
Perusahaan Stevent.
Nisa beristirahat di kamar milik Stevent, ia tidur dengan nyenyaknya.
Stevent fokus dengan layar komputer dan ponsel, ia sangat sibuk, bahkan telah lupa dengan bidadari surga yang tertidur sendirian.
Pekerjaan Stevent benar-benar banyak, ia sangat butuh assiten atau sekretaris pribadi harus laki - laki.
Seorang yang sangat mengerti dirinya dan perusahaan.
Satu - satunya orang kepercayaan yang memahami Stevent dan perusahaan adalah Om Robert.
Stevent telah menyelidiki, Om Robert tidak bekerja lagi di perusahaan Papa Alexander dan belum bekerja di manapun.
Tidak akan ada perusahaan yang mau menerima pegawai yang sudah tua, tidak produktif lagi.
Apalagi Om Robert dipecat oleh Papa Alexander, itu menambah citra buruk pada Om Robert.
Stevent menghubungi Jhonny untuk segera meminta Om Robert datang perusahaannya segera.
***
Rumah Sakit
Jhonny dan Aisyah sedang duduk di bawah pohon.
Aisyah benar-benar gemas dengan Jhonny yang terus berbicara dengan nada dan wajah datar tanpa ekspresi.
Berbicara hanya dengan satu dua patah kata, tanpa ada pertanyaan untuk Aisyah.
"Apakah dia tidak mau bertanya tentang keluargaku?" kesal Aisyah dalam hati.
Jika Aisyah tidak memulai maka mereka hanya terdiam dan Jhonny hanya akan curi - curi pandang.
Ponsel Jhonny berdering, nada khusus panggilan dari Stevent.
Jhonny segera menerima panggilan, tanpa salam atau sekedar menanyakan kabar karena Stevent akan langsung pada pokok permasalahan.
"Hubungi Om Robert dan perintahkan datang ke kantor ku!" Satu kalimat selesai dan tidak menunggu jawaban dari Jhonny panggilan telah terputus.
Aisyah memperhatikan Jhonny, ia bingung, bagaimana bisa menerima panggilan tanpa berbicara.
Jhonny segera mencari nomor ponsel Om Robert dan menghubungi.
"Halo Tuan Robert, segeralah pergi ke perusahaan Stevent Lu Alexander, sekarang!" Jhonny pun melakukan hal yang sama.
Tidak ada salam pembuka dan penutup, langsung pada pokok permasalahan.
Mereka tidak mau berlama-lama melakukan panggilan dengan pembicaraan yang tidak penting.
Aisyah Menggelengkan kepalanya, heran dengan cara kehidupan para pengusaha.
Jhonny memberikan ponselnya kepada Aisyah dan termenung.
"Hey, ada apa dengan dirimu?" tanya Aisyah.
"Stevent pasti sangat sibuk, aku sangat bodoh." ucap Jhonny menatap kosong ke depan.
"Apa kamu menyesalinya?" tanya Aisyah menyelidiki.
"Tidak, Aku hanya menyesali tubuh yang tidak berguna." ucap Jhonny.
Aisyah memerhatikan wajah datar Jhonny, ia sangat tampan, tetapi pria itu seakan tidak memperdulikan ketampanannya.
Jhonny bahkan tidak pernah menatap wanita, ia benar-benar menyerahkan hidupnya kepada Stevent.
Jhonny kembali mengambil ponselnya yang tergeletak di samping Aisyah.
Dengan cepat Jhonny menghubungi sebuah nomor dan meminta untuk mengantarkan laptop dan tab yang biasa ia gunakan untuk memantau perusahaan Stevent.
Jhonny tersenyum, walaupun ia belum bisa berada di samping Stevent, setidaknya ia tetap bisa bekerja dari rumah sakit.
"Kamu terlihat bahagia." Aisyah tersenyum.
"Aku sudah bisa bekerja dari rumah sakit." Jhonny berusaha menjalankan kursi rodanya.
__ADS_1
Semua organ tubuh Jhonny telah berfungsi, hanya kakinya yang masih dalam proses terapi, butuh waktu kurang dari satu Minggu lagi.
Aisyah segera mendorong kursi roda Jhonny dan kembali ke ruangannya.
"Kita baru sebentar di luar." ucap Aisyah.
"Aku harus segera berkerja." jawab Jhonny.
"Ah, pria ini benar-benar membosankan." gumam Aisyah.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Jhonny.
"Tidak, aku sedang berdoa supaya kamu cepat sembuh." jawab Aisyah berbohong.
Jhonny tersenyum, ia menghentikan kursi roda dengan menarik tuas.
"Ah, Kenapa kamu menghentikan roda secara mendadak." tangan Aisyah sedikit sakit.
Jhonny menarik jilbab Aisyah agar pindah ke depannya.
"Hey, apa yang kamu lakukan?" Aisyah mengikuti tarikan tangan Jhonny agar jilbabnya tidak berantakan dan bahkan terbuka.
Aisyah berdiri di depan Jhonny, dan mereka saling berpandangan beberapa menit.
"Ada apa?" Aisyah mengalihkan pandangannya.
"Ketika aku sudah sembuh maukah kamu menikah dengan ku?" Jhonny menatap wajah Aisyah dan masih memegang jilbabnya.
Aisyah melihat mata Jhonny, meskipun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi tetapi mata yang berkilau indah memancarkan harapan dan keinginan tulus.
Aisyah tersenyum dan mengangguk kepalanya.
"Bolehkah Aku menciummu?" Jhonny tersenyum bahagia.
"Boleh." Aisyah tersenyum.
Jhonny kegirangan, ia sangat bahagia akhirnya bisa merasakan bibirnya bersentuhan dengan seorang yang ia cintai.
Aisyah mendekat dan berbisik di telinga Jhonny.
Jhonny membeku, sirna sudah Khayalannya tentang bibir manis dan lembut.
Aisyah tersenyum menahan tawa dan kembali mendorong kursi roda Jhonny menuju kamarnya.
Jhonny seperti anak kecil, terlalu polos dan langsung. Entah apa yang dipelajarinya selama bersama Stevent.
Aisyah bahkan tidak tahu apa agama Jhonny, Stevent orang tua beragama Islam tetapi ia tumbuh tanpa Agama.
Bagaimana dengan Jhonny? apakah ia memiliki agama atau tidak? Banyak pertanyaan yang ada di benak Aisyah.
Jhonny kembali menghentikan laju rodanya.
"Apa lagi, kita tidak akan sampai ke ruangan dirimu." Aisyah masih menahan tawa, ia yakin Jhonny masih penasaran.
"Kenapa kita tidak boleh berciuman?" tanya Jhonny.
"Karena kita belum menikah dan ciuman sebelum menikah adalah dosa besar." ucap Aisyah tersenyum lucu.
"Kita hanya berciuman dan bukan bercinta." ucap Jhonny.
"Tuan Jhonny, jangankan berciuman, bersentuhan dan berduaan pun tidak boleh." jelas Aisyah.
"Setiap hari kita berduaan." ucap Jhonny.
"Ya Tuhan, apa kamu tidak melihat seorang perawat yang selalu berjaga di pintu kamar dirimu." ucap Aisyah kesal.
"Tapi dia di luar." ucap Jhonny lagi.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan berjaga di luar bersama perawat." ucap Aisyah kesal dan mendorong kursi roda.
"Maafkan Aku." ucap Jhonny pelan dan Aisyah hanya diam.
Mereka sampai di kamar Jhonny.
"Apa kamu mau berbaring?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Jhonny.
Seorang wanita mengetuk pintu kaca yang masih terbuka dan masuk. Ia adalah sekretaris Jhonny.
Aisyah melihat wanita seksi dengan kemeja ketat belah dada dan rok mini sepaha.
Ia tidak heran, dulu Aisyah juga berada di lingkungan seperti itu ketika ia masih bersama Jordan.
Jhonny melirik Aisyah yang tidak memperdulikan kedatangan Chintya sekretarisnya.
Jhonny memiliki banyak sekretaris, berbeda dengan Stevent yang hanya mau berurusan dengan Jhonny.
"Apakah dia tidak cemburu?" pikir Jhonny.
"Nyonya Nisa saja cemburu pada Stevent." Kesal Jhonny dalam hati.
"Selamat siang, tuan Jhonny." Chintya tersenyum menggoda.
"Berikan tas kerjaku kepada Aisyah!" perintah Jhonny.
Chintia melihat seorang wanita berjilbab cantik dan tersenyum manis kepada Chintya.
"Ah Nona, ini laptop dan berkas yang akan diperiksa Tuan Jhonny." Chintya menyerahkan kepada Aisyah.
"Terimakasih, maaf merepotkan Anda." Aisyah menerima tas dan tersenyum.
"Siapa wanita ini? pakaiannya sangat Kampungan." bisik Chintya dalam hatinya.
"Tuan Jhonny, sebagai sekretaris Anda, apakah ada yang bisa saya kerjakan." tanya Chintya manja.
"Kembalilah ke perusahaan." ucap Jhonny.
"Em, Baiklah Tuan, saya permisi." Chintya memberi salam dan menunduk sedikit tubuhnya menampilkan dada seksi yang montok.
"Ah, aku sangat malu, merasa melihat tubuhku sendiri yang terbuka." Aisyah membuang pandangannya.
Jhonny tidak melihat ke arah Chintya, ia melirik Aisyah yang melihat ke jendela kaca.
Chintya sangat kesal, ia sudah berdandan cantik sebelum pergi ke rumah sakit.
"Jhonny dan Tuan Stevent sama saja." gumam Chintya meninggalkan ruangan Jhonny.
"Aku sudah sangat rindu hampir lebih satu Minggu tidak melihatnya, tetapi ia terus melihat wanita berjilbab itu." kesal Chintya.
Wanita seksi dengan high heels masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit.
"Berikan kepada ku!" perintah Jhonny Kepada Aisyah.
"Kenapa kamu tidak menerimanya langsung dari wanita tadi." ucap Aisyah dan memberikan tas kepada Jhonny.
"Apa kamu cemburu?" tanya Jhonny menatap Aisyah.
Aisyah menahan tawa, ia bingung harus menjawab apa, cemburu? apa yang harus ia cemburukan.
Jangankan melihat, melirik saja Jhonny Tidka pada wanita tadi.
"Aku rasa wanita tadi menyukai dirimu." ucap Aisyah tersenyum.
Jhonny menatap tajam pada Aisyah.
"Tapi aku menyukai dirimu." tegas Jhonny dan membuka laptopnya.
Aisyah hanya terdiam, ia tersenyum melihat tingkah Jhonny yang tanpa ekspresi.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author (Arsitek Cantik)
Baca juga Karya adik aku, Jadikan Favorit, like dan bintang 5. Untuk Novel
"Mafia's in Love" by. Sisca Nasty
__ADS_1
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊