
Stevent membaringkan kepalanya di atas panggung Stevent, dengan tangan membuka berkas. Nisa membaca buku, dengan satu tangan memegang buku dan tangan lainnya mengusap rambut Stevent.
" Sayang, kamu ke kantor?" tanya Nisa melirik ke Stevent.
" Biarkan Jhonny saja yang bekerja, aku adalah Bosnya" jawab Stevent manja.
Ia ingin menghabiskan waktu bersama Nisa, mumpung Nisa belum memulai aktivitas barunya.
Nisa belum ada rencana apapun, beberapa hari ini ia terlihat malas.
Ponsel Nisa berdering nada panggilan, Stevent segera mengambil dan melihat nama yang muncul di layar.
" Abi " ucap Stevent menyerahkan ponsel kepada Nisa, dan ponsel Stevent pun berdering.
Dengan kesal Stevent beranjak dari pangkuan Nisa dan mengambil ponsel miliknya.
" Papa Mark" ucap Stevent kepada Nisa dan menerima panggilan, Stevent menjauh dari Nisa agar tidak saling terganggu.
Abi menghubungi Nisa untuk memberitahukan Umi sakit, sedangkan Papa Mark menghubungi Stevent, mengatakan ada masalah dengan kontrak kerjasama mereka.
Panggilan tertutup, Stevent berjalan kembali kepada Nisa dan .
" Sayang" Stevent dan Nisa serempak mengucapkan kata sayang dan tersenyum, Stevent memeluk istrinya yang terlihat manja dan mencium dahi Nisa.
" Katakanlah" ucap Stevent.
" Kamu saja, kenapa Papa Mark menelpon? " tanya Nisa dan merebahkan kepalanya di pangkuan Stevent.
" Ada masalah dengan dokumen kerjasama dengan Papa, padahal telah aku siapkan sebaik mungkin" ucap Stevent mengusap rambut lembut dan hitam Nisa.
" Lalu?" tanya Nisa lembut.
" Aku telah menghubungi Jhonny tapi aku yang menjawab panggilan Dokter Aisyah" ucap Stevent.
" Lalu?" tanya Nisa lagi, memainkan jari-jari kekar Stevent.
" Jhonny di Desa terpencil, Dia sakit" ucap Stevent sedikit kesal.
" hmm, Jhonny pasti sangat merindukan Dokter Aisyah" ucap Nisa melepaskan jari Stevent dan memainkan rambutnya.
" Sayang, aku dimarahi Dokter Aisyah, katanya Jhonny sakit gara - gara diriku terlalu memaksa Jhonny bekerja" jelas Stevent.
" Apakah kamu takut kepada Dokter Aisyah?" Nisa menatap Stevent.
" Sayang, aku tidak takut kepada siapapun, hanya saja ada dua wanita yang telah menyelamatkan hidupku, dirimu dan Dokter Aisyah, aku akan membedakan kalian berdua, wanita yang istimewa, aku berhutang nyawa kepada Dokter Aisyah dan dirimu" jelas Stevent.
Ia tidak bisa melupakan, susah payahnya Nisa dan Dokter Aisyah berusaha mengobati dirinya yang tidak berdaya.
Bagi Stevent Nisa dan Dokter Aisyah adalah malaikat penyelamat dirinya.
" Apakah kamu menikahi diriku karena berhutang nyawa?" tanya Nisa manja.
" Aku jatuh cinta kepadamu Sejak pertama kali aku melihat dirimu, kamu bagaikan malaikat bersayap putih yang sangat cantik" Stevent memandang wajah Nisa dengan tulus.
" Benarkah?" Nisa memicingkan matanya.
" Jangan menggodaku" Stevent mencium bibir Nisa.
" Sayang, Maukah kamu ikut ke Jepang?" tanya Stevent penuh harap.
" Jhonny tidak bisa ikut, dia masih di rawat Dokter Aisyah, sepertinya dia sengaja" ucap Stevent menatap Nisa.
Nisa beranjak dari pangkuan Stevent, dan tersenyum kepada Stevent.
" Sebelum aku menjawab pertanyaan kamu, aku akan memberikan dua pilihan" ucap Nisa dan membuat Stevent Bingung.
" Pilihannya adalah ikut kamu ke Jepang atau merawat Umi yang sakit di puncak" Nisa masih bisa tersenyum, Karena ia sendiri tidak bisa menentukan pilihan itu.
" Umi sakit?" tanya Stevent menyakinkan dirinya dan Nisa hanya tersenyum.
" Kamu bisa memilihnya Sayang, aku akan menuruti pilihan mu" Stevent memeluk Nisa dan menatap wajah istrinya yang menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak bisa memilih, aku akan menuruti perintah suamiku, karena aku ingin memilih keduanya, aku ingin bersama Suamiku dan aku juga Ingin merawat Umi " Nisa memeluk tubuh seksi Stevent yang hanya menggunakan kaos dalam.
" Hmmm" Stevent menarik nafas panjang dan membuangnya.
Stevent ingin sekali menjawab dengan egois, bersama dengan Nisa ke Jepang, tapi Umi adalah orang tua Nisa yang telah merawat dan membesarkan Nisa.
" Sayang, rawatlah Umi, karena Umi telah merawat dirimu untukku" Stevent mengeratkan pelukan Nisa, seakan ia tidak ingin melepaskannya.
" Aku ingin bersama dirimu tapi aku juga mau merawat Umi" Nisa membenamkan wajahnya di dada bidang Stevent, air mata mengalir membasahi dada Stevent.
" Sayang, kenapa kamu menangis? Aku tidak akan ke Jepang " Stevent mengangkat wajah Nisa dan mengusap air matanya.
" Pergilah, Besok kamu ke Jepang aku akan ke Puncak" Nisa kembali memeluk Stevent, ia tidak ingin berpisah dengan suaminya, Nisa merasakan sesak di dadanya, membuat air mata terus mengalir membasahi wajahnya.
Nisa tertidur dalam pelukan Stevent, ia terlihat lelah, Stevent segera menggendong Nisa ke kamar.
Stevent menatap wajah cantik Nisa yang masih basah karena air mata.
" Kenapa kamu terlihat manja dan cengeng?" Stevent mencium dahi, mata, pipi kiri kanan dan bibir Nisa.
" Aku sangat Mencintai dirimu" bisik Stevent di telinga Nisa.
Stevent membereskan pakaian yang akan ia bawa ke Jepang, hanya satu koper kecil, Stevent melihat Nisa, ia merasa tidak ingin pergi.
" Sayang, aku tidak ingin meninggalkan dirimu, kenapa Jhonny harus ke Desa terpencil?" Stevent sangat kesal.
Walaupun Jhonny sehat, namun ia membutuhkan banyak waktu untuk kembali ke kota.
__ADS_1
Setelah membereskan koper miliknya, Stevent membereskan pakaian yang akan Nisa bawa ke puncak.
Stevent meletakkan dua koper di samping pintu dan mendekati Nisa.
" Sayang, kamu terlihat lelah dan lemah" Stevent mengusap rambut Nisa, memeluk tubuh Nisa dan tertidur.
Nisa mendengarkan suara alarm satu jam sebelum subuh dari ponsel miliknya, ia membuka matanya perlahan, merasakan dadanya sesak karena ada tangan berat di atasnya.
" Sayang Bangun" Nisa memutar tubuhnya menghadap Stevent, ia menyentuh pipi Stevent dan mencium sekilas bibir Stevent.
Ciuman pagi hari membangunkan Stevent dan juniornya.
" Sayang, main sebentar sebelum sholat" bisik Stevent.
" Pelan - pelan saja " suara manja Nisa begitu menggairahkan di telinga Stevent.
" Tentu saja" Stevent segera bermain di atas tempat tidur bersama dengan Nisa, pemain teratur namun memberikan kepuasan luar biasa, tabungan sebelum perpisahan.
Permainan Cinta selesai, mereka mandi mesra bersama dan sholat berjamaah.
Stevent membuat sarapan, Nisa terlihat bermalas-malasan di Sofa, Stevent berpikir Nisa kelelahan melayani nafsu kuat Stevent ketika bercinta, ia terus memakan tubuh Nisa setiap hari dan setiap malam.
Sarapan telah tersedia, nasi goreng ala chef Stevent.
Nisa makan dengan lahap ,ia juga menghabiskan segelas susu coklat.
" Sayang, kamu di antar pengawal saja ke Puncak, nanti kamu kelelahan" Stevent mencium kepala Nisa yang tertutup hijab.
" Aku baik-baik saja, hanya merasa kehilangan kekuatanku harus berpisah dengan dirimu" Nisa tersenyum manja.
" Kenapa Istriku manja sekali" Stevent memeluk erat Nisa seakan tidak ingin melepaskan.
Stevent mengambil koper mereka dan memasukkan di bagasi mobil Nisa.
Mereka menggunakan mobil Nisa menuju rumah Utama yang hanya di huni para pelayan dan pengawal.
Mobil Nisa yang dikendarai Stevent telah sampai di depan pintu rumah utama Stevent.
Para bodyguard segera membuka pintu untuk Stevent dan Nisa, seorang membuka bagasi dan mengambil koper Stevent untuk dipindahkan ke mobil mereka yang akan mengantarkan Stevent ke bandara.
Nisa kembali memeluk Stevent, ia benar-benar tidak ingin berpisah, Nisa berusaha menahan air matanya, agar tidak menghalangi perjalanan Stevent ke Jepang.
" Sayang cepat pulang" ucap manja Nisa mengangkat kepalanya melihat wajah Stevent dengan tangan Terus memeluk suaminya.
" Tentu saja Sayang" Stevent mencium dahi dan bibir Nisa dalam durasi yang cukup lama, ia tidak perduli dengan para pengawal dan bodyguard yang hanya bisa menundukkan kepala mereka.
" Sayang, mobil hitam ini berisi 4 orang bodyguard, yang akan mengikuti mobil dari belakang" jelas Stevent
" Dan ini adalah Lia akan menjadi sopir pribadi dan bodyguard kamu, dia akan siap 24 jam " Stevent memperkenalkan seorang wanita cantik dengan jilbab masuk ke dalam kemejanya begitu rapi.
" Assalamualaikum Nyonya, saya Lia" Lia memberi hormat kepada Nisa.
" Masuklah!" perintah Stevent kepada bodyguard dan anak buahnya.
Lia dan yang lainnya segera masuk ke mobil dan menutup pintu.
Stevent memeluk dan mencium bibir istrinya begitu dalam dan lembut.
" Masuklah" Stevent membukakan pintu mobil Nisa di samping Lia.
Nisa terus memperhatikan Stevent dengan tatapan sendu dan sedih namun ia berusaha tersenyum.
" Jaga Istriku dengan nyawamu" Stevent menatap tajam kepada Lia.
" Saya berjanji Tuan " Lia memberi hormat dengan menundukkan kepalanya, Nisa terus memandang wajah Stevent.
" Berangkat lah" perintah Stevent dan menutup pintu mobil Nisa.
Nisa menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Stevent dengan berusaha terus tersenyum.
" Kenapa ia terlihat berbeda, dia seakan bukan Nisaku" Stevent berbicara di dalam hati melihat kepergian mobil Nisa yang diikuti satu mobil pengawal.
Ketika mobil Nisa sudah tidak terlihat Stevent segera masuk ke mobil yang akan mengantarkan ia ke Bandara.
Nisa terus melihat Stevent di kaca spion Mobilnya hingga bayang Stevent hilang, air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya cantiknya.
Lia tidak berani melihat Nisa, apalagi bertanya, ia harus fokus mengemudi untuk menjamin keselamatan Nisa.
Dua mobil terus melaju meninggalkan jalanan perkotaan, menuju puncak , memasuki area jalanan terjang dan berliku.
Sebuah Mobil hitam berada tepat di samping mobil pengawal Nisa. Lia melihat sesuatu yang janggal di belakang dari spion mobil Nisa.
Lia melirik Nisa yang tertidur, ia segera menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan.
" Maaf Nyonya, kita harus menambah kecepatan" ucap Lia pelan, mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Nisa merasakan kepalanya pusing sang ingin muntah, Lia benar-benar seorang pembalap.
Lia telah meninggalkan mobil pengawal mereka dan inilah yang diinginkan seorang pembenci dan pembunuh, memisahkan Nisa dari para pengawal.
Sebuah Mobil Kontainer membawa banyak barang melaju cepat dari depan mengarah ke mobil Nisa.
Nisa tidak berteriak, ia hanya memandang mobil yang mendekat, hati dan mulutnya menyebut asma Allah, ketika mobil semakin dekat Nisa memejamkan matanya, menyerahkan diri kepada sang pemilik kehidupan.
Lia membanting setir ke kanan untuk menghindari mobil kontainer yang berada tepat di depan mereka, ia berusaha melindungi Nisa, ia telah berjanji akan menjaga Nisa dengan nyawanya.
Lia berhasil menghindar dari mobil kontainer, namun mobil mereka harus menabrak pembatas jalan dan jurang.
Mobil kontainer melaju lurus meninggalkan mobil Nisa yang telah mengeluarkan asap.
__ADS_1
Nisa dan Lia pingsan di dalam mobil dengan darah mengalir dari kepala membasahi wajah mereka.
Jalanan tampak sepi tidak ada kendaraan yang lewat.
Dua buah mobil sport berwat biru dan kuning sedang balapan menuju puncak.
Mobil sport kuning berada di depan dan di belakangnya mobil sport berwarna biru.
Mobil sport kuning telah meninggal mobil Biru, yang semakin melambat.
" Hey Roy, kenapa kamu melambat, apakah mobil ku bermasalah?" Nathan tampak kesal.
Roy melihat sebuah mobil putih yang hampir jatuh ke jurang, setengah badannya masih terangkut di pembatas jalan.
" Dokter Nisa" ucap Roy pelan menatap mobil.
" Roy, jangan sebut nama Nisa lagi, aku sedang berusaha melupakan dia, aku ingin Nisa bahagia" Nathan memejamkan matanya menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil.
" Aku tidak ingin Nisa membenci diriku, aku akan bahagia melihat dia bahagia, kita ke puncak untuk melupakan Nisa, jalankan mobil jangan berhenti di tanjakan berbahaya" Nathan melihat ke kiri jalan.
" Aku rasa Dokter Nisa dalam bahaya atau ?" Roy tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Nathan telah menarik kerah baju Roy.
" Kenapa kamu masih menyebut nama Nisa?" Nathan benar-benar marah matanya memerah, ia ingin melupakan Nisa walaupun tidak bisa, namun Nathan sedang berusaha.
Roy menunjukkan jarinya ke sebelah kanan jalan, Nathan melepaskan tangannya dari leher Roy dan melihat arah yang ditunjukkan Roy.
Sebuah mobil putih yang sangat familiar. Nathan segera keluar dari mobil dan Berlari menuju mobil putih diikuti Roy.
" Ya Tuhan, Nisa" Nathan membuka pintu bagian belakang dan menarik Nisa keluar, wajah cantik terlihat pucat dengan darah yang hampir mengering.
Roy membantu Lia keluar dari mobil melalui pintu belakang karena Pintu depan telah terhimpit pembatasan jalan.
" Roy, cari tas punggung milik Nisa!" perintah Stevent.
Nathan tahu Nisa selalu membawa kotak P3K dan perlengkapan medis lainnya di dalam tas punggungnya.
" Kenapa Tubuh Nisa sangat lemah?" pikir Stevent yang memeriksa denyut nadi Nisa.
Roy membersihkan darah dan luka di kepala Lia, ia membungkus luka dengan kain kasa.
Lia membuka matanya perlahan.
" Nyonya Nisa, dimana Nyonya Nisa" Lia merasakan kepalanya sakit, Roy memandang wajah cantik dan masih sangat muda.
" Dia baik" Jawab Roy singkat dan membantu Lia duduk.
" aak " Lia berteriak ia merasakan tangannya sakit.
" Sepertinya tangan kamu patah" ucap Roy melihat wajah Lia yang menahan sakit.
Lia melihat seorang pria tampan sedang membersihkan wajah dan mengobati luka di kepala Nisa dengan telaten dan lembut.
" Kenapa Nyonya Nisa belum bangun?" Lia khawatir.
" Tunggulah disini" Roy berjalan mendekati Nathan.
" Kenapa Dokter Nisa belum bangun Tuan? sopir dia khawatir?" tanya Roy.
" Nisa tidak apa-apa tapi kondisi tubuhnya sangat lemah" Nathan berpikir keras.
" Apakah dia sedang hamil?" Nathan berbicara dengan dirinya sendiri.
" Apakah kamu sudah menghubungi mobil untuk menjemput?" tanya Nathan.
" Dalam perjalanan" Jawab Roy.
" Aku akan membawa Nisa dengan mobilku dan kamu tunggu jemputan!" perintah Nathan.
" Baik Tuan" Jawab Roy.
Nathan menggendong Nisa masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Mau kemana ia membawa Nyonya Nisa" Lia khawatir namun ia tidak bisa bergerak karena tanahnya patah.
" Kerumah sakit " Roy menyuntikkan obat kepada Lia untuk menghilangkan rasa sakit.
Sebuah Mobil derek dan Mobil jemputan untuk Roy dan Lia telah tiba, Roy menghubungi Samuel untuk memberitahukan mereka harus segera kembali ke kota karena menabrak mobil lain.
Mobil derek segera menarik Mobil Nisa dan membawanya ke bengkel.
****
***
**
*
*** **Terimakasih ***
*
**
***
****
Terimakasih atas Like , komen dan Vote, Semoga Readers selalu dalam keadaan sehat serta mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin.
__ADS_1
Love You Readers 😘**