
Nathan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi kembali ke kota, Roy melirik sekilas kepada Tuannya, ia tidak tahu apa yang ada dipikirkan Nathan. Mobil terus melaju hingga memasuki perkarangan Villa Nathan.
“Selamat datang Tuan.” Kepala pelayan menunduk kepada Nathan dan Roy.
“Paman, bersihkan kamar paling atas!” Nathan berjalan menaiki tangga diikuti kepala pelayan dan Roy.
“Buang dan bakar semua foto dan semua barang dari kamar ini!” Nathan menyobek foto Nisa yang ada di kamar rahasianya.
“Baik Tuan.” Kepala pelayan keluar kamar memanggil para pegawai melakukan untuk tugas yang telah Nathan berikan.
“Tuan, apakah anda benar-benar mencintai Nona Afifah atau hanya obsesi sesaat.” Roy menatap tajam kepada Nathan.
“Aku jatuh cinta dan menjadikan rasa cinta itu sebagai obsesi, ketika aku teralu lemah dan sabar untuk mendapatkan Nisa, Stevent dengan cara kasarnya merebut Nisa dariku.” Nathan duduk di atsa tempat tidur.
“Ayesha, aku hanya penasaran dengan kecantikan di balik cadarnya, dan kesempurnaan yang ia miliki.” Nathan membuka jasnya melempar ke atas tempat tidur.
“Afifah, aku langsung jatuh cinta ketika melihat senyuman, keramahan dan sikapnya, aku akan menjadikan dia milikku bagaimanapun caranya.” Nathan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur memejamkan mata mengingat senyuman Afifah.
“Berikan informasi tentang Afifah secepatnya!” Nathan beranjak dari kamar rahasia dan berjalan menuju kamarnya.
“Aku akan tidur, ketika aku bangun semua data telah kamu dapatkan.” Nathan menutup dan mengunci pintu kamarnya.
“Baik Tuan, aku akan melakukan semuanya untuk anda.” Roy berjalan menuju kamarnya dan langsung menghidupkan computer.
“Afifah, wanita itu menyimpan banyak rahasia dibalik keceriaannya.” Nathan mencari informasi tentang Afifah. Roy tidak mendapatkan informasi apapun tentang Afifah yang tidak memiliki akun media social.
“Masih ada wanita yang tidak menggunakan media social.” Roy tersenyum, mencari informasi tentang Afifah terasa menyenangkan. Sebagai seorang ahli computer tidak ada yang tidak bisa Roy lakukan, hanya dengan menggunakan foto dan nomor ponsel Afifah yang ia ambil secara diam-diam semua informasi pasti Roy dapatkan. Sebuah email terhubung dengan nomor ponsel.
Roy dapat melihat panggilan dan pesan yang ada di nomor ponsel Afifah, dan salah yang paling sering mengirim pesan dan menghubungi Afifah adalah Asraf. Roy sangat dengan penasaran dengan Asraf hingga ia mencari tahu tentang Asraf dan Afifah bersamaan.
Hasil yang sangat memuaskan, Afifah masih sendiri dan tidak mempunyai kekasih, Asraf adalah saudara kandung Afifah dan menjadi asisten Fauzan. Hari itu adalah pertemuan setelah lima tahun dan pertama kalinya Afifah bertemu Fauzan. Roy mendapatkan informasi lebih dari itu, ia bahkan menemukan kebenaran orang tua Afifah yang telah menjadi sebuah rahasia.
“Dia luar biasa tersenyum untuk menyimpan luka dimasa lalunya.” Roy menatap foto Afifah yang sedang tersenyum cantik.
“Aku sangat mengantuk, perjalanan pulang sangat melelahkan.” Roy mematikan computer membuka pakaian dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk memejamkan mata hingga tertidur lelap.
Nathan telah terbangun dari tidurnya, ia berjalan keluar kamar menuju kamar rahasia yang telah kosong, tidak tersisa satu benda pun. Nathan memerintahkan kepala pelayan untuk mengganti warna kamar dengan warna biru langit dan membeli perlengkapan kamar dengan yang baru, bagus mahal dan terbaik. Merias kamar sedemikian indahnya dan mengganti gorden.
“Tuan, makan siang telah siap.” Kepala pelayan berjalan mendekati Nathan yang sedang memandangi kamar kosong.
“Dimana Roy?” tanya Nathan.
“Tuan Roy masih tidur, ia terlihat lelah.” Kepala pelayan tersenyum.
“Kenapa Paman tersenyum?” Nathan menaikan salah satu alisnya.
“Kapan Anda akan membawa Nyonya kerumah ini?” Kepala pelayan melebarkan senyumnya.
“Secepatnya, jadi selesaikan ruangan itu segera, ia akan tinggal di kamar baru dan tidak akan pernah bisa keluar.” Nathan tersenyum.
“Aku tidak akan melepaskan dirimu Afifah, apapun yang terjadi.” Nathan menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan diikuti kepala pelayan.
“Apa saya harus membangunkan Tuan Roy?” Kepala pelayan membalikan piring untuk Nathan.
“Biarkan dia istirahat, Roy pasti lelah.” Nathan menikmati makan siang sendirian hingga selesai.
__ADS_1
Roy keluar dari kamar dan menuruni tangga, ia melihat Nathan duduk di ruang tengan dengan mempehatikan layar computer. Selama menunggu Roy bangun Nathan telah berselancar di dunia maya untuk mencari tentang Afifah.
“Pergilah makan, kamu pasti sangat lapar.” Nathan berbicara kepada Roy tanpa melihatnya.
“Baiklah.” Roy yang sama dengan Nathan tanpa berpakaian hanya menggunakan celana panjang berjalan menuju ruang makan.
“Afifah Abasyi, kamu akan menjadi miliku.” Nathan tidak menemukan apapun di komputernya.
“Apa, wanita ini tidak memiliki akun media social, dimana kamu tinggal sayang sehingga tidak bermain di dunia maya.” Nathan tertawa tidak percaya jika Afifah tidak memiliki akun sama sekali, ia hanya menemukan email yang terhubung dengan nomor ponsel Afifah. Email yang hanya digunakan untuk kepeluan kuliah dan bekerja.
“Wanita unik.” Nathan tersenyum, dalam otak cerdasnya telah tersimpan sebuah rencana mendapatkan Afifah. Setelah mendapatkan semua informasi ia akan kembali ke desa Sinjay untuk menjemput wanita yang ia sukai dan cintai.
Nathan harus memperjuangkan cintanya dengan cepat, ia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi, terlalu sabar menunggu Nisa hingga direbut Stevent. Jika kelembutan tidak bisa mencapai tujuan maka ia akan menggunakan cara lain dengan jalan pintas tercepat tanpa menyakiti orang yang ia cintai.
Mencintai tidak harus memiliki tetapi cinta harus diperjuangkan dan berusaha untuk mendapatkanya bukan menyerah di tengah jalan sebelum berperang karena cinta butuh perjuangan.
***
Dua bersaudara duduk di tangga teras, Afifah menyenderkan kepalanya di lengan Asraf menatap langit di desa. Mengulang masa yang pernah mereka lakukan ketika masih kecil.
“Kak, apa kamu mau ikut diriku ke kota atau ke Arab?” tanya Asraf.
“Kakak tidak bisa pergi kemanapun.” Afifah menggenggam tangan Asraf.
“Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kakak.” Asraf merebahkan kepalanya di kepala Afifah.
“Kakak baik-baik saja, bekerjalah dengan Tuan Fauzan, ikutlah kemanapun dia pergi, ingat kamu punya hutang budi yang tidak bisa dibayar dengan uang.” Afifah mengusap kepala Asraf.
“Apa kakah masih sering tersesat?” Asraf menatap mata indah Afifah.
“Selama kakak masih di desa ini, kakak tidak akan tersesat tetapi kakak tidak akan pernah bisa berada di tempat yang baru.” Afifah tersenyum, Asraf menatap sedih kepada kakaknya yang ketika masih kecil selalu tersesat dan tidak ingat jalan pulang, ia harus mencari kakaknya dengan perasaan khawatir dan bersalah.
“Apa kakak masih tidak bisa mengingat nama orang?” Asraf masih sangat mengkhawatirkan Afifah.
“Kenapa kamu masih menanyakan itu? Asalkan kakak terus ingat Allah dan dirimu sudah cukup.” Afifah tersenyum.
Fauzan yang keluar dari kamar dan mau duduk di teras menghentikan langkah kakinya, tersenyum melihat kakak dan adik yang sedang melepas rindu, ia duduk di sofa ruang tamu dan dapat mendengarkan pembicaraan Asraf dan Afifah.
“Kapan kakak akan menikah?” Asraf meletakkan tangannya di pipi mulus Afifah.
“Apa kakak terlihat tua?” Afifah tersenyum.
“Kakak bahkan lebih pantas menjadi adiku.” Asraf mencubit pipi Afifah dengan gemas.
“Pantas saja tidak ada yang mau menikah dengan diriku karena aku terlihat seperti anak kecil.” Afifah tertawa.
“Kakak berbohong, wanita secantik, baik dan cerdas seperti kakak tidak ada yang melamar?” Asraf menatap tajam kepada Afifah.
“Hmm, ada ratusan pria yang sudah melamar.” Afifah tersenyum.
“Apa, dan semua kakak tolak?” Asraf terkejut.
“Ya, kebanyakan dari kota dan tidak ada yang dari desa ini.” Afifah menatap sedih kepada Asraf dan tersenyum.
“Kenapa kakak menolak pria kota?”Asraf penasaran.
__ADS_1
“Kakak tidak mau tersesat di kota karena penyakit buta arah ini." Afifah tersenyum.
"Suami kakak akan selalu menjaga dan menjadi petunjuk arah dimana pun kakak berasa." Asraf mengusap hijab Afifah.
"Kakak tunggal di desa saja, karena telah mengenali tempat ini." Afifah tersenyum.
“Maafkan aku yang telam membuat kakak menderita.” Asraf memeluk Afifah dan menangis, mereka berdua sangat menderita sejak kecil, trauma berlebihan dan selalu melindungi Asraf membuat Afifah mengalami cedera otak sehingga ia mengalami penyakit buta arah, tidak bisa mengingat nama orang yang jarang ia temui dan takut kepada kegelapan.
“Hey, kenapa adikku jadi cengeng, lupakan masa sulit, nikmati hidup kamu di jalan Allah dan selalu bersyukur.” Afifah mengusap air mata Asraf yang tidak pernah menangis sejak kecil hingga saat ini.
Asraf menangis karena mengkhawatirkan Afifah, ia berharap ada pria baik yang akan menikahi kakaknya dengan penuh cinta dan menjaga dengan sepenuh hati. Afifah adalah wanita yang kuat dan sangat baik.
“Kakak hanya berharap bisa menikah dengan seorang petani atau nelayan.” Afifah tersenyum dan perkataannya membuat Fauzan heran. Seorang wanita mandiri hanya berharap menikah dengan pria biasa-biasa saja bahkan menurut Fauzan Afifah bisa mendapatkan lebih dari yang di harapkan.
Dimata Fauzan, Afifah termasuk kategori wanita sempurna dengan kecantikan, kecerdasan, kebaikan dan kemampuan mengurus rumah tangga, ditambah lagi ia seorang guru yang terbiasa dengan anak kecil. Fauzan membuka layar ponselnya dan melihat foto Ayesha.
“Aku bisa tenang karena kamu telah bersama Kenzo.” Fauzan melihat Asraf yang memandang Afifah dengan tatapan khawatir.
“Wajar jika Asraf khawatir apalagi kakaknya mempunyai penyakit buta arah dan tinggal sendirian.” Fauzan menarik napas dan membuangnya, ia beranjak dari sofa dan pergi ke dapur melihat buah segar yang ia petik dan memakannya. Fauzan tidak tahu derita yang dihadapi dua saudara itu ketika masih kecil.
“Tidurlah, kamu pasti lelah.” Afifah menarik tangan Asraf dan berdiri.
“Aku menyayangi dan mencintaimu kak.” Asraf memluk Afifah.
“Kakak juga mencintai dan menyayangi dirimu.” Afifah tersenyum dan memeluk erat Asraf.
“Andai kakak bukan saudara kandungku, aku akan menikahi kakak agar kita terus bisa bersama dan saling menjaga.” Asraf menatap Afifah dan berbicara di dalam hati.
Kedua saudara masuk ke dalam rumah, Asraf mengunci pintu dan menggandeng Afifah ke kamar dirinya. Afifah selalu mengantar Asraf ke kamarnya ketika masih kecil dan mengusap kepala adiknya hingga tertidur.
“Tuan Fauzan tidur dimana?” tanya Asraf kepada Afifah.
“Kamar Ayah dan Ibu.” Afifah tersenyum, mencium dahi Asraf dan keluar dari kamar, ia berjalan ke dapur untuk mematikan lampu. Afifah melihat Asraf yang duduk di ruang makan dan menikmati buah-buahan segar.
“Anda belum tidur?” Afifah bertanya kepada Fauzan dari pintu.
“Ya, aku sangat tergoda melihat buah-buahan lokal yang sangat segar.
“Syukurlah, tolong matikan semua lampu jika anda telah selesai.” Afifah tersenyum dan kembali ke kamarnya.
“Ya tentu, sudah berapa kali kamu memerintahkan seorang pangeran melakukan pekerjaan rumah tangga.” Fauzan tersenyum, sejak bertemu dengan Afifah ia merasa dirinya bukanlah seorang pangeran atau pria kaya yang disegani dari Arab. Wanita itu bahkan melihat dirinya biasa saja tidak seperti wanita lain pada umumnya.
Afifah akan menganggap semua orang sama saja karena ia sadar pertemuan sekilas akan hilang begitu saja dari ingatannya, ia akan melupakan nama dan wajah orang yang ia jumpai hanya satu atau dua kali.
Penyakit itu membuat Afifah tidak bisa jatuh cinta karena rasa cinta hanya tumbuh ketika Afifah menghabiskan waktunya bersama setiap hari sehingga ia tidak melupakan orang yang pernah bersama dirinya.
Tidak mencintai berlebihan adalah salah satu cara untuk menghindari rasa sakit dan terluka di dalam hati karena penghianatan atau ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Karena berlebihan itu tidak baik. Jangan pernah mencintai apapun melebihi cinta kamu kepada Allah karena sesungguhnya cinta abadi hanya milikNya.
***
(Stevent-Nisa dan Jhonny-Aisyah, tunggu pindah rumah baru )
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.