
(Like, komentar, Vote dan Bintang 5)😘
Nisa telah siap dengan tas ransel berwarna putih yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Tas ransel ukuran sedang bukan berisi make up atau alat kecantikan tetapi perlengkapan medis dan obat - obatan.
Stevent memperhatikan tas Nisa yang ia rasa hanya satu itu saja, padahal Nisa bisa membeli tas dengan harga selangit dan limited edition.
"Sayang, kenapa melihatku seperti itu?" Nisa tersenyum dan mengandeng tangan Stevent.
Stevent mengambil tas dari punggung Nisa dan menelitinya.
Bukan tas mahal dan bermerk, tetapi tas itu memiliki kwalitas yang tinggi dan tahan lama.
"Sayang, Ada berapa tas yang sama?" Stevent menatap Nisa.
"Dua" jawab Nisa singkat dan mengambil kembali tas miliknya dari tangan Stevent.
Stevent mengambil ponselnya dan menghubungi toko ternama yang bekerjasama dengan perusahaan miliknya.
Toko khusus tas berkelas dengan produk-produk yang sangat mahal dan limited edition.
"Antarkan semua tas berwarna putih yang ada di toko Anda" Satu kalimat dari Stevent membuat pemilik toko tertawa bahagia, panik dan takut.
Pemilik toko bahagia karena seorang Stevent tidak pernah menawar harga barang.
Panik, Stevent mau semua serba cepat dan takut apabila tidak bisa membuat Stevent puas atau tidak ada barang sesuai keinginannya, itu adalah hal yang paling berbahaya.
Jika sebuah toko yang bekerjasama dengan dirinya, tetapi tidak memiliki barang sesuai keinginan Stevent, maka bersiaplah untuk gulung tikar.
Nisa kaget mendengarkan perintah Stevent dari ponselnya.
Sudah berapa lama mereka menikah, dan hari ini Stevent memperhatikan tas yang ia gunakan.
Nisa hanya memiliki 2 tas dengan warna sama tetapi sedikit berbeda pada modelnya, agar ia bisa menggunakan tas secara bergantian ketika kotor dan dicuci.
"Sayangku tolong batalkan, Cintamu tidak perlu dengan tas baru" Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent.
"Kenapa?" tanya Stevent menyelidiki.
"Aku mohon batalkan dulu" Nisa menampilkan wajah memelas yang menggemaskan membuat Stevent tersenyum nakal dan patuh.
Stevent kembali mengambil ponsel dari saku jas miliknya.
"Cancel" Satu kata dan membuat pemilik toko terduduk lemas di kursinya.
Pemilik toko berpikir keras, kenapa Stevent membatalkan pesanan dalam waktu lima menit saja belum ada.
Apa yang akan terjadi pada dirinya setelah pembatalan yang dilakukan Stevent.
Kekhwatiran mengganggu pikiran pemilik toko dalam menunggu keputusan Stevent kepada toko miliknya.
"Katakan kenapa Cintaku tidak perlu tas baru?" Stevent tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Nisa yang terasa semakin berisi.
"Pertama, Karena cintamu punya 2 tas yang masih bagus dan masih bisa di gunakan, kedua, belikan barang sesuai kebutuhan, dan ketiga aku tidak mau tas yang tidak terpakai akan menghambat perjalananku menuju surgaNya" Nisa tersenyum dan mencium bibir Stevent sekilas.
Stevent hanya tersenyum dan berpikir untuk mencerna kalimat Nisa.
"Ayo Sayang" Nisa menarik lembut tangan Stevent menuju mobil yang telah terparkir di depan pintu, mobil sport hitam bersih berkilau.
Stevent membuka pintu untuk Nisa, memasangkan sabuk pengaman dan ciuman di dahi.
Mobil hitam melesat meninggalkan perkarangan rumah dan membelah jalanan kota yang ramai pada jam sibuk, menuju Rumah Sakit Pemerintah.
Nisa dan Stevent disambut ramah oleh dua orang wanita yang berada dibalik meja pusat informasi.
__ADS_1
"Selamat pagi Dokter Nisa" Dinda tersenyum kepada Nisa dan melirik Stevent yang tidak memperdulikan mereka.
"Selamat pagi Dinda" Nisa tersenyum membalas sapaan dari Dinda.
"Dokter Nisa semakin cantik" seorang di samping Dinda bernama Kirana berbicara.
"Terimakasih, semua wanita pasti Cantik" Nisa tersenyum dan pamit menuju ruangan Dokter Nada.
Stevent menggandeng erat tangan Nisa, tidak mau melepaskannya. Mata tajam Stevent memperhatikan sekeliling.
Setiap orang yang mereka temui di koridor menyapa Nisa dengan ramah dan sopan.
Nisa menjawab sapaan dengan senyuman yang tulus dan cantik.
Mereka bertemu Dini di depan ruangan Dokter Nada.
"Aah, Dokter Nisa" Dini berlari dan memeluk Nisa.
"Dokter, Aku sangat merindukan Anda" ucap Dini memeluk Nisa erat.
Dini tidak sadar seorang dengan tatapan tajam penuh kecemburuan dan tidak suka dengan perlakuan Dini kepada Nisa.
"Apa kabar Dini?" tanya Nisa melepaskan pelukan dengan lembut.
"Aku baik, Bagaimana keadaan Dokter ku tersayang dan twin ponakan" Dini mengelus perut Nisa yang belum begitu terlihat.
Mata Stevent melotot, ia tidak suka dengan kata Dokter tersayang, dan lebih tidak suka lagi Dini mengelus perut Nisa.
Stevent menarik lembut tangan Nisa menjauh dari Dini.
"Sayang, Dokter pasti sudah menunggu kita" ucap Stevent menatap tajam pada Dini yang merasakan bulu pada tubuhnya begidig ngeri.
"Dini, Aku masuk dulu menemui Dokter Nada, Setelah itu aku akan menemui dirimu" Ucap Nisa tersenyum.
Dini hanya mengangguk, ia lupa ada Stevent karena Dini benar-benar merindukan Nisa.
Dini segera berjalan menuju ruangan perawatan Jhonny yang akan melakukan operasi.
"Ya Tuhan, aku lupa, aku harus mencari Dokter ahli bedah" Dini segera berlari menuju ruang meeting.
Beberapa Dokter telah berkumpul, mereka harus melakukan operasi pada kepala dan tangan Jhonny
Dokter spesialis bedah terbaik adalah Dokter Nisa, yang sekarang sedang cuti panjang.
Suasana ruang meeting terlihat tegang, Tim Dokter telah mendapatkan ancaman dari Stevent Operasi harus berjalan lancar.
"Selamat pagi Dokter" salam Dini.
"Bagaimana Dini, apakah kamu sudah mendapatkan Dokter bedah dari rumah sakit lain?" tanya kepala Dokter.
"Tidak ada yang berani melakukan operasi dengan kondisi pasien seperti Tuan Jhonny" jawab Dini gugup.
"Kita benar-benar membutuhkan Dokter Nisa" ucap seorang Dokter senior.
"Aku bertemu dengan Dokter Nisa, ia sedang berada di ruangan Dokter Nada untuk melakukan perjalanan rutin" ucap Dini gugup.
"Apakah Dokter Nisa mau membantu kita melakukan operasi ini?" tanya seorang Dokter muda.
"Dokter Nisa pasti mau tapi tidak dengan suaminya" sambung seorang lagi.
Semua kembali terdiam.
"Tuan Jhonny adalah orang kepercayaan Tuan Stevent, pasti ia bisa memakluminya" ucap seorang.
"Kita benar-benar dalam masalah" ucap seorang Dokter senior dengan rambut yang telah berwarna putih.
__ADS_1
"Saya punya usul, Kita akan memberitahukan Dokter Nisa tetapi dengan tidak sengaja" seorang berbicara.
"Maksudnya?" tanya yang lain Bingung dan menatap ke arah Dokter yang memberi usul.
Ia menjelaskan untuk mencari kesempatan agar Dokter Nisa mendengarkan masalah yang dihadapi Tim Dokter bedah yang berhubungan dengan Jhonny.
"Tapi Tuan Stevent telah mengatakan kepada pihak rumah sakit, Dokter Nisa tidak boleh tahu keadaan Jhonny dan Aisyah" jelas Dini.
"Kita benar-benar Dokter Nisa untuk melengkapi Tim Dokter bedah" Seorang kepala Tim mengusap kasar wajahnya.
"Tunggu, aku akan menghubungi Dokter Nada" ucap seorang Dokter wanita yang bernama Dokter Renata.
Dokter Renata berbicara cukup lama dengan Dokter Nada.
"Bagaimana?" tanya seorang Dokter.
"Sekarang Dokter Nada hanya berdua dengan Dokter Nisa, Tuan Stevent berada di luar ruangan sedang menerima panggilan" jelas Dokter Renata.
"Bagaimana dengan Dokter Nada, apakah ia bisa membantu kita memberitahukan Kekacauan yang terjadi pada Tim bedah kepada Dokter Nisa?" Dokter senior terlihat cemas.
"Saya sudah mengatakan kepada Dokter Nada, tapi saya tidak tahu ia kan membantu atau tidak?" jelas Dokter Renata.
"Kita harus segera melaksanakan operasi malam ini, pengangkatan pembekuan darah dan pemasangan pin pada tangan pasien atas nama Jhonny" jelas seorang Dokter lagi.
Ponsel Dini berdering, semua menatap Dini, sebuah nomor baru muncul di layar ponsel Dini.
"Selamat siang" Dini menjawab panggilan.
"Dini, kamu dimana" Dini bisa mengenali suara yang menghubungkannya.
Dini segera memberi isyarat kepada semua Dokter untuk berbicara tentang masalah Jhonny agar Nisa bisa mendengarkan mereka.
"Dini, apakah kamu sedang sibuk?" tanya Nisa.
"Maafkan saya Dokter Nisa, saya sedang berada di ruang meeting" ucap Dini lembut.
Ponsel telah di loud speaker, sehingga Nisa bisa mendengarkan topik hangat yang sedang di diskusikan.
Nisa terdiam, nama Jhonny dan kekurangan Tim Dokter bedah.
"Apakah Jhonny, Assisten Stevent?" pikiran Nisa menebak.
"Dini aku akan mematikan ponsel" ucap Nisa Setelah mendengarkan apa yang tidak seharusnya ia dengarkan.
"Baiklah Dokter Nisa, maafkan saya" panggilan terputus.
Semua Tim Dokter menarik nafas lega dan berharap Dewi keberuntungan menghampiri mereka.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
Mohon dukungannya selalu Tinggalkan Like, Komentar, Vote dan Bintang 5.
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
__ADS_1
Love You Readers 💓 Thanks for Reading