
Viona menarik tangan Asiyah yang sedang membuka pintu mobil bersiap kembali ke rumah Stevent bersama Jhonny, mereka tahu Viona tinggal di pesantren bersama Abi dan Umi.
“Ada apa Viona?” Aisyah.
“Jhonny, tunggu sebentar, aku mau berbicara dengan Dokter Aisyah.” Viona tersenyum kepada Jhonny yang melihat dirinya tanpa ekspresi.
“Dokter Aisyah, katakan kepada diriku apa yang terjadi pada pangeranku.” Viona berbisik di telinga Aisyah.
“Dia di suntikan obat perangsang oleh Nayla.” Aisyah tersenyum.
“Nayla, wanita gila itu, aku sangat membencinya dari awal ia mengganggu kak Stevent.” Viona mengepalkan tangannya.
“Maksud kamu?” Aisyah memegang pundah Viona.
“Dulu dia berusaha naik ke ranjang kak Stevent dan hari ini ia masuk kamar Fauzan.” Viona sangat kesal dan marah.
“Hey, gadis kecil apa yang kamu pikirkan?” Aisyah mencubit pipi Viona.
“Aku berpikir akan menjambak rambut Nayla.” Viona tersenyum.
“Anak nakal, kapan kamu akankembali ke kampus?” Aisyah melirik Jhonny yang tidak sabar mau pulang.
“Besok.”Viona tersenyum menyembunyikan kekesalannya.
“Kami pulang dulu, jaga diri jangan bertindak konyol.” Aisyah memeluk Viona.
“Konyol?” Viona menaikkan alisnya.
“Kegugupan ketika di depat pria yang disukai.” Bisik Aisyah di telinga Viona dan masuk kedalam mobil.
“Apa, apa maksud dokter Aisyah.” Wajah Viona memerah.
“Ada salam dari Valentino, ia tidak bisa menghubungi dirimu.” Aisyah melambaikan tangannya.
“Ah, aku telah lama tidak mengaktifkan ponselku.” Viona melambaikan tangannya.
“Hem, apakah pangeranku baik-baik saja?” Viona berjalan menuju Restoran dan langkanya terhenti.
“Nayla.” Viona melangkahkan kakinya mendekati wanita yang sedang marah kepada dua orang pria. Mereka berada di dinding pembatas hotel dan Restoran.
“Viona, apa yang kamu lakukan di sini?” Nayla melihat Viona.
“Aku tinggal disini, tetapi bagaimana dengan dirimu?” Viona menatap tajam kepada Nayla.
“Itu bukan urusan kamu.” Nayla melewati Viona.
“Arrg.” Nayla berteriak rambutnya ditarik oleh Viona.
“Apa kamu sudah gila karena Stevent tidak memanjakan kamu lagi.” Nayla merapikan rambutnya.
“Kamu yang sudah gila dan menjadi wanita murahan.” Viona tersenyum mengejek.
“Apa maksud kamu?” Nayla melotot.
“Ohya, Kak Stevent masih memanjakan diriku, ia selalu memberikan apa yang aku mau tetapi kamu sepertinya sudah tidak laku dengan umur yang tidak muda lagi sehingga naik ke ranjang pria dengan licik.” Viona mentap tajam dan tersenym menghina.
Nayla sangat murka, ia menapar keras pipi Viona sehingga meninggalkan bekas merah dan rasa yang cukup perih. Viona menyentuh pipinya.
“Wanita murahan yang tidak tahu malu.” Viona membentak Nayla dan mau membalas tamparan tetapi tangannya telah ditahan oleh seorang pria.
“Dengar gadis kecil, aku akan membuat dirimu menjadi wanita murahan di hotel ini.” Nayla mencengkram pipi Viona dengan kuat dan memberikan sebuah tamparan lagi pada wajah Viona.
“Lepaskan aku!” Viona menatap tajam pada Nayla.
“Buka penutup kepalanya, ia belum lama memakai itu.” Nayla tersenyum.
Viona memejamkan matanya, tidak ada yang bisa ia lakukan pada dua orang pria bertubuh kekar dengan seorang memegang tangannya dan seorang lagi bersiap membuka hijab Viona.
“Jangan menyentuhnya.” Suara yang sangat familiar dari seorang pria dingin mencengkram tangan pria yang baru akan membuka hijab Viona dan mendorongnya hingga tersungkur di lantai.
“Fauzan.” Nayla terkejut, mendengar nama Fauzan Viona membuka matanya dan ia sangat senang dapat melihat pangerannya datang menolong dirinya.
“Singkirkan tangan kotormu dari tangannya!” Fauzan menatap tajam pada pria yang masih memegang tangan Viona.
“Asraf, hajar pria itu dan yang satu ini serahkan pada diriku.” Fauzan membuka kancing kemeja dan menggulung lengannya hingga siku.
Fauzan memulai serangan menendang wajah pria itu sehingga tersungkur di tanah dengan bibir pecah mengeluarkan darah, senyuman mengerikan terlihat di wajah tampan seorang pangeran yang telah lama tidak berkelahi. Gerakan teratur tendangan, tinju dan siku tanpa memberikan kesempatan kepada lawannya untuk membalas.
Begitu juga dengan Asraf, ia berkelahi dengan tenang bahkan hampir tanpa suara yang terlihat hanya dua pria yang terkapar di atas lantai kasar hotel tanpa bisa menyentuh pria yang usianya masih sangat muda itu.
Viona tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas dua tamparan pada wajahnya, ia menjambak rambut Nayla dan memeberikan pukulan keras pada pipi mulus wanita berpakain seksi.
Terjadi pergulatan antara dua wanita berbeda usia, Viona yang duduk di atas tubuh Nayla dan terus memukul wajah Nayla dengan kesal dan penuh emosi, ia ingin membalaskan perlakukan Nayla yang telah menyuntikkan obat perangsang pada pangerannya.
__ADS_1
Andai Fauzan tidak bisa menyelamatkan diri pastilah pangerannya telah menjadi milik wanita licik yang sangat jahat dan tidak berperasaan itu.
Dua orang pria telah diikat dengan tali dan diserahkan kepada petugas keamanan hotel, Fauzan melihat Viona yang dengan ganasnya menghajar Nayla terbaring di atas lantai kasar.
“Apa yang dia lakukan?” Fauzan mendekati dan menarik tangan Viona agar menghentikan pukulnya terhadap Nayla.
“Lepaskan Aku, wanita murahan itu harus dihajar.” Viona masih sangat kesal.
“Hentikan!” Viona terdiam melihat wajah Fauzan begitu dekat dan memegang kedua tangannya.
Jantung Viona berdetak kencang, wajahnya semakin memerah dan panas, ia menatap mata tajam Fauzan tanpa berkedip, ini pertama kalinya ia dapat melihat dengan jelas wajah tampan pria yang jadi idola wanita di dunia.
“Bibir kamu terluka.” Fauzan mengambil saputangan dari saku celananya dan mengusap darah di bibir Viona.
Tubuh gadis itu membeku, jantung yang berdetak kencang kini berhenti tiba-tiba, aliran darah tersumbat, wajah merah menjadi pucat, matanya biru Viona tidak berkedip sedikitpun.
“Apa kamu baik-baik saja?” Fauzan melambaikan tangannya di depan mata Viona.
“Ah ya, aku tidak apa-apa.” Viona menunduk.
“Asraf, suruh orang hotel untuk membawa Nayla ke rumah sakit, aku akan mengnatarkan Viona ke pesantren.” Fauzan berjalan mendekati Nayla yang tidak sadarkan diri.
“Baik Tuan.” Asraf menghubungi hotel.
“Pukulan kamu cukup kuat.” Fauzan tersenyum melihat Viona yang masih membeku, ia tidak menampar Nayla melainkan meninjunya.
“Sebaiknya, kamu kembali ke Pesantren, hari semakin gelap.” Fauzan tersenyum.
“Apa yang kamu tunggu?” Fauzan menatap Viona yang masih belum bergerak.
“Ya.” Viona berjalan di depan Fauzan ia menggengam tangannnya.
“Apa kamu bisa berkelahi?” Fauzan berjalan di samping Viona.
“Tidak.” Viona melihat Fauzan sekilas.
“Tapi kamu punya kekuatan untuk memukul wanita itu.” Fauzan melihat Viona.
“Aku hanya sering latihan tinju bersama kak Stevent.” Viona gugup.
‘Pantas saja kamu bisa menghancurkan wajahnya.” Fauzan tersenyum mengingat wajah Nayla yang telah kehilangan kecantikannya.
Mereka berdua telah sampai di depan pintu rumah Abi, Viona memutar tubuhnya menghadap Fauzan, ia masih mau bersama dengan pangeran tampannya.
“Terimakasih telah menyelamatkan diriku.” Viona mengangkat kepalanya, mata mereka berdua bertemu, jantung Viona kembali berirama, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Fauzan yang tersenyum menawan.
“Masuklah, dan obati luka kamu.” Fauzan tersenyum, ia tidak bisa melupakan ketika melihat Viona yang memukul Nayla.
“Baiklah.” Viona berlari membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, ia menyenderkan tubuhnya di dinding samping jendela dan mengintip Fauzan.
Fauzan tersenyum dan berjalan kembali ke hotel, kemeja birunya telah basah oleh keringat karena berkelahi sehingga memperlihatkan tubuh seksi dan berotot. Viona menyentuh wajahnya yang merona dan panas. Ia tersenyum dan melompat kegirangan berlari menuju kamar Nisa yang kini ia tempati.
Viona mengempaskan tubuhnya di atas kasur dan berguling kesana kemari hingga ia terjatuh ke lantai, kepalanya terbentur kursi meja rias.
‘Aw.” Viona mengusap kepalanya dan kembali tersenyum mengingat wajah tampan Fauzan yang begitu dekat dan tersenyum menawan.
“Ya Tuhan, sakit bekas tamparan Nayla sebanding dengan tatapan dan sentuhan pangeranku.” Viona tersenyum menyentuh tangannya yang dipegang Fauzan.
“Aku akan bermimpi indah malam ini.” Viona menepuk pipinya dan segera mmebersihkan diri, ia benar-benar bahagia.
Bayangan tampan dan senyuman Fauzan semakin kuat menari di mata dan ingatan Viona, bahkan disetiap waktunya tidak bisa melupakan kejadian luar biasa yang ia alami sore ini.
***
Perlahan Afifah membuka matanya, ia melihat jarum impuls berada di tanganya dan seorang pria duduk dengan kepala berbaring di samping Afifah.
“Nathan.” Afifah menarik tanganya dan berusaha untuk duduk.
“Sayang, kamu sudah bangun.” Suara Nathan lembut menatap Afifah.
“Bisakah kamu tidak memanggilku sayang.” Afifah mengeserkan tubuhnya menjauh dari Nathan.
“Ada apa dengan dirimu?” Nathan menatap Afifah.
“Kamu pria jahat.” Afifah menatap Nathan.
“Apa maksud kamu?” Nathan menekan gamis Afifah.
“Aku tahu kamu menyuntikkan seseuatu pada diriku.” Afifah menarik gamisnya.
“Dengar sayang, aku akan mengobati dirimu, aku seorang ahli kimia, apa kamu mau sembuh?” Nathan berbicara dengan lembut.
“Kamu berbohong, kamu membuat tubuhku menjadi lemah dan sering tidak sadarkan diri, apa yang kamu lakukan?” Afifah menyenderkan tubuhnya di kepala tempat tidur.
__ADS_1
“Aku mencintai dirimu, aku mau kamu menjadi istriku, menikahlah dengan ku.” Nathan menatap Afifah.
“Asraf, aku melihat Asraf.” Afifah mencabut jarum impus dari tangannya dan segera turun dari tenpat tidur.
“Afifah, apa yang kamu lakukan?” Nathan menahan tangan Afifah.
“Lepaskan!” Afifah menarik tangan dari Nathan.
“Dengar, kamu masih sakit.” Nathan melembut suaranya.
“Aku mau mencari Asraf.” Afifah melotot pada Nathan memperlihatkan mata bulat yang indah.
“Kita akan mencari Asraf ketika kamu sudah pulih.” Nathan tersenyum lembut.
“Apa kamu tidak berbohong?” Afifah menatap Nathan.
“Ya, aku berjanji, pergilah membersihkan diri dan kita makan malam.” Nathan meninggalkan Afifah.
“Makan malam, pukul berapa sekarang?” Afifah melihat jam di dinding menunjukkan pukul tujuh malam.
“Ah, untungnya aku sedang datang bulan.” Afifah berjalan menuju kamar mandi.
Nathan keluar dari kamar menyenderkan tubuhnya di pintu, memijit batang hidung mancung dan tajam.
“Aku benar – benar mencintai dirimu.” Nathan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan berat.
“Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan hati kamu yang lembut.” Nathan berjalan menuju kamarnya, ia belum mandi menunggu Afifah sadarkan diri. Ia membuka kemeja memperlihatkan otot perut dengan roti sobek seksi dan menggoda sangat terawat, ia berjalan menuju kamar menyegarkan dan membersihkan diri di bawah guyuran air.
“Roy belum menghubungi diriku.” Nathan duduk di tepi tempat tidur hanya menggunakan handuk putih yang melingkar dipinggang, ia melihat ponselnya.
Pintu kamar Nathan terbuka, ia dapat melihat Afifah yang keluar dari kamar dengan gamis berwarna merah terang dan hijab berwarna hitam sangat cantik, Afifah melihat kearah Nathan dan segera menuruni tangga tanpa menyapa.
“Apa dia masih marah?” Nathan beranjak dari tempat tidur dan berpakaian, ia segera menyusul Afifah yang brrjalan menuju ruang makan.
Afifah tetap melakukan kebiasaannya, mengambilkan piring dan mengisi nasi untuk Nathan serta meletakkan segelas air putih. Nathan tersenyum, ia menaruh nasi di piring Afifah.
“Aku bisa melakukannya, aku sudah terbiasa, kamu tidak usah heran.” Afifah mengambil sendok nasi dari tangan Nathan.
Sejak kecil Afifah didik keras oleh kedua orang tuanya, ia melakukan semua pekerjaan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah hingga merawat taman dan kebun yang ada disekita rumah, ia seperti seorang pembantu.
Selesai makan Afifah langsung membereskan meja dan membersihkan peralatan makan, Nathan telah melarang dirinya tetapi ia tetap membantah dan melakukan semua pekerjaannya.
Nathan menemani Afifah di dapur hingga selesai dan berjalan bersama menuju perkarangan depan rumah, mereka berdua duduk di bawah pohon manga yang sedang berbuah lebat.
“Ini ponsel untuk dirimu.” Nathan menyerahkan ponsel berwarna merah terang kepada Afifah.
“Terimakasih.” Afifah menerima ponsel dan melihat ada dua nomor di dalam kontak yaitu Nathan dan Kepala pelayan.
“Apa kamu menyukainya?” Nathan memperhatikan wajah cantik Afifah di bawah cahaya lampu taman.
“Hmm.” Afifah mengangguk dan meletakkan ponsel di atas meja menatap langit malam yang cerah dengan bertabur bintang. Ia berpikir bahwa dirinya masih berada di bawah langit yang sama dengan Asraf dan percaya Tuhan pasti akan mempertemukan mereka.
Memiliki kelemahan dalam mengingat jalan atau buta arah, lupa nama orang, phobia gelap sebenarnya sangat menyiksa Afifah, tetapi ia berusaha kuat dengan selalu senyuman ramah dan suka membantu orang. Walaupun ia telah melupakan banyak wajah dan nama orang yang pernah ia tolong setidaknya mereka tidak pernah melupakan dirinya.
Dengan menanam kebaikan Afifah berharap ketika tersesat dan lupa arah ada orang yang akan mengenali dan membantu dirinya untuk menemukan jalan pulang. Pertolongan Allah akan datang melalui tangan-tangan yang tidak terduga untuk memudahkan urusan manusia yang suka membantu orang lain.
Nathan terus memandangi wajah cantik Afifah, ia tidak ingin mengalihkan tatapannya dari maklum imut ciptaan Tuhan yang mengagumkan.
"Bibir itu sungguh menggoda, sampai berapa lama aku harus menahan diri?" Nathan berbicara di dalam hati, ia menyenderkan tubuhnya di kursi dan menatap langit malam bersama Afifah.
"Afifah, kapan kamu akan menerima lamaran diriku?" Nathan mengeluarkan sekotak perhiasan dari dari tas ponsel.
"Apa ini?" Afifah menatap Nathan.
"Aku telah melamar kamu untuk yang sekian kalinya." Nathan turun dari kursi dan berjongkok di depan Afifah.
"Apa yang kamu lakukan?" Afifah berdiri.
"Aku rela menjadi pelayan ataupun budak kamu Afifah, asalkan kamu menjadi istriku." Nathan menatap serius pada Afifah.
"Berdirilah Nathan, tidak ada suami yang akan menjadi pelayan atau budak istrinya." Afifah berlari ke kamar meninggalkan Nathan.
"Afifah." Nathan tertunduk.
"Sampai kapan kamu akan menolak diriku, padahal kamu belum memiliki kekasih." Nathan melihat punggung Afifah yang telah menghilang dari pandangan.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.