
Pagi sekali sebelum waktu subuh Afifah telah selesai mandi, berganti pakaian dengan gamis polos berwana hijau daun dan hijab merah jambu, ia menuruni tangga menuju dapur melihat para pelayan telah sibuk mempersiapkan sarapan.
Afifah kembali berjalan menuju pintu utama, Villa mewah dan megah itu terlihat sepi tanpa penghuni hanya beberapa pelayan yang sibuk membersihkan rumah, menyiram tanaman dan menata taman. Wanita berhijab itu melangkahkan kakinya perlahan mengijak rumput yang masih basah dengan embun pagi.
Matahari belum menampakan cahayanya dan belum memberikan kehangatan pada bumi indah, Angin pagi mengoyangkan pepohonan dan bunga seumpama tak letih menyenandungkan zikir memuji kebesaran-Nya, walau azan subuh tak terdengar lagi dari masjid-masjid yang berada dekat dari Villa Nathan.
Hijab berwarna merah muda melambai-lambai, udara sejuk menerpa wajah cantik dan putih mulus wanita yang terkurung dalam ingatan yang ia kuburkan bersama dengan kepedihan masa kecilnya. Afifah menarik napas melalui hidungnya dan mengeluarkan melalui mulut yang tersenyum menikmati syukur atas nikmat sehat yang ia miliki sehingga masih bisa melihat indahnya kuasa Tuhan.
Berjalan berkeliling Villa di pagi hari tidak membuat letih kaki Afifah dengan sepatu kets berwarna putih yang ia gunakan, ia melihat indahnya taman dan perkarangan yang tertutup pagar tinggi sehingga tidak bisa melihat dunia luar. Mata berkilau berwarna coklat bulat besar sangat serasi dengan hidung mancung dan bibir mungil seorang gadis kecil yang memiliki usia dewasa, dia terlihat awet muda..
Afifah terlah berada di ujung halaman gerbang utama Villa, cukup jauh ia berjalan hingga cahaya putih mulai terlihat, memuaikan embun pagi yang melekat dirumput dan dedaunan memberikan asap yang terbang dan hilang diudara. Tangan indah dan cantik menyentuh pagar besi yang terkunci, dengan tatapan berusaha melihat keluar penjara mewah dan membaca semua tanda yang terlihat oleh dirinya.
Mencari celah untuk keluar dari istana Nathan, tetapi ada banyak bahaya yang mengintai diluar sana yang belum tentu menjamin keselamatan dirinya ketika sedang tersesat, haruskan Afifah pasrah bersama pria asing yang seakan tidak ada di dalam hatinya karena hanya ada satu pria dalam ingatan dirinya Asraf.
Wanita cantik itu tersenyum menatap langit yang mulai terang, ia merasa lucu dengan takdir Tuhan yang ia jalani saat ini, kehidupan tenang di desa berubah dalam satu malam dan mengantarkan ia pada istana megah di tengah kota asing bersama pria yang hanya ia temui satu kali.
“Apakah Tuhan sedang mempermaikan diriku?” Afifah duduk di atas kursi taman yang dicat warna putih menunggu pelukan hangat dari Matahari pagi.
***
Pria tampan dengan tubuh seksi menggunakan kemeja putih bersih dengan lengan digulung sampai siku berjalan menuju kamar Afifah yang terbuka dan kosong terlihat rapi dan bersih. Nathan segera menuruni tangga dan memanggil kepala pelayang menyanyakan keberadaan wanitanya.
Kepala pelayan segeran menyerahkan tap dan melihat hasil rekaman kamera yang terpasang di setiap sudut taman dan perkarangan, gadis cantik itu duduk tenang di bwah sinar Matahari yang telah memberikan kehangatan dan penerangan pada bumi Tuhan.
“Bagaimana ia bisa sampai kesana?” Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena Nathan telah melihat Afifah berjalan hingga sampai ke ujung gerbang.
“Anda memiliki jawabannya Tuan muda.” Kepala pelayan tersenyum.
Nathan kembali ke kamar untuk mengambil jas dan dasinya, ia juga mengambil tas dan ponsel Afifiah yang tergeletak di atas meja rias. Ia memeriksa batre ponsel yang tidak berkurang karena wanita itu tidak menggunakan ponselnya sama sekali.
“Apa yang ada di dalam pikiran kamu?” Nathan menuruni tangga dan berjalan menuju mobil sport merahnya, melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di depan Afifah. Ia keluar dari mobil berdiri menatap wanita cantik yang mendongakan wajahnya pada pria tinggi dan tampan.
“Apa kamu tidak lelah bejalan hingga sejauh ini?” Nathan duduk di samping Afifah.
“Aku tahu kamu telah menetralkan racun pada diriku yang sengaja kamu suntikan.” Afifah tersenyum.
“Apa maksud kamu?” Nathan terkejut dengan kalimat Afifah.
“Aku bukan wanita bodoh, aku mengetahui konsisi tubuhku yang hanya buta arah dan tidak bisa mengingat nama orang bukan tubuh yang lemah dan tidak bertenaga seperti beberapa hari aku ada disini.” Afifah menatap tajam pada Nathan.
“Ah aku lupa ia pernah kuliah di jurusan kesehatan tetapi pindah haluan kerana kendala biaya.” Nathan berbicara dengan dirinya sendiri dan mengusap kasar wajahnya.
“Apa yang kamu inginkan dari diriku yang tidka punya apa-apa?” Afifah berdiri.
“Aku menginginkan dirimu.” Nathan beranjak dari kursi.
“Kenapa?” Afifah menatap Nathan yang berdiri dihadapannya.
“Karena aku mencintai dirimu, aku mau kamu menjadi miliku seutuhnya.” Nathan tersenyum masuk dalam bola mata indah yang menatap dirinya.
“Apakah kamu akan memaksa diriku?” Afifah mengalihkan pandangannya.
“Aku akan menunggu dirimu tetapi kamu akan tetap selalu berada disisiku dalam kondisi apapun.” Nathan tersenyum memandang wanita yang semakin cantik dimatanya. Ia hanya tidak ingin ada pria lain yang menyadari kecantikan Afifah tetapi ia jug atidak mau meninggalkan wanita itu sendirian di rumah.
“Apakah kamu tidak pernah bertemu wanita?” Afifah mendongak wajahnya.
“Aku terlalu sering bertemu banyak wanita yang membosankan tetapi wanita seperti dirimu itu langka dan harus dijaga.” Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah yang terduduk di kursi.
“Setelah papa dan mama ku kembali kita akan segera menikah.” Nathan menekan tangannya di kiri dan kanan kursi memojokkan Afifah yang membeku di kursi taman.
“Kita akan kerumah sakit untuk melihat kondisi Nayla dan memindahkan ke rumah sakit milikku.” Nathan tersenyum.
“Aku akan di rumha saja.” Afifah membuang pandangannya kearah lain.
“Tidak sayang, kamu harus selalu berada disisiku setiap waktu.” Nathan membuka pintu mobil untuk Afifah yang tidak perduli, ia tetap duduk dikursi taman.
“Apakah aku harus mengendong kamu agar bisa duduk manis di dalam mobil?” Nathan tersenyum licik.
Afifah menarik napas panjang dan membuangnya dengan kesal ia berjalan masuk kedalam mobil, duduk dan memakai sabuk pengaman, melihat ke aras jendela memperhatikan jalanan. Nathan masuk ke dalam mobil menyerahkan tas dan ponsel kepada Afifah.
“Jangan pernah meninggalkan dua barang ini.” Nathan meletakkan tas dan ponsel di atas pangkuan Afifah.
“Ponsel untuk menghubungi seseorang yang akan membantu kamu dan uang selalu dibutuhkan dimanapun kamu berada.” Nathan menatap Afifah yang melihat ponsel dan tas.
“Terimakasih.” Afifah kembali melihat kesamping jendela dan Nathan tersenyum.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit Samuel dan berhenti pada tempat parkir yangtelah disediakan.
“Duduklah dengan tenang, aku yang akan membuka pintu untuk dirimu.” Nathan membuka sabuk pengaman miliknya dan keluar dari mobil dan membuka pitu untuk Afifah yang masih cemberut.
“Apa kamu tahu wajah cemberut itu lebih menggoda dari senyumam.” Nathan berbisik di telinga Afifah dan tersenyum.
Seorang wanita yang baru keluar dari mobilnya memperhatikan cara Nathan memperlakukan Afifah begitu lembut dan manis.
“Apakah gadis itu telah menggantikan posisi Nisa di hati Nathan?” Dokter Nada merasakan dadanya sesak.
“Berapa usia dirinya, apakah jauh lebih muda dari Nathan, ia terlihat seperti gadis remaja yang masih kuliah.” Dokter Nada menutup pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
“Aku akan mengenalkan dirimu kepada Nayla.” Nathan tersenyum.
“Aku tidak mau membuat adik kam emosi melihat diriku.” Afifah berdiri di dekat pintu mobil dan tidak mengikuti langkah kaki Nathan.
“Tidak usah khawatir, ia tidak bisa membantah diriku.” Nathan menarik hijab Afifah.
“Aku bisa berjalan sendiri.” Afifah menarik hijabnya dari tangan Nathan.
Mereka berjalan bersama melewati koridor rumah sakit menuju ruangan Nayla, Nathan membuka pintu dan melihat seorang dokter tampan oppa korea yang sedang berbicara dengan adiknya. Dokter yang pernah baku hantam dengan dirinya di rumah sakit. Kim Min Jook dokter bedah keturunan Korea.
“Apa yang kamu lakukan kepada Nayla?” Nathan menarik kerah jas putih milik Kim yang tersenyum melihat Nathan.
“Ah, pria jahat yang mau memisahkan Nisa dan suaminya.” Kim mendorong tubuh Nathan.
“Kak, dia dokter bedah yang akan melakukan operasi padaku.” Nayla menarik jas Nathan.
“Kamu akan kakak pindahkan ke rumah sakit kakak.” Nathan manatap tajam kepada Kim.
“Kak, siapa gadis itu?” Nayla melihat Afifah yang berdiri di depan pintu.
“Dia kekasihku.” Nathan tersenyum.
“Apa? Kakak berpacaran dengan gadis kecil.” Nayla menatap tidak suka kepada Afifah.
“Maaf Nona aku bukan kekasih kakak kamu dan bukan gadis kecil.” Afifah keluar dari ruangan Nayla.
“Afifah tunggu.” Nathan mau mengejar Afifah tetapi tangannya ditahan Nayla.
Kim melihat Afifah yang berjalan tanpa tujuan dan mengikuti dari belakang, ia penasaran dengan ucapan gadis itu tentang bukan kekasih dan bukan gadis kecil, karena jika dilihat dari wajahnya wanita itu seperti gadis kecil dan Kim tahu betapa liciknya Nathan.
“Nona tunggu.” Kim menyusul Afifah .
‘Ya.” Afifah mengangkat wajahnya agar bisa melihat pria tinggi dan tampan didepannya. Kim dengan kulit putih sangat serasi dengan jas putih dokter.
“Maaf, apakah kamu benar-benar kekasih Nathan?” tanya Kim.
“Bukan dia menculik diriku dari desa.” Afifah menunduk, lehernya lelah jika haru sterus mengangkat kepalanya.
“Berarti dia telah melepaskan Nisa dan menggantikan dengan dirimu.” Kim tersenyum melihat wajah cantik dan imut di depannya.
“Siapa Nisa?” tanya Afifah.
“Apa kamu mau mendengarkan cerita tentang Nathan?” Kim meneliti setiap ukiran indah dari wajah Afifah.
“Jika Dokter memiliki waktu bercerita dengan diriku?” Afifah tersenyum.
“Tentu saja, kita keruangan diriku.” Kim tersenyum tampan.
“Bisakah kita berbicara di tempat terbuka?” Afifah melihat wajah Kim.
“Di depan ruanganku ada teras terbuka, bagaimana?” tanya Kim.
“Baiklah.” Afifah menoleh kearah ruangan Nayla dan tidak ada tanda-tanda Nathan akan keluar dan menyusul dirinya.
Mereka berjalan bersama menuju ruangan Kim, melewati Dokter Nada yang memperhatikan Afifah, ia sangat penasaran dengan wanita yang disebutkan kekasih Nathan sedangan gadis itu berkata bukan.
Afifah duduk di sofa dan Kim menyajikanair mineral dingin, wanita itu sangat mudah dekat dengan banyak orang karena ramah dan terbiasa di desa.
“Silahkan.” Kim duduk di depan Afifah.
“Terimakasih.” Afifah tersenyum cantik.
“Wajar saja gadis ini bisa menggantikan Nisa di hati Nathan, senyumannya begitu tulus dan wajah yang lembut.” Kim berbicara dalam hati dan mengagumi kecantikan Afifah.
__ADS_1
“Perkenalkan, Kim Min Jook dokter bedah.’” Kim mengulurkan tangannya.
“Afifah, ketika di desa aku adalah seorang guru dan perawat di klinik.” Afifa tersenyum.
“Berarti kamu benar bukan gadis kecil.” Kim tersenyum.
“Dan benar bukan kekasih Nathan.” Afifah meneguk minumannya.
“Bagaimana kamu bisa bersama Nathan?” Kim meneguk minumannya.
“Kami bertemu di desa dan ketika aku pingsan ia membawa aku ke kota ini, semuanya terjadi begitu cepat dan membingungkan diriku.” Afifah melihat Dokter Nada dari kejauhan.
“Aku bahkan tidak benar-benar mengenal Nathan.” Afifah meletakkan botol mineral di atas meja.
“Aku akan menceritakan sedikit yang aku ketahui tentang Nathan bahkan kami sempat berkelahi.” Kim mulai bercerita tentang dirinya, Nisa, Stevent dan Nathan.
Afifah merasakan rambut halus pada tubuhnya bergidik ngeri, ia tidak percaya pria cerdas dan kaya itu akan melakukan tindakan yang kotor hanya untuk mendapatkan wanita yang ia cintai dan teleh menikah.
“Apa yang akan ia lakukan kepada diriku?” Afifah terlihat khawatir.
“Apa maksud kamu?” Kim menatap Afifah yang mulai bercerita tentang dirinya dan bagaiman ia bisa berada di kota itu.
“Pria itu benar-benar nekat, aku tidak percaya di aakan melakukan hal gila untuk mendapatkan keinginannya.” Kim menyenderkan tubuhnya pada dinding sofa.
“Aku harus kembali ke desaku tapi ia pasti akan menyusul diriku, aku tidak punya siapapun.” Afifah melihat layar ponselnya.
“Nathan tidak akan melepaskan dirimu, apalagi kamu tidak punya siapapun.” Kim memperhatikan Afifiah, ia sendiri tidak punya kekuatan untuk melawan Nathan.
Ponsel Afifah bordering, nama Nathan muncul di layar dan ia segera menerima panggilan untuk pertama kalinya.
“Halo.” Suara Afifah lembut menerima panggilan dan tidak ada jawaban dari Nathan karena ia bisa melihat kekasihya duduk bersama Kim, musuhnya.
Nathan mematikan ponsel, berjalan mendekati Kim, menarik kerah jas dan memukul wajah tampan oppa korea sehingga meninggalkan bekas merah yang terlihat jelas. Afifah segera berlari meninggalkan Nathan yang sedang emosi. Ia menyadari pria itu sangat mudah memukul orang tanpa tahu pokok permasalahan. Harusnya ia bertanya sebelum menyakiti orang lain.
Meliahat Afifah yang berlari membuat Nathan melupakan lawanya sehingga memberikan kesempatan kepada Kim membalas pukulan pada wajah Nathan.
“Oh Shit.” Nathan mendorong tubuh Kim dan mau berlari mengejar Afifah tetapi dokter bedah tampan itu tidak mengizinkannya, ia menarik jas hitam Nathan dan kembali bergulat hingga Dokter Nada harus memanggil petugas keamanan untuk memisahkan dua pria tampan yang sedang baku hantam.
Wajah tampan keduanya terlihat memar dan bengkak tatapan mata penuh kebencian terliaht jelas diantara dua pria yang akan terus berseteru ketika bertemu. Nathan melepaskan pegangan tangan sekuriti dan segera berlari menyusuk Afifah yang sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.
“Dokter Kim, apakah anda mengenal Nathan?” tanya Dokter Nada melihat Kim duduk di sofa.
“Pertemuan sekilas dan langsung berkelahi.” Kim beranjak dari kursi dan mengambi es batu untuk mengkompres wajahnya.
“Bagaimana dengan gadis itu?” Dokter Nada sangat penasaran dengan Afifah.
“Gadis itu diculik Nathan dari desa, pria itu benar-benar gila.” Kim kembali duduk di sofa dan meletakkan es batu di wajahnya.
“Apa?” Dokter Nada terkejut.
“Jika kamu mau menolong gadis itu sembunyikan dia dari Nathan.” Kim melihat kearah Dokter Nada.
“Siapa yang bisa melawan Nathan, bahkan ia bisa menghilangkan ingatan gadis itu dengan kejeniusan dirinya.” Dokter Nada menatap Kim.
“Pria Jenius bertingkah diluar nalar manusia.” Kim merebahkan tubuhnya di sofa.
“Apa kamu mau aku panggilkan dokter?” Dokter Nada beranjak dari sofa.
“Tidak apa aku hanya perlu beristirahat.” Kim memejamkan matanya.
“Aku permisi.” Dokter Nada kembali ke ruangannya.
"Nathan, tidak ada yang bisa mengerti dirimu." Dokter Nada bergumam.
Seorang pria jenius dan memiliki segalanya berpikir akan mendapatkan semua yang ia inginkan dengan mengandalkan kemampuannya tanpa ada kata gagal, karena kegagalan adalah sesuatu yang mengerikan untuk dibayangkan. Nathan dan Nayla adalah dua bersaudara yang bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, bedanya Nathan lebih suka berusaha lebih keras.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1