ponsel dirinya dan milik Afifah.
Afifah memperhatikan Nathan, ia tahu pria itu sangat disiplin dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna dan rapi, tidak ada yang dilupakan. Wanita itu bahkan tidak berpikir untuk terus membawa ponselnya.
“Ayo.” Nathan menggandeng tangan Afifah menuruni tangga bersamaan.
Pria itu duduk di dapur dan memperhatikan Afifah yang sedang memasak dibantu oleh dua orang pelayan, ia tidak perlu masak banya hanya untuk mereka bertiga. Sesekali Nathan melihat layar ponselnya dan membaca pesan masuk melalui email. Tidak butuh waktu lama makanan telah tersedia di atas meja dengan tiga piring dan gelas.
“Apa kamu menyiapkan untuk tiga orang?” Nathan memperhatikan meja makan.
“Ya.” Afifah tersenyum,
“Kita hanya akan makan berdua.” Nathan menyingkirkan piring dan gelas yang telah Afifah siapkan.
“Bukankah ada Roy?” Afifah menatap Nathan.
__ADS_1
“Apa kamu mengingat Roy?” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Tunggu dulu, apakah pria ini cemburu hanya dengan menyebut nama pria lain?” Afifah berbicara di dalam hatinya.
“Nathan, bukankah dia selalu ada di dekat kamu, tentu saja aku akan ingta namuanya.” Afifah berhati-hati.
“Kamu tidak perlu mengingat pria lain!” Nathan berbisik di telinga Afifah.
Afifah tidak mau berdebat ia segera duduk dan mengambilkan nasi untuk Nathan, meletakkan lauk pauk dan sayuran yang telah ia masak sendiri dengan tangan indah dan terampil. Pria itu terus memandangi setiap gerakan yang dilakukan istrinya. Seakan baru menyadari bahwa wanita itu sangat cantik dan menawan, sehingga ia sangat takut ada banyak pria yang akan jatuh cinta.
“Hey, makanlah.” Afifah melambaikan tangannya.
“Apa kamu tetap mau kuliah?” Nathan memegang tangan Afifah.
“Sekarang waktunya makan, kita bisa bahas setelah ini.” Afifah membaca doa dan mulai menikmati makanannya dengan tenang tanpa suara.
Mereka berdua telah menyelesaikan sarapan, Afifah mau membereskan meja makan tetapi tangannya segera ditarik Nathan keluar dari ruang makan, ia tahu wanita itu terbiasa melakukan semuanya sendiri.
“Biarkan para pelayan melakukan pekerjaanya.” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Baiklah.” Afifah menunduk.
“Kita akan pergi ke rumah sakit.” Nathan menarik tangan Afifah menaiki tangga kamar.
“Ya Tuhan, apa pria ini akan terus manarik tanganku?” Afifah bertanya pada dirinya sendiri.
“Nathan, akapan kita akan bertemu orang tua kamu?” tanya Afifah.
“Aku belum memberitahu mereka kepulangan kita.” Nathan tersenyum.
“Mengambil jasku dan tas dirimu.” Pria itu tersenyum, ia melepaskan tangan Afifah, mengambil tas berwarna merah, memasukan ponsel, obat dan dopet istrinya.
“AKu bisa melakukannya sendiri.” Afifah berjalan mendekati Nathan.
“Benarkah, bahkan dirimu bertanya untuk apa kita kembali ke kamar?” Nathan berbisik di telinga Afifah.
“Aku akan gosok gigi.” Afifah segera berjalan menuju kamar mandi.
“Pria ini sedang membuat diriku bergantung padanya.” Afifah membuka hijabnya, mengosok gigi dan mencuci wajahnya.
“Sayang, kenapa kamu lama sekali?” Nathan memeluk dari belakang dan mencium leher Afifah.
“Ya Tuhan, aku baru lima menit di dalam kamar mandi dia sudah menyusul.” Afifah menatap wajah basahnya di depan cermin.
“Apa kamu mau gosok gigi?” Afifah menggeliat, ia merasa geli.
“Ya, tunggu diriku.” Nathan tersenyum.
Afifah mengambil sikat gigi dan odol untuk Nathan. Wanita itu dengan setia menunggu suaminya menggosok gigi dengan salah satu tangan melingkar di pinggang istrinya. Ia tidak mau wanita itu keluar dari kamar mandi.
“Aku tidak akan keluar.” Afifah tersenyum melihat Nathan menyelesaikan aktivitasnya.
__ADS_1
Nathan mengambil hijab Afifah yang tergantung di kamar mandi dan membawanya keluar bersama, wanita itu duduk di depan cermin, memberikan perawatan pada wajahnya dalam beberapa langkah mudah. Ia hanya menggunakan cream dan serum untuk melindungi wajahnya, tidak ada make up sama sekali. Wajah terlihat segar alami.
Nathan memakai jasnya, ia melihat Afifah yang sedang menggunakan hijab segiempat berwarna peach serasi dengan gamis indah yang melekat pada tubuh ramping seksi berisi. Mata pria itu mengawasi istrinya.
“Aku sangat bingung dengan sikap pria ini.” Afifah melihat Nathan dari pantulan cermin.
“Apa kamu sudah selesai?” Nathan memeluk Afifah.
“Ya.” Afifah tersenyum dan beranjak dari kursinya mengambil tas berwarna merah yang telah Nathan siapkan. Kembali menuruni tangga berjalan bersama menuju garasi mobil. Roy melihat bos dan istrinya masuk ke dalam mobil dari kamarnya.
“Aku yakin Chandra dan Loly akan mencari Afifah.” Roy menatap Afifah dari kejauhan, ia sedang mempersiapkan jam tangan canggih untuk wanita itu yang terhubung langsung dengan ponsel dan computer Nathan dan dirinya.
“Nathan, kenapa kita kerumah sakit?” tanya Afifah.
“Aku mau bertemu dengan Valentino, ia menemukan racun baru yang belum pernah ada sebelumnya.” Nathan fokus menyetir.
“Kapan kita akan ke laboratorium?” Afifah tersneyum penuh semangat.
“Setelah bertemu dengan Valentino, kita akan langsung ke Laboratorium dna pabrik obat.” Natha tersenyum.
“Benarkah?” Afifah menyentuh paha Nathan dengan tangannya tanpa sengaja.
“Apa kamu mau bercinta di dalam mobil?” Nathan menghentikan mobilnya.
“Hah?” Afifah bingung.
“Sayang, apa yang tangan kamu lakukan?” Nathan melihat tangan Afifah yang masih di pahanya.
“Apa, aku hanya menyentuh paha kamu.” Afifah segera menarik tangannya.
“Apa kamu tidak tahu setiap gerakan dan sentuhan kamu sangat menggoda diriku?” Nathan tersenyum nakal dan kembali menjalankan mobilnya.
“Ya Tuhan, apa aku harus menjadi patung?” Afifah menoleh ke luar jendela.
“Sayang, dimanapun kita berada kamu tidak boleh jauh dariku dan terus bergandengan.” Nathan tersenyum.
“Bagaimana jika aku mau ke kamar kecil?” Afifah melihat pada Nathan.
“Aku akan menemani dirimu dan menunggu di depan pintu.” Nathan menoleh pada Afifah sekilas.
“Itu lebih baik daripada diriku di kurung di dalam kamar.” Afifah menarik napas panjang.
“Aku mulai khawatir pria ini benar-benar menjadi suami posesif.” Afifah memejamkan matanya.
Posesif adalah sifat yang membuat seseorang merasa menjadi pemilik. Dengan kata lain, orang dengan sifat ini merasa bahwa pasangannya adalah miliknya, sehingga ia akan melakukan apa pun agar tidak kehilangan pasangannya.
Ia akan mengontrol apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pasangannya dan merasa cemburu saat pasangannya tidak menurut. Sayangnya, beberapa orang menganggap sifat ini adalah bentuk perhatian meskipun sudah membuat hubungan tidak sehat.
***LoveYouAll***
Halo semuanya, berikan Like, Komentar dan Vote yaa, dukungan kalian sangat berarti buat Author, terimakasih.
__ADS_1
Baca juga Novel Author yang ada di Innovel berjudul “Unforgettable Lady” dan Novel kakak ku Nama Pena “Fitri Rahayu” di Noveltoon. Terimakasih.
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan, aamiin.