Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Afifah berada di depan gerbang sekolah untuk membantu siswa-siswi menyebrang dan menemani mereka menunggu jemputan. Senyuman yang ramah dan tulus membuat semua siswa menyukai dan menyayangi Bu guru cantik. Ia tidak tahu dari pagi hingga sepulang sekolah Nathan terus mengikuti dan memperhatikan semua kegiatan yang Afifah lakukan sepanjang hari.


Sekolah terlihat sepi, semua siswa telah pulang kerumah masing-masing, Afifah berjalan menuju pakir motor dan mengendarai matic merahnya menuju rumah. Seorang pria dengan pakaian casual telah menunggu di depan pagar rumah Afifah.


Nathan semakin tampan dengan kaos putih tanpa lengan memperlihatkan otot-otot seksi dan celana jeans panjang pas pada kaki panjangnya. Afifah melihat Nathan dengat tatapan penuh tanda tanya.


“Assalamualiakum.” Afifah tersenyum manis.


“Waalaikumsalam.” Nathan tersenyun dan membukakan pintu pagar untuk Afifah.


“Eit, kamu tidak boleh masuk!” Afifah tersenyum dan segera mengunci pagar.


“Kenapa?” Nathan bingung ia terus mendapatkan penolakan dari Nisa hingga Afifah.


“Dengar, aku sendirian di rumah jadi kamu tidak boleh masuk itu akan sangat berbahaya, apa kamu tidak tahu?” Afifah berbicara panjang lebar dan meninggalkan Nathan di depan pintu pagar memasukan motor ke pintu samping rumah.


“Tentu saja berbahaya karena wanita sangat mengoda dan kamu adalah paket lengkap.” Nathan tersenyum. Afifah berjalan mendekati Nathan dengan senyuman manis dan ramah.


“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Afifah tanpa mempersilahkan Nathan masuk.


“Apa kita kan berbicara seperti ini?” Nathan menatap kesal.


“Kamu mau bagaimana?” tanya Afifah tersenyum.


“Apa kamu benar-benar tidak mengizinkan aku masuk?” Nathan memegang pagar yang terkunci.


“Tuan dari kota, tidak boleh wanita dan laki-laki berdua-dua di tempat sepi kecuali bersama mahramnya.” Afifah tersenyum.


“Menikahlah denganku jadi kita bisa berdua selamanya.” Nathan manatap Afifah serius.


“Apa?” Afifah menutup mulutnya menahan tawa, ia tidak berpikir Nathan serius.


“Kenapa kamu tertawa?” Nathan melangkahi pagar mengejutkan Afifah hingga dengan sigap Afifah membuka pintu pagar.


“Apa yang kamu lakukan?” Afifah menahan tawa melihat Nathan berada di dalam pagar dan dia di luar, mereka bertukar tempat.


“Astaga, wanita ini membuat aku gila.” Nathan mengacak rambutnya, ia benar-benar kacau.


“Kemarilah kta bisa berbicara di warung itu.” Afifah berjalan menuju warung di depan rumahnya meninggalkan Nathan.


“Ya Tuhan, tadi dia mengunciku di luar pagar sekarang aku terkunci di dalam.” Nathan kembali melangkahi pagar dan mengejar Afifah yang telah memesan jus buah di warung.


“Apa kamu mau minum?” tanya Afifah tanpa bersalah.


“Bu guru cantik, apakah dia kekasih anda dari kota?” tanya ibu pemilik warung.


“Aku calon suaminya.” Nathan duduk di samping Afifaf.


“Alhamdulilah, ternya bu guru sudah punya calon suami yang sangat tampan dang sangat sesuai dengan Bu guru.” Wanita paruh baya itu tersenyum.


“Jangan percaya Bi Inah, dia pria dari kota yang baru bertemu dengan diriku dan suka bercanda.” Afifah tersenyum, ia meneguk jus alpukat dengan perlahan.


“Apa aku terlihat bercanda, atau kamu mau dilamar dengan cara yang romantis?” Nathan tersenyum menatap Afifah.


“Tidak terimakasih.” Afifah tersenyum cantik, ada bekas jus alpukat di bibirnya karena ia hampir tersedak mendengar perkataan Nathan. Afifah menjilati bibir seksi berwarna merah muda dengan perlahan membuat Nathan meneguk ludah karena memperhatikan Afifah yang terlihat menggoda tanpa sengaja.


“Kamu mau minum apa?” tanya Afifah yang tidak menganggap serius perkataan Nathan.

__ADS_1


“Kopi susu.” Nathan tersenyum memperhatikan bibir Afifah.


“Oh God, dia sangat berbeda, lucu dan menggemaskan belum lagi wajahnya yang cantik dengan senyuman yang ramah.” Nathan berbicara di dalam hari dan terus memandangi Afifah.


“Silahkan Tuan.” Bi Inah meletak secangkir kopi susu panas di atas meja.


“Terimakasih.” Nathan mengambil gelas dan memutar dengan jarinya.


“Kenapa kamu datang ke rumah ku?” Afifah bertanya tanpa melihat Nathan.


“Apa tidak boleh aku bertamu kerumah dirimu?” Nathan menatap Afifah.


“Baiklah terserah dirimu saja, jika tidak ada yang perlu dibicarakan aku harus mengganti pakaian.” Afifah berdiri dan membayar minumannya.


“Apa kamu akan meninggalkan diriku?” Nathan memegang tangan Afifah.


“Tentu saja, ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, permisi.” Afifah menarik tangannya dan segera berjalan kembali kerumahnya.


“Kenapa dia menolakku?” Nathan mengacak rambutnya.


“Ada banyak pria yang telah Bu Guru Afifah tolak.” Bi Inah tersemyum dan membereskan gelas bekas Afifah.


“Berapa banyak?” Nathan menlihat kearah Bi Inah.


“Saya tidak menghitungnya, selain warga desa ini juga ada pria dari kota yang kaya tetapi semuanya ditolak.” Bi Inah tersenyum.


“Kenapa ia menolak semua pria itu?” tanya Nathan penasaran.


“Bu Gutu masih menunggu adiknya pulang dari Arab.” Bi Inah duduk di depan Nathan.


“Sepertinya begitu, banyak yang salah paham dengan kebaikan dan keramahan Bu guru Afifah, dia selalu tersenyum bertemu siapa saja dan suka membantu semua orang.” Bi Inah memandang rumah Afifah yang dipenuhi bunga dan pohon rindang.


“Oh, tetapi aku tidak akan menyerah, ini adalah wanita ketiga yang telah membuat aku jatuh cinta, dan dari ketiganya Afifah yang paling unik, ia lucu dan menggemaskan.” Nathan tersenyum, ia meneguk habis kopi dari cangkir.


“Tentu saja Tuan kota, jangankan seorang pria dewasa, anak-anak saja sangat menyukai Bu guru Afifah.” Bi Inah mengambil cangkir.


“Dia sangat mandiri memiliki banyak kepandaian, ia menghabiskan waktunya untuk belajar di kota dan kembali ke desa.” Bi Inah kembali duduk di depan Nathan.


“Anda sangat mengenal Afifah.” Nathan tersenyum tampan, tidak ada yang tahu dibalik senyumanya ada jiwa yang mengerikan.


“Tidak ada yang tidak mengenal Bu guru Afifah.” Bi Inah tersenyum kepada Nathan, ia sangat mengagumi pria sempurna di depannya dengan wajah tampan dan tubuh tinggi tegab sangat cocok dengan Afifiah yang berwajah mungil. Afifah terlihat lebih muda dari usianya.


“Terimakasih untuk waktunya, berapa harga kopi ini?” Nathan beranjak dari kursi dan mengeluarkan dompetnya.


“Bu guru Afifah sudah membayarnya.” Bi Inah tersenyum.


“Oh, terimakasih.” Nathan tersenyum bahagia dan pergi penuh dengan semangat.


Afifah telah selesai mandi dan sholat Ashar, bersiap pergi ke TPA untuk mengajar, ia mendapatkan jadwal pada hari Senin sampai hari Rabu. Afifah keluar dari rumah dan mengendarai motornya. Nathan kembali mengikuti Afifah dengan mobilnya, ia menjadi penguntit. Ia benar-benar telah jatuh cinta dengan Afifah pada pandangan pertama.


Ponsel Nathan bergetar, ia segera kembali ke mobil dan menerima panggilan dari pengurus rumah tangga.


“Selamat Sore Tuan Nathan.” Salam kepala pelayan.


“Ada apa?” tanya Nathan sedikit kesal.


“Apa saya harus mengirimkan helikopter untuk menjemput anda?” tanya kepala pelayan.

__ADS_1


“Ah, kenapa aku dan Roy melupakan itu, desa ini memiliki lapangan bola yang cukup luas untuk helikopter mendarat.” Nathan tersenyum dan menepuk dahinya.


“Wanita itu telah membuat diriku menjadi bodoh.” Nathan tertawa.


“Wanita mana Tuan?” tanya pelayan penasaran.


“Calon Nyonya di rumah.” Nathan sangat yakin.


“Benarkah Tuan, saya sangat senang berharap segera mendengar tangisan anak-anak di Villa ini.” Kepala pelayan benar-benar senang mendengar berita itu langsung dari Nathan.


“Lakukan sesuatu untuk calon Nyonya!” Nathan tersenyum dengan idenya.


“Baik Tuan.” Kepala pelayang bersemangat.


“Terimakasih.” Nathan mematikan ponselnya dan kembali memandang Afifah dari dalam mobil.


“Dia sangat bersemangat, Ah aku ingin sekali mencubit pipi dan mengigit bibirnya.” Nathan tersenyum dan mengusap wajahnya.


***


Fuazan dan Asraf menikmati malam di café hotel, besok mereka berdua akan pergi ke Desa Sinjay tempat dimana Asraf dan Afifah dilahirkan dan dibesarkan.


“Asraf, apakah desa itu sangat jauh dari sini?” Fauzan meneguk kopi pahit miliknya.


“Lumayan Tuan, sebaiknya anda tidak usah ikut, saya tidak mau membuat anda kelelahan.” Asraf menatap Fauzan.


“Bagaimana jika kita menggunakan hellikopter, mungkin akan lebih cepat.” Fauzan tersenyum.


“Saya tidak mau merepotkan anda.” Asraf menunduk.


“Tidak apa, kita bisa meminjam Helikopter Stevent.” Fauzan tersenyum dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Stevent.


Fauzan hanya berbicara sebentar dengan Stevent melalui ponsel dan ia mndapatkan izin untik menggunakan Hellikopter.


“Besok kita akan pergi ke perusahan Stevent, karena helicopter dan landasan ada di belakang perusahaan.” Fauzan tersenyum.


“Baik Tuan, Terimakasih.” Asraf tersenyum bahagia.


“Kita akan menggunakan hellikopter kecil, hanya kamu dan diriku.” Fuzan tersenyum, ia sudah lama tidak menerbangakan helicopter.


“Bagaimana dengan pilot?” tanya Asraf bingung.


“Aku akan menjadi pilot kamu.” Fauzan meneguk habis kopi.


:Tapi Tuan.” Asraf merasa tidak enak.


“Tenanglah, aku melakukannya karena aku suka.” Fazuan menepuk pundak Asraf.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2