Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Maafkan Aku


__ADS_3

Stevent menghentikan langkahnya, ia melihat istrinya sedang tersenyum tulus menghibur seorang anak kecil yang akan melakukan operasi transplantasi Jantung, anak yang terlihat bahagia bersama Nisa.


Begitu juga dengan Dini, yang selalu kagum melihat cara Nisa menangani pasiennya.


"Halo Jagoan Dokter." Nisa mengangkat tangannya dan anak laki-laki berusia 10 tahun itu dengan semangat menepuk telapak tangan Nisa.


"Halo Dokter ku." anak yang bernama Beni tersenyum bahagia melihat Nisa mengunjungi dirinya.


"Bagaimana kabar Beni hari ini?" tanya Nisa mendekatkan wajahnya kepada Beni.


"Aku sehat dan Kuat." Beni meletakkan tangannya di pipi Nisa.


"Bagus, Beni anak yang hebat." Nisa mencium dahi Beni


"Dokter, bolehkah aku mencium pipimu?" tanya Beni berharap.


"Tentu saja." Nisa mendekatkan pipinya kepada Beni.


Beni mencium pipi kanan dan kiri Nisa.


"Dokter, aku mau sehat, Dokter akan membantu aku kan?" Beni menggenggam tangan Nisa.


"Beni harus terus berdoa agar Beni sehat dan Tuhan juga akan membantu Dokter ketika melakukan Operasi" Nisa tersenyum menguatkan Beni yang ikut tersenyum dan mengangguk.


Keluarga Beni sangat terharu melihat Nisa dan putra Mereka yang kembali bersemangat untuk melakukan operasi, tidak ada lagi rasa takut pada Beni.


"Sekarang Beni Istirahat, satu jam lagi, kita bertemu." Nisa mencium dahi Beni dan tersenyum.


"Terimakasih Dokter ku." Beni tersenyum.


"Sama-sama sayang." Nisa melambaikan tangannya.


Hari ini Nisa akan melakukan Transplantasi Jantung pada Beni yang telah lama menunggu mendapatkan donor jantung.


Beni adalah pasien terakhir yang Nisa kunjungi. Dini terus mengikuti langkah kaki Nisa melewati beberapa ranjang pasien, Nisa memberikan senyuman dan sapaan lembut kepada semua pasien.


Tidak ada yang tidak mengenali Nisa, Dokter Cantik berhati Malaikat, Nisa selalu memberikan kebahagiaan bagi semua orang.


Dini membukakan pintu untuk Nisa keluar dari ruangan perawatan.


Seorang pria penuh pesona telah menunggu di depan pintu, Dini terkejut hingga melongo.


Stevent menarik tangan Nisa, seakan tidak melihat Dini.


Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nisa,


"Sayang, aku sudah lelah menunggu dirimu dan anak itu membuat diriku cemburu, bersihkan pipimu." Stevent menatap Nisa yang menahan senyum.


"Sayang, lepaskan, kasian Dini dia masih jomblo." Nisa menahan tawa melihat Dini yang masih mematung menonton kemesraan Nisa dan Stevent.


"Maafkan saya Dok." Dini segera berjalan cepat meninggalkan pasangan yang tidak perduli dengan pandangan orang.


Stevent melepaskan tangannya, mengambil saputangan dari saku celana dan mengelap pipi Nisa.


"Apa yang kamu lakukan?" Nisa bingung.


"Membersihkan bekas ciuman anak Itu," ucap Stevent tidak perduli.


Nisa segera menarik tangan Stevent Menuju ruangnya.


"Sayang, belum jam makan siang tetapi kenapa kamu sudah berada di rumah Sakit." Nisa melihat jam tangannya dan membuka jas putih miliknya.


"Aku kelaparan tidak melihat dirimu." Stevent memeluk Nisa dari belakang, Nisa meletakkan jas pada gantungan, ia memutar tubuhnya menghadap Stevent dan tersenyum.


"Apa yang ingin kamu makan?" Nisa menggoda Stevent yang tidak menjawab tapi langsung memakan bibir Nisa dengan penuh nafsu, ia benar-benar kelaparan.


Terdengar ketukan pintu, menghentikan kemesraan yang cukup lama Stevent lakukan.


Nisa beranjak dari Sofa meninggalkan Stevent yang masih merindukan kebersamaan dengan istrinya, Nisa membuka pintu dan melihat Dini.


"Dokter, persiapan operasi Transplantasi Jantung untuk pasien atas nama Beni telah selesai," jelas Dini.


"Baiklah, saya akan mempersiapkan diri, bagaimana dengan tim Dokter lainnya?" tanya Nisa


"Mereka dalam perjalanan ke Ruangan Operasi," jawab Dini bersemangat, ia melirik Stevent yang menatap Dini dengan tatapan tajam.


"Terimakasih Dini." Nisa tersenyum.


"Sama-sama Dok," jawab Dini bersemangat, ia sangat berharap Nisa akan menerima undangan Konser Amal.


Dini meninggalkan Nisa dan Stevent, ia segera menuju ruang Operasi.


"Sayang, apa kamu sudah dengar yang dikatakan Dini?" Nisa mengambil jas Dokter miliknya.


"Aku akan kembali ke kantor." Stevent berjalan mendekati Nisa dan memeluknya.


"Sepertinya kita tidak bisa makan siang bersama." Nisa memasang wajah sedih walaupun ia tidak benar-benar sedih, karena yang paling ia utamakan adalah keselamatan pasien dan keberhasilan Operasi.

__ADS_1


"Tak apa, tapi kamu tidak boleh lupa makan siang." Stevent kembali mencium bibir Nisa.


"Baiklah, aku harus pergi sekarang." Nisa mencium sekilas bibir Stevent dan pergi meninggalkan Stevent sendirian di ruangannya.


Stevent hanya bisa memandang punggung istrinya yang semakin jauh berjalan mengikuti koridor Rumah Sakit yang seakan tidak berujung.


Stevent terus memandang Nisa hingga bayangan putih Dokter Cantik berhati Malaikat itu hilang dari pandangannya, barulah Stevent pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kantornya.


Operasi berjalan lebih dari 4 Jam, Nisa dan tim Dokter telah melewati waktu makan siang, Namun mereka puas karena operasi berjalan lancar dan berhasil.


Nisa dan Dini membersihkan diri dan mengganti pakaian.


Nisa menuju ruangan Sholat, ia melaksanakan shalat Zuhur bersama Dini.


Selesai sholat mereka merapikan perlengkapan sholat dan meletakkan pad tempatnya.


"Dini, ayo kita makan siang bersama." Nisa mengambil tas punggung miliknya dan mengeluarkan ponselnya, ia melihat ada banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari Stevent.


Nisa tersenyum, Stevent melakukan panggilan dan mengirim pesan setiap satu jam sekali.


Dini memperhatikan Nisa yang sedang senyum - senyum sendiri duduk di kursi kerjanya.


"Dok, apa kita tidak jadi makan siang yang terlewat ini?" Nisa mendekatkan kepalanya mengintip ponsel Nisa untuk bercanda.


Nisa tersenyum dan menahan tawa.


"Tentu saja jadi, aku harus melaporkan kepada suamiku." Nisa berjalan keluar dari ruangannya.


"Oooh Indahnya Dunia pengantin baru." Dini membentangkan tangannya seakan memeluk Nisa.


"Segeralah menikah." Nisa menarik hidung Dini.


"Dokter, kalian berdua sangat menyiksa mata para jomblo." Dini memegang dadanya membuat Nisa tertawa.


Mereka berjalan bersama hingga sampai di kantin rumah sakit.


Setelah mendapatkan meja yang pas, Dini dan Nisa memesan menu makan siang.


Tidak berapa lama hidangan makanan telah tertata rapi di atas meja.


Nisa segera mengambil gambar makanan di atas meja dan mengirimkan kepada Stevent.


Baru beberapa detik gambar terkirim, ponsel Nisa telah berdering, Panggilan Video dari Stevent.


Nisa segera menggeser icon berwarna hijau.


"Waalaikumsalam, sayang , kamu sudah sangat terlambat makan siang." wajah khawatir Stevent terlihat di layar ponsel.


"Dan aku semakin terlambat." Nisa tersenyum.


"Ah, Maafkan Aku, Love You." Stevent mencium layar ponselnya. Nisa membalas ciuman di layar ponsel.


"Ya Tuhan jiwa Jomblo ku benar-benar tersiksa." Dini menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Maafkan aku, mari kita makan." Nisa tersenyum, dan mulai membaca doa sebelum makan.


Nisa dan Dini menghabiskan makan siang mereka tanpa sisa, Mereka berdua membantu membersihkan dan merapikan meja makan.


Setelah meja bersih Nisa dan Dini kembali duduk ke kursi semula.


"Dok, aku sudah merapikan dan melihat jadwal Anda, dan di hari Konser Amal Anda benar-benar kosong." Dini telah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengajak Nisa datang ke konser Amal.


"Terimakasih, Tapi Aku tetap harus bertanya kepada suamiku." Nisa tersenyum


Wajah Dini tampak sedih, Dia adalah assisten Dokter Nisa, jika Nisa tidak ikut maka Dini juga tidak bisa.


Setiap Dokter telah memiliki asisten masing-masing. Dini tidak bisa ikut Dokter lain selain Nisa.


Dini benar-benar berharap bisa hadir untuk bertemu dengan Leo. Kehilangan Leo membuat kerinduan luar biasa di hati para penggemarnya.


Kemunculan Leo untuk pertama kalinya setelah lama Vakum tentu disambut antusias para penggemarnya termasuk Dini.


Apalagi melalui konser Amal ini Dini bisa bertemu langsung dengan Leo, ia tidak menyangka dengan menjadi asisten seorang Dokter Bedah memberikan kesempatan kepada dirinya untuk bisa bertemu langsung dengan sang Idola.


Nisa melihat kesedihan dan kekecewaan di wajah Dini, membuat Nisa merasa bersalah, ia telah membaca iklan tentang konser Amal.


Nisa sangat paham kenapa Dini begitu histeris ketika mengetahui tentang konser amal bertajuk " The Return Of The LEO".


Nisa telah bersuami ia harus meminta izin Stevent untuk kegiatan di luar jam kerja dirinya.


Jika Stevent tidak mengizinkan maka Nisa tidak bisa ikut.


"Dini, Aku akan mencoba minta izin dari suamiku." Suara lembut Nisa menenangkan hati Dini.


Dini menggenggam tangan Nisa.


"Terimakasih Dok." Air mata Dini mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


"Dini, tidak boleh terlalu mengagumi manusia." Nisa mengusap air mata Dini.


"Iya, maafkan aku." Dini mencium tangan Nisa.


"Hari sudah petang, aku akan melihat Beni sebelum pulang." Nisa dan Dini berjalan kembali menuju ruangan Nisa.


Seperti Biasa Nisa akan berkeliling mengunjungi pasiennya sebelum pulang.


Nisa menghubungi nomor Stevent, namun tidak ada jawaban, ia duduk di dalam ruangannya.


"Dokter, Anda belum pulang?" tanya Dini


"Aku menunggu Stevent, kamu bisa pulang duluan." Nisa tersenyum.


"Baiklah Dok, terimakasih." Dini meninggal Nisa sendiri di dalam ruangannya.


Nisa Kembali mencoba menghubungi nomor Stevent namun masih tidak ada jawaban, ia mengetik pesan.


"Sayang, aku menunggu dirimu, jika kamu tidak bisa menjemput, aku akan pulang dengan taksi."


Nisa melaksanakan shalat ashar di ruangnya, selesai sholat ia membaca Alquran.


Waktu terus berlalu, tidak ada balasan pesan ataupun panggilan dari Stevent.


Nisa menyelesaikan bacaannya, ia melihat jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul setengah 6 sore.


Nisa mengambil tas punggung dan jas putih, melihat sekilas layar ponsel yang tidak ada notifikasi pesan ataupun panggilan.


Nisa berjalan sendirian di koridor Rumah Sakit yang terlihat sepi, lampu-lampu telah dinyalakan.


Ia berjalan perlahan dan santai hingga sampai di ujung koridor tepat di depan pintu utama rumah Sakit.


Seorang pria berlari ke arah Nisa dan memeluknya.


"Maafkan aku sayang." Stevent memeluk erat tangan Nisa.


"Sayang, bisakah kamu melepaskan pelukanmu?" ucap Nisa


"Apa kamu marah pada diriku?" Stevent melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nisa.


"Aku tidak marah hanya saja aku kesulitan bernapas." Nisa tersenyum.


"Maafkan, aku terlalu fokus dengan pekerjaan sehingga lupa waktu." Stevent memegang pundak Nisa.


"Apakah kamu melupakan diriku?" Nisa memberikan tatap sinis kepada Stevent yang sengaja ia lakukan, karena sebenarnya Nisa tidak marah sama sekali, ia dapat mengerti pekerjaan Stevent, ia hanya ingin menggoda suaminya.


"Sayang,, maafkan aku." Stevent berlutut di hadapan Nisa, ia memeluk kaki istrinya, membuat orang yang melihat senyum - senyum, bahkan ada yang berteriak histeris melihat seorang pria tampan berlutut di depan Dokter Nisa.


" Sayang, apa yang kamu lakukan, berdirilah?" Nisa terkejut dengan apa yang Stevent lakukan yang tidak pernah terpikirkan oleh Nisa.


"Tidak aku tidak akan berdiri sampai kamu memaafkan diriku." wajah sedih, penuh penyesalan tampak jelas di wajah Stevent.


"Sayang, Aku tidak marah." Nisa berusaha menarik tangan kekar Stevent yang semakin memeluk kaki Nisa.


"Katakan kamu memaafkan diriku." Suara manja Stevent.


Mereka berdua jadi tontonan gratis kisah Romantis sore hari di depan rumah sakit, Seorang Pengusaha muda yang terkenal dingin dan angkuh sedang berlutut di depan seorang Dokter cantik berhati Malaikat.


Beberapa orang telah merekam video secara diam-diam.


"Baiklah, Aku memaafkan dirimu." Nisa kembali menarik tangan Stevent yang telah berdiri dan memeluk Nisa.


"Maafkan aku sayang," ucap Stevent, terdengar teriakan dan tepuk tangan dari orang-orang yang melihat mereka.


"Aku tidak Marah," bisik lembut suara Nisa di telinga Stevent.


Stevent segera menggendong Nisa dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Memasang sabuk pengaman, dan mengendarai mobil Menuju istana tersembunyi milik mereka berdua.


*


***


*


*


*


Thanks for Reading


Terimakasih atas Like dan Komentar pada setiap episode 😘


Terimakasih atas keikhlasan Vote yang telah diberikan, semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan limpahan rezeki, Aamiin.


Love You Readers**

__ADS_1


__ADS_2