Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kolam Bercinta


__ADS_3

Beberapa pelayan wanita sibuk membereskan pakaian Nisa dan Stevent dari lemari memindahkan ke koper, yang akan di bawa pidah ke rumah baru. Nisa menggendong Azzam dan Azzura bersama papanya yang tampan.


Mereka berjalan bersama menuju tempat parkir, Sebuah mobil khusus membawa barang dan pelayan, seorang sopir membawa mobil Sport Stevent. Nisa dan Stevent akan ikut mobil Jhonny dan Aisyah.


“Hey Jhonny bukakan pintu untuk diriku dan istriku.” Stevent melotot pada Jhonny.


“Baik Tuan.” Jhonny membuka pintu untuk Stevent yang kebingungan cara masuk ke dalam monil, ia khawatir putrinya akan terkena pintu mobil.


“Sayang, mobil ini terlalu kecil.” Stevent tidak jadi masuk ke dalam mobil.


“Sayang, tubuh kamu langsung duduk.” Nisa masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.


“Masuklah terlebih dahulu.” Aisyah mengambil Azzura dari tangan Stevent.


“Berikan Azzura dengan hati-hati!” Stevent melihat Azzura digendongan Aisyah.


“Duduklah!” Aisyah melotot pada Stevent yang segera duduk menuruti perintahnya.


Nisa hanya tersenyum, Stevent selalu menurut pada Aisyah karena telah menyelamatkan mereka berdua dari ambang kematian. Hanya Aisyah yang berani terhadap suaminya yang dingin dan kejam kepada wanita lain.


“Mobil ini benar-benar sempit.” Stevent menggerutu ia kesulitan menggendong Azzura.


“Sayang, bukankah Cuma sebentar dan rumah kita dekat dari sini?” Nisa menyentuh kengan Stevent.


“Ya, kita tetap harus membeli mobil baru yang lebih luas dan besar, lengkap dengan tempat tidur dan dapur.” Stevent tersenyum dan ingin mencium Nisa tetapi kesulitan.


“Aku bahkan tidak bisa mencium istriku di dalam mobil ini.” Stevent menggerutu di dalam hatinya.


Aisyah duduk di samping Jhonny yang mengendarai mobil dengan santai menuju rumah baru Stevent dan Nisa. Pintu pagar terbuka, mobil Jhonny berhenti tepat di depan pintu.


“Wah, rumah yang sangat indah dan asri.” Aisyah segera keluar dari mobil dan memperhatikan sekeliling.


“Jhonny buka pintu!” Stevent diam membeku di dalam mobil dan tidak bisa bergerak, ia melihat Nisa dengan mudah membuka pintu dan keluar dari mobil.


“Sayang, bagaimana kamu melakukan itu?” Stevent melihat Nisa yang telah berada di luar mobil tersenyum kearah dirinya.


Jhonny membuka pintu untuk Stevent dan mengambil Azzura dengan perlahan dan sangat hati-hati, bayi cantik dan mungil itu menggeliat karena terkena cahaya Matahari, Jhonny tersenyum, ia sangat menyukai Azzura.


“Berikan putriku, kamu bisa meminta pada Dokter Aisyah.” Stevent tersenyum menghina.


“Aku sudah memintanya tetapi belum berhasil.” Jhonny berjalan di depan Stevent untuk membuka pintunya.


“Sayang, rumah ini sangat indah dengan perkarangan yang luas.” Nisa melihat sekelilingi, pagar tinggi menjulang menutupi seluruh lantai satu.


“Tentu saja sayang, kita bisa bermain bersama di halaman dengan aman.” Stevent tersenyum.


“Orang kaya, beli rumah hanya dengan jentikan jari.” Aisyah mengelengkan kepalanya.


Aisyah membuka sepatunya dan berjalan masuk ke dalam rumah yang sangat besar dan megah, semua perlengkapan telah Stevent ganti baru.


“Sayang, kita akan tinggal di kamar bawah, Jhonny dan Dokter Asiyah bisa tinggal di lantai atas.” Stevent melihat istrinya duduk di sofa.


“Kamu menyiapka kamar untuk aku dan Jhonny?” Aisyah bersemangat.


“Ya, kamar paling ujung adalah ruangan kedap suara khusus untuk kalian berdua.” Stevent tersenyum melirik Jhonny yang menunduk.


“Terimakasih, Ayo sayang kita lihat kamar baru, aku senang bisa satu rumah dengan Azzura dan Azzam.” Aisyah menarik tangan Jhonny menaiki tangga.


“Aku tidak percaya ternyata dokter Asiyah adalah orang yang penuh semangat.’” Nisa tersenyum.

__ADS_1


“Wanita yang suka berpetualang memang begitu.” Stevent tersenyum.


“Kamar anak-anak kita dimana?” Nisa menatap Stevent dengan tatapan penuh cinta.


“Kemarilah, aku telah menyiapkan semuanya.” Stevent berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari ruang tengah.


“Sayang, aku tidak bisa membuka pintu ini, aku akan memanggil Jhonny.” Stevent kebingungan, ia tidak bisa melepas Azzura dari tangannya.


“Aku bisa sayang, kasihan Aisyah dan Jhonny, mereka butuh waktu bersama.” Nisa membuka pintu dengan salah satu tangannya.


“Sayang, kamu hanya memegang Azzam dengan satu tangan.” Stevent terlihat khawatir.


“Masya Allah, kamar yang sangat indah.” Nisa tersenyum, ia membaringkan Azzam di atas tempat tidur dengan dinding yang tinggi melindungi.


“Kemarilah.” Nisa mengambil Azzura dan membaringkan di tempat tidur.


“Ya Tuhan.” Stevent duduk di Sofa, ia merasakan tangannya keram karena terus menggendong Azzura tanpa bergerak.


“Sayang, apa kamu lelah?” Nisa duduk dan memijit tangan Stevent.


“Aku menggendong Azzura dengan rasa khawatir akan menjatukannya, aku tidak berani bergerak.” Stevent merebahkan kepalanya di paha Nisa.


“Nanti kamu akan terbiasa.” Nisa mengusap rambut Stevent.


“Sayang, Ayo lihat kamar kita.” Stevent beranjak sofa dan menarik tangan Nisa keluar dari kamar baby twins.


“Pelan-pelan sayang.” Nisa mengikuti langkah Stevent menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar anak mereka. Sebuah pintu yang tidak terlihat langsung menghubungkan kamar mereka dengan baby twins.


“Sayang, pintu ini tidak terlihat.” Nisa memperhatikan pintu yang terkunci otomatis.


“Tentu saja, ketika mereka sudah besar, pintu ini tidak boleh digunakan.” Stevent tersenyum nakal.


“Apa kamu menyukainya?” Stevent menggandeng tangan Nisa.


Ruangan yang sangat luas dipenuhi dengan bunga berwarna putih dan merah, lampu gantung yang sangat indah dan tempat tidur besar yang masih rapi belum tersentuh.


“Aku sangat menyukainya, kamu selalu memberikan yang terbaik untuk diriku.” Nisa memeluk Stevent.


“Berikan aku ciuman!” Stevent menggedong Nisa dan membaringkan di tempat tidur empuk.


Nisa tersenyum memandang wajah tampan suaminya yang diidolakan banyak wanita tetapi hanya mencintai dirinya dengan sepenuh hati dan selalu berusaha membahagiakannya.


“Kenapa kamu mamandang diriku seperti itu?” Stevent mengangkat salah satu alisnya, mendekatkan hidung mereka berdua hingga bersentuhan.


“Suamiku sangat tampan, pasti ada banyak wanita yang mengingikan dirinya.” Nisa menggantungkan tanganya di leher Stevent.


“Aku tidak akan mengizinkan mereka mendekati diriku.” Stevent mencium bibir Nisa dengan lembut.


“Apakah sudah boleh?” Stevent berbisik di telinga Nisa.


“Belum.” Nisa tersenyum dan memeluk tubuh Stevent dengan erat.


“Berapa lama lagi?” Tangan Stevent bergerilia pada tubuh Nisa dari balik gamis dan memasukkan kepalanya ke dalam hijab, ia mencium leher istrinya dan memberikan tanda merah.


“Apa kamu tidak menghitungnya?” Nisa membuka hijabnya.


“Aku mengitungnya tetapi yang aku khawatirkan adalah dirimu sayang.” Stevent mencium dahi Nisa.


“Kenapa dengan diriku?” Nisa menatap mata tajam Stevent.

__ADS_1


“Kamu kesakitan sayang dan aku ketakutan, aku sangat takut kehilangan dirimu.” Stevent pindah kesamping Nisa dan memeluknya dari belakang.


“Aku akan baik-baik saja agar bisa terus mendampingi dirimu selamanya.” Nisa memutar tubuhnya untuk menghadap Stevent.


"Kamu harus terus berada di dekat ku, jangan pernah tinggalkan aku!" Stevent mencium hidung dan dahi Nisa.


"Tidak akan." Nisa memeluk tubuh Stevent.


“Tidurlah sebentar, Azzam dan Azzura juga sedang tidur.” Stevent memejamkan matanya dan memeluk erat tubuh Nisa.


"Hmm, mereka selalu tertidur pulas." Nisa mencium aroma maskulin dari tubuh Stevent.


***


“Jhonny, apakah rumah ini didesain oleh Stevent?” Aisyah berjalan mendahulukan Jhonny.


“Hm, dia memiliki banyak koleksi desain gedung hasil rancangan dirinya.” Jhonny mengikuti langkah kaki Aisyah.


Aisyah membuka pintu perlahan dan terkejut melihat ruang kamar dengan nuansa romantis, didesain khusus untuk pasangan dengan warna ungu muda, dihiasi bunga lavender dan lampu gantung berwarna putih.


“Luar biasa, Stevent memikirkan semuanya dengan sempurna, kamu sangat beruntung memiliki bos seperti Stevent, memanjakan asistennya.” Aisyah berkeliling kamar dan membuka kamar mandi dengan nuansa putih bersih begitu luas dan mewah. Jhonny mengunci pintu kamar.


“Wah, Jhonny kita bahkan bisa bercinta di sini.” Aisyah merebahkan tubuhnya di atas sofa balon anti air.


“Ya Tuhan ada kolam renang pasangan berbentuk hati.” Asiyah masuk ke dalam kolam dengan menggunakan gamisnya. Air yang sangat jernih sehingga dapat melihat lantai dasar kolam yang berwarna biru dengan ukiran bebatuan agar tidak licin.


“Kamar ini jauh lebih mewah dari lantai dasar.” Jhonny duduk di tepi kolam dan melihat gamis Aisyah yang telah basah.


“Kemarilah.” Aisyah menarik dasi Jhonny dan mencium bibirnya.


“Apa kamu menyukainya?” Aisyah melepaskan Jhonny, dan membuka hijabnya, tubuh indah Aisyah terlihat jelas dengan gamis yang telah basah seluruhnya.


Jantung Jhonny berdetak kencang, lekukan tubuh istrinya memanggil dirinya untuk bercinta. Jhonny membuang dasi dan jasnya ke lantai, masuk ke dalam kolam, memeluk dan mencium Aisyah dari belakang, mengigit pundak yang telah tebuka dan menggoda.


Tubuh Aisyah menggeliat dan berteriak, merasakan sakit bekas gigitan Jhonny yang begitu bersemangat. Jhonny melepaskan gamis Aisyah, memutar tubuh seksi menghadap dirinya dan mencium bibir seksi istrinya begitu berhasrat.


Aisyah membuka kancing kemeja Jhonny dengan lembut dan melepaskan dari tubuh seksi menggoda milik suaminya, tangan Aisyah meraba dan menyentuh otot-otot keras pada dada dan perut Jhonny.


Jhonny terus mencium dan memakan bibir Asiyah, tangan memegang telinga dengan lembut menikmati setiap sentuhan yang ia rasakan pada seluruh tubuhnya. Mereka benar-benar berhasrat dalam bercinta dengan sensasi berbeda.


Kolam pasangan yang didesain oleh Stevent di dalam kamar mandi yang sangat luas, sungguh sensasi yang berbeda dan luar biasa untuk merasakan nikmatnya bercinta di dalam air. Dinginnya air bercampur dengan hangatnya hasrat dan keringat kenikmatan.


Cukup lama Jhonny dan Aisyah melakukan pemanasan di dalam kolam, bercinta dengan santai dan tidak tergesa-gesa karena tidak akan ada yang mengganggu mereka hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan syurga dunia bagi pasangan halal.


Napas yang menggebu dengan senyuman kepuasan dan ciuman basah yang tidak ingin dilepaskan, bagaikan racun yang memabukan dan membuat pasangan kecanduan untuk terus melakukannya lagi, tidak ada kepuasan dalam bercinta.


Aisyah keluar dari kolam dan berjalan meninggalkan Jhonny yang masih terduduk tanpa sehelai benang melekat ditubuhnya, tatapan tajam mata Jhonny yang terus memperhatikan setiap gerakan menggoda dari tubuh istrinya.


“Apa kamu puas dengan permainan di kolam cinta?” Asiyah menoleh pada Jhonny, ia masuk ke dalam bathup untuk membersihkan diri.


“Tidak akan pernah puas untuk menikmati dirimu.” Jhonny tersenyum, ia beranjak dari kolam dan membersihkan diri di bawah shower.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2