
Terdengar suara azan Zuhur, Umi dan Abi bersiap pergi ke musholla terdekat, Stevent melihat Nisa,
" Kamu tidak sholat?" tanya Stevent
" Aku sedang Libur " Jawab Nisa tersenyum
" Sholat boleh libur?" Stevent bingung
" Boleh, spesial untuk wanita, pergilah, Umi dan Abi telah jauh berjalan " perintah Nisa
" Viona temani Nisa disini " Stevent melihat Viona yang bersiap menyusul Umi.
" Aku mau Sholat" Viona berlari.
" Jangan kemana-mana!" Stevent berbisik di telinga Nisa.
Melihat Stevent telah jauh, Nisa mengeluarkan ponselnya, ia menerima pesan dari Jhonny.
Jhonny mengatakan Nisa tidak akan pernah bisa lari dari Stevent. Nisa adalah wanita pertama yang dapat melembutkan hati Stevent, Jhonny berharap Nisa dapat menerima Stevent. Ia dapat melihat kebahagiaan Stevent ada pada Nisa.
" Anda adalah Cinta pertama Pria yang paling sombong dan angkuh ( Stevent) "
Nisa tersenyum membaca pesan dari Jhonny, ia segera menghapus pesan, agar tidak di baca Stevent.
Nisa merebahkan tubuhnya di kursi,
" Tuhan telah mengikat diriku dengan dia sejak kami berjumpa" Nisa berbicara dengan dirinya sendiri.
" Hai My Angel" Min Jook menarik kursi di samping Nisa.
" Oppa, apa yang kamu lakukan disini?" Nisa khawatir, jika Stevent kembali.
" Aku akan makan siang, dimana pria kasar tadi n who is he?" Min Jook menatap Nisa.
" Dia calon suamiku" Nisa tersenyum
" What" Min Jook sedikit berteriak sehingga beberapa orang melihat mereka.
" Ssttt" Nisa meletakkan jari telunjuk di bibirnya agar Min Jook bisa diam.
" Oh My God, My Angel, dia tidak pantas untuk kamu " Min Jook menatap Nisa sedih.
" Siapa tidak pantas untuk Nisa?" Stevent telah menarik kerah kemeja putih milik Min Jook.
" You " Min Jook memelototi mata Stevent, ia telah siap bertarung.
" Hentikan " Nisa menarik tangan Stevent dan Abi menarik Min Jook.
" Stevent kamu harus lebih sabar " ucap Abi lembut menasehati Stevent.
" Oppa Min, Aku akan menikah dua hari lagi, aku telah mengirimkan undangan di ponsel kamu " tegas Nisa yang membuat Stevent tersenyum puas penuh kemenangan.
Min Jook berlalu meninggalkan meja mereka tanpa sepatah kata.
" Oppa Min, Sorry" Suara lembut Nisa masih bisa di dengar Min Jook.
__ADS_1
" Aku berhasil menjadi Dokter bedah hanya untuk mengikuti dirimu " Min Jook berbicara di dalam hatinya.
Ia berhasil bertemu dengan Nisa, namun wanita itu akan menjadi milik orang lain.
" Sebaiknya kita segera keruangan Kenzo " tegas Abi, mereka bergegas menuju ruangan Kenzo.
Semua tranportasi dan akomodasi telah di tanggung oleh Stevent.
Abi dan Umi masuk terlebih dahulu, disusul Viona dan Nisa, terakhir Stevent.
" Nisa " Kenzo duduk dia atas tempat tidur ia tersenyum bahagia, setiap yang melihatnya akan dapat menyadari ada Cinta di mata Kenzo.
Stevent memperhatikan Kenzo.
" Assalamualaikum Kak, semoga segera pulih " Nisa tersenyum, Stevent terus menatap Nisa dan Kenzo bergantian.
" Kenzo malam ini kami akan kembali " ucap Abi dengan tekanan.
" Kenapa cepat sekali Abi?" Suara Kenzo terdengar sedih, ia melihat Nisa sekilas.
Abi dan Umi saling tatap, Mereka tidak tahu bagaimana cara mengatakan kepada Kenzo tentang pernikahan Nisa.
Viona menarik tangan Stevent untuk keluar dari kamar, yang awalnya ia menolak, namun akhirnya ia mengerti dan ikut keluar. Namun Stevent tetap menguping di balik pintu.
Nisa berjalan mendekati Kenzo,
" Kak Nisa akan menikah " butiran bening mengalir dari sudut mata Nisa
Kenzo menatap Nisa, ini pertama kalinya ia tidak menahan pandangan kepada Nisa. Mereka saling tatap hingga Nisa mengalah dan menunduk.
Wajah Umi telah basah oleh air mata, Abi tetap tegar mengawasi Nisa dan Kenzo.
Nisa hanya mengangguk, air matanya terus mengalir, Nisa tidak paham apa yang membuat ia menangis, ia bahkan tidak berani melihat Kenzo.
" Kenapa Nisa, apa Kakak tidak pantas untuk kamu?" Kenzo menahan tangannya agar tidak menyentuh Nisa. Ingin rasanya ia memegang tangan Nisa, menyentuh wajah Nisa untuk mengusap air mata yang mengalir di wajah Nisa.
" Kak Kenzo, Tuhan ingin Nisa beribadah dengan membawa Hidayah kepadanya" suara lembut Nisa.
" Maksud Nisa?" Kenzo benar - benar bingung.
"Dia baru mengenal Islam" Nisa menahan tangisnya.
Kenzo terdiam, ia tidak bisa membantah alasan Nisa.
" Jika Dia menyakiti dirimu, kembalilah kepada kakak " Kenzo memejamkan matanya, butiran bening mengalir dari sudut matanya. Ia merasakan sakit di dalam hatinya, terasa sesak seakan susah untuk bernafas.
Nisa melirik Kenzo, ia dapat melihat air mata mengalir membasahi pipi Kenzo.
Nisa tidak bisa lari dari Stevent, ia harus merubah sentuhan dosa menjadi ibadah. Ia tahu Kenzo jauh lebih kuat dari Stevent, Kenzo lebih mudah mengerti dan memahami semua kehidupan yang dijalani adalah kehendak Tuhan.
" Kak Kenzo, Aku akan menikah 2 hari lagi " ucap Nisa lembut. Kenzo membuka matanya kembali menatap Nisa.
Ia ingin memandang wajah yang selalu ia rindukan hingga puas sebelum menjadi milik orang lain. Namun wajah itu tidak akan puas untuk dipandang.
" Jika kakak telah pulih, Kakak akan datang" Ucap Kenzo memaksakan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
Ikhlas hanya itu yang bisa Kenzo lakukan, mungkin wanita yang selalu ia rindukan ini bukanlah jodohnya.
Nisa tersenyum, butiran bening terus mengalir membasahi pipi mulusnya. Ingin rasanya Kenzo memeluk wanita di depannya yang tidak mungkin dan tidak akan pernah bisa ia lakukan.
"Kak, Viona ingin berbicara dengan kamu, ia juga baru belajar tentang Islam" Nisa tersenyum.
" Kenzo, ikhlaskan Nisa, mungkin kalian belum berjodoh " Abi mengusap punggung Kenzo yang tersenyum menyimpan kesedihan di dalam hatinya.
Umi Duduk di sofa, ia terus menangis, Umi tahu benar Kenzo sangat mencintai Nisa.
" Kak, Nisa panggil Viona ya " Nisa tersenyum, ia tidak sanggup lagi berlama-lama di dekat Kenzo, Nisa merasakan ada beban berat yang menyesakkan yang ia sendiri tidak tahu penyebabnya.
Kenzo melihat Nisa keluar dari pintu ruangannya dengan tatapan sedih.
Stevent telah duduk di kursi tunggu bersama Viona, Nisa mengerikan air matanya dengan Tisu.
" Viona, masuklah " Nisa tersenyum melihat Viona.
" Apa Kenzo mau bertemu dengan ku ?" Viona khawatir dan mendapatkan anggukan dari Nisa.
Viona beranjak dari kursi dan masuk ke dalam ruangan Kenzo.
Nisa duduk di samping Stevent, menyenderkan tubuhnya ke dinding kursi.
" Apa kamu menangis untuknya" Stevent berbisik di telinga Nisa yang tertutup kain hijab.
" Entahlah " Nisa memejamkan matanya, ia tidak menyadari pria di sampingnya dapat puas memandang wajah Nisa dari mata, hidup hingga berhenti pada bibir Nisa yang merah merona dan basah.
Stevent menelan ludahnya, si merasa sangat haus, tiba - tiba kerongkongannya kering dan sangat kering.
Stevent menarik tas Nisa, membuat Nisa terkejut dan membuka matanya, ia melihat Stevent mengambil botol minuman sari buah milik Nisa dan meneguknya hingga habis.
Nisa memandang Stevent aneh.
" Kamu kenapa?" tanya Nisa melihat pakaian Stevent basah oleh air dari botol tumpah karena minum tergesa-gesa.
Nisa menarik tas miliknya dari tangan Stevent dan mengambil tisu.
" Keringkan pakaian kamu!" Nisa memberikan tisu kepada Stevent yang masih terdiam menatap Nisa.
" Hei, kamu kenapa?" Nisa melambaikan tisu di depan Stevent.
" Kamu penyebab semua ini" Stevent mengambil tisu dari tangan Nisa dan berusaha mengerikan air pada kemeja hitam miliknya. Nisa ingin membantu Stevent.
" Tidak Usah" Stevent mengambil semua tisu dari tangan Nisa dan berpindah satu kursi dari Nisa. Ia tidak mau sentuhan Nisa akan membangunkan hasrat memiliki yang selama ini ia tahan.
Nisa melihat aneh kepada Stevent dan tersenyum.
******************************
Thanks for Reading 🤗
Mohon untuk berikan jempol setelah membaca.
komentarnya 😊
__ADS_1
Vote juga boleh 😘
Terimakasih 😍 Love You Readers 💓