
Afifah masih terdiam di depan ruangan operasi, pikirannya kacau semua ucapan pria yang telah melukai Nathan terus berulang di ingatannya. Ia duduk di kursi menyenderkan tubuhnya, memejamkan mata, memeluk tas punggung yang berisi banyak ramuan dan ponsel Nathan.
Malam semakin larut, rumah sakit tampak hening dan tenang hanya suara denyut nadi dan jantung dari layar computer yang terdengar, wanita itu sangat lelah dan tertidur di kursi tunggu, bau anyir darah yang telah mengering pada gamisnya menusuk hidung.
Seorang pria berjongkok di depan Afifah memperhatikan wajah cantik yang tertidur pulas, ia terlihat kedinginan berada di luar ruangan dengan memeluk tas punggungnya. Wanita itu hampi rmerebahkan tubuhnya tetapi ia segera terbangun dan pria itu segera bersembunyi.
“Ah kepalaku pusing.” Afifah membuka matanya perlahan, ia melihat lampu ruangan operasi telah mati dan Nathan telah di pindahkan ke ruangan perawatan insentif.
“Kemana mereka memindahkan Nathan?” Afifah masih terduduk di kursi, ia merasakan semua badannya sakit, dan pria tadi memperhatikan wanita itu dari kejauhan.
“Nona, pasien telah di pindahkan ke ruang inap, mari saya antar.” Seorang perawat mendekati Afifah dengan senyuman ramahnya.
“Terimakasih.” Afifah tersenyum dan beranjak dari kursi berjalan bersama perawat.
“Nona, silahkan bersihkan diri anda dan ini pakaian ganti.” Perawat tersenyum dan menyerahkan paper bag.
“Dari mana kamu mendapatkan pakaian ganti ini?” Afifah melihat sebuah gamis lengkap dengan hijab.
“Seorang pria memberikan kepada diriku, saya permisi Nona.” Pelayan keluar dari ruangan.
“Terimakasih.” Afifah melirik Nathan yang masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.
Wanita itu berjalan menuju kamar mandi yang sangat luas, ruangan itu lebih mirip apatement dari para kamar pasien, sangat mewah dengan peralatan yang sangat lengkap. Afifah membersihan dan menyegarkan diri di dalam kamar mandi, ia keluar dengan pakaian dan hijab baru.
“Kesalahan apa yang kamu lakukan hingga seseorang sangat membenci dan mau membunuh dirimu.” Afifah memperhatikan wajah tampan Nathan yang sedang tertidur.
“Aku akan tidur, tubuhku sangat lelah.” Afifah berjalan menuju sebuah sofa yang telah diubah menjadi tempat tidur empuk, ia duduk dan membuka tasnya, melihat ponselnya dan milik Nathan. Ada banyak panggilan dan pesan pada ponsel pria itu, ia melihat wallpare dan tema foto dirinya.
“Kapan dia mencuri fotoku?” Afifah tersenyum dan merebahkan tubuhnya, meletakkan ponsel di atas meja samping sofa.
“Harusnya aku menyuntikkan formula pada diriku tetapi itu sangat menyakitkan.” Afifah mengusap lengannya dan tertidur.
Matahari kembali menyinari bumi dengan cahaya lembut yang menghangatkan pagi, mengeringkan embun mengubahnya menjadi gas dalam proses penguapan. Nathan membuka matanya perlahan dan melihat seorang wanita yang meringkuk di atas sofa tanpa ada kain yang menyelimuti dirinya.
Pria keras kepala itu segera turun dari tempat tidur dengan menahan rasa sakit dan menyeret tiang impus, berjalan mendekati kekasihnya, Nathan mengusap kepala yang tertutup hijab.
“Maafkan aku.” Nathan menyentuh pipi Afifah yang terasa dingin dan lembut, mata indah itu perlahan terbuka.
“Nathan, apa yang kamu lakukan, kembalilah ke tempat tidur!” Afifah duduk dan melihat kain kasa yang menutupi tubuh telajang itu berdarah.
Afifah segera mengalihkan pandangannya, tubuh Nathan terlihat sangat seksi dengan otot-otot kekar dan terawat, lengan yang keras, bentuk yang sangat indah dari seorang pria yang sangat didambakan oleh kaum hawa, begitu menggoda.
“Kamu tidur terlalu jauh dariku.” Nathan menatap wajah Afifah yang memerah.
“Pria bodoh, kembalilah ke tempat tidur!” Afifah beranjak dari sofa.
“Afifah, apa kamu membenci diriku?” Nathan menahan tangan Afifah.
“Kenapa aku membenci dirimu?” Afifah melepaskan tangan Nathan dan berjalan menuju kamar mandi meninggalkan pria itu duduk di sofa.
“Karena aku adalah pria jahat.” Nathan berguman sendiri melihat Afifah yang tidak mendengarkan suaranya.
Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan tersenyum cantik duduk di samping Nathan yang melongo, ia merasa Afifah bertambah cantik setiap harinya.
“Kenapa kamu keras kepala, kembalilah ke tempat tidur dan jangan banyak bergerak.” Afifah memegang tangan kekar Nathan dan membawanya kembali ke tempat tidur.
“Kamu tidak meninggalkan diriku?” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Aku tidak sejahat itu meninggalkan pria yang sedang terluka, hewan saja akan aku obati apalagi seorang manusia.” Afifah tersenyum.
“Terimakasih.” Nathan tersenyum.
“Kamu yang memaksa diriku untuk terus berada di sisi kamu.” Afifah tersenyum.
“Bisakah kamu memberikan ponselku?” Nathan terus menatap Afifah.
“Aku akan mengambil ponsel kamu.” Afifah berjalan menuju sofa mengambil ponsel Nathan yang tergeletak di atas meja dan kembali kepada pria yang terus menatap dirinya.
“Hmm.” Afifah tersenyum menyerahkan ponsel dan Nathan menerimanya.
“Kamu mau kemana?” Nathan menatap Afifah yang berjalan menuju Sofa.
‘Aku mau duduk di sofa.” Afifah tersenyum.
“Apa kamu lapar?” tanya Nathan.
“Apakah pria sakit harus memikirkan wanita yang sehat ini? Aku akan membeli sarapan di kantin rumah sakit.” Afifah berjalan menuju pintu.
“Tidak, kamu akan tersesat.” Nathan terus menatap Afifah.
“Aku tidak akan tersesat, kamu telah mengobati diriku.” Afifah tersenyum dan keluar dari ruangan Nathan.
“Afifah.” Nathan berteriak, ia merasakan sakit pada perutnya.
“Ah, dia pasti akan kembali.” Nathan berusaha tidak khawatir, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aku harus menghubungi Roy.” Nathan mencari kontak Roy yang langsung terhubung.
Afifah berjalan menuju kantin, ia telah bertanya beberapa kali kepada perawat dan semua orang yang ia temui sehingga ia bisa sampai ke kantin.
“Akhirnya aku sampai.” Afifah berjalan menuju etalase yang tersusun banyak pilihan makanan.
“Permisi Nona, bisakah aku memesan susu coklat hangat?” Afifah tersenyum cantik kepada pelayan kantin.
“Tentu saja, tunggu sebentar.” Pelayan segera membuat pesanan Afifah.
“Terimakasih.” Afifih duduk di kursi menunggu susu coklatnya.
“Permisi Nona, ini susu anda.” Pelayan meletakkan susu di atas meja.
“Terimakasih.” Afifah tersenyum kepada pelayan yang meninggalkan dirinya untuk menikmati susu coklat hangat.
“Permisi Nona, apakah saya boleh duduk di sini?” Pria tampan tersenyum kepada Afifah.
__ADS_1
“Tentu saja, silahkan.” Afifah tersenyum.
“Terimakasih.” Pria tampan duduk di depan Afifah.
“Apakah kamu hanya minum susu coklat?” tanya pria itu.
“Aku mau makan nasi tetapi merasa tidak berselera.” Afifah tersenyum.
“Kamu harus makan untuk menjaga kesehatan tubuhnmu.” Pria asing itu tersenyum.
“Terimakasih, roti ini cukup besar dan mengandung karbohidrat.” Afifah tersenyum dan memakan roti bersama susu.
“Kamu masih tetap lucu.” Pria itu menatap Afifah.
“Apa kita saling kenal?” tanya Afifah.
“Kamu pasti tidak ingat diriku tetapi aku tidak pernah melupakan dirimu.” Pria itu tersenyum, ia tahu dengan penyakit Afifah.
“Maafkan aku.” Afifah terlihat sedih.
“Tidak apa, aku tahu kamu sedang sakit.” Pria tersenyum.
“Aku sudah sembuh, kamu bisa mengatakan namamu, aku pasti ingat.” Afifah tersenyum bersemangat.
“Benarkah?” Pria itu terlihat senang.
“Ya, Nathan mengobati diriku.” Afifah tersenyum cantik.
Mendengar nama Nathan membuat pria itu tidak jadi menyebutkan namanya, tatapan polos Afifah seakan menusuk hatinya. Wanita itu tidak tahu betapa kejamnya pria yang kini terbaring di tempat tidur. Pria berdarah dingin membunuh tanpa belas kasih dan menjadikan orang mati sebagai ladang bisnis yang sangat menguntungkan.
“Kenapa kamu diam?” Afifiah menatap pria di depannya.
‘Tidak apa, kita akan berkenalan dari awal, anggap saja ini adalah pertemuan pertama kita.” Pria itu tersenyum.
“Baiklah, Afifah.” Afifah mengulurkan tangannya.
“Pedro.” Pria itu memberikan nama yang berbeda dari nama aslinya.
“Senang berkenalan dengan anda.” Afifah tersenyum tulus.
“Saya juga, semoga kita bisa berteman seperti dulu.” Pedro tersenyum.
“Ya.” Afifah tersenyum.
Ponsel Afifah berdering dari dalam tas yang tergeletak di atas meja, ia segera mengambil ponsel dan menerima panggilan dari pria yang terus mengawasi dirinya.
“Assalamualaikum.” Afifah menjawab panggilan dengan suara lembutnya.
“Kamu dimana?” Nathan tidak menjawab salam Afifah.
“Aku masih di kantin.” Afifah meneguk habis susu coklatnya.
“Kembalilah, aku telah memesan sarapan dari restoran.” Nathan khawatir Afifah akan tersesat.
“Apa kamu akan pergi?” tanya Pedro.
“Ya, Nathan telah memesan sarapan, mungkin ia juga lapar.” Afifah tersenyum dan berjalan ke kasir untuk membayar makanan dan minumannya dengan panggilan yang masih terhubung.
“Apa aku boleh meminta nomor ponsel kamu?” Pedro menarik tas Afifah.
“Tentu saja.” Afifah mengambil secarik kertas dan menuliskan 2 nomor ponselnya.
“Kamu memiliki dua nomor?” Pedro mengambil kertas dari tangan Afifah.
“Satu nomor lama dan satu lagi dibelikan Nathan, aku merasa wajah kamu tidak asing, jadi aku memberikan kedua nomorku, mungkin kamu bisa mengirimkan sesuatu yang bisa mengingatkan ku pada masa lalu.” Afifah tersenyum.
“Tentu saja.” Pedro melihat Afifah yang melambaikan tangannya meningglkan dirinya.
“Kenapa kamu harus berada di sisi Nathan? Apakah pria itu telah jatuh cinta pada dirimu? Kamu tidak akan pernah bisa lepas dari dirinya.” Pedro duduk di kursi dan memesan secangkir kopi panas.
Afifah berjalan keluar dari kantin dan berhenti di persimpangan koridor yang terlihat sama, ia tidak tahu harus memilih jalan yang mana untuk sampai ke kantin ia terus bertanya kepada semua orang, ia tidak tahu nama ruangan Nathan karena tidak membacanya.
“Kenapa aku sangat ceroboh?” Afifah duduk di kursi dan mengambil ponsel, ia menghubungi Nathan.
“Afifah, kenapa kamu belum kembali?” Nathan mulai khawatir, ia tahu Afifah tidak menyuntikkan formula karena lengannya yang sakit.
“Aku tidak tahu jalan kembali ke ruangan kamu.” Suara Afifah terdengar lembut.
“Dimana kamu?” tanya Nathan.
“Di persimpangan koridor depan kantin.” Afifah.
“Tunggulah di situ, jangan bergerak, aku akan menjemput dirimu.” Suara Nathan terdengar khawatir.
“Tidak usah, katakan saja nama ruangan kamu seseorang akan membantuku.” Afifah tersenyum melihat Pedro berdiri di depannya.
“Ruangan Eksekutive.” Nathan tidak akan sanggup berjalan sejauh itu untuk menjemput Afifah tetapi akan tetap ia lakukan jika wanita itu benar-benar tidak bisa kembali ke ruangannya.
“Baiklah, aku akan segera kembali.” Afifah memutuskan panggilan.
“Kenapa kamu duduk di sini?” tanya Pedro.
“Aku tidak tahu jalan pulang.” Afifah tersenyum, kalimat itu mengingatkan Pedro pertama kali mereka bertemu.
“Aku akan mengantarkan kamu.” Pedro tersenyum, wanita itu tidak berubah, selalu manis dan menggemaskan.
“Terimakasih, tolong antarkan diriku ke ruangan Eksekutive.” Afifah tersenyum.
“Ayo jalan.” Pedro tersenyum, ia kembali bernostalgia dengan Afifah, walaupun wanita itu telah melupakan dirinya.
“Apakah ini ruangannya?” Pedro tersenyum kepada Afifah.
“Ya, terimakasih.” Afifah tersenyum cantik.
__ADS_1
“Masuklah.” Pedro tersenyum.
“Apa kamu tidak mau ikut masuk dan berkenalan dengan Nathan.” Afifah menatap Pedro.
“Tidak, aku harus kembali bekerja.” Pedro tersenyum.
“Baiklah, terimakasih atas bantuan kamu dan maafkan aku yang telah merepotkan.” Afifah menunduk.
“Tidak apa, sampai bertemu lagi.” Pedro tersenyum, meninggalkan Afifah yang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Nathan yang telihat seperti kamar sebuah apartemen.
“Kenapa kamu sangat lama?” Nathan menatap pada Afifah.
“Lama, cuma sepuluh menit.” Afifah tersenyum dan berjalan mendekati Nathan.
“Sepuluh menit terasa sepuluh tahun.” Nathan duduk dan melihat makanan di atas meja.
“Kamu berlebihan dan pandai menggombal.” Afifah tertawa.
“Makanlah!” Nathan memandang Afifah.
“Apa ini?” Afifah berjalan menuju sofa, ada banyak makanan di atas meja dan paperbag di atas lantai.
“Itu semua kebutuhan kamu selama di rumah sakit, pakaian ganti, handuk , selimut dan lainnya, katakana jika masih ada yang kurang.” Nathan tersenyum.
“Bagaimana kamu melakukan semua ini dari tempat tidur?” Afifah tersenyum, ia melihat isi dari paper bag.
“Aku punya banyak assisten dan orang kepercayaan.” Nathan tersenyum puas.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Afifah tanpa melihat Nathan.
“Aku kelaparan menunggu dirimu.” Nathan melihat bubur yang tergeletak di atas mejanya.
“Ah, maafkan aku, aku akan menyuapi dirimu.” Afifah kembali mendekati Nathan dan mengambil mangguk bubur.
Nathan terus memperhatikan Afifah yang menuapi dirinnya dengan telaten, ia tersenyum bahagia mendapatkan perhatian dari wanita yang ia cintai. Satu mangkuk bubur telah habis, Afifah memberikan minum dan obat untuk Nathan.
“Istirahatlah, supaya kamu segera sembuh.” Afifah membantu Nathan berbaring.
“Siapa pria yang berbicara dengan dirim di kantin?” tanya Nathan.
“Seorang yang tidak aku kenal.” Afifah tersenyum.
“Jika kamu tidak mengenalnya kenapa kamu memberikan nomor ponsel kamu?” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Bagaimana kamu tahu?” Afifah mengernyitkan alisnya.
“Kamu tidak mematikan ponsel kamu dan langsung menyimpannya.” Nathan melotot.
“Baiklah, maafkan aku, aku sangat lapar.” Afifah tersenyum manja.
“Makanlah!” Nathan tersenyum.
“Ya, aku aku akan makan sekarang.” Afifah berjalan menuju wastapel untuk mencuci tangan dan meja dengan makanan yang terbungkus rapi dari restoran.
Afifah menikmati sarapan seorang diri dan tidak luput dari tatapan Nathan tetapi ia tidak memperdulikan pria itu hingga dia selesai.
“Afifah, seseorang akan mengambil berkas dari kamar kamu.” Nathan melirik Afifah yang kembali mencuci tangannya.
“Lakukan saja sesuai perintah dirimu.” Afifah tersenyum, ia merapikan semua bagpaper dan memasukan ke dalam lemari.
“Aku akan melakukan yang terbaik untuk dirimu agar bisa bertemu dengan keluarga kamu dan kita segera menikah.” Nathan tersenyum.
“Kamu butuh waktu yang cukup lama untuk sembuh.” Afifah tersenyum.
“Roy akan mengirimkan formula untuk diriku.” Nathan tersenyum.
“Apakah kamu memiliki banyak formula hebat?” Afifah bersemangat.
“Aku memiliki laboratorium dan banyak staf ahli kimia yang berkumpul.” Nathan tersenyum.
“Apa aku boleh bergabung?” tanya Afifah.
“Apa kamu menyukai bidang kimia?” Nathan memperhatikan Afifah.
“Aku menyukainya, aku selalu berharap bisa meciptakan formula yang sangat bermanfaat bagi banyak orang.” Afifah tersenyum cantik.
“Apa kamu pernah belajar?” tanya Nathan penasaran.
“Aku tidak punya kesempatan, aku hanya belajar sendiri.” Afifah terlihat sedih.
“Aku akan mengajarkan dirimu.” Nathan tersenyum.
“Benarkah?” Afifah terlihat bahagia, ia menggengam tangan Nathan tanpa sadar.
“Ya.” Nathan tersenyum melihat Afifah yang menggenggam tangannya.
“Aku akan berganti pakaian.” Afifah melepaskan genggamannya dan berjalan menuju kamar mandi dengan membawa sebuah paper bag berisi gamis dan hijab.
“Aku akan memberikan semua yang kamu minta.” Nathan tersenyum melihat Afifah.
“Kehidupan yang sangat sulit mengurung dirimu di desa itu sangat tidak pantas.” Nathan mengepalkan tangannya.
Pria itu memejamkan matanya, berharap kebahagian untuk dirinya dan Afifah segera tercapai, ia ingin memiliki sebuah keluarga bersama wanita yang ia cintai.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantuan promosikan, jika suka . Terimakasih.
Love You so much, Muuach. Terimakasih ya
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.