Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Lamaran Kesekian Kalinya


__ADS_3

Rumah Stevent-Nisa.


Seorang pria tampan tersenyum memperhatikan istrinya yang sedang memilih pakaian. Nisa mencoba pakaian kerjanya, terasa sempit karena tubuh dan bagian dada sedikit berisi, wanita itu tidak suka dengan pakaian yang terlalu pas di badan.


“Apa yang kamu lakukan sayang?” Stevent memeluk Nisa dari belakang.


“Sayang, pakaian ku terasa sempit.” Wajah wanita itu terlihat manja.


“Kamu terlihat seksi.” Tangan nakal Stevent menjelajahi tubuh istrinya.


“Apa kamu mau aku terlihat seksi di depan semua orang?” Nisa tersenyum menggoda.


“Tidak, kita akan membeli pakaian baru untuk kamu.” Stevent mencubit pipi Nisa


“Apa kita akan pergi berbelanja?’ Nisa memutar tubuhnya menghadap Stevent.


“Tidak sayang, kamu tunggu saja di rumah, penjahit akan datang untuk mengukur tubuh kamu.” Stevent mengambil ponselnya dan menghubungi butik langganan mereka.


“Sayang, kita bisa beli jadi saja.” Nisa mencubit hidung Nisa.


“Pakailah hijab kamu, kita tunggu mereka di depan.” Stevent mencium dahi Nisa dan memainkan rambut dengan lembut.


“Baiklah, lepaskan diriku.” Nisa menahan tangan suaminya.


“Aku tidak mau melepaskan dirimu.” Stevent mencium leher Nisa dan memberikan gigitan.


“Aw, kenapa kamu semakin ganas?” Nisa mengusap lehernya yang terasa sakit dan memerah.


“Karena kamu semakin seksi dan menggoda sayang.” Tangan Stevent menyelinap masuk dalam tubuh Nisa.


“Sayang, hentikan.” Nisa merasa geli.


“Permisi, tuan putri danTuan Stevent, ada tamu di depan gerbang.” Salsa menampilkan rekaman dari depan gerbang.


“Ah desainer telah datang, rapikan pakaian kamu sayang.” Stevent mencium bibir Nisa.


“Salsa biarkan mereka masuk!” Stevent merapikan pakaiannya dan segera keluar.


“Baik Tuan.” Salsa keluar dari kamar.


“Akhirnya Papa Mark mau merubah system control Salsa.” Nisa tersenyum dan bersiap keluar dari kamar.


Seorang wanita cantik dan dua asistennya keluar dari dalam mobil yang mewah, dengan pakain seksi dan sangat elegan memperhatikan sekeliling rumah Stevent.


“Rumah yang tidak terlalu besar tetapi tetap mewah, selera pria ini tidak pernah berubah.” Wanita itu tersenyum dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Stevent melihat kedatangan Elana, perancang busana langganan keluarga Alexander tetapi tidak dengan Stevent, ia biasa memakai perancang dan penjahit pria.


“Halo Stevent, apa kabar?” sapa Elana dengan senyuman menggoda.


“Silahkan duduk Nona Elana.” Stevent duduk di Sofa depan Elana.


“Aku tidak percaya kamu akan memanggil diriku untuk menyentuh tubuhmu.” Elana tersenyum puas.


“Anda salah paham nona Elana, anda bukan mengukur tubuh saya.” Stevent menatap Elana tajam.


“Lalu kenapa kamu mengundangku kerumahmu dengan tergesa-gesa?” Elana memandang Stevent.


“Untuk mengukur tubuh istriku tercinta.” Stevent tersenyum melihat Nisa yang berjalan mendekati dirinya.


“Sayang, tidak adakah penjahit yang menggunakan pakaian sopan, aku tidak mau kamu berdosa melihat aurat wanita itu.” Nisa berbisik di telinga Stevent.


“Ah, apakah ini istrimu.” Elana menatap pakaian Nisa.


“Elana, kamu boleh pulang sekarang.” Stevent menatap tajam pada Elana dan menarik tangan Nisa hingga duduk pangkuaanya.


“Apa kamu mengusirku setelah memintaku datang dengan cepat kemari?” Elana menatap tajam pada Nisa.


“Aku tidak mau berdosa melihat aurat dirimu.” Stevent tersenyum melihat Nisa yang merasa tidak nyaman.


“Stevent, kamu menghina diriku.” Elana berteriak.


“Maafkan saya Nona, saya tidak bermaksud menghina anda.” Nisa beranjak dari pangkuan Stevent.


“Pergilah segera dari rumahku, aku tidak mau melihat istriku merendah dihadapan dirimu.” Stevent memeluk pinggang Nisa.


“Sayang, lembutlah.” Nisa menyentuh tangan Stevent.


“Aku membencimu.” Elana segera keluar dari rumah diikut dua orang asistennya.


“Dia mengundangku kerumahnya dan menghina diriku di depan istri yang sangat ia cintai, kamu sangat kejam Stevent.” Elana menggerutu dan masuk kemobilnya.


“Sayang, aku akan pergi ke tempat jahit langgnanku yang tidak jauh dari pesantren.” Nisa menyentuh pipi Stevent.


“Aku akan menemani dirimu.” Stevent mencium pipi Nisa.


“Kita bawa Azzura dan Azzam ke pesantren.” Nisa tersenyum bahagia tetapi tidak dengan Stevent ada banyak bahaya yang mengintai, belum lagi anak-anak pesantren yang akan menyentuh putra dan putrinya.


“Sayang, bisakah kamu meminta penjahit itu kemari?” Stevent menatap Nisa.


“Kenapa?” tanya Nisa.


“Aku tidak mau Azzam dan Azzura keluar dari rumah.” Stevent tersenyum.


“Aku tidak memiliki nomor ponselnya.” Nisa menatap Stevent.


“Katakan saja nama dan alamatnya, aku akan meminta orang untuk menjemputnya.” Stevent mengeluarkan ponselnya.


“Baiklah, setidaknya ia bisa menyelesaikan satu stel pakaian untuk diriku.” Nisa tersenyum.


“Tentu saja sayang, bila perlu aku akan meminta mereka mengantarkan bahan terbaik untuk dirimu.” Stevent memeluk Nisa.


“Sayang, minta maaflah pada wanita tadi.” Nisa menyentuh pipi Stevent.


“Baiklah, aku akan mengirimkan hadiah permintaan maaf, apa kamu senang?” Stevent mencium bibir Nisa tidak memberikan kesempatan pada wanita itu menjawab.


Seorang wanita paruh baya terihat ketakutan dibawa paksa kerumah mewah, ia hanya penjahit rumahan tanpa memiliki pegawai dan bekerja sendiri.


“Bibi.” Nisa tersenyum melihat penjahit langganan pesantren.


“Nisa, apa itu kamu?” Bibi berlari memeluk Nisa, tangannya dingin karena ketakutan.


“Iya Bi, kenapa tangan bibi gemetaran?” Nisa menggenggam tangan Bibi.


“Sayang, Bibi ketakutan karena diculik.” Bibi melirik beberapa pengawal yang masih berdiri.


“Sayang, apakah kamu melakukan ini?” Nisa melirik Stevent.


“Tentu saja sayang, aku tidak mau menunggu terlalu lama.” Stevent tersenyum.


“Bibi, maafkan suamiku.” Nisa tersenyum.


“Suami kamu sangat tampan, dulu Bibi pikir kamu akan menikah dengan Kenzo karena kalian selalu bersama.” Bibi menyentuh pipi Nisa.


“Kenzo juga telah menikah dengan wanita yang sangat cantik seorang putri dari kerajaan Arab.” Nisa tersenyum dan melirik Stevent.


“Bisakah anda segera mengukur tubuh istriku secepatnya!” Stevent menatap tajam pada Bibi.


“Baiklah Tuan.” Bibi segera mengeluarkan perlengkapan untuk mengukur tubuh Nisa.

__ADS_1


“Katakan bahan yang anda butuhkan aku akan segera mengirimkan ke toko anda.” Stevent duduk di kursi memperhatikan wanita itu bekerja.


“Baik Tuan.” Bibi merasa ada tekanan yang menyelimuti ruangan, suami Nisa memiliki aura yang berbeda.


Stevent terus memperhatikan istrinya yang sedang diukur dan tersenyum bercanda bersama Bibi, mereka terlihat akrab, istrinya selalu ramah dan disukai banyak orang dna itu adalh daya tarik tersendiri dari Nisa.


Bibi telah selesai mengukur tubuh Nisa dan mencatat rapi di buku catatan yang telah lusuh, wanita itu telihat lelah dan sudah cukup tua.


“Bibi, bagaimana usaha jahit Bibi sekarang?” Nisa menggandeng tangan Bibi untuk duduk di Sofa.


“Alhamdulilah.” Bibi menyentuh lembut pipi Nisa.


“Aku akan tetep menjadi langganan Bibi.” Nisa tersenyum cantik.


“Iya sayang kamu adalah malaikat yang datang untuk menolong smeua orang.” Bibi tersenyum.


Pengawal Stevent telah mengantar Bibi kembali kerumahnya dengan selamat, pria itu terus memandang tubuh Nisa yang menurut dirinya semakin cantik dan seksi.


“Sayang, kamu semakin cantik dan aku samakin khawatir untuk membiarkan dirimu keluar dari rumah.” Stevent memeluk Nisa.


“Kamu telah mengambil keputusan untuk diriku.” Nisa mencubit hidung Stevent.


“Ya dan jika ada waktu aku akan menemani dirimu di rumah sakit.” Stevent kembali mencium bibir istrinya.


“Sayang, apa kita butuh perawat?” tanya Nisa pada Stevent.


“Jika kamu membutuhkannya, katakan saja.” Stevent tersenyum.


“Kita bisa meminta anak-anak lulusan pesantren yang aku kenal untuk merawat Azzam dan Azzura." Nisa menatap Stevent.


“Tentu saja sayang, kamu yang terbaik dalam segala hal, kamu pasti tahu tentang semua itu.” Stevent menggendong Nisa kembali ke kamar anak-anak mereka.


“Terimakasih sayang, aku mencintai kamu.” Nisa mencium pipi Stevent.


“Aku sangat mencitai dirimu.” Stevent mencium dahi Nisa.


Kebahagian akan sempurna dengan rasa cinta dan keterbukaan, kejujuran adalah kunci utama dalah rumah tangga, saling pengertian dengan bumbu kasih sayang dan dan sedikit cemburu.


***


Mobil Nathan telah memasuki lahan parkir hotel, ia melihat wanita cantik yang tertidur pulas di kursi penumpang samping dirinya, pria itu tetap duduk di dalam mobil dan menikmati pemandangan indah, wajah cantik dan imut bagaikan gadis kecil yang masih polos.


Ia tidak mematikan mesih mobil agar Afifah tetap merasa nyaman tidur di dalam mobil, Nathan tidak ingin membangunkan wanita yang sangat ia cintai itu. Perlahan bulu lentik yang mengiasi mata indah itu terbuka.


“Nathan, apa kita sudah sampai?” tanya Afifah melihat keluar jendela.


“Baru saja sayang.” Nathan tersenyum melihat Afifah yang tetap cantik walaupun baru bangun dari tidur.


“Kenapa kamu tidak membangunkan diriku?” Afifah akan membuka pintu.


“Tunggu, aku akan membukakan untuk dirimu.” Nathan segera kluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Afifah.


“Terimakasih.” Afifah tersenyum.


“Sayang, maukah kamu menikah denganku?” Nathan menahan pintu.


“Ya, kita akan segera menikah.” Afifah menatap Nathan.


“Benarkah, apa kamu serius?” Nathan mencengkram lengan Afifah, ia tidak percaya dengan apa yang didengar.


“Nathan, kamu menyakitiku.” Afifah meringis.


“Maaf, maafkan aku.” Nathan melepaskan tangannya.


“Bisakah kamu menyingkir dari hadapanku?” Afifah tersenyum cantik, ia senang melihat Nathan bahagia.


“Aku akan menggendong dirimu ke kamar.” Nathan bersiap.


“Baiklah sayang, aku sangat bahagia.” Nathan terus menatap Afifah yang berdiri dihadapan dirinya.


Ponsel Nathan berdering, ia melihat panggilan dari nomor yang tidak dikenal, lama pria itu memperhatikan layar ponselnya, tidak biasanya ia menerima nomor baru.


“Nathan, ada apa? Kenapa tidak dijawab?” Afifah menatap Nathan.


“Aku akan menjawabnya.” Nathan tersenyum pada Afifah yang masih menunggu dirinya untuk masuk bersama kedalam hotel.


“Halo.” Nathan menerima pangggilan.


“Halo Tuan Nathan, apa liburan kamu menyenangkan?” tersengar suara yang tidak Nathan kenali.


“Siapa kamu?” tanya Nathan melirik Afifah yang masih menunggu dirinya.


“Sebagai seorang pembunuh, kamu tidak pantas jatuh cinta pada wanita cantik dan baik.” Suara pria itu terdengar mengejek.


“Apa maksud kamu?” Nathan menatap Afifah.


“Kamu tidak pantas untuk wanita itu.” Pria yang berbicara diponsel tertawa.


“Siapa kamu?” Nathan mengulangi pertanyaannya.


“Aku sudah menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan dirimu.” Pria itu berbicara serius.


“Tetapi aku tidak punya waktu bertemu dengan kamu.” Nathan mematikan ponselnya.


“Nathan, ada apa?” Suara Afifah terdengar lembut.


“Tak apa, hanya orang salah sambung.” Nathan tersenyum.


“Sebaiknya kita segera masuk dan kamu harus beristirahat.” Afifah berjalan masuk kedalam hotel.


“Ya, besok kita kan pergi kerumah orang tua kamu.” Nathan mempercepat langkahnya dan menyusul Afifah.


Kelemahan dari pria kuat dan kejam adalah orang yang ia cintai, menyakiti dirinya tidak akan berarti tetapi jika orang yang ia cintai terluka itu akan sangat menyiksanya.


“Sayang, masuk kamar kamu dan jangan pernah keluar.” Nathan membuka pintu untuk Afifah.


“Apa kamu akan mengurung diriku di kamar?” Afifah menatap Afifah.


“Tidak, aku hanya khawatir ada orang jahat yang akan mengganggu kamu.” Nathan tersenyum.


“Baiklah, sampai jumpa makan malam.” Afifah tersenyum dan akan menutup pintu.


“Tunggu sayang, jangan membuka pintu untuk orang lain selain diriku.” Nathan menahan pintu kamar Afifah.


“Ya.” Afifah tersenyum.


“Tutup dan kunci pintu!” Nathan menatap Afifah khawatir.


“Dadah.” Afifah melambaikan tangannya dan menutup pintu.


Nathan menyenderkan tubuhnya di pintu kamar bagian luar dan Afifah menyender di bagian dalam pintu. Pria itu khawatir dengan keselamatan kekasihnya sedangkan Afifah memikirkan keputusannya menerima lamaran pernikahan.


Tidak banyak yang tahu Nathan adalah seorang penjahat kecuali orang dalam yang bekerjasama dengan dirinya, ia melakukan bisnis melalui anak buahnya, pria itu tidak terjun langsung kelapangan sehingga namanya selalu bersih.


Pria itu kembali ke kamar, membersihkan diri dan berganti pakaian, melenahkan tubuh kekar tnpa baju di atas kasur empuk yang sangat nyaman, memejamkan mata dan tersenyum mengingat Afifah yang menerima lamarannya.


“Aku akan melamarnya lagi pas makan malam.” Nathan membuka matanya dan mengambil ponsel menghubungi Roy agar bisa merencanakan sesuatu untuk lamaran yang kesekian kalinya.


“Aku tidak tahu sudah berapa kali aku melamar dirimu.” Nathan tersenyum memandang bayangan dirinya yang terpantul dari cermin.

__ADS_1


“Arrrg, aku sangat ingin memeluk dan mencium dirinya.” Nathan berteriak dikamarnya.


“Aku sangat bahagia, akhirnya aku mendapatkan wanita yang aku cintai.” Nathan menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.


Menunggu waktu makan malam romantis dengan kekasih yang dicintai, ia dan Afifah tidak akan keluar kama sebelum waktu makan malam, karena anak buahnya sedang mempersiapkan sebuah ruangan khusus untuk Nathan dan Afifah.


Nathan menghubungi nomor ponsel Afifah untuk memastikan bahwa wanita itu masih berada di dalam kamar dengan aman.


“Halo sayang.” Nathan berbicara pelan.


“Ya.” Suara Afifah terdengar lembut.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Nathan.


“Aku rebahan di atas tempat tidur,” jawab Afifah tersenyum.


“Kita akan makan malam special.” Nathan bersemangat.


“Setiap waktu adalah special.” Afifah tersenyum.


“Tunggulah sebentar, aku akan mengantarkan gaun malam untuk dirimu.” Nathan melihat paper bag yang tergeletak di atas meja.


“Nathan aku sudah punya banyak pakaian.” Affiah melihat lemari besar yang ada di kamarnya.


“Bukalah pintu kamar kamu, aku menunggu di depan.” Nathan bersemangat.


“Tunggu sebentar, aku harus menggunakan hijab.” Afifah bergegas turun dari tempat tidur dan memakai hijab langsung dan membuka pintu. Nathan tersenyum tampan melihat Afifah, ia menyerahkan paper bag.


“Kamu telah membeli terlalu banyak baju.” Afifah mengambil paperbag.


“Gunakan gaun ini, jangan yang lain.” Nathan menatap Afifah.


“Baiklah.” Afifah tersenyum.


“Masuk dan kunci kembali pintu, seorang pelayan akan menjemput dirimu untuk makan malam di bawah.” Nathan tersenyum.


Afifah kembali menutup pintu, ia membuka paperbag melihat gaun berwarna putih sangat cantik, lengkap dengan pashmina dan hiasan di kepala.


“Bagaimana bisa pria ini memilih gaun seindah ini?” Afifah menggnatungkan gaun di dalam lemari.


Nathan tidak memilih gaun tetapi ia langsung menghubungi perancang terkenal yang ada di kota itu, ia meminta koleksi terbaik dan terbaru yang ada di butik sesuai dengan ukuran tubuh Afifah, gaun putih di padankan dengan jas milik Nathan.


Sebuah ruangan yang telah Roy persiapkan dengan sempurna, sebuah meja makan bulat dengan sepasang kursi cantik, bunga mawar merah segar memenuhi ruangan dengan vas kaca berisi air, aroma harum yang menenangkan.


Seorang pria tampan dengan stelan jas putih duduk di kursi menunggu kekasihnya datang bersama seorang pelayan. Nathan terus menatap tangga, ia bisa melihat langkah kaki yang tertutup. Seorang wanita dengan gaun putih berbahan brokat pas di tubuhnya, pashmina menutupi dada, hiasan mahkota berlian putih di kepala sangat cantik.


Afifah tersenyum mempesona pada Nathan, pria itu hanya bisa terdiam melihat kecantikan wanita yang menggunkaan sedikit polesan pada wajah, mata, dan bibirnya, ia terlihat berbeda.


“Sangat cantik.” Nathan berbicara pelan.


“Ruangan ini sangat indah.” Afifah berjalan mendekati Nathan.


“Silakan duduk sayang.” Nathan menarikkan kursi untuk Afifah.


“Terimakasih.” Afifah tersenyum.


“Kamu sangat cantik dan semakin cantik sempurna.” Nathan berjongkok di depan Afifah.


“Apa yanga kamu lakukan?” Afifah melihat Nathan.


“Maukah kamu menikah dengan diriku?” Nathan membuka kotak kaca berisi cincin berlian berwarna putih.


“Ya, aku mau.” Afifah tersenyum.


“Bolehkan aku memakaikan cincin pertunangan ini di jari manis kamu?” Nathan mengambil cincin dari kotak kaca.


“Bolehkah aku mengenakannya sendiri?” Afifah tersenyum.


“Tentu saja.” Nathan mengerti, ia tidak boleh memegang tangan Afifah.


Wanita itu mengambil cincin berlian dari tangan Nathan dan memakainya di jari manis sebelah kanan, sangat pas untuk Afifah.


“Terimaksih sayang.” Nathan masih berjongkok.


“Berdirilah.” Afifah menatap Nathan.


“Ya, kita akan mulai makan malam.” Nathan duduk di kursinya.


Mereka menikmati makan malam dengan tenang tanpa gangguan hingga selesai, beberapa pelayan segera membersihkan meja makan untuk mengganti dengan menu penutup, seorang pelayan menumpahkan makanan pada gaun Afifah.


“Ah, maaf nona saya tidak sengaja.” Pelayan terlihat takut.


“Apa yang kamu lakukan?” Nathan menatap tajam pada pelayan karena telah mengotori gaun Afifah.


“Tidak apa-apa.” Afifah segera berdiri.


“Nathan, aku akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkannya.” Afifah tersenyum.


“Apa kamu mau menggantikan dengan gaun yang lain?” Nathan terlihat khawatir.


“Tidak perlu hanya sedikit saja, aku akan segera kembali.” Afifah berjalan menuju kamar mandi umum.


Nathan memperhatikan kepergian Afifah, ia sangat khawatir jika wanita itu tidak terliaht oleh dirinya, ia segera bergegas dan akan menyusul Afifah ke kamar mandi.


“Aw.” Seorang pelayan menjatuhkan piring dan membuat tangannya luka.


“Apakah kalian selalu ceroboh seperti ini?” Nathan sangat emosi.


“Maafkan saya tuan, saya baru saja mendapatkan pekerjaan ini.” Pelayan itu menangis.


“Segera bersihkan ruangan ini, aku tidak mau Afifah melihat kekacauan yang kalian buat.” Nathan menahan emosi.


“Baik Tuan, maafkan kami.” Pelayan bergerak cepat membersihkan ruangan.


Nathan benar-benar kesal, ia sangat ingin menghukum para pelayan dengan hukuman yang sangat berat tetapi ia tidak mau Affiah melihat kebengisan dirinya ketika sedang marah.


“Dimana Afifah? Kenapa ia belum kembali?” Nathan bergegas berjalan menuju kamar mandi.


“Afifah, apa kamu masih di dalam?” Nathan mengetuk pintu kamar mandi tetapi tidak ada jawaban.


“Apakah ada wanita dengan gaun putih di dalam kamar mandi?” tanya Nathan pada beberapa wanita yang baru keluar.


“Tidak ada tampan.” Wanita itu tersenyum.


“Aku tidak percaya.” Nathan segra masuk ked lam kamar mandi dan memeriksa semua pintu tetapi ia tidak menemukan Afifah.


“Afifah.” Nathan berteriak di dalam kamar mandi wanita dan keluar, matanya memerah, ia segera menghubungi Roy.


Kehilangan wanita yang baru saja menerima lamarannya dan bersedia menikah dengan dirinya membuat Nathan begitu gila karena sangat mengkhawatirkan Afifah.


“Aku percaya kamu tidak akan meninggalkan diriku.” Nathan mengacak rambutnya dan berjalan kembali ke kamar.


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2