Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Rahasia Afifah


__ADS_3

Mobil sport merah terang telah memasuki parkiran yang masih sepi, pria tampan dan gagah datang terlalu pagi, ia sudah sangat merindukan canda, tawa dan marahnya Afifah. Nathan tidak lupa membawa sarapan untuk mereka berdua yang di masak oleh pelayan dari rumah.


Senyuman kebahagiaan menghiasi wajah pria tampan yang baru jatuh cinta kembali setelah terluka ditinggalkan Nisa. Wanita desa itu telah menaklukan pria kota yang terlihat ramah tetapi ada banyak rahasia kejam yang ia sembunyikan.


Nathan berjalan santai menuju ruangan Afifah, ia heran melihat pintu kamar yang telah terbuka sepagi ini.


“Afifah.” Nathan masuk ke dalam ruangan, melihat tempat tidur yang telah kosong dan rapi, ia berjalan menuju kamar mandi dan semakin khawatir karena tidak ada siapa pun di sana.


“Dimana Afifah? Apa dia jalan-jalan?” Nathan meletakkan bungkusan bekal makanan di atas meja, ia melihat dompet dan ponsel Afifah.


“Apa ini?” Nathan menggengam erat ponsel.


“Kemana kamu Afifah?” Mata Nathan memerah, urat wajahnya mengeras, ia terduduk di kursi samping tempat tidur.


“Siapa yang berani membawa kamu pergi dariku?” Nathan tersenyum sinis, ia beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruangan Samuel yang masih kosong.


“Oh shit.” Nathan melihat ponselnya yang telah mati kehabisan daya, ia segera mencharge menggunakan milik Samuel yang ada di ruangan.


“Kenapa Nayla selalu membuat diriku kehilangan orang yang aku cintai?” Nathan duduk di sofa menunggu Samuel datang.


“Aku tidak akan melepaskan dirimu Afifah, hidup atau mati kamu akan tetap menjadi milikku.” Nathan memejamkan matanya dan menenangkan diri untuk berpikir.


“Apa yang kamu lakukan di ruanganku sepagi ini?” Samuel masuk kedalam dan membuka jasnya.


“Periksa cctv di ruangan Afifah dan jalanan dekat rumah sakit!” Nathan memijit batang hidungnya.


“Wah, sepertinya raja kegelapan kehilangan ratu putihnya.” Samuel tertawa.


“Jika kamu mau kehilangan organ tubuhmu tertawalah!” Nathan menatap tajam pada Samuel.


“Baiklah, aku tidak berani aura kegelapan telah memenuhi ruangan ini.” Samuel duduk di kursinya dan mengaktifkan computer.


“Apa tidak ada perawat yang menghubungi dirimu?” tanya Samuel.


“Ponselku mati dan aku tertidur.” Nathan beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Samuel.


“Coba kita lihat.” Samuel mencari file ruangan Afifah.


“Apa? kamu bahkan memasang kamera di dalam kamar Afifah!” Nathan menarik kerah kemerja Samuel.


“Hei, lihat sudut kamera ini tidak bergerak hanya untuk pengawasan peralatan medis.” Samuel menepis tangan Nathan.


“Lihatlah!” Samuel menyingkir dari kursinya, ia bisa gila berada dekat pria yang sedang jatuh cinta berlebihan.


Nathan fokus pada layar computer, semua yang terjadi di ruangan hingga ketika dirinya meninggalkan Afifah untuk menemui Nayla. Senyuman Afifah meninggalkan ruangan dan mengambil semua formula Nathan.


“Gadis cerdas.” Nathan tersenyum.


“Senyuman yang mengerikan.” Samuel melirik Nathan .


“Aku bisa mendengarkan itu.” Nathan terus membuka rekaman kamera dan melihat Afifah berdiri di gerbang.


“Shit.” Nathan menepuk meja.


“Apa kamu mau menghancurkan mejaku?” Samuel berdiri dan berjalan mendekati Nathan.


“Kenapa Dokter Korea ini selalu ikut campur urusan diriku?” Nathan mengepalkan tangannya.


“Kim Min Jook, dia anak pengusaha asal Korea.” Samuel melihat Nathan.


“Apa mereka saling kenal?” tanya Samuel.


“Tidak, tetapi pria ini sedang mengisi kepolosan Afifah dengan kejahatan diriku.” Mata Nathan memerah.


“Kemana dia membawa bidadari desa?” Samuel tersenyum.


“Apa kamu sedang mengejek diriku?” Nathan menatap tajam pada Samuel.


“No.” Samuel mengalihkan pandanganya.


“Aku yakin, ia kembali ke desa dan di sana ada Roy.” Nathan tersenyum.


“Apa yang Roy lakukan di desa?” Samuel kembali ke Sofa.


“Menyelidiki masa lalu dan latar belakang wanitaku.” Nathan duduk di samping Samuel.


“Kamu benar-benar cerdas.” Samuel menepuk pundak Nathan.


“Samuel bagaimana jika kamu mengejar Nayla?” Nathan tersenyum dan Samuel tertawa terbahak-bahak.


“Apa kamu mau aku mati cepat menghadapi adik kesayangan dirimu.” Samuel memicingkan matanya pada Nathan.


“Kamu sangat jujur.” Nathan beranjak dari sofa dan melihat ponselnya.


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Samuel.


“Menghubungi Roy, ia belum memberikan kabar kepada diriku.” Nathan menekan icon panggilan.


Tidak butuh waktu lama, Roy menrima panggilan dari Bosnya yang pencemburu dan overprotective. Ia keluar dari ruangan dan duduk di teras rumah untuk menerima panggilan.


“Selamat pagi Tuan.” Roy membuka panggilan.


“Dimana kamu?” tanya Nathan.


“Di rumah dokter Rian.” Roy duduk seroang diri.


“Apakah Afifah kembali ke desa?” tanya Nathan.


“Apa?” Roy kaget.


“Kenapa kamu harus sekaget itu?” tanya Nathan dengan nada kesal.


"Semalam ada sebuah mobil mengantarkan tamu ke rumah dokter Rian, seroang pria dengan wajah oriental.” Roy melihat kedalam ruangan.


“Ah, berarti kekasih ku kembali ke desa, pria itu adalah Dokter Kim Min Jook.” Nathan semakin kesal.


“Anda benar, Dokter Rian menyapanya Dokter Kim.” Roy berjalan keluar teras.


“Temui Afifah, pastikan ia berada di rumah dan tidak akan pergi kemanapun, aku akan segera menjemput kalian berdua dengan helikopter.” Nathan memutuskan panggilan.


“Nona Afifah kembali ke desa berarti ia bisa mengingat jalan pulang.” Roy masuk kembali ke rumah, ia pamit kepada dokter Rian untuk jalan-jalan keliling desa.


Roy menggunakan sepeda motor milik dokter Rian dan menuju rumah Afifah tetapi wanita itu telah meninggalkan rumah dengan mobil Kim, mereka bertemu di jalan, hanya saja pria itu tidak tahu pengemudi mobil itu adalah Afifah karena kaca mobil yang tertutup rapat.


Afifah menuju rumah seorang nenek yang dulu menjadi pengasuhnya yang telah ia lupakan dari ingatannya, wanita tua yang menyimpan semua berkas dan barang berharga miliknya. Mobil yang dikendarai Afifah berhenti di depan sebuah rumah yang sangat sederhana dengan dinding papan dan beratapkan seng karat.


Pintu mobil terbuka, seorang wanita cantik tersenyum tetapi air matanya mulai mengalir ketika melihat rumah reot yang penuh dengan kenangan masa kecil sedih dan senang dirinya bersama Asraf. Afifah melangkahkan kakinya dan mengucap salam di depan pintu yang terbuka.


Seorang wanita dengan rambut yang telah memutih menatap pada Afifah yang menangis, mengingat nenek yang telah menyayanginya sepenuh hati tetapi dilupakan olehnya begitu saja.


“Afifah.” Suara lembut wanita tua yang tidak berani menyentuh Afifah.


“Nenek.” Afifah memeluk erat wanita tua.


“Anakku Afifah, kamu mengingat Nenek.” Tangan keriput itu mengeratkan pelukannya.


“Ya, maafkan Afifah.” Air mata Afifah membasahi wajahnya.


"Masuk sayang, apa kabar kamu?” Nenek menarik tangan Afifah dan menutup pintu.


"Alhamdulillah, aku sehat, bagaimana dengan Nenek? Afifah menatap Nenek


"Usia tua akan mengurangi kemampuan untuk bertahan hidup." Nenek tersenyum

__ADS_1


“Duduklah, Ada banyak rahasia yang harus kamu ketahui tentang dirimu.” Nenek menarik tangan Afifah duduk di kursi.


Nenek berjalan menuju kamar dan mengambil amplop coklat, menyerahkan kepada Afifah yang yang terlihat bingung menatap pada wajah keriput yang sedih.


“Apa ini?” Afifah membuka amplop dengan perlahan.


“Ini adalah masa lalu dan rahasia dirimu.” Nenek menggenggam tangan Afifah.


“Masa lalu dan rahasia?” Afifah melihat foto bayi yang sedang digendong dan berkas berisi fotocopy kartu keluarga, akta kelahiran serta buku nikah.


“Apa ini?” Mata Afifah kembali berkaca-kaca, ia tidak percaya namanya ada dalam dua kartu keluarga yang berbeda.


“Kamu bukan putri kandung orang tua kamu selama ini dan Asraf bukan adik kamu.” Nenek mengusap punggung Afifah.


“Siapa orang tuaku dan bagaimana aku bisa bersama mereka?” Air mata Afifah terus mengalir memasahi wajah dan berkas yang ada di tangannya.


Ayah yang telah membesarkan Afifah adalah asisten pribadi Papa kandung Afifah, pria itu dipecat karena melakukan penggelapan dana perusahaan sehingga ia harus mengganti semua kerugian perusahaan. Semua harta benda milik mereka ditarik perusahaan sehingga tidak mempunyai apa-apa lagi.


Kebencian kepada bosnya menggelapkan mata Ayah Asraf sehingga ia menculik Afifah dan membawa lari ke desa untuk balas dendam, gadis kecil tidak berdosa selalu disiksa hingga ia tumbuh dewasa. Penderitaan yang ia alami membuat ia kehilangan ingatannya semasa kecil.


Semua warga desa tahu jika Afifah bukan putri kandung keluarga Asraf karena pria itu membawa gadis kecil ke desa sebelum dia menikah dengan ibu Asraf.


“Ini adalah alamat orang tua kamu, semoga mereka masih berada di rumah yang sama.” Nenek menyerahkan secarik kertas dan sebuah liontin berlian merah.


“Bagaimana nenek bisa mengetahui semua tentang diriku?” Afifah menatap nenek yang menjadi pengasuh dirinya dan Asraf.


“Nenek adalah pengasuh dirimu dan kita tinggal bersama dalam satu rumah, hanya saja nenek harus mengunci mulut ini dan melihat kamu menderita.” Nenek semakin sedih.


“Terimakasih.” Afifah memeluk tubuh renta itu.


“Kamu adalah gadis yang cerdas, carilah keluarga kamu.” Nenek mencubit hidung mancung Afifah.


“Apakah Asraf tahu tentang ini semua?” tanya Afifah menatap foto-foto yang ada di atas meja.


“Tidak, ia tidak tahu jika kalian bukan saudara kandung.” Nenek mengusap wajah halus Afifah dengan tangan tuanya.


“Nak, bagaimana kamu bisa mengingat semuanya?” Nenek menatap Afifah.


“Seorang pria tampan dan cerdas mengobati diriku.” Afifah tersenyum mengingat Nathan dan membereskan berkas yang ada di atas meja.


“Apakah dia kekasihmu?” Nenek tersenyum.


“Aku berharap begitu tetapi karena aku hanya orang asing, aku tidak mau memisahkan adik dan kakaknya.” Afifah menyentuh wajah keriput penuh kasih sayang.


“Aku tidak pantas untuk pria itu.” Afifah tersenyum.


“Sayang, pergilah, cari orang tua kamu !” Nenek tersenyum menyentuh pipi Afifah.


“Ya, aku harus pergi secepatnya, sebelum pria tampan itu menjemputku.” Afifah tersenyum dan memeluk neneknya.


“Terimakasih, aku mencintai Nenek.” Afifah mengeratkan pelukannya pada tubuh yang telah ringkih dimakan usia.


“Nenek mencintaimu sayang.” Nenek mencium dahi dan pipi Afifah.


Afifah melambaikan tangannya dan masuk ke mobil menuju rumah Dokter Rian, ia melihat Kim yang telah duduk di teras bersama dengan Roy yang terkejut melihat wanita cantik itu tersenyum manis.


“Halo Roy.” Afifah tersenyum.


“Kamu mengingat diriku.” Roy menatap Afifah, ia sangat merindukan senyuman yang telah meluruhkan hatinya.


“Tentu saja, ini berkat bos kamu yang tampan.” Afifah tersenyum.


“Dokter Rian, terimakasih untuk tumpangannya, kami akan kembali ke kota.” Afifah tersenyum cantik, wajah putih merona terlihat ceria.


"Tidak masalah, aku senang bisa membantu dirimu." Dokter Rian tersenyum.


“Apa kamu akan kembali kepada Nathan?” tanya Roy.


“Tidak, aku merasa tidak cocok dengan adik Nathan.” Afifah tersenyum.


“Sebelum Nathan datang aku harus sudah pergi jauh, Dokter Kim, mari kita berangkat.” Afifah berjalan kembali ke mobil dan duduk di kursi penumpang samping pengemudi.


"Terimakasih Dokter Rian.” Kim beranjak dari kursi dan berjabat tangan dengan Dokter Rian dan Roy.


“Bisakah kalian tidak pergi?” Roy menahan tangan Kim.


“Aku hanya menemani Afifah.” Kim tersenyum dan bergesas masuk ke dalam mobil.


“Roy, sampaikan terimakasihku kepada Nathan.” Afifah tersenyum kepada Roy yang berjalan mendekati mobil, pria cerdas ahli teknologi itu telah menempelkan alat pelacak.


“Afifah, bisakah kamu menunggu Nathan?” Roy memegang pintu mobil.


“Maafkan aku Roy, aku berharap Nathan tidak akan mencari diriku.” Afifah tersenyum tulus dan menutup kaca jendela mobil.


“Kamu mau kemana?” Kim menjalankan mobil meninggal Desa.


“Bandara.” Afifah tersenyum penuh semangat.


“Bagaimana kamu bisa mempercayai pria asing seperti diriku yang baru bertemu dua kali.” Kim tersenyum tampan.


“Hanya feeling dan aku percaya kamu adalah pria baik.” Afifah tersenyum, ia membuka ponselnya dan melihat nomor Asraf.


“Maafkan aku Asraf, aku harus pergi mencari keluargaku.” Afifah tersenyum, ia berbicara di dalam hatinya.


“Dokter Kim, apakah saya merepotkan Anda?” Afifah melihat Kim.


“Tidak, kamu mengingatkan ku kepada seorang teman lama.” Kim tersenyum melirik Afifah sekilah.


“Teman lama atau seorang yang sangat special?” Afifah tersenyum.


“Seorang yang special tetapi sekarang ia telah menjadi milik orang lain.” Kim mengingat senyuman Nisa tulus seperti Afifah.


“Iklaskan saja, pria baik akan mendapatkan wanita baik.” Afifah menatap lurus ke jalanan.


‘Kamu benar.” Kim tersenyum.


“Wanita ini sangat periang.” Kim berbicara di dalam hatinya.


“Kamu akan pergi kemana?” tanya Kim.


“Aku sudah memesan tiket pesawat.” Afifah bersemangat.


“Keluar negeri?” Kim melirik Afifah dan kembali fokus mengemudi.


“Tidak, hanya keluar pulau saja.” Afifah tersenyum melihat Kim.


“Aku sedang mencari orang tua kandungku.” Afifah terus tersenyum cantik penuh kebahagiaan.


“Dia sangat cantik.” Kim tersenyum.


Perjalanan masih panjang dan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke bandara Internasional.


Roy segera menghubungi Nathan dan memberitahukan bahwa ia tidak bisa menahan Afifah yang telah meninggalkan desa tetapi alat pelacak telah diaktifkan dan tersambung dengan ponsel mereka berdua serta computer.


Mobil Roy terus mengikuti dari belakang dengan jarak yang tidak terlalu dekat, karena ia hanya perlu memperhatikan alat pelacak yang terlihat di layar ponselnya. Nathan selalu puas dengan pekerjaan Roy yang tidak pernah mengecewakan dirinya, ia memantau perjalanan mobil Kim melalui ponselnya.


“Kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku sayang.” Nathan tersenyum, ia melihat panggilan dari Roy.


“Ada apa?” Nathan menerima panggilan.


“Afifah telah melakukan pembelian tiket secara online, ia akan pergi ke pulau seberang.” Tidak ada yang tidak bisa Roy lakukan.


“Bagus, aku akan menunggu dirinya di bandara.” Nathan tersenyum dan mematikan ponselnya.

__ADS_1


“Hei, aku harap kamu tidak berbuat nekat.” Samuel melihat ngeri kepada Nathan.


“Aku butuh sesuatu untuk memberi pelajaran kepada pria yang telah membantu kekasihku melarikan diri.” Nathan merapikan jasnya dan bersiap untuk pergi.


“Kamu mau kemana?” Samuel menahan tangan Nathan.


“Kembali kerumah untuk mengambil senjata kimia.” Nathan tersenyum.


“Jangan lakukan itu!” Samuel menahan tangan Nathan.


“Kenapa?” Nathan menatap tajam pada Samuel.


“Wanitamu akan membenci dirimu.” Samuel berbicara serius.


“Aku tahu yang harus aku lakukan.” Nathan melepaskan tangan Samuel.


“Nathan, belajarlah dari kesalahan yang telah kamu lakukan.” Samuel kembali menahan tangan Nathan.


“Kesalahanku adalah memberikan kesempatan kepada pria lain untuk merebut wanitaku.” Nathan menepis tangan Samuel.


“Nathan, cobalah merebut hatinya dengan lembut.” Suara Samuel terdengar pelan.


“Aku telah mencobanya tetapi ia tetap meninggalkan diriku.” Nathan keluar dari ruangan Samuel.


“Semoga kisah cinta kamu lebih beruntung.” Samuel melihat kepergian sahabatnya yang sangat pemilih dalam mencintai wanita.


Nathan memikirkan semua perkataan Samuel dalam perjalanan kembali ke rumah, ia benar-benar mengambil formula yang mungkin akan ia gunakan disaat terdesak. Demi mendapatkan wanita yang ia cintai, apapun akan pria itu lakukan, cukup sekali merasakan sakitnya ditinggalkan dan kehilangan.


***


Mobil Kim telah berada di parkiran bandara, ia memperhatikan wajah cantik dan imut yang tertidur lelap dalam senyuman. Tidak ingin membangunkan Afifah karena hanya ketika wanita itu tidur ia bisa menatap wajahnya dengan puas.


Perlahan mata Afifah terbuka dan Kim segera mengalihkan pandanganya lulus kedepan, ia tidak mau wanita itu tahu bahwa dirinya telah menikmati pemandangan yang indah di dalam mobil.


“Apa kita sudah sampai?” Afifah membuka pintu mobil.


“Ya.” Kim keluar dari mobil.


“Dokter Kim, terimakasih banyak atas bantuan anda.” Afifah tersenyum.


“Apa aku boleh menemani dirimu melakukan perjalanan ini?” Kim menatap Afifah.


"Aku ingin berpetualang sendirian, terimakasih.” Afifah tersenyum dan melambaikan tangan meninggalkan Kim yang terdiam melihat kepergian wanita yang sangat imut dan menggemaskan.


Afifah telah berada di ruang tunggu, ia terlihat khwatir karena pesawat mengalami delay untuk beberapa jam dan tidak ada penjelasan.


“Aku merasa pria ini akan lebih dulu datang dari pada penerbanganku, setidaknya aku akan menjelaskan semuanya kepada dirinya.” Afifah menarik napas dan membuangnya untuk menenagkan diri.


“Aku tahu, aku bersalah pergi tanpa pamit karena aku yakin kamu tidak akan mengizinkan diriku.” Afifah menyenderkan tubuhnya di kursi dan memejamkan mata.


Ruangan terlihat sepi, para penumpang satu persatu meninggalkan kursi mereka dan pergi entah kemana. Afifah merasakan ruangan semakin tenang, ia membukakan matanya dan terkejut hampir berteriak. Wajah tampan Nathan sangat dekat dengan wajahnya, sepasang tangan kekar menekan di kiri dan kanan kursi Afifah.


“Apa kamu mau meninggalkan diriku?” Nathan menatap tajam pada Afifah tanpa senyuman.


“Bisakah kamu pindah kesamping?” Afifah merasakan lelah pada batang lehernya yang harus mendongak melihat wajah Nathan, sedikit saja gerakan akan membuat kedua hidung yang sama mancung itu akan bersentuhan.


“Kenapa?” Nathan semakin mendekatkan wajahnya.


“Nathan, leherku lelah.” Afifah mendorong tubuh Nathan dan menyentuh lehernya.


“Kemana kamu akan pergi?” Nathan kembali menekan Afifah, ia benar-benar marah dengan wanita itu yang akan meninggalkan dirinya.


“Apa yang kamu lakukan?” Afifah menempelkan tasnya di wajah Nathan.


“Aku sedang marah!” Nathan mengusap kasar wajahnya.


“Kamu tetap tampan.” Afifah tersenyum dan bersiap lari dari Nathan, ia menyadari ada yang aneh dengan delaynya pesawat dan bandara yang terlihat sepi.


“Afifah.” Nathan menarik tangan Afifah.


“Aku mau ke toilet.” Afifah tersenyum.


“Apa kamu pikir aku anak kecil?” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Kamu melebihi anak kecil yang sedang menjaga mainan kesayangan.” Afifah tersenyum.


“Kamu bukan mainan, aku mencintai dan menyayangi dirimu, aku bahkan telah melamar kamu berkali-kali.” Nathan menarik tubuh Afifah dan menekannya di dinding.


“Nathan, apa yang kamu lakukan?” Afifah khawatir.


“Apa yang harus aku lakukan untuk membuat dirimu tetap berada disisiku?” Nathan menekatkan hidungnya pada hidung Afifah, hembusan napas mereka berdua terasa hangat.


“Nathan, aku bukan mau meninggalkan dirimu, aku harus mencari orang tua kandungku.” Afifah menunduk sedih, ia kahwatir Nathan akan berbuat nekat.


“Aku akan menemani dirimu.” Suara Nathan terdengar lembut.


“Kamu harus menemani adik kamu, aku janji akan kembali.” Afifah tersenyum.


“Papa dan Mama telah bersama Nayla.” Nathan menatap Afifah meneliti setiap sudut wajah cantik dan terhenti pada bibir mungil menggoda.


“Menjauhlah karena setan semakin dekat.” Afifah menatap Nathan.


“Kita akan pergi bersama.” Nathan menarik tangan Afifah berjalan menuju jet pribadi miliknya.


“Nathan lepaskan tanganku, aku akan pergi sendiri.” Afifah berusaha melepaskan tangannya, pegangan Nathan sangat kuat dan membuat pergelangannya merah.


“Nathan hentikan, aku tidak cocok dengan adik kamu!” Nathan menghentikan langkahnya menarik tangan Afifah didadanya.


“Kamu menikah dengan diriku bukan dengan Nayla!” Nathan menatap wajah Afifah yang harus mendongak karena tubuh tinggi Nathan.


“Mulai hari ini kita akan terus bersama selamanya, setelah bertemu orang tua kamu kita akan langsung menikah.” Nathan kembali menarik tangan Afifah dan masuk ke dalam Jet pribadi yang mewah.


“Nathan.” Afifah terus berusaha melepaskan tangannya dari Nathan.


Pintu jet tertutup, Afifah telah duduk di kursi samping Nathan dengan terpaksa, ia benar-benar tidak mau berhubungan dengan pria itu sejak mendapatkan hinaan dari Nayla yang sangat menyakitkan, seakan dirinya mengejar dan tergila-gila pada Nathan.


Afifah memegang tangannya yang merah karena pegangan Nathan, ia terlihat cemberut, dan membuang wajahnya ke arah jendela melihat awan putih dan langit biru dengan cahaya kuning yang membuat pemandangan semakin indah.


“Maafkan aku.” Nathan melihat tangan Afifah.


“Afifah, jangan tinggalkan aku!” Nathan menatap Afifah yang telah memejamkan matanya, ia tidak mau berdebat dengan Nathan.


Afifah benar-benar tidur, itu adalah efek obat dari Nathan yang ia suntikkan sendiri. Tidur adalah ketenangan yang dibutuhkan dalam proses pengobatan.


Nathan terus memandangi wajah Afifah dalam tidurnya. Ia tidak membangunkan wanita itu agar bisa menikmati kecantikan alami bagaikan gadis remaja.


"Apa kamu tahu aku terus menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang buruk pada dirimu dan orang lain." Nathan mengelus pipi lembut Afifah.


"Aku benar-benar mencintai dirimu, aku akan meninggalkan Nayla jika kamu tidak nyaman dengan dirinya." Nathan menatap bibir Afifah, membuat ia meneguk ludahnya.


"Kita harus segera menikah." Nathan memejamkan matanya menahan hasrat yang terus menggoda dirinya.


"Aku adalah pria dewasa yang telah siap untuk menikah dan menikmati nikmatnya berumah tangga." Nathan tersenyum dalam tidurnya.


Jet berada di udara dan mendarat di bandara internasional.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2