Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Sakit Bekas Suntikan


__ADS_3

Nisa dan Stevent baru pulang dari rumah sakit, Nisa terlihat lelah ia berbaring di sofa panjang ruang tengah.


Stevent memperhatikan Nisa yang langsung memjamkan matanya, ia benar – benar kelelahan, seharian berpuasa dan setiap malam bolak – balik rumah sakit untuk mendapatkan suntikan formula.


“Sayang, tidur di kamar.” Stevent menggendong Nisa ke kamar yang hanya tersenyum manis melihat kearah suaminya.


“Astaqfirullah.” Nisa merasakan sakit di lengannya ketika Stevent melepaskan Nisa di tempat tidur.


“Ada apa sayang?” Stevent khawatir dan melihat Nisa memegang lengannya.


Stevent membuka lengan baju Nisa, ia melihat tangan dan lengan yang telah dan merah kebiruan bekas jarum suntik.


Nisa tersenyum, tetapi tidak dengan Stevent, ia tampak sedih dan hampir meneteskan air matanya, wanita yang ia cintai dan selalu ia jaga kini harus menahan sakit dan menderita karena menerima suntikan setiap malam.


Jika Nisa di rawat formula di suntikan melalui selang infus dan itu tidak akan menyakiti Nisa, ini adalah salah satu alasan Nathan meminta Nisa tetap dirawat di rumah sakit, jarum hanya di suntikan satu kali pada infus.


“Sayang.” Stevent mencium tangan Nisa dan menatap sedih pada wajah cantik yang tetap tersenyum walaupun ia merasakan sakit pada tangannya.


“Tidak bisakah kita menghentikan semua ini?” tanya Stevent lembut.


“Apa yang harus kita hentikan sayang, ini akan menjadi ibadah untuk diriku.” Nisa mengusap wajah Stevent dan membuka hijabnya meletakkan di samping tempat tidur.


“Besok lebih baik kamu dirumah sakit.” Tegas Stevent.


“Kenapa?” tanya Nisa bingung.


“Kamu tidak akan merasakan sakitnya tusukan jarum suntik bekali – kali.” Stevent menatap tajam pada Nisa.


“Bagaimana kamu tahu?” Nisa menatap Stevent.


“Aku telah menanyakan kepada Dokter Nada, bagaimana supaya kamu tidak disuntik setiap malam.” Tegas Stevent.


“Tapi.” Kalimat Nisa terputus, Stevent menutup mulut Nisa dengan telapak tanganya.


“Aku mohon menurutlah, Aku mencintai dan menyayangi dirimu, aku tidak sanggup melihat kamu terluka.” Stevent meletakkan kedua tangannya di pipi Nisa dengan tatapan sedih da rapuh.


Nisa sedih melihat Stevent seakan terpuruk karena dirinya, walaupun ia sanggup menahan sakit disuntik setiap malam tetapi Nisa tidak tega melihat Stevent bersedih.


“Ya, besok aku akan pergi ke rumah sakit.” Nisa tersenyum dan memeluk Stevent.


“Aku akan menemani kamu tidur di rumah sakit dan ketika tidak sibuk di perusakaan aku akan selalu berada di sisi kamu.” Stevent mencium dahi Nisa.


“Tidurlah, besok kamu tidak usah bangun sahur.” Stevent menyelimuti Nisa.

__ADS_1


“Aku akan menemani kamu makan sahur.” Ucap Nisa manja.


“Jika kamu terbangun sediri.” Stevent tersenyum dan mencium Nisa.


Sejak hamil dan bolak balik kerumah sakit setiap malam Nisa kesulitan bangun untuk makan sahur, ia butuh alarm, kadang Stevent dan Salsa yang bangunkan Nisa.


“Bangunkan aku.” Nisa manja menarik tangan Stevent.


“Aku tidak akan tega membangunkan dirimu.” Stevent merebahkan tubuhnya dan memeluk Nisa.


“Salsa akan membangunkan diriku.” Nisa tersenyum.


“Ah, tidak ada yang bisa melawan dirimu.” Stevent Stevent mencium pipi Nisa dan tidur dalam pelukan.


***


Pukul 3 dini hari Stevent telah bangun, ia membuatkan makanan untuk ia sahur tanpa membangun Nisa, Salsa berdiri di depan Stevent membantu membersihkan peralatan memasak yang telah kotor dipakai Stevent.


Tepat pukul 3.45 menit Stevent siap menikmati makan sahurnya, Salsa berjalan menuju kamar Nisa, karena ia sudah terhubung dengan pesan yang Nisa kunci padanya.


“Salsa mau kemana?” tanya Stevent.


“Membangunkan Tuan Putri.” Ucap Salsa.


“Aaarg.” Stevent kesal karena tidak menemukan apa yang ia cari.


Salsa melanjutkan langkah kakinya dan bergerak membuka pintu kamar, Stevent terus menahan Salsa agar tidak membangunkan Nisa.


“Tuan Putri, Sahur.” Ucap Salsa, Stevent terus berusaha menarik Salsa untuk keluar dari kamar dan tidak mengganggu Nisa yan sedang tertidur pulas.


Nisa mebuka matanya, ia melihat Stevent sedang berkelahi dengan Salsa di samping tempat tidurnya.


“Sayang, apa yang kamu lakukan pada Salsa?” Tanya Nisa melihat Stevent tarik – tarikan dengan Salsa hingga pakaian Salsa yang berantakan karena Stevent mencari tombol manual Salsa.


“Ah, Robot ini keras kepala seperti dirimu.” Stevent melepaskan Robot Salsa.


“Selamat pagi Tuan Putri.” Salsa Tersenyum.


“Pagi Salsa.” Nisa merapikan pakaian Salsa.


“Apa yang kamu cari pada Salsa sayang?” Nisa melihat kearah Stevent.


“Tombol untuk membuat Salsa tidur dan tidak menggangu.” Stevent mendekati Nisa dan mengecup bibirnya.

__ADS_1


“Aku belum cuci muka sayang.” Nisa beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


“Kamu menyebalkan.” Stevent menatap tajam kepada Salsa yang membalas dengan senyuman cantiknya.


Nisa dan Stevent berjalan bersama menuju meja makan, Nisa terkejut ada banyak makanan di atas meja hasil masakan Stevent.


“Apa yang kamu tidak bisa sayang?” Nisa menyentuh wajah Stevent yang duduk di sampingnya.


“Kehilangan dirimu.” Stevent menatap Nisa serius.


Nisa tersenyum dan mengambilkan nasi untuk Stevent, mereka makan sahur bersama dalam diam tanpa suara, bahkan dentingan sendok dan garpu tidak ada karena Stevent dan Nisa menggunakan tangan langsung.


Melakukan kegiatan rutin setelah selesai sahur, menunggu waktu subuh dan membaca Alquran bersama, ketika matahari telah terbit Stevent dan Nisa bejalan – jalan di taman depan rumah.


***


Pagi Sahur Jhonny di pukul 3 dini hari.


Aisyah membukakan matanya, ia melihat Jhonny tidur di sampingnya, sepulang dari Taman Bunga stelah membersihkan diri Aisyah langsung tidur dan tidak memperdulikan Jhonny, ia sangat mengantuk.


Aisyah mendekatkan wajahnya pada wajah Jhonny, ia memperhatikan setiap lekukan wajah tampan dengan pahatan sempurna.


“Ternyata dia sangat tampan.” Aisyah menyentuh hidung mancung Jhonny.


Jhonny membuka matanya membuat Aisyah terkejut dan hampir melarikan diri tetapi tangan jhonny lebih cepat, ia menarik Aisyah hingga bibir mereka bertabrakan.


Tidak ada yang menolak ciuman bangun tidur dari pasangan halal, Jhonny telah kecanduan dengan ciuman bibir, yang baru ia rasakan bersama Aisyah untuk pertama kali dalam hidupnya.


“Apa kita perlu beli Es krim.” Ucap Jhonny melepaskan ciumannya yang mebuat Aisyah tertawa.


“Apa kamu suka ciuman Es krim?” tanya Aisyah berada di atas tubuh Jhonny.


“Ya, rasa manis dan dingin becampur hangatnya mulutmu.” Jhonny menatap Aisyah.


“Kita akan mencoba sensasi lain.” Bisik Aisyah beranjak dari tempat tidur dan menarik tangan Jhonny berjalan menuju kamar mandi untuk mempersihkan diri dan makan sahur bersama.


***


Semoga Suka, Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote, dan kepada sahabat yang telah memberikan dukungannya Author ucapkan Terimakasih.


Baca juga Novelku “Arsitek Cantik” dan Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


Love You All and Thanks For Reading.


__ADS_2