
Afifah bergandengan tangan dengan Asraf, mereka berjalan bersama Fauzan menuju Helikopter yang ada di lapangan bola. Afifah menahan sesak di dada dan air mata yang semakin berat siap tumpah membanjiri wajahnya.
Mereka telah sampai di lapangan bola yang terang dengan cahaya api dari obor yang dipasang penuh mengelilingi lapangan dan jalanan.
“Kak, ikutlah denganku.” Asraf meletakkan tangannya di pipi mulus Afifah.
“Maafkan Kakak.” Afifah menunduk, suaranya terdengar serak dan air mata telah menetes membasahi wajahnya.
“Ikutlah bersama kami.” Fauzan menatap Afifah.
“Kak, maafkan aku tidak bisa menjaga kakak.” Asraf memeluk erat Afifah.
“Tak apa, kakak akan baik-baik saja di sini, desa lebih aman daripada kota.” Afifah menghapus air mata dengan hijab lebarnya.
“Pergilah, malam semakin larut.” Afifah melapaskan pelukannya dan tersenyum cantik.
“Aku akan kembali lagi.” Asraf kembali memluk Afifah.
“Hm, bekerjalah dengan giat dan jangan lupakan sholat.” Afifah mengusap kepala Asraf.
“Ya, aku akan menghubungi kakak setiap waktu.” Asraf menatap wajah cantik Afifah.
“Jangan menghubungiku setiap waktu.” Afifah mencubit pipi Asraf.
“Kenapa?” Asraf menatap Afifah heran.
“Jika kamu menghubungi aku setiap waktu itu akan mengganggu pekerjaan kita.” Afifah tersenyum.
“Hubungi aku di jam kosong atau ketika kamu sedang tidak bekerja dan merasa bosan.” Afifah memeluk Asraf.
“Hmm.” Asraf terus menahan kesedihannya, ia tidak rela melepaskan pelukan kakaknya merasakan itu adalah pelukan terakhir mereka berdua.
“Aku mencintai dirimu.” Afifah berbisik di telinga Asraf.
“Aku mencintai kakak.” Asraf melepaskan pelukannya.
“Sampai bertemu lagi Nona Afifaf.” Fauzan tersenyum dan melambaikan tangannya.
“Assalammualaikum.” Asraf berteriak, karena baling-baling helicopter telah berputar menimbulkan suara berisik dan menerbangan sebua benda kecil yang ada di sekitarnya.
“Waalaikumsalam.” Afifah melambaikan tangannya, air mata terus membanjiri wajahnya, hijab dan gamisnya menari-nari tertiup angin, Asraf dan Afifah terus saling memandang hingga mereka benar-benar tidak terlihat lagi.
Asraf memejamkan matanya menahan butiran bening yang yang ingin lolos melewati sudut matanya, ia merebahkan tubuh berusaha menenagkan diri, Fauzan fokus sebagi pilot.
Afifah terduduk di atas rumput hijau, ia terisak sendirian begitu rapuh, senyuman yang ia pertahankan di depan Asraf dan Fauzan kini telah sirna beganti dengan sesegkan yang sangat menyesakkan dadanya.
“Maafkan hamba yang lemah ini, selain diriMu, aku hanya memiliki dia, izinkan aku menangis malam ini sebentar saja ya Allah, esok aku akan kembali tersenyum.” Afifah berbicara kepada sang penguasa Alam semesta.
Afifah memeluk kakinya dan meletakkan dagunya di atas kedua lutut yang ia tekuk, gamis dan jilbab telah basah oleh air matanya, ia hanya bisa bersama Asraf sehari semalam dan waktu yang singkat itu tidak bisa membayar kerinduan selama lima tahun tidak bertemu.
Cukup lama Afifah duduk sendirian dan menangis di lapangan bola hingga tanpa sadar ia tertidur karena terlalu lelah, suara berisik helicopter membangunkan Afifah, ia mengangkat kepalanya dan berpikir Asraf kembali lagi.
Afifah tetap duduk di atas rumput, ia merasakan tubuhnya lemah, kepala pusing dan pandangan kabur karena terlalu lama menangis. Hellikopter mendarat dengan lembut di atas rumput dan baling-baling perlahan berhenti.
Seorang pria tampan tersenyum manis kepada wanita cantik yang duduk di atas rumput dengan gamis berwarna merah muda dan melihat kepada Nathan, ia merasa pernah melihat wajah pria yang kini berdiri tepat di hadapannya.
“Malam Afifah.” Nathan berjongkok di depan Afifah yang mengusap air matanya.
“Malam.” Afifah menatap tanpa ekpresi pada wajah tampan Nathan.
“Kenapa kamu menangis?” Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah yang mundur perlahan dengan menggeserkan tubuhnya
“Apa kamu benar-benar telah melupakan diriku?” Nathan memegang tali gamis yang terlepas dari ikatannya. Afifah menatap wajah Nathan cukup lama, ia berusaha mengingatnya karena baru dua hari mereka tidak bertemu.
“Nathan?” Afifah berusaha menarik tali gamisnya, ia merasa khawatir berdua dengan pria asing di malam yang semakin larut.
“Ah, syukurlah kamu masih ingat diriku, aku sangat khawatir.” Nathan tersenyum manis.
“Aku rasa kita bertemu dua hari yang lalu.” Afifah meneliti wajah pria di depannya untuk meyakinkan dirinya.
“Tentu saja, aku benar-benar sangat senang.” Nathan melambaikan tangannya memberi isyarat perintah yang harus dilakukan pilotnya.
Seorang pria yang menjadi pilot keluar dari hellikopter dan mematikan obor satu persatu yang ada di tepi lapangan.
“Kenapa, obornya dimatikan?” Afifah segera berdiri, ia merasakan kepala mulai pusing, tangannya gemetar, ingatan mulai menghilang.
“Aku harus pulang.” Pandangan Afifah semakin memudar, ia kesulitan bernapas. Kegelapan membuat dirinyah tidak bisa mengenali lingkungan.
“Aku akan mengantarkan kamu pulang.” Nathan mendekati Afifah yang rebah tidak sadarkan diri di pelukannya.
“Phobia gelap yang sangat parah dan membahayakan dirinya.” Nathan menyentuh wajah Afifah yang telah basah karena keringat dan napas yang tidak beraturan.
__ADS_1
Ia menggendong Afifah masuk ke dalam hellikopter, memasangkan sabuk pengaman dan headphone , menyuntikkan sebuah formula pada lengan Afifah untuk menenangkan phobia yang sedang Afifah alami agar ia bisa tidur nyenyak dengan tenang.
Lapangan bola telah gelap tanpa ada satupun obor yang menyala, helicopter telah berada di udara terbang menuju kota dan mendarat tepat di atas atap Villa Nathan, Roy dan kepala pelayan telah menggunggu kedatangan Tuan muda Nathan.
Kepala pelayan membuka pintu helicopter untuk Nathan yang keluar menggendong seorang wanita berpakaian sangat tertutup lengkap dengan hijab. Roy terkejut melihat Afifah yang digendong dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Ternyata Tuan Muda Nathan tidak pernah berubah dari kecil hingga sekarang masih menyukai wanita berpakaian tertutup.” Kepala Pelayan tersenyum.
Nathan berjalan menuju pintu dan menuruni tangga atap landasan helicopter, melewati Roy yang menunduk tidak berani melihat Afifah. Nathan membuka pintu kamar dengan sidik jarinya dan masuk, secara otomatis pintu terkunci.
“Apa yang kamu lakukan terduduk di atas rumput sehingga pakaian kamu kotor?” Nathan membaringkan tubuh mungil Afifah di atas tempat tidur yang sangat luas.
“Dia benar-benar sangat imut seperti gadis kecil yang baru memasuki usia remaja.” Nathan menyentuh hidung mancung Afifah dengan lembut.
“Ah, dia sangat menggemaskan.” Nathan beranjak dari tempat tidur dan mengacak rambutnya.
“Aku harus meminta pelayan wanita untuk menggantikan pakaiannya.” Nathan keluar dari kamar dan memanggil kepala pelayan agar menyuruh seorang wanita mengganti pakaian dan hijab Afifah, ia tahu bahwa dirinya tidak boleh melihat Afifah tanpa hijabnya.
Nathan duduk di ruang tengah bersama dengan Roy yang masih diam tanpa bicara, ia bahkan tidak berani bertanya dengan apa yang terjadi pada Afifah yang tidak sadarkan diri dan wajah yang basah.
“Apa kamu mendapatkan informasi lain tentang Afifah?” tanya Nathan memecahkan keheningan.
“Apakah ada yang kurang Tuan?” Roy balik bertanya.
“Aku tidak percaya jika Afifah benar-benar berasal dari desa itu, struktur wajah dan warna matanya berbeda, bahkan ia tidak ada kemiripan dengan Asraf.” Nathan membuka layar ponselnya.
“Nathan benar-benar memperhatikan Afifah dan pemikiranku sama dengan dirinya.” Roy berbicara dalam hatinya.
“Aku akan mecari semua kebenaran tentang Afifah.” Roy beranjak dari sofa.
“Istirahatlah, malam sudah larut.” Nathan melirik Roy.
“Baik Tuan, anda juga harus beristirahat untuk menjaga kondisi tubuh, saya permisi.” Roy berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
“Aku sangat lelah memikirkan semua ini.” Roy merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan terlelap dengan cepat.
Nathan melihat dua orang pelayan wanita turun dari tangga sedang berbicara dengan serius, mereka memuji kecantikan dan bentuk indah tubuh Afifah yang terawat secara alami, kesempurnaan dari lahir.
“Aku pikir wanita itu masih gadis kecil, wajahnya yang terlihat imut dengan bibir mungilnya.” Seorang pelayang berbicara kepada rekannya.
“Kamu benar, mungkin usianya masih belasan tahun tetapi tubuhnya sangat indah seperti wanita dewasa.” Rekannya tersenyum.
“Apakah kalian sudah selesai?” Nathan berdiri menatap tajam kepada dua pelayan.
“Pergi dan jangan pernah berbicara tentang wanitaku!” Sorotan mata Nathan membuat mereka ketakutan.
“Baik Tuan.” Pelayan menjawab seentak dan segera pergi.
“Harusnya aku membiarkan dia tidur dengan pakaian kotornya.” Nathan memijit batang hidungnya dan segera berlari menaiki tangga, pintu kamar tidak terkunci untuk memudahkan pelayan keluar.
Nathan mendekati Afifah yang masih tertidur pulas, memperhatikan setiap sudut wajah cantik dan mungil dengan bibir kecil berwarna merah.
“Mereka benar, dia benar-benar seperti gadis kecil ketika sedang tidur.” Nathan menyentuh bibir Afifah dengan jarinya dengan lembut.
"Pria pertama yang kamu lihat adalah Nathan, ingatlah satu nama Nathan." Nathan berbisik di telinga Afifah yang tertutup hijabnya.
"Nathan pria yang mencintai Afifah ku Sayang." Nathan terus memberikan sugesti kepada Afifah yang tidak sadarkan diri.
“Ketika terbangun kamu akan melupakan semua kejadian hari ini, tidurlah yang nyenyak dan bermimpi indah sayangku.” Nathan mengusap kepala Afifah.
"Nathan adalah kekasih Afifah." Nathan mencium kepala Afifah dan keluar dari kamar, ia tidak bisa berlama-lama di dalam ruangan karena ada hasrat yang menyapa dan menggoda.
Perlahan Afifah membuka matanya, ia merasakan pusing dan rasa mual yang tidak nyaman di perut. Mata Afifah menatap langit kamar yang terasa asing, ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi dan bagaimana ia bisa berada di rungan itu.
“Astafirullah ya Allah, dimana ini?” Afifah duduk untuk menenagkan diri dan memijit kepalanya.
“Ya Allah, aku tidak bisa mengingat kejadian yang baru aku alami.” Afifah memperhatikan setiap sudut kamar mewah yang sangat cantik dan asing dengan aroma mawar yang menenangka.
Afifah beranjak dari tempat tidur berjalan menuju pintu yang berharap itu adalah pintu kamar mandi, ia membuka perlahan dan melihat sebuah ruangan bernuansa emas terang, kamar mandi yang sangat mewah.
“Apakah ini kamar mandi?” Afifah melangkahkan kakinya masuk untuk membersihkan diri.
“Ah, aku datang bulan.” Afifah segera keluar dari kamar mandi dan membuka semua pintu lemari dan laci yang ada di dalam kamar mewah. Ia senang dapat menemukan apa yang ia butuhkan. Setelah merapikan diri, ia merapikan seisi kamar dan duduk di depan meja rias memperhatikan wajah dan mata bengkak.
“Aku menangis tetapi kenapa?”Afifah menyentuh wajahnya.
“Tunggu dulu, ini bukan kamarku dan bagaimana aku berada di kamar ini dengan isi lemari penuh dengan pakaian wanita yang pas ditubuhku?” Afifah merebahkan kepalanya di atas meja, ia sangat bingung.
“Aku harus keluar dari kamar ini, tetapi dimana pintunya?” Afifah berdiri dan memperhatikan dinding kamar tetapi ia tidak melihat pintu selain pintu kamar mandi.
Afifah membuka semua gorden dan Matahari baru saja memberikan sedikit cahayanya menyelinap masuk ke dalam kamar. Berada pada kamar paling atas, ia bisa melihat pemandangan yang indah tetapi tidak ia kenali begitu asing.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan, kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian kemarin?” Afifah terduduk lemas di depan jendela raksasa.
Terdengar suara pintu yang terbuka, ia menoleh ke arah pintu besi dengan beberapa tombol yang berada di samping.
"Pintu dari besi, tempat apa ini?" Afifah menatap seorang pria tampan terlihat rapi dengan kemeja berwarna putih pas di tubuh kekarnya berjalan mendekati dirinya.
"Nathan." Afifah mengangkat alisnya.
"Kenapa aku bisa ingat pria itu?" Afifah memegang kepalanya dan masih terduduk di lantai.
"Pagi sayang." Nathan berjongkok di depan Afifah.
"Kamu pria yang bertemu dengan diriku dua hari yang lalu." Afifah menatap Nathan.
"Syukurlah kamu masih mengingat kekasih mu ini." Nathan mendekatkan wajahnya.
"Kekasih?" Afifah menggeser kan tubuhnya hingga menempel di jendela, ia kebingungan.
"Asraf, dimana Asraf?" Afifah menatap Nathan.
"Siapa Asraf?" Nathan duduk di samping Afifah.
"Adikku, dia adikku, setelah pingsan hanya dia yang aku ingat tetapi kenapa aku bisa ingat dirimu?" Afifah meneliti wajah Nathan.
"Karena aku adalah kekasih kamu." Nathan tersenyum tampan.
"Tidak, aku tidak punya kekasih kamu berbohong." Afifah menggeser posisi menjauh dari Nathan.
"Dengar Afifah, aku adalah kekasih kamu dan kita akan menikah." Nathan menarik gamis Afifah yang mekar di lantai.
"Tapi aku merasa asing dengan dirimu." Afifah terus memperhatikan Nathan dengan mata indahnya.
"Apa kamu tahu, jika kamu terus menatap diriku aku tidak bisa menahan diri." Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah.
"Kamu sangat cantik." Nathan memandang Afifah yang terpejam.
"Ingatlah, aku Nathan kekasih kamu dan kamu sekarang berada di rumah ku." Nathan berbisik di telinga Afifah.
"Asraf dimana dia?" Afifah mengulangi pertanyaannya.
"Dia sudah kembali bekerja." Nathan tersenyum.
"Aku lapar." Afifah terus bergeser menjauhi Nathan.
"Ayo kita turun dan sarapan bersama." Nathan berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Afifah.
"Aku bisa sendiri." Afifah berdiri dan merapikan hijabnya.
"Aku benar-benar bingung." Afifah memegang kepalanya.
"Kamu akan terbiasa dengan semua ini." Nathan tersenyum.
"Baiklah, aku akan mencobanya." Afifah mengikuti langkah kaki Nathan.
Mereka berdua menuruni tangga dengan perlahan, mata Afifah melihat sekeliling, rumah yang sangat mewah dan besar, begitu sepi.
"Apa tidak ada orang lain di rumah ini?" Afifah melihat kearah Nathan yang terus tersenyum.
"Ada banyak pelayan." Nathan tersenyum.
"Silahkan nyonya." Kepala pelayan tersenyum.
"Terimakasih." Afifah tersenyum ramah.
"Nyonya sangat cantik." Kepala pelayan berbicara di dalam hatinya.
"Apa kamu mau menu yang lain?" Nathan menarik kursi untuk Afifah.
"Tidak, aku bisa makan apa saja." Afifah duduk dan melihat begitu banyak makanan di atas meja.
Mereka makan bersama dengan tenang tanpa ada suara, sesekali Nathan melirik Afifah yang menikmati makanannya tanpa memperdulikan Nathan.
***
Stevent-Nisa dan Jhonny-Aisyah, tunggu pindah rumah baru )
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.