Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Persiapan Penjamuan


__ADS_3

Aisyah duduk di depan meja rias dengan wajah di tekuk, ia memikirkan Nathan dan Afifah dan berharap cepat kembali dari bulan madu agar dirinya segera bisa masuk ke pabrik dan laboratorium adik iparnya itu.


Jhonny yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk sebatas paha menatap istrinya termenung di depan cermin. Pria itu berjalan perlahan menuju tempat tidur untuk menggunakan pakaian yang telah disiapkan oleh istrinya.


“Apa yang ia pikirkan?” Jhonny bertanya pada dirinya sendiri dan terus menatap Aisyah.


“Kapan mereka akan pulang?” Aisyah beranjak dari kursi, tersenyum melihat suami tampan dan seksi yang sedang berganti pakaian.


“Sayang, aku tidak tahu kamu sudah selesai mandi.” Aisyah berjalan mendekati Jhonny dan membantu suaminya mengancingkan kemeja.


“Hari ini Kenzo dan istrinya akan bertamu.” Jhonny menatap wajah Aisyah.


“Kenzo, pria yang menyelamatkan diriku di gunung.” Aisyah terdiam mengingat tentang pertama kali ia bertemu dengan Kenzo.


“Apa kamu melamun?” Jhonny menyentuh pipi Aisyah.


“Ah, iya aku merindukan Afifah dan berharap mereka segera kembali berkumpul, aku baru saja bertemu dengan adikku dan Nathan telah membawanya pergi.” Aisyah tersenyum dan segera memasngakn dasi Jhonny.


“Aku akan menghubungi Nathan.” Jhonny mengambil ponselnya dan ia benar-benar menghubungi ipar istrinya. Aisyah hanya tersenyum melihat Jhonny.


“Halo Nathan, kapan kamu akan kembali?” tanya Jhonny langsung ketika panggilan telah tersambung.


“Apa urusannya dengan dirimu?” Nathan kesal.


“Aisyah mau bertemu dengan adikknya.” Jhonny tetap tenang.


“Istrimu hanya mau masuk ke pabrik ku.” Nathan tersenyum.


“Aku tidak mau melihat istriku sedih,” tukas Jhonny.


“Kami akan segera pulang.” Nathan memutus panggilan dengan kesal dan harus memikirkan cara untuk menghadapi Aisyah yang kini menjadi kakak iparnya.


“Apa yang Nathan katakana?” Aisyah memeluk Jhonny dan menyentuh dagu pria itu.


“Ia akan segera kembali.” Jhonny menatap bibir basah yang bermain dengan dengan lidah.


Aisyah memindahkan tangan keleher Jhonny dan menariknya dengan kuat agar ia bisa mencium bibir suaminya dengan lembut, pria itu selalu bisa membuat dirinya bahagia dalam segala hal. Jhonny tidak pernah mengecewakan istrinya.


“Terimakasih sayang, aku selalu bahagia menajdi istri kamu.” Aisyah tersenyum dan Jhonny kembai mencium bibir Aisyah.


***


“Sayang, apa kamu tidak bersiap ke kantor ?” Nisa melihat Stevent beraring bersama Azzura di sofa.


“Hari ini aku akan tetap di rumah.” Stevent tersenyum dan memeluk Azzura di dada telanjangnya.


“Bagaimana dengan Jhonny?” Nisa berjalan menggendong Azzam mendekati suaminya.


“Biarkan dia pergi sendiri.” Stevent duduk dan mencium pipi Nisa.

__ADS_1


“Ada apa sayang?” Nisa menatap Stevent.


“Ada tamu hari ini.” Stevent beranjak dari kursi dan memindahkan Azzura kedalam keranjang bayi.


“Kak Kenzo dan Ayesha.” Nisa tersenyum.


“Kamu sudah tahu.” Stevent mengambil Azzam dari Nisa dan meletakkan di dalam keranjang.


“Apa kamu sudah menyiapkan jamuan untuk tamu kita?” Stevent memeluk dan mencium leher Nisa.


“Tentu saja sayang, Apa Tuan Fauzan ikut?” tanya Nisa.


“Kenapa kamu menanyakan pria lain pada diriku.” Stevent mengigit leher Nisa.


“Aw, sakit sayang.” Nisa mengusap lehernya.


“Jangan tanyakan pria lain di depanku.” Stevent tersenyum.


“Aku mau menyiapkan makanan sayang.” Nisa mencubit hidung Stevent.


“Sepertinya ada empat orang.” Stevent mencium bibir Nisa.


“Baiklah, ayo turun dan persiapkan makanan untuk tamu kita.” Nisa menarik tangan Stevent.


“Sayang, apa kamu akan membawa diriku keluar kamar tanpa pakain?” Stevent menahan tangan Nisa.


“Ah, aku hampir lupa tubuh seksi suamiku akan dilihat wanita lain.” Nisa tersenyum dan berjalan bersama menuju kamar mereka mengambil baju kemeja untuk Stevent.


***


“Kenzo dan istrinya?” Ayumi duduk di tepi tempat tidur Viona.


“Ya.” Viona melihat gadis cantik yang dingin itu.


“Apa anda berharap Tuan Fauzan akan hadir, sehingga tidak akan pergi ke kampus hari ini?” Ayumi membuka layar komputernya.


“Hmm, kamu yang mengatakan sikap Fazan adalah bentuk perhatian.” Viona tersenyum malu.


“Itu aku lakukan agar anda tidak terlalu sakit hati dan terluka karena pria.” Ayumi melirik Viona yang diam membisu.


“Anda harus memahami dan mengembangkan kemampuan yang anda miliki.” Ayumi indah ke eja kerja yang ada di kamar Viona.


“Padahal dulu aku tidak begitu perduli dengan pria tetapi sejak bertemu dengan dua pria luar biasa itu membuat jantungku terus berdetak tidak tenang.” Viona menunduk.


“Yang harus anda lakukan adalah mengontrol diri anda.” Ayumi fokus pada layar computer.


“Ayumi, andai kau bisa seperti dirimu.” Viona menatap Ayumi.


“Tidak akan bisa karena dari lahir aku telah terlatih dan hidup dalam kesulitan.” Ayumi berbicara tanpa melihat Viona, ia melihat jam di tangan kirinya dan menatikan komputer.

__ADS_1


“Kamu benar, aku selalu bergantung pada kakak ku.” Viona beranjak dari kursi dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Nona, saya akan turun ke bawah untuk membantu mempersiapkan jamuan.” Ayumi beranjak dari kursi dan berjalan keluar menuruni tangga, ia membawa tasnya dan menyimpan di kamar.


“Ayumi tidak pernah meninggalkan komputernya dan ia terlihat sibuk.” Viona melihat kepergian pengawalnya dan segera keluar dari kamar.


Stevent duduk di ruang tengah, Jhonny telah pergi bekerja, Nisa dan Aisyah berada di dapur bersama beberapa pelayan yang di ambil dari pesantren. Viona berjalan menuju dapur diikuti Ayumi.


***


Fauzan dan Asraf duduk di ruangan tepat depan kamar mereka berdua menunggu Ayesha dan Kenzo yang akan pergi mengunjungi Nisa untuk bertemu dengan keponakan baru. Sepasang suami istri bergandeng mesra berjalan mendekati dua pria tampaa yang sedang duduk.


“Assalamualaikum.” Ayesha melepaskan tangan Kenzo dan menyalami Fauzan.


“Waalaikumsalam.” Fauzan beranjak dari kursi memeluk dan mencium kepala adikknya.


“Selamat pagi Tuan Kenzo dan putri.” Asraf berdiri dan memberi hormat.


“Pagi, Asraf.” Kenzo menepuk pundak Asraf.


“Apa kalian telah menyiapkan hadiah?” tanya Fauzan.


“Kami tidak membeli apapun, jadi hanya sebuah cek.” Ayesha kembali menggandeng tangan Kenzo.


“Tak apa, siapkan saja dua lembar cek, seperti yang aku lakukan.” Fauzan tersenyum.


“Berapa jumlah yang kakak berikan?” tanya Ayesha.


“Aku sudah lupa.” Fauzan tersenyum.


“Ayo kita berangkat.” Kenzo tersenyum melihat kearah Ayesha.


“Apa kakak tahu rumah Nisa?” tanya Ayesha.


“Aku tahu sayang, Stevent membeli rumah Fanny.” Kenzo tersenyum.


“Kenzo lahir dan besar di sini pasti mengetahui seluk beluk daerah ini.” Fauzan tersenyum dan berjalan keluar dari hotel menuju tempat parkiran diikuti Asraf.


“Ayo sayang.” Kenzo berbisik di telinga Ayesha dan berjalan bersama menuju sebuah mobil berwarna hitam.


Kenzo membukakan pintu untuk Ayesha dan memasangkan sabuk pengaman, mencium kening dengan bibirnya. Pria itu memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh perhatian. Ia duduk di kursi pengemudi dan mengendarai mobil menuju rumah Stevent yang dulunya rumah Fanny.


Mobil Fauzan mengikuti mobil Kenzo yang bejalan dengan santai karena rumah Nisa tidak begitu jauh dari Hotel. Pintu pagar telah terbuka menyambut kedatangan Kenzo beserta rombongan. Stevent berdiri di depan pintu dengan senyuman tampannya.


***Love You All***


Jika Suka bisa berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Unfogettable Lady" cari di m.Dream.com

__ADS_1


Baca juga Novel Kakakku atas nama Fitri Rahayu. Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2