Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Khawatir Seorang Suami


__ADS_3

“Sudah aku katakan jangan jauh dariku.” Nathan memeluk Afifah dari belakang. Semua orang tersenyum melihat pria dingin yang tampak hangat dengan istrinya.


“Nathan jangan lakukan ini di tempat umum.” Afifah berusaha membuka tangan Nathan yang melingkar di pinggangnya.


“Aku hanya mau memberitahu mereka bahwa kamu adalah milikku.” Nathan tersenyum.


“Kamu bisa mengumumkannya di majalah, Koran atau televisi.” Afifah tertawa, ia hanya bercanda tetapi tidak dengan Nathan pria itu telah merencanakan pesta pernikahan kedua di Villanya dan mengundang para wartawan.


“Tentu saja sayang, itu akan aku lakukan.” Nathan menggandeng tangan Afifah dan berjalan menuju parkir mobil. Valentino memperhatikan pasangan pengantin baru yang semakin menjauh.


“Kita akan kemana?” tanya Afifah mendongak wajahnya pada pria tinggi dan tampan di depannya.


“Kampus.” Nathan mengecup bibir mungil yang terus mengoda.


“Nathan.” Suara Afifah terdengar kesal, ia heran kenapa pria itu tidak malu mengumbar kemesraan di depan umum.


“Kenapa? Apa kamu marah?” Nathan semakin senang menggoda Afifah yng langsung masuk ke dalam mobil.


“Aku akan memakan dirimu.” Pria itu tersenyum dan ikut masuk ke dalam mobil.


“Apa kamu tidak mau pergi ke kampus kamu?” tanya Nathan tersenyum menyentuh dagu Afifah.


“Kampusku?” Afifah terlihat bingung.


“Apa kamu lupa kamu sudah pernah datang ke kota ini, magang di rumah sakit ku tetapi kita belum bertemu.” Nathan menatap wajah cantik Afifah.


“Bagaimana kamu tahu?” tanya Afifah.


“Aku telah mencari tahu semua tentang dirimu tetapi kamu tidak perlu mengingat masa lalu itu.” Nathan mencium lembut bibir Afifah.


“Hmm.” Afifah tersenyum. Nathan menyalakan mesin mobil dan melaju menuju kampus terbaik di kota.


"Ingat Sayang, jangan dekat-dekat dengan pria lain." Nathan tersenyum.


"Apa kamu khawatir?" tanya Afifah.


"Tentu saja, istri cantik, lembut dan menggemaskan akan membuat para pria khawatir berlebihan." Nathan melirik Afifah.


***


Nisa dan Dini sibuk merapikan ruangan mereka yang di penuhi buket bunga dan parcel buah. Ruangan yang sangat Nisa rindukan bersama dengan asistenya. Dini mengambil satu buket mawar merah dan sangat mewah dan melihat secarik kertas dan membacanya.


“Selamat datang kembali, setelah terkurung dalam istana indah, semoga aku bisa melihat dirimu setiap hari.” Dini melirik Nisa.


“Pasti dari para pasien, jangan terllau dipikirkan.” Nisa tersenyum, ia menata bunga dengan rapi.


“Dini, nanti temani aku membagikan buah-buahan ini kepada pasien yang sednag dirawat.” Nisa melihat Dini.


“Baik Dik.” Dini tersenyum.


“Oh ya, Tuan Samuel mau anda segera melapor diri jika sudah mulai masuk kerja.” Dini mengambil ponselnya dan menujukkan pesan dari Samuel.


“Ayo, kita menemui Samuel.” Nisa memakai jas putih kebanggaan.


“Aku akan mengambil jadwal operasi di ruangan Dokter Renaldi.” Dini merapikan meja kerjanya.


“Apakah aku sudah punya jadwal operasi?” tanya Nisa heran.


“Ya, seorang pasien yang hanya mau di operasi oleh anda.” Dini tersenyum.


“Aku curiga dengan senyuman dirimu.” Nisa tersenyum dan keluar dari ruangannya, ia berjalan menuju kantor Samuel. Pria itu melihat wanita yang semakin cantik setelah melahirkan sepasang bayi kembar.


Nisa sampai di depan ruangan Samuel, ia segera mengetuk dan membuka pintu kaca yang tembus pandang. Wanita itu memberi salam dan tersenyum ramah pada Samuel.


“Selamat pagi.” Nisa tersenyum.

__ADS_1


“Mama Nisa.” Angel turun dari pangkuan Samuel dan berlari memeluk Nisa.


“Halo Angel, apa kabar?” Nisa berjongkok dan menyentuh wajah cantik gadis kecil di depannya.


“Aku sangat merindukan Mama Nisa.” Angel tersenyum.


“Silahkan duduk Dokter Nisa.” Samuel duduk di sofa.


“Terimakasih Tuan Samuel.” Nisa menarik tangan Angel duduk bersama di Sofa.


“Selamat bergabung kembali.” Samuel tersenyum.


“Terimakasih.” Nisa tersenyum dan mengusap rambut Angel.


“Andai dia adalah istriku, pasti kami bisa hidup bahagia.” Samuel berbicara di dalam hati dan menatap Nisa.


“Apakah kamu sudah melihat jadwal operasi kamu?” tanya Samuel.


“Dini sedang mengambilnya.” Nisa tersenyum.


“Tuan Samuel, apakah aku boleh kembali ke rumah untuk mengunjungi anak-anakku ketika kosong?” tanya Nisa.


“Tentu saja.” Samuel tersenyum.


“Mama, apakah aku punya adik?” Angel tersenyum.


“Ya, sepasang bayi kembar.” Nisa menyentuh pipi Angel.


“Apa aku boleh brtemu mereka?” tanya Angel lagi.


“Tentu saja, kamu bisa mengajak Papa kamu, Oma Davina, Om Erick ke rumah Mama.” Nisa menarik hidun Angel.


“Papa, apa kita bisa pergi ke rumah Mama Nisa?” Angel berlari dan duduk di pelukan Samuel.


“Jika Dokter Nisa mengizinkannya.” Samuel tersenyum.


“Baiklah, jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan saya akan berkeliling.” Nisa berdiri.


“Silahkan.” Samuel ikut beranjak dari kursi dan menggendong Angel.


“Apa aku boleh ikut?” tanya Angel.


“Tidak sayang, jangan bermain di rumah sakit, itu tidak baik untuk dirimu, tetaplah di sini.” Nisa tersenyum.


“Baiklah.” Angel menurut.


“Saya permisi, selamat pagi.” Nisa keluar dari ruangan Samuel dan berjalan menuju kantor pusat tim Dokter Bedah.


“Halo Nisa.” Kim Min Jook tersenyum.


“Halo, Oppa Kim.” Nisa menghentikan langkah kakinya.


“Apa kamu akan ke kantor tim bedah?” tanya Kim.


“Ya.” Nisa melanjutkan langkah kakinya bersama Kim.


***


Stevent duduk di ruangnya, ia terlihat gelisah memikirkan Nisa yang kembali bekerja di rumah sakit. Ada Samuel dan Kim Min Jook yang membuat dirinya cemburu dan khawatir.


“Tuan, apakah anda sakit?” tanya Jhonny.


“Ya, hatiku sakit memikirkan istriku kembali bekerja.” Stevent beranjak dari kursi kerja dan pindah ke sofa.


“Aisyah juga mau bekerja di laboratorium Nathan,” Jhonny menatap Stevent.

__ADS_1


“Nathan adalah adik iparnya, itu tidak akan membuat kamu khawatir.” Stevent melihat layar ponselnya.


“Anda benar sedangkan Nyonya Nisa berada di rumah sakit ia kan bertemu dengan banyak orang.” Jhonny tersneyum.


“Apa kamu sedang memanasi diriku?” Stevent menatap tajam pada Jhonny.


“Tidak Tuan.” Jhonny menatap layar komputernya menghindari Stevent.


“Aku akan menghubungi Nisa.” Stevent melakukan panggilan Video tetapi tidak ada jawaban karena ponsel Nisa selalu berada di dalam tas. Ketika berkeliling dan bekerja tas dan ponsel akan ia tinggal di ruangannya.


“Apakah dia sudah bekerja?” Stevent kesal.


“Hey Jhonny, cari informasi tentang Nisa sekarang!” Stevent bernajak dari sofa dan melihat keluar jendela.


“Baru beberapa jam saja.” Jhonny berbicara sendiri.


“Tuan, Nyonya Nisa berada di ruangan Tim Dokter Bedah dan tidak membawa ponsel.” Jhonny berdiri di belakang Stevent.


“Ya, aku tahu dia tidak akan membawa ponselnya ketika bekerja.” Stevent mengacak rambutnya.


“Apakah sudah waktunya makan siang?” Stevent melihat jam tangannya.


“Belum Tuan masih tiga jam lagi.” Jhonny melihat jam yang ada di dinding.


“Kenapa hari ini sangat lama?” Stevent kembali duduk di sofa dan melihat ponselnya.


“Tuan, anda bahkan belum menanda tangani satu berkas pun.” Jhonny melirik berkas yang masih tersusun rapi di atas meja.


“Ah, apa kamu telah mempelajari semua berkas itu dan aku hanya perlu tanda tangan?” Stevent melihat Jhonny.


“Anda bisa mengecek ulang Tuan.” Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Aku sedang tidak bersemangat untuk memeriksa ulang berkas itu.” Stevent duduk di kersi kerjanya dan mulai menandatangani berkas.


“Aku akan memeriksa kembali setelah anda tanda tangani.” Jhonny berpikir tidak biasanya pria itu malas dan ceroboh.


"Bagus, selesai tanda tangan ini semua aku akan ke rumah sakit untuk makan siang bersama istriku." Stevent tersenyum.


"Baik Tuan." Jhonny kembali bekerja.


"Apa Anda mengkhawatirkan Nyonya Nisa?" tanya Jhonny melihat kearah Stevent.


"Tantu saja, sebagai suaminya aku sangat khawatir istriku di goda pria lain." Stevent menatap tajam pada Jhonny.


"Memiliki istri cantik dan disukai banyak orang membuat khawatir para Suami." Stevent memijit batang hidungnya.


***


Fauzan duduk dengan Asraf di restoran Abi, menikmati kopi pahit, pria itu sedang memikirkan penggilan pulang dari Ayahnya, ia telah melewati satu hari keberangkatan.


“Tuan, pesawat pribadi telah menunggu di bandara sejak kemarin.” Asraf memperhatikan kegelisahan Fauzan.


“Bagaimana dengan Kenzo dan Ayesha?” tanya Fauzan.


“Sekarang Tuan Putrid dan Tuan Kenzo ada di pesantren.” Asraf meneguk minumannya hingga habis.


“Ayo kita ke Pesantren untuk pamit.” Fauzan menghabiskan kopi pahit miliknya dan bernajak dari kursi berjalan bersama Asraf menuju pesantren.


Sopan santun dalam berbicara dan bertindak adalah cerminan dari pribadi diri sendiri. Adab dulu baru Ilmu, secerdas, sehebat dan sekaya apapun kamu jangan lupa untuk menghormati orang yang lebih tua dan menghargai orang muda.


***LoveYouAll***


Halo semuanya, berikan Like, Komentar dan Vote yaa, dukungan kalian sangat berarti buat Author, terimakasih.


Baca juga Novel Author yang ada di Innovel berjudul “Unforgettable Lady” dan Novel kakak ku Nama Pena “Fitri Rahayu” di Noveltoon. Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan, aamiin.


__ADS_2