
Asraf duduk di cafe restoran termenung memikirkan Afifah, ia sangat merindukan saudaranya. Fauzan berjalan mendekati Asraf.
"Kapan kita akan ke desa kamu?" Fauzan menepuk pundak Asraf.
"Tuan." Asraf terkejut dan berdiri memberi hormat.
"Duduklah." Fauzan duduk di depan Asraf dan memesan minuman.
"Maafkan saya Tuan, kakak saya tidak mengizinkan saya pulang." Asraf menatap gelas berisi jus buah tomat di atas mejanya.
"Kenapa?" Fauzan melambaikan tangannya menyapa pelayanan untuk memesan kopi panas.
Seorang pelayan berjalan mendekat dan tersenyum ramah kepada Fauzan yang berbicara tanpa melihat pelayan wanita itu.
"Kopi hitam tanpa gula." Fauzan menyerahkan buku menu kepada pelayan wanita.
"Baik Tuan, tunggu sebentar." Pelayan wanita meninggalkan meja Fauzan dengan jantung berdebar.
"Kakak ku ingin aku menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu, ia tidak mau aku tergesa-gesa dan tidak bertanggung jawab." Jari Asraf memutar gelas jus.
"Kakak kamu sangat tegas." Fauzan menatap melihat kearah Asraf.
"Dia wanita yang mandiri yang selalu tersenyum." Asraf tersenyum dan mengambil ponselnya melihat foto Afifah.
"Apa aku boleh melihat foto kakak kamu?" Fauzan tersenyum tampan.
"Tentu saja Tuan." Asraf membuka galeri foto dan menyerahkan kepada Fauzan.
Fauzan melihat foto seorang wanita yang sangat cantik, tersenyum manis memperlihatkan gigi putih bersih tersusun rapi, dengan belah pada dagu lancipnya, hidung mancung dan mata bulat yang menyorotkan tatapan penuh kasih dan sayang.
"Apakah dia kakak kamu?" Fauzan menatap wajah Asraf.
"Ya, usia kami berbeda 2 tahun." Asraf tersenyum.
"Wajahnya terlihat imut dan lebih muda dari dirimu." Fauzan tersenyum dan kembali melihat foto Afifah yang tidak sengaja ia geser sehingga memperlihatkan foto lainnya.
Afifah tersenyum tanpa memperlihatkan giginya, sehingga bibir mungil itu membuat wajah imut terlihat jelas, Afifah seperti gadis berusia belasan tahun.
Fauzan segera mengembalikan ponsel kepada Asraf, ia hampir terus memandangi foto Afifah dan membayangkan wajah asli wanita itu yang seusia dengan Ayesha.
"Ada apa Tuan?" Asraf terkejut karena Fauzan yang tiba-tiba menyerahkan ponselnya.
"Tidak boleh memandang foto wanita terlalu lama." Fauzan tersenyum.
__ADS_1
"Dia hanya mengirimkan foto kepada diriku, ia tidak memiliki akun media sosial." Asraf tersenyum melihat foto cantik Afifah.
"Apa masih ada wanita yang tidak bermain-main di media sosial?" Fauzan menatap Asraf.
"Kakak ku salah satunya, dia hanya menggunakan ponselnya untuk berhubungan dengan diriku dan rekan kerja serta mendapatkan informasi yang ia butuhkan." Asraf tersenyum.
"Supaya bisa bertemu dengan kakak kamu sebaiknya kita menyelesaikan pekerjaan dengan cepat." Fauzan tersenyum.
"Terimakasih Tuan." Asraf terlihat bahagia, ia menyedot habis jus buah tomat.
"Silahkan Tuan." Seorang pelayan meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja.
"Terimakasih." Fauzan meneguk perlahan kopinya.
Mata indah Fauzan tidak akan melihat wanita yang tidak menutup auratnya. Ia hanya akan melihat wanita yang berhijab dan menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian yang longgar, bukan hijab gaul dengan celana ketat.
Fauzan telah meneguk habis kopi pahit miliknya dengan tenang dan perlahan, Asraf segera membayar minuman mereka dan bersiap ke rumah sakit untuk menyelesaikan masalah dengan Zayn.
"Apa kamu sudah siap?" Fauzan tersenyum melihat Asraf yang bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya agar bisa bertemu dengan Afifah.
"Tentu saja Tuan." Wajah Asraf kembali ceria dan itu membuat Fauzan senang.
Fauzan bisa mengerti rasa rindu yang Asraf rasakan karena ia juga memiliki saudara perempuan yang sangat ia sayangi. Afifah hidup mandiri tanpa keluarga di desa, pasti sangat berat, apalagi ia seorang wanita.
"Asraf, apakah kakak kamu tinggal sendirian di rumah?" tanya Fauzan penasaran.
"Kenapa ia belum menikah?" Fauzan melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Entahlah, ia tidak pernah bercerita tentang pernikahan ataupun kekasih." Asraf mengikuti langkah kaki Fauzan.
Mereka kembali ke kamar ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian dan mengambil berkas yang dibutuhkan dan komputer.
Mobil hitam tinggi milik Fauzan yang dikendarai Asraf melaju dengan kecepatan sedang menuju perusahaan Zayn. Berdasarkan informasi yang Asraf dapat Zayn telah kembali bekerja.
Fauzan telah membuat janji mendadak dengan Zayn yang tidak bisa ditolak, selain Fauzan adalah pria berkuasa di Dunia bisnis, ia juga kakak dari Ayesha teman kuliah Zayn.
Mobil telah memasuki areal parkir, Fauzan dan Asraf keluar bersama dan berjalan menuju resepsionis. Dua wanita yang menyambut mereka terlihat gugup.
Asraf segera mendekati petugas resepsionis yang tidak menguntungkan hijab, ia tahu pasti Fauzan tidak akan berbicara dengan dua wanita itu.
Fauzan duduk di kursi tunggu dengan menyilangkan kakinya, ia membuka ponsel begitu elegan dan terlihat sombong. Beberapa wanita yang ada di sekitar ruangan melirik Fauzan dan berbisik mengagumi ketampanan dan gaya dinginnya. Fauzan bahkan tidak melirik para wanita seksi yang berlalu lalang di depannya.
"Tuan, kita telah di tunggu di ruang meeting." Asraf mendekati Fauzan.
__ADS_1
"Baiklah." Fauzan berdiri dan tersenyum kepada Asraf, mereka berjalan bersama dan di temani seorang wanita yang akan mengantarkan mereka.
Melihat senyuman Fauzan membuat beberapa wanita berteriak histeris, seakan baru saja melihat malaikat tampan yang terjatuh di perusahaan mereka.
Wanita berpakaian seksi berada paling depan, diikuti Asraf yang berusaha menutupi Fauzan dari pandangan yang menyakiti mata.
Pintu dibu ponselka, wanita itu mempersilahkan Asraf dan Fauzan masuk ke dalam ruang meeting, Zayn telah duduk di sofa menunggu tamu kehormatan.
"Selamat datang Tuan Fauzan." Zayn berdiri dan mengulurkan tangan menyambut kedatangan Fauzan, ia tidak tahu kesalahan yang telah ia perbuat dengan mengusik pabrik adik tercinta seorang pangeran.
"Terimakasih." Fauzan tersenyum dan berjabat tangan dengan Zayn, ia dapat membaca bahwa Zayn tidak tahu bahwa pabrik itu adalah milik Ayesha.
"Silahkan duduk." Zayn mempersilahkan Asraf dan Fauzan duduk.
"Apa yang membuat anda datang ke perusahaan kecil saya?" Zayn tersenyum bahagia mendapat kunjungan dari Fauzan.
"Aku hanya mau menyelesaikan sebuah masalah secara kekeluargaan." Fauzan tersenyum dan terlihat tenang.
"Masalah?" Zayn mulai bingung, ia merasa tidak pernah membuat masalah dengan Fauzan.
"Berikan berkas kepada Tuan Zayn!" Fauzan tersenyum kepada Asraf.
Asraf segera mengeluarkan beberapa berkas dari tas dan meletakkan di atas meja. Zayn segera mengambil kertas-kertas yang terjilid rapi. Tangan Zayn gemetar, semua bukti kejahatannya tertulis jelas tanpa ada yang tertinggal.
"Apa kamu tidak tahu pabrik yang baru dibangun itu adalah milik Ayesha adikku dan teman kuliah kamu." Fauzan menatap Zayn dengan tatapan tajam.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" Tangan Zayn menggenggam erat semua berkas.
"Silahkan pilih cara yang mau kamu lakukan, Asraf telah menulisnya di bagian paling belakang berkas, aku memberikan waktu satu Minggu." Fauzan berdiri bersiap untuk meninggalkan ruangan.
"Baiklah." Zayn ikut berdiri dan menunduk.
"Satu lagi, Jangan pernah mengganggu Viona, karena ia seperti adikku sendiri." Fauzan menatap tajam kepada Zayn yang telah mengangkat kepalanya terkejut.
Fauzan dan Asraf keluar dari ruang meeting dengan senyuman kemenangan. Zayn terduduk lemas, ia harus segera mengganti rugi akibat kebakaran pabrik belum lagi kegagalan mendapatkan Viona.
"Aku harus mengambil salah satu perusahaan Alexander untuk mengganti rugi semua ini." Zayn mengepalkan tangannya emosi.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.