Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Semakin Cantik


__ADS_3

Viona berdiri jauh dari Kenzo, ia hanya berani memandang wajah Kenzo dari kejauhan.


" Viona kemarilah " Sapa Umi,


Viona berjalan mendekati Umi, ia curi - curi pandang melihat Kenzo.


" Kenzo, Viona adalah adik Stevent, dia baru mau belajar Agama seperti kakaknya " Umi merangkul bahu Viona yang tersenyum manis dengan wajah merah merona.


Viona tidak menggunakan hijab namun pakaiannya sopan, ia menggunakan celana jeans panjang dan kemeja lengan panjang.


Kenzo tersenyum,


" Nisa ingin beribadah melalui mencintai, tapi aku masih ingin menunggunya" Kenzo berbicara di dalam hatinya dan memejamkan matanya.


" Kenzo, Umi dan Abi akan menemani kamu sampai waktu Magrib karena setelah sholat isya kami akan menuju bandara" Abi mengusap kepala Kenzo.


" Aku sangat ingin memberikan kekuatan kepada Kenzo " suara hati Viona.


" Iya Abi, semoga pernikahan Nisa berjalan dengan lancar" Kenzo memaksakan untuk tersenyum.


" Apa kamu tidak datang?" Viona refleks bertanya.


" Dengan kondisi seperti ini aku tidak mau merepotkan kalian " Kenzo tersenyum.


" Aku akan menjagamu " Viona bersemangat, Abi dan Umi saling tatap. Kenzo hampir tertawa.


" Kenapa?" Viona bingung dan merasa malu.


" Aku harus konsultasi dengan dokter dulu" ucap Kenzo, ia ragu untuk menghadiri pesta pernikahan Nisa, dada terasa sesak untuk membayangkannya. Wanita yang ia cintai semenjak bertemu pertama kalinya bahkan sejak mereka masih kecil.


" Aku akan bertanya kepada Nisa" Viona berlari ke luar.


Ia heran melihat Kakaknya duduk berjauhan dengan Nisa, jika berkelahi Stevent tidak akan melepaskan Nisa apalagi Membuat jarak.


Viona berjalan mendekati Nisa.


" Apakah Kenzo boleh melakukan perjalanan jauh?" Viona duduk di samping Nisa.


" Kamu harus menanyakan kepada Dokter Kenzo, yaitu Dokter Min Jook " ucap Nisa.


" Kamu tidak perlu menyebutkan nama pria berwajah wanita itu !" Stevent melirik Nisa.


" Cantik" ucap Nisa dan Viona kompak dan mereka tertawa.


" Kakak, tampannya orang Korea memang seperti itu, Putih bersih dan idola para wanita" lanjut Viona.


" Apakah kamu mengidolakan K-Pop?" tanya Stevent melihat Viona.


" Aku suka yang seperti Kenzo" Viona kembali berlari menuju ruangan Min Jook, Nisa tersenyum melihat tingkah Viona.


" Kamu?" Stevent menatap Nisa.


" Aku tidak pernah mengidolakan aktor dan aktris" ucap Nisa


" Lalu, siapa idola kamu?" tanya Stevent seakan penasaran.


" Nabi Muhammad Saw beserta para Rasul Allah" Nisa tersenyum dan Stevent hanya terdiam.

__ADS_1


" Dia bisa menyeimbangkan dirinya dengan diriku tapi aku harus banyak belajar" Stevent menyederhanakan tubuhnya ke kursi yang tidak nyaman.


Viona akhirnya sampai di ruangan Min Jook, Dengan cara selalu bertanya kepada semua orang yang ditemuinya.


Viona mengetuk dan membuka pintu, ia melihat pria tampan itu sibuk menulis di kertas.


" Masuklah " ucap Min Jook tanpa melihat siapa yang datang.


" Selamat siang Dok" sapa Viona ramah.


" Siang, silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu ?" Min Jook memperhatikan wanita di depannya, ia merasa pernah melihat wanita yang kini duduk di depannya.


" Saya ingin menanyakan kondisi pasien atas nama Kenzo" Suara lembut Viona tertahan.


" Kondisi tubuh Kenzo baik, bahkan besok ia sudah bisa pulang " jelas Min Jook menatap Viona.


" Besok, tapi kami akan pulang malam ini" Viona berpikir.


" Nona, apa masih ada yang ingin Anda tanyakan?"


" Apakah Kenzo tidak bisa keluar rumah sakit dan ikut penerbangan malam?" tanya Viona lagi.


" Ia harus banyak Istirahat " tegas Min


" Oh baiklah, terimakasih Dok, saya permisi" Viona beranjak dari kursinya, namun terhenti karena tangannya di tahan Min Jook.


" Tunggu sebentar, duduklah" Min Jook menarik tangan Viona.


" Ada apa Dok ?" Viona kembali duduk.


" Apa hubungan kamu dengan Nisa ?" tanya Min Jook menyelidiki.


" Pria kasar itu ?" tanya Min Jook lagi.


" Kakakku " jawab Viona polos, ia tidak marah Min Jook menyebutkan Stevent kasar karena di mata orang yang tidak mengenal Stevent lebih jauh akan berpikir seperti itu, namun tetap banyak wanita yang tergila-gila pada kakaknya.


" Kapan kalian akan kembali ke negara kalian?" Min Jook bertanya seperti wartawan.


" Malam ini karena lusa kakakku akan menikah " Viona tersenyum.


" Terimakasih, maaf telah mengganggu waktu anda " Min Jook tersenyum ramah menampilkan gigi putih bersih dan tersusun rapi dengan bibir yang merah.


" Nisa adalah mimpi ku, dan Pria kasar itu telah menghancurkannya" Min Jook mengepalkan tangannya berbicara di dalam hatinya.


" Sama - sama Dok " Viona meninggalkan ruangan Min Jook, ia berjalan perlahan dan berpikir.


" Kenzo butuh Istirahat jadi tidak mungkin ikut pulang " Viona berbicara sendirian


Ia berjalan lemas menuju ruangan Kenzo. Viona merasa malas untuk kembali ke negaranya, Ia ingin sekali merawat Kenzo, namun ia juga sangat ingin hadir di hari bahagia kakaknya, dan juga bisa - bisa Stevent akan membunuhnya jika tidak ikut serta pulang.


Tidak terasa waktu terus berjalan, Azan Magrib telah berkumandang, Semua pamit kepada Kenzo.


Nisa berjalan mendekati Kenzo,


" Nisa pamit pulang kak, Semoga cepat sembuh " Nisa menyalami dan mencium punggung tangan Kenzo, tetesan bening jatuh hangat di kulit tangan Kenzo yang tersenyum menahan air matanya. Ini adalah sentuhan terakhir yang ia rasakan dari Nisa. Kenzo sangat sedih ia benar-benar telah kehilangan orang yang paling ia cintai.


Mereka semua melaksanakan sholat Maghrib bersama kecuali Nisa yang hanya duduk sendirian di teras musholla. Selesai Sholat mereka kembali ke Hotel untuk membersihkan diri, mempersiapkan perlengkapan pulang, bersiap makan malam, sholat Isya dan menuju bandara.

__ADS_1


Viona memperhatikan Nisa yang sedang menggunakan hijabnya, ia melihat sebuah liontin biru sangat Indah, berkilau dengan bingkai yang unik melingkar di leher putih halus dan mulus Nisa sangat cantik dan cocok.


Ingin rasanya Viona bertanya namun ia urungkan niatnya, Viona memperhatikan tiap gerakan yang Nisa lakukan.


Nisa melipat jilbab berbentuk segiempat dengan ukuran 150 x 150 menjadi segitiga dengan sedikit melipat kedalam bagian ujuh kain jilbab. Meletakkan di atas kepalanya, dengan kedua sisi sama panjang, memberikan peniti di dagu dan Bros cantik di bahu. Nisa telah siap dengan hijab dan gamis berwarna mustart. Ia tersenyum kepada Viona yang berjalan mendekati dirinya dan terlihat di pantulan cermin.


" Apakah susah menggunakannya?" tanya Viona menyentuh hijab panjang Nisa.


" Tidak sayang, bahkan ada jilbab yang langsung bisa dipakai dan memudahkan" Nisa tersenyum dan membelai rambut sebahu Viona.


Viona memeluk Nisa,


" Aku ingin menjadi seorang wanita seperti kamu, dikagumi dan dicintai semua orang" ucap Viona merebahkan kepalanya di bahu Nisa.


" Selalu menjadi orang baik, menolong dengan hati, tanpa mengharapkan balasan dari manusia tapi berharaplah kepada Tuhan " Nisa menyentuh pipi Viona.


" Wah, ,kamu benar-benar wanita idaman " ucap Viona yang terus memuji dan mengagumi Nisa.


Terdengar ketukan pintu kamar, Viona segera beranjak dan membuka pintu. Stevent berdiri tegak di depan pintu.


" Keluarlah kita akan segera berangkat menuju Bandara" ucap Stevent melirik ke dalam kamar, ia melihat Nisa masih duduk di depan cermin.


" Kami telah siap " Ucap Viona berjalan mendekati Nisa.


Stevent ikut masuk, ia menatap Nisa dari pantulan cermin.


" Kenapa wanita ini semakin hari semakin cantik dan menggoda ?" Stevent berbicara dalam hatinya.


Mata mereka bertemu melalui pantulan cermin. Nisa segera beranjak dari kursi dan memutar tubuhnya.


" Ayo berangkat " Nisa mengambil tas punggung miliknya dan berjalan meninggalkan Stevent.


Viona menarik koper kecil yang hanya berisi beberapa lembar pakaian ia dan Nisa.


Mereka berjalan bersama keluar dari hotel.


Semua di lakukan Stevent, assisten pribadinya tidak ada di sampingnya.


" Apa aku boleh satu kursi dengan dirimu " Stevent berbisik di telinga Nisa.


" Tunggu sampai kita menikah, jangankan satu kursi bahkan kita bisa satu ranjang " Nisa tersenyum menahan tawa berjalan cepat meninggalkan Stevent.


" Oh my God, dia telah berani menggoda ku " Stevent menggaruk kepalanya yang tidak gatal Ia menatap Nisa yang telah jauh darinya diikuti Viona.


Mereka semua duduk di kursi masing-masing, memejamkan mata beristirahat.


Pesawat telah mengudara di langit hitam dihiasi bintang - bintang. Pemandangan malam yang sangat Indah bukti dari kekuasaan Tuhan Sang Pencipta yang Maha sempurna.


*


*


*


*****************************************


💓Thanks for Reading ♥️

__ADS_1


Mohon untuk Berikan Jempol setelah membaca dan Komentarnya,😘


💓Terimakasih 😍 Love You Readers 💓


__ADS_2