Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kembali Ke Villa


__ADS_3

Nathan memandang Afifah yang terus berbaring di atas tempat tidur dan membaca sebuah buku, istrinya terlihat tidak bersemangat.


"Sayang, apa kamu sakit?" Nathan memeluk tubuh Afifah.


"Sakit, tubuhku hampir hancur kamu remukan tiap malam." Afifah menggerutu di dalam hati.


"Hey, kenapa bibir kamu cemberut?" Nathan mengecup bibir Afifah.


"Aku rasa bibirku sudah berubah bentuk." Afifah terus menggerutu di dalam hatinya.


"Sayang, kita akan pulang." Nathan berbisik.


"Sekarang?" tanya Afifah.


"Ya, ganti pakaian kamu." Nathan mengelus pipi istrinya.


"Kenapa tiba-tiba mengajak pulang?" Afifah beranjak dari tempat tidur dengan perlahan, ia harus menahan seluruh tubuh sakit.


Nathan tahu Afifah kesakitan, ia mengajak pulang agar segera bisa memberikan formula untuk stamina istrinya agar lebih sehat dan kuat meladeni dirinya bercinta.


"Wanita ini membuat diriku kecanduan dengan sikap malunya." Nathan mengganti pakaian dan bersiap menuju Bandara internasional.


"Apa kamu sudah selesai?" Nathan memeluk tubuh Afifah.


"Ya, bagaimana dengan barang-barang kita?" Afifah menatap Nathan.


"Akan ada yang mengurus semuanya." Nathan tersenyum dan segera menggendong Afifah.


" Nathan, turunkan aku bisa berjalan sendiri." Afifah mencubit lengan kekar Nathan.


"Aku tahu kamu kesakitan karena diriku." Nathan tersenyum melihat wajah malu Afifah yang di sembunyikan di dada bidangnya.


"Maafkan aku," bisik Nathan di telinga Afifah yang tertutup hijab. Pria itu terus menggendong Afifah dari kamar ke speed boat, mobil, hingga masuk ke dalam pesawat. Tidak sekalipun kaki wanita itu menginjak tanah ataupun aspal.


Nathan menyadari dia telah membuat istrinya kelelahan hingga kehabisan tenaga melayani nafsu bercinta yang kuat. Mau bagaimana lagi, Afifah bagaikan formula cinta yang begitu menggoda sehingga membuat dirinya kecanduan.


Setiap kali melihat tubuh wanita itu seakan ada magnet kuat yang menarik dirinya untuk segera bercinta, tidak perduli dimanapun mereka berada.


"Sayang, tidurlah." Nathan melepaskan gendongannya di kursi pesawat.


"Terimakasih." Afifah tersenyum, dengan terus di gendong Nathan wanita itu tidak menggunakan tenaga sedikit pun, ia merasa tubuhnya lebih nyaman.


"Minumlah!" Nathan memberikan sebutir kapsul dan sebotol air mineral kepada Afifah.


"Obatku." Afifah mengambil dan segera meminumnya.


"Ya, agar kamu bisa tidur nyenyak di pesawat dan tidak akan kelelahan." Nathan mencium dahi Afifah.


"Kamu yang membuat diriku kelelahan." Afifah cemberut.


"Aku tahu." Nathan mengecup bibir Afifah.


"Hmm." Afifah memasukkan bibirnya kedalam agar Nathan tidak terus mencium dirinya.


"Tidurlah." Nathan mencubit hidung Afifah.


"Mm." Afifah memejamkan mata dan Nathan mencium dahinya.


Pesawat mengudara cukup lama hingga mereka tiba di bandara internasional kota asal Nathan. Sebuah mobil mewah telah menunggu di pintu keluar bandara. Nathan masih menggendong Afifah turun dari pesawat hingga masuk kedalam mobil.


"Apa kamu tidak lelah terus menggendong ku?" Afifah menatap wajah tampan Nathan.


"Apa kamu meremehkan diriku?" Nathan menempelkan hidung mereka berdua.


"Ah tidak, aku rasa kamu adalah pria paling kuat di dunia ini." Afifah segera menggeser.


"Tentu saja sayang." Nathan duduk di samping istrinya.


"Kembali ke Villa Utama." Nathan berbicara dengan sopir.


"Baik Tuan." Mobil melaju menuju Villa Nathan.


Sebuah mobil hitam mengikuti mobil Nathan dan Afifah dengan kecepatan seimbang berada tepat di belakang mereka.

__ADS_1


"Tuan, sepertinya kita diikuti." Sopir melirik Nathan dari cemin.


"Ah, aku belum menyelesaikan bulan madu." Nathan menoleh kebelakang.


"Apa?" Afifah terkejut dengan perkataan Nathan.


"Sayang, kenapa kamu terkejut, apa kamu takut dengan mobil yang mengikuti kita?" Nathan memegang dagu Afifah.


"Aku merasa takut dengan kata bulan madu." Afifah tersenyum dan hanya menjawab di dalam hati.


"Hubungi keamanan ku!" Nathan berucap pada pria di samping sopir.


"Baik Tuan." Pria itu segera menggunakan ponselnya.


Sebagai seorang Ahli kimia dan bisnis organ, Nathan sangat paham dengan keselamatan dirinya, ada banyak orang yang menginginkan dirinya hidup ataupun mati.


"Sayang, kemarilah." Nathan menarik tubuh kecil Afifah dan memeluknya, jika terjadi sesuatu ia tidak mau terpisah dari istrinya.


"Nathan, kita sedang berada di mobil." Afifah melihat mobil yang terlihat jelas mengikuti mereka.


"Aku tahu Sayang, aku hanya mau menjaga dirimu." Nathan memeluk erat tubuh Afifah.


"Baiklah." Afifah menurut, ia memegang tangan kekar suaminya, menyenderkan tubuhnya pada tubuh Nathan.


"Aku tidak akan membiarkan dirimu terluka, karena jika itu terjadi ingatan tentang diriku akan terhapus dari memori kamu." Nathan mencium kepala Afifah.


"Apa maksud kamu?" Afifah menoleh hingga wajahnya bersentuhan dengan wajah Nathan.


"Aku tidak mau kamu melupakan diriku." Nathan mencium bibir Afifah yang seakan menyerahkan diri kepadanya.


"Aku tidak akan melupakan dirimu, aku akan selalu ingat pada suamiku." Afifah menyentuh wajah Nathan.


"Benarkah?" Nathan menatap mata indah Afifah.


"Hmm." Afifah memeluk Nathan.


Mobil yang mengikuti mereka telah menghilang, tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi.


"Apa kita sudah sampai?" Afifah melepaskan pelukannya dan melihat keluar.


"Apa kamu merubah kamar ini?" Afifah memperhatikan kamar yang terlihat berbeda dan tidak ada lagi kunci sidik jari.


"Apa kamu suka?" Nathan membaringkan tubuh Afifah di atas tempat tidur.


"Ya, aku suka." Afifah melepaskan tangan dari leher Nathan.


"Kamu mau tinggal di sini atau di Villa dekat pantai?" Nathan beranjak dari tempat tidur dan membuka jasnya.


"Nathan, apa aku boleh melanjutkan kuliah ku di jurusan Kimia?" Afifah berbicara dengan sangat lembut.


Nathan terdiam, ia memperhatikan Afifah dari atas hingga ke bawah, istrinya sangat cantik dan imut seperti gadis remaja, tidak akan ada orang yang percaya jika wanita itu telah menikah.


"Sayang, ada banyak pria di kampus, mereka akan menggangu dirimu." Nathan melempar jasnya di kursi melingkarkan tangannya di pinggang Afifah.


"Aku sudah tua, aku bukan gadis remaja lagi." Afifah menunduk sedih.


"Ya Tuhan, apa wanita ini tidak menyadari kecantikan yang ia miliki, wajah dan tubuh yang terlihat seperti gadis kecil yang menggemaskan tetapi menggoda." Nathan menggerutu di dalam hati dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu berjanji akan menuruti semua permintaanku." Afifah menatap Nathan.


"Aku tidak pernah menyangka permintaan adalah kuliah lagi." Nathan menarik napas panjang dan berat.


"Apa kamu tidak setuju?" Afifah memasang wajah memelas yang sangat menggemaskan.


"Jangan lakukan ini di depan pria lain!" Nathan menggigit hidung Afifah dengan lembut dan mengecupnya.


"Nathan." Afifah mengusap hidungnya yang basah.


"Sayang mandi dan beristirahat, aku akan memikirkannya." Nathan mencium dahi dan mengecup bibir Afifah.


"Baiklah." Suara Afifah terdengar lembut.


"Aku turun dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Nathan tersenyum dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Afifah membuka semua pakaiannya dan berendam di dalam bak mandi dengan air susu yang menyenangkan ditemani aromaterapi dari lilin kesehatan.


Nathan berjalan menuju ruangan komputer yang ada di lantai bawah. Ia melihat Roy yang sedang sibuk bekerja sendirian.


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Nathan, ia membuka beberapa kancing kemejanya.


"Anda sudah kembali Tuan." Roy melihat sekilas pada Nathan.


"Ya, Afifah mau pulang." Nathan menatap layar komputer Roy.


"Latar belakang Loly bukan biasa-biasa saja." Roy melihat Nathan, ia beranjak dari kursi dan menyerahkan komputer.


"Aku sangat meremehkan Loly, ia bisa mengikuti kemanapun aku pergi karena ia dari keluarga berada." Nathan fokus pada layar komputer.


"Anda benar Tuan, jika dia bukan dari keluarga hebat tidak mungkin ia bisa dengan mudah pindah kuliah bersamaan dengan Anda." Roy menatap Nathan.


"Wanita ini lebih gila dari diriku." Nathan duduk di sofa.


"Loly sangat mencintai dan terobsesi untuk menjadikan milik anda." Roy kembali duduk di kursinya.


"Nathan, kamu dimana?" Suara lembut Afifah memanggil suaminya.


"Afifah." Pria itu segera beranjak dari sofa dan tergesa-gesa keluar dari ruangan komputer.


"Sayang, kamu telah selesai mandi." Nathan dapat mencium aroma manis dan menggoda dari tubuh Afifah.


"Ya, apa kamu tidak mandi?" Afifah melihat.


"Temani diriku mandi." Nathan menarik tangan Afifah kembali ke kamar, ia tidak mau ada pria lain yang akan mencium aroma tubuh istrinya


"Nathan, aku sudah selesai mandi." Afifah kebingungan.


"Kamu duduk di sini." Nathan tersenyum.


"Ingat jangan keluar dari kamar!" Nathan mencubit hidung Afifah dan berjalan menuju kamar mandi.


"Pria Aneh." Afifah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan berselancar di dunia Maya, ia mencari kampus yang dekat dari Villa Nathan.


"Aku sangat lapar, apa dia masih lama?" Afifah beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati kamar mandi.


"Nathan, apa kamu masih lama?" Afifah berbicara di depan pintu kamar mandi.


"Aku hampir selesai." Nathan tersenyum, ia bisa melihat bayangan istrinya.


"Cepatlah, aku sudah lapar, apa aku boleh turun dan membuat makanan?" tanya Afifah.


"Kita akan turun bersama, kamu tidak boleh berkeliaran sendirian di rumah." Nathan keluar dari kamar mandi, aroma maskulin tercium lembut oleh indera penciuman.


Pria tampan itu hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang, memperlihatkan tubuh seksi berotot dan dada bidang.


"Kenapa aku tidak boleh berkeliaran, aku tidak akan mencuri." Afifah mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Nathan.


"Duduklah." Afifah mendorong tubuh Nathan duduk di kursi dan ia mengusap kepala Nathan dengan handuk kecil.


"Kamu tidak perlu mencuri apapun karena semua yang ada di rumah ini adalah milik kamu, tetapi aku takut kamu yang akan di curi orang." Nathan menarik tubuh Afifah hingga jatuh di pelukannya.


"Aku lapar, kita belum makan apa pun dari tadi." Afifah berbisik di telinga basah Nathan.


"Aku akan segera berpakaian." Nathan mengangkat tubuh Afifah ke udara dan menurunkan kembali.


"Aaaaah, kamu menakuti ku." Afifah berteriak dan memukul lengan Nathan.


"Istri kecil ku yang menggemaskan." Nathan mengecup bibir Afifah.


Pria itu segera berpakaian dan berjalan bersama menuruni tangga menuju ruang makan.


***Love You All***


Jika Suka bisa berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Unfogettable Lady" cari di aplikasi Dream/ Innovel.


Baca juga Novel Kakakku atas nama Fitri Rahayu. Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2