Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Wanita Kampungan


__ADS_3

Nisa merasakan perutnya sangat lapar, sudah beberapa hari ini, ia tidak makan makanan seafood.


Air liur Nisa seakan ingin menetes, bahkan ketika tidur ia hanya memimpikan makanan laut yang segar dan berada di laut.


Nisa menatap Stevent yang bertelanjang dada sibuk dengan laptopnya, duduk di sofa kamar, fokus dan serius.


Nisa beranjak dari tempat tidur dan memeluk leher Stevent dari belakang meletakkan kepalanya di pundak dan memiringkan wajah ke arah Stevent.


"Aku mau makan Udang dan kepiting Besar" gumam Nisa mesra dan manja mencium pipi suaminya.


Stevent menutup laptopnya, meletakkan di atas meja dan memutar kepalanya dan mencium bibir Nisa.


"Kemarilah" Stevent menarik tangan Nisa hingga duduk di pangkuannya.


"Kamu mau makan di restoran mana Sayang?" Stevent mencium sekilas bibir Nisa.


"Restoran tepi laut" Nisa memeluk leher Stevent dan merebahkan kepalanya di pundak.


"Sayang, Restoran laut sangat jauh" Stevent mengangkat wajah dan menyentuh pipi dengan Nisa dengan lembut.


"Sayang, aku sudah tidak tahan lagi setiap hari mengikuti selera makan kamu tanpa seafood" Ucap Nisa manja.


"Kita makan di restoran, ya" rayu Stevent dan membuat istri cantiknya cemberut.


"Aku mau di pantai" ucap Nisa beranjak dari pangkuan, dan Stevent menarik kembali istrinya.


"Baiklah Sayang, jangan cemberut begitu karena sangat menggemaskan dan menggoda" Stevent mencubit dagu Nisa yang tersenyum bahagia.


"Tunggulah Cintaku, Aku mandi dan berpakaian" Stevent mencium dahi Nisa dan beranjak menuju kamar mandi.


"Terimakasih" ucap Nisa manja, ia segera mempersiapkan pakaian untuk Stevent.


Pria tampan dengan tubuh seksi atletis, keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk berwarna putih diikat melilit pinggangnya sebatas paha.


Aroma maskulin menyegarkan menusuk hidung Nisa yang tersenyum melihat ciptaan Tuhan yang sempurna sedang berjalan ke arah dirinya.


"Sayang, apa aku menggoda mu?" Stevent memeluk Nisa dengan tubuh yang masih basah.


"Udang dan kepiting lebih menggoda" bisik Nisa di telinga Stevent.


"Aku akan menghajar mereka karena telah berani menggoda Istriku" ucap Stevent mencubit pipi Nisa dengan lembut.


"Cepatlah, aku dan si Kembar kelaparan" Nisa mendorong tubuh Stevent agar segera berpakaian.


"Baiklah Cintaku dan Sayangku" Stevent mencium perut Nisa.


Nisa tersenyum dan menahan tawa melihat tingkah Stevent yang sering berubah di setiap suasana.


Stevent sudah rapi dan sangat tampan dengan pakaian hasil tangan desainer ternama yang diukur langsung dan dibuat khusus Stevent.


Nisa mengambil tas ransel kecil berwarna putih, dan menggandeng tangan suaminya menuruni tangga menuju garasi mobil.


"Sayang, kamu sangat bersemangat" Stevent menatap tajam kearah Nisa.


"Aku sudah tidak tahan lagi" ucap Nisa menjilati bibirnya dan tersenyum.


"Jangan lakukan itu" Stevent menutup mulut Nisa dengan jarinya.


Stevent membuka pintu dan memasang sabuk pengaman untuk Nisa.


Ia menutup pintu dengan perlahan dan menghubungi restoran pinggir pantai, agar segera mengosongkan restoran.


Panggilan yang Stevent lakukan membuat pemilik restoran ketakutan, karena biasanya Jhonny yang melakukan pemesanan.


Mereka hanya di beri waktu 30 Menit untuk menyelesaikan pesanan pelanggan setelah itu restoran di tutup untuk umum.


Stevent tersenyum puas, ia dan istrinya tidak akan bertemu dengan orang lain ketika berada di dalam restoran.


Ketika ingin muntah dia tidak akan menggangu orang lain, sedangkan Nisa tidak pernah jijik dengan tingkah mual dan muntah Stevent.


Nisa hanya akan tersenyum dan menahan tawa, melihat Stevent dengan tatapan kasihan dan lucu.


Stevent masuk ke dalam mobil dengan senyuman dan memasang sabuk pengaman miliknya.


"Sayang kamu menghubungi siapa?" tanya Nisa lembut.


"Pemilik restoran agar mereka segera menyiapkan udang dan kepiting paling besar" Ucap Stevent mencubit hidung Nisa.


"Terimakasih Sayang ku" Nisa tersenyum bahagia.


Stevent segera menjalankan mesin mobil dan mengendarainya dengan kecepatan sedang menuju restoran yang berada di tepi pantai sesuai keinginan istrinya.


Mobil terus melaju, Nisa memperhatikan jalanan yang ramai mendekati kawasan pantai, ia sangat bersemangat.


Stevent fokus pada jalanan dan mengemudi dengan hati - hati. Ia membawa wanita yang paling ia cintai.


Mobil telah memasuki tepian Restoran di tepi pantai, Mata Nisa berbinar penuh cahaya kebahagiaan.


Nisa terburu-buru ingin segera turun dari mobil, ia merasakan air liurnya akan menetes.


"Sayang, sabarlah restoran itu akan buka 24 jam untuk dirimu" Stevent membuka sabuk pengaman Nisa dan mencium pipi Nisa.


"Aku sangat Sayang, tapi lihat air liurku sudah menetes" Nisa menunjukkan mulutnya.

__ADS_1


"Benarkah, coba aku lihat, hap " Stevent telah melahap bibir Nisa.


"Oooh, air liur kamu manis sekali" Stevent tersenyum dan keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Nisa.


"Selalu mendapatkan kesempatan" guman Nisa tersenyum dan keluar perlahan dari mobil.


Nisa memandang sekeliling pantai, laut, pasir, bantuan dan restoran.


"Masya Allah Indah sekali" Nisa tersenyum dan menggenggam tangan suaminya berjalan bersama menuju restoran.


"Sayang, kenapa restorannya sepi tanpa pengunjung?" Nisa heran melihat meja dan kursi yang kosong.


Para pelayan, manager dan pemilik restoran telah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan tamu istimewa orang nomor satu di negara mereka.


Kedatangan Stevent adalah keberuntungan bagi mereka, karena dapat meningkatkan kepopuleran restoran.


"Selamat datang Tuan" sapa seorang wanita cantik pemilik restoran.


Stevent tidak menjawab sama sekali, ia bahkan tidak memperdulikan sambutan sang Nona pemilik restoran.


"Terimakasih Nona" jawab Nisa dan wanita yang hampir menahan malu tersenyum kepada Nisa.


Beberapa orang telah mengambil gambar dari berbagai sudut agar bisa di jadikan berita dan promosi restoran.


"Silahkan Tuan dan Nyonya" Seorang pria sebagai manager mempersilahkan Stevent dan Nisa untuk masuk dan memilih kursi.


"Terimakasih Tuan" jawab Nisa lagi tersenyum manis.


"Sayang, kamu mau duduk dimana?" Stevent mengandeng tubuh Nisa seperti orang yang sedang berpelukan.


"Aku mau meja paling dekat dengan laut" ucap Nisa tersenyum.


"Baiklah" Mereka berdua berjalan bersama menuju meja pilihan Nisa.


Wanita cantik dan seksi pemilik restoran warisan orang tuanya sangat kecewa, ia berpikir Stevent akan datang ke restoran bersama rekan bisnis dan bukan bersama istrinya.


Wanita itu berjalan menuju ruangan, ia dapat melihat kemesraan di antara Nisa dan Stevent.


"Beruntung sekali wanita itu dapat memiliki Stevent, apakah dia memiliki ilmu guna - guna?" wanita itu menatap tidak Suka pada Nisa.


"Dia hanya mengandalkan wajah yang cantik, tidak seksi sama sekali, pasti hanya seorang wanita rumah tangga yang tidak bisa apa-apa" Gerutu wanita itu sendirian di ruangannya.


Sebuah nama tertulis di atas Meja kerjanya " Tania", Lulusan chef luar negeri dan sekaligus sebagai seorang Model terkenal.


Wajah Cantik dengan Tubuh tinggi proporsional, begitu menggoda, dengan kesempurnaan yang ia miliki tidak akan ada pria yang mampu menolak pesona Tania.


***


Makanan pesanan Nisa dan Stevent telah tersedia di atas meja.


"Jika Dia terus begitu, akan aku makan dia disini" Stevent berbicara di dalam hati menatap bibir Nisa yang terus basah karena jilatan lidahnya.


Pandangan Stevent pindah ke arah Udang dan kepiting ukuran raksasa tertata rapi tepat di depan Nisa.


Ia merasa ngeri dan mulai mual, Ketika pandangan tertuju pada Ikan panggang ukuran besar dengan saus cabai, yang masih mengeluarkan asap.


Aroma khas Ikan mulai menyusup ke dalam indera penciuman Stevent dan ia merasakan sesuatu yang menendang di dalam perutnya dan memaksa untuk keluar.


Nisa telah selesai membaca doa, ia mulai dari kepiting gemuk penuh telur dengan bumbu merah beserta saus tomat di dalamnya, asem manis dan pedas, benar-benar membuat air liur menetes.


Dengan jari - jari lentik yang telah di cuci Nisa mulai menyuapkan isi dari Kepiting.


Masya Allah sungguh nikmat, menu dengan harga jutaan.


Stevent memperhatikan Nisa, jari putih bersih telah berwarna merah cabe dan tomat, Stevent menahan gejolak di dalam perutnya.


Nisa terus menikmati makanannya tanpa nasi, jari cantik itu pindah ke Udang berwarna merah kecap dengan irisan cabe rawit dan cabe hijau dan saus tomat, perasaan jeruk sambal, menggugah selera.


Wanita di depan Stevent tetap bisa makan dengan elegan rapi dan bersih, walaupun tanpa menggunakan sendok.


Stevent memakan buah Anggur dan salad sayuran, meneguk jus buah Anggur dengan mata terus tertuju kepada Nisa, tanpa suara karena itu adalah aturan di meja makan.


Nisa menjilati jari - jari tangannya.


"Ah, itu sangat menggoda" pikir Stevent dalam pikirannya, dan perperang akan segera di mulai.


Jari cantik itu telah pindah ke Ikan panggang saus tiram cabe rawit tomat jeruk sambal.


Nisa membuka daging ikan membuat aroma khas Ikan laut semakin menyengat hidung Stevent dan begitu nikmat bagi Nisa.


Nisa menghirup aroma sedap segar dari ikan, dan memasukkan daging ikan ke mulutnya dan,


"Kwek" Stevent Berlari ke wastafel tidak jauh dari ruangan Tania.


Nisa menarik nafas panjang dan menoleh ke arah Stevent.


Ia tidak mungkin mendekati Stevent dengan Aroma ikan di jari - jari Nisa.


"Makan saja Sayang, aku akan baik-baik saja" Stevent mengangkat tangannya kearah Nisa yang mengangguk.


Nisa kembali menikmati makanannya, seorang wanita yang tidak lain adalah Tania mendekati Stevent membawa segelas air putih.


Tanpa melihat wajah yang memberikan air, Stevent segera mengambil gelas dan meminum habis air dari gelas.

__ADS_1


"Terimakasih" ucap Stevent mengembalikan gelas dan melihat seorang wanita seksi menggunakan kemeja merah dengan kancing terbuka pada bagian dada sebanyak empat buah.


Menampilkan gunung kembar yang putih mulus dan padat berisi.


Stevent segera mengalihkan pandangan dan mencuci wajahnya dengan air. Ia ingin kembali ke meja Nisa, tetapi ketika mengingat bau ikan membuat Stevent tidak berani mendekat.


Stevent memilih meja lain tidak jauh dari Nisa dan memanggil seorang pelayan untuk memesan menu vegetarian.


Tania yang tidak dipedulikan Stevent semakin tertantang untuk mendekat, ia melihat Nisa yang masih menikmati makanan dan Stevent yang duduk sendirian.


"Aku rasa Mereka bertengkar, lihat cara makan wanita kampungan itu sangat menjijikkan" Tania memerhatikan Nisa yang sedang makan tanpa sendok dan garpu.


"Stevent pasti merasa jijik melihat gaya makan wanita itu sehingga membuat dia muntah dan memesan menu baru" Tania tersenyum puas.


Ia berpikir Nisa sangat tidak pantas untuk Stevent dengan gaya kehidupan yang berbeda, di mata Tania, Nisa adalah gadis kampungan beda kasta dengan Stevent.


Dengan percaya diri Tania berjalan menuju Meja Stevent yang sedang menikmati salad buah dan sayur.


"Apa aku boleh duduk di sini" suara menggoda dan manja Tania yang membungkukkan badannya menampilkan buah kembar miliknya.


"Tidak!" jawab Stevent tanpa melihat Tania, ia telah menebak siapa wanita di depannya.


Stevent melirik Nisa, ia berpikir akankah istrinya akan cemburu.


Nisa telah menyelesaikan makanannya, ia memanggil pelayan agar segera membereskan sisa makanan.


Nisa mencuci bersih tangan dan mulutnya menggunakan sabun pencuci tangan di tambah dengan perasan jeruk untuk menghilangkan bau ikan pada tangan dan mulutnya.


Nisa juga telah memakan buah-buahan yang bisa menghilangkan bau khas dari ikan.


"Sebaiknya Anda menyingkir dari hadapan saya, jika Istri saya cemburu dan membuatnya marah, Kematian menunggu Anda" ucap Stevent penuh ancaman.


Wanita yang pernah membuat Nisa masuk rumah sakit telah ia usir dari negara itu, karena Nisa melarang membunuhnya.


"Dan juga aku sangat Jijik melihat wanita penggoda seperti Anda" Stevent menatap tajam ke arah Tania.


Tania merasakan penghinaan luar biasa, ia mengepalkan tangannya, melirik Nisa dan meninggalkan Stevent dengan penuh emosi menuju ruangnya.


"Pria yang Sombong, aku akan membuat dirimu bertekuk lutut di hadapan ku" Tania duduk di kursi kerjanya, memperhatikan Stevent dan Nisa dari ruangannya.


"Apa hebatnya wanita kampungan itu?" gerutu Tania, ia melihat senyuman hangat Stevent yang diberikan kepada Nisa begitu berbeda ketika berbicara dengan Tania.


Stevent tersenyum melihat Nisa yang berusaha membersihkan dan membuang bau pada mulutnya.


Nisa menggosok gigi di wastafel dengan sikat gigi baru yang diberikan pelayan restoran.


"Hah" Nisa menghembuskan nafasnya, ia tersenyum karena bau ikan telah benar-benar hilang.


Ia berjalan mendekati suaminya yang tersenyum menyambut kedatangan istrinya.


"Sayang, kemarilah" Stevent membentangkan tangannya memeluk Nisa.


Stevent Mencium mesra bibir Nisa.


"Sayang, aku temani kamu makan" ucap Nisa.


"Ya, Aku sangat kelaparan" Stevent tersenyum manja dan menggesek hidungnya pada hidung Nisa.


Nisa memanggil para pelayan untuk memindahkan makanan Stevent ke meja Stevent.


Stevent menikmati makanannya dan giliran Nisa yang memandang suaminya dengan senyuman.


Nisa beranjak dari kursi dan pindah ke samping Stevent.


Nisa mengambil nasi dan sayuran dan menyuapi Stevent dengan senyuman.


Makanan semakin nikmat dengan jari cantik yang masuk kedalam mulutnya.


Selera makan Stevent bertambah tanpa ikan yang bau.


Kemesraan yang membuat seseorang orang menahan emosi di ruangannya.


Beberapa pelayan mencuri foto kemesraan Nisa dan Stevent untuk di abadikan di ponsel Mereka dan di pamerkan kepada dunia sehingga membuat iri para jomblo.


***


**


*


Terimakasih telah membaca dan mendukung karya Author 😘


*


**


***


Love You Readers 💓


Selalu Tinggalkan Like komentar dan Vote, Terimakasih 🤗


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


Thanks for Reading 🤗


__ADS_2