Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Sebentar Saja


__ADS_3

Nisa berkunjung ke rumah Jhonny ia bertemu dengan Valentino dan Dokter Aisyah.


" assalamualaikum" sapa Nisa berada di depan pintu laboratorium.


" waalaikumsalam" Dokter Aisyah berjalan mendekat dan memeluk Nisa.


" Kenapa kamu kemari?" tanya Dokter Aisyah menggandeng Nisa masuk ke dalam laboratorium.


Valentino memperhatikan Nisa, ia melihat Nisa semakin cantik.


" Hai, Valen" sapa Nisa ramah dan mendekat bersama Dokter Aisyah.


" Hai, apa kabar Dokter Nisa" Valentino tersenyum Manis.


" Aku baik, bagaimana dengan dirimu, apakah betah?" tanya Nisa lagi


" Besok kami akan kembali ke Desa, apa kamu mau ikut?" Valentino memandang Nisa.


" Iya, aku akan ikut, bagaimana dengan dirimu? " Tanya Dokter Aisyah yang siap dengan rencana pelarian.


" Aku akan bertanya kepada suamiku, jika ia mengizinkan aku ikut " Nisa tersenyum.


" Aku akan membuatkan makan siang, Kalian di sini saja" ucap Dokter Aisyah meninggalkan laboratorium.


" Aku akan membantu" ucap Nisa mengikuti Dokter Aisyah dan meninggalkan Valentino yang tersenyum Tampan sendirian.


Dokter Aisyah berjalan bersama Nisa Menuju dapur, setiap hari Dokter Aisyah selalu membuat makanan untuk makan siang, dan setiap hari pula Jhonny akan pulang.


Bagaikan pasangan suami istri tapi belum halal dan masih dengan bumbu cek-cok setiap hari.


" Bukankah ini masih jam kerja?" Dokter Aisyah mempersiapkan bahan makanan.


" Aku di pecat" Nisa tersenyum, tidak ada beban ataupun penyesalan di wajah Nisa.


Dokter Aisyah ikut tersenyum, ia sudah sangat mengenal pribadi Nisa, dengan kesabaran luar biasa dalam menghadapi apapun.


" Nyonya Stevent tidak kekurangan uang" Dokter Aisyah menepuk pundak Nisa lembut.


" Iya, aku Bingung mau menghabiskan saldo yang terus membengkak diisi Stevent" Nisa tertawa.


" Hah, Hidupmu terlalu sempurna" Dokter Aisyah tersenyum menggoda Nisa.


" Selama kita menanam kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita tuai" Nisa membantu Dokter Aisyah.


" Aku akan menghubungi suamiku" ucap Nisa segera mengambil ponsel di tas punggungnya.


Nisa membuka layar ponsel dan menekan icon panggilan.


" assalamualaikum Sayang" suara Stevent terdengar hening.


" Waalaikumsalam Sayang, aku di rumah Jhonny sedang mempersiapkan makan siang bersama Dokter Aisyah" suara lembut Nisa menggelitik telinga Stevent.


" Aku dan Jhonny segera pulang" ucap Stevent dan mematikan ponselnya tanpa salam.


" Sayang" tidak ada lagi jawaban.


" hmm, selalu begini " Nisa tersenyum.


" Kenapa?" tanya Dokter Aisyah.


" Tak apa, Suamiku dan Jhonny akan pulang untuk makan siang" Nisa segera memasak menu buatan Nisa sendiri.


" Jhonny selalu pulang setiap kali jam makan siang " ucap Dokter Aisyah.


" Wah, kalian seperti pasangan suami istri, Kenapa tidak menikah saja" ucap Nisa serius.


" Apa, hahahaha" Dokter Aisyah tidak bisa menahan tawanya hingga mengeluarkan air mata.


Nisa memperhatikan Dokter Aisyah yang terlihat lucu karena Tertawa lepas.


" Selesaikan masakan untuk suamimu" perintah Dokter Aisyah.


Mereka telah selesai memasak dan menyiapkan banyak jenis masakan hasil karya Nisa dan Dokter Aisyah.


Nisa sedang menyusun piring di atas meja makan.


" Ah, Sayangku, aku sangat merindukan dirimu" Stevent memeluk Nisa dari belakang dan Mencium pipi istrinya, ia tidak memperdulikan Jhonny dan Dokter Aisyah yang melihat Mereka.


" Ah, Manusia tidak berperasaan" Gerutu Dokter Aisyah yang berjalan Menuju laboratorium untuk mengajak Valentino makan siang.


" Kamu mau kemana" Jhonny mengikuti Dokter Aisyah.

__ADS_1


" Aku mau mandi, apa kamu mau ikut?" Dokter Aisyah tersenyum membuat Jhonny menghentikan langkahnya, Jhonny bingung.


" Jika ingin mandi kenapa ia berjalan menuju belakang?" Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Jhonny duduk di ruang tengah ia tidak mau jadi penonton dan gigit jari melihat kemesraan Stevent dan istrinya.


Dokter Aisyah masuk ke rumah bersama Valentino.


" Ah, kapan Brondong itu datang?" Gumam Jhonny cemburu melihat Dokter Aisyah bercanda dengan Valentino.


Mereka segera menuju rumah makan, Stevent duduk di samping sebelah kiri Nisa dan mengatur Dokter Aisyah duduk di samping sebelah kanan Nisa.


" Ya , ampun " Dokter Aisyah geleng-geleng kepala, ia tahu tujuan Stevent adalah menjauh Nisa dari Jhonny dan Valentino.


Setelah membaca Doa, mereka menikmati makan siang dengan tenang tanpa suara, Valentino memperhatikan Nisa dan Stevent yang tidak menggunakan sendok dan garpu.


Mengetahui Valentino memperhatikan Nisa, Stevent segera bertindak, ia meletakan tangannya di depan mulut Nisa yang diam dan hanya melihat Stevent.


" Mmm" perintah Stevent untuk membuka mulut.


Nisa hanya bisa menurut dan membuka mulutnya, dengan senyuman termanis Stevent memasukkan makanan ke mulut Nisa.


Tiga jomblo hanya bisa menunduk hingga mereka menyelesaikan makan siang.


Nisa dan Dokter Aisyah merapikan dan membersihkan peralatan makan, Stevent ingin membantu istrinya tetapi diusir Dokter Aisyah.


Tiga pria tampan duduk di rumah tengah, ditemani segelas kopi panas dan cemilan.


Nisa dan Dokter Aisyah berjalan bersama menuju ruang tengah


Melihat Nisa berjalan mendekat Stevent segera beranjak dari kursi.


" Sayang, kita pulang ke rumah" Stevent menggandeng tangan Nisa dan menariknya ke luar berjalan menuju Mobil meninggal tiga jomblo.


" Sayang, mobil aku?" tanya Nisa bingung.


" Tinggalkan di rumah Jhonny" ucap Stevent


" Jhonny kembali ke kantor!" perintah Stevent.


" Terimakasih, makan siangnya" Jhonny segera mengikuti Stevent menuju mobil masing-masing.


Stevent membuka pintu untuk Nisa dan memasang sabuk pengaman. Ia segera mengendarai mobilnya menuju rumah mereka.


Mobil telah terparkir rapi di dalam garasi, Stevent menggenggam tangan Nisa berjalan masuk ke rumah.


Melepaskan sepatu di depan pintu dan meletakkan pada tempatnya.


Stevent membawa Nisa duduk di ruang tamu.


" Sayang, apa kamu lelah" Stevent merebahkan kepala Nisa di pangkuannya dan mengusap pipi halus Nisa.


" Tidak " jawab Nisa singkat.


" Sayang, kenapa kamu pulang lebih awal?" tanya Stevent menatap mata Nisa.


" Sayang, aku di pecat" jawab Nisa tersenyum.


" Benarkah?" Stevent terlihat bahagia membuat Nisa Bingung dengan ekspresi suaminya.


" Baguslah, itu adalah kabar yang menggembirakan" Stevent mencium dahi Nisa yang langsung beranjak dari pangkuan Stevent dan duduk.


Nisa tersenyum dengan tingkah Stevent, ia bisa melihat kebahagiaan di wajah suaminya.


" Kenapa kamu senang sekali?" tanya Nisa tersenyum.


" Karena Istriku akan bersamaku selama 24 jam, ia tidak perlu bertemu para pasien dan banyak orang" Stevent memeluk erat tubuh Nisa.


" Muach muach muach " Stevent mencium dahi Nisa berkali-kali.


" Ya Tuhan, kenapa suamiku membuat aku dilema?" Nisa menatap mata tajam Stevent.


Bagi Stevent tatapan Nisa sangat menggoda dan memanggil ia untuk bercinta.


Stevent segera menggendong istrinya dan menaiki anak tangga menuju kamar penuh cinta.


Stevent mencium lembut bibir Nisa dan mulai menjalar kemana-mana.


Terdengar dering panggilan dari ponsel Nisa.


" Sayang, ada panggilan" Nisa menutup mulut Stevent dengan jari lembutnya.

__ADS_1


" Apakah kamu memberikan nomor ponsel kepada orang banyak?" Tanya Stevent menatap wajah cantik Nisa yang tertutup rambut berantakan.


" Abi, Umi, Viona, Dokter Aisyah, Jhonny dan Dini, hanya itu" Nisa beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati tas punggung miliknya yang tergeletak di atas meja.


Stevent mengikuti Nisa, ia tidak membiarkan tubuh seksi itu menjauh dari dirinya.


Nisa mengambil ponsel dan melihat nama Dini muncul di layar ponsel.


Stevent memeluk tubuh Nisa dari belakang.


" Siapa?" tanya Stevent meletakkan dagu tajam miliknya di lekukan leher Nisa.


" Dini" Jawab Nisa dan menggeser icon berwarna hijau.


" Assalamualaikum Din" Nisa menahan geli dijelajahi Stevent.


" Waalaikumsalam Dok, anda Dimana?" tanya Dini.


" Aku di rumah" Nisa menahan tangan Stevent yang nakal.


" Apakah Dokter di rumah dekat pesantren?" tanya Dini lagi.


" Tidak, aku sekarang berada di rumah kami sendiri dan bersama suamiku". Jelas Nisa


" Ooh, Dok, bisakah Anda kembali ke Rumah Sakit?" tanya Dini yang bisa di dengarkan Stevent, ia segera merebut ponsel Nisa.


" Sayang" suara lembut dan manja Nisa membuat Stevent semakin bersemangat.


" Sayang, sebenarnya aku tidak suka dengan Dini" Stevent menatap tajam pada Nisa.


" Kenapa?" Nisa memutar tubuhnya menghadap Stevent dan melingkari tangannya di leher Stevent.


" Karena Dia, kamu hampir dilecehkan" wajah emosi Stevent mulai terlihat, ia masih belum bisa memaafkan Leo.


Melihat raut wajah Stevent yang mulai berubah, Nisa segera mencium bibir suaminya dengan lembut.


Stevent tidak bisa menolak kelembutan Nisa, semua emosi akan sirna dengan segera dan berganti dengan rasa cinta dan kasih sayang.


Ponsel Nisa kembali berdering, membuat Stevent mengepalkan tangannya, ia segera mengambil ponsel Nisa di atas meja dan melihat nama yang tertera di layar.


" Umi" ucap Stevent tersenyum menahan emosi dan hasrat di hati memberikan ponsel kepada Nisa.


" Assalamualaikum, Umi" Nisa menerima panggilan.


" Waalaikumsalam, Sayang kamu Dimana?" tanya Umi.


" Nisa bersama Stevent di rumah" Jawab Nisa lembut.


" Mama Maria menanyakan kamu, sekarang dia ada di pesantren, melihat anak - anak" jelas Umi.


" Mama Maria Nunggu Nisa?" tanya Nisa.


" Iya sayang" Jawab Umi.


Nisa melihat wajah yang Stevent cemberut.


Stevent bisa mendengarkan dan mengerti arah tujuan pembicara Umi dan arti dari tatapan Nisa.


" Nisa akan bersiap - siap" Nisa mengakhiri panggilan dengan salam.


" Kita main sebentar saja" bisik Nisa di telinga Stevent dan membuat wajah cemberut kembali bersemangat dan tersenyum bahagia.


***


**


*


*"*"*"*"*"* *Terimakasih


*


**


**


Thanks for Reading.


Terimakasih atas Like, komen dan vote yang banyak.


Semoga Readers semua selalu dalam lindungan sehat dan mendapatkan limpahan rezeki, Aamiin.

__ADS_1


♥️ Love You Readers 💓**


__ADS_2