
Nisa duduk di kursi roda dan mengendong Azzam, bayi tampan yang pendiam, ia bahkan hampir tidak pernah menangis selalu tertidur dan terbangun ketika ia lapar.
Aisyah menggendong Azzura, gadis kecil yang sangat cantik dan menggemaskan.
Azzura lebih banyak terbangun dan suka digendong.
"Dokter Aisyah, kapan kami akan pulang?" tanya Nisa.
"Secepatnya, aku dengar Stevent sedang mencari rumah baru dekat pesantren Abi Ramadhan." Aisyah tersenyum.
"Rumah baru." Nisa melihat kearah Aisyah.
"Ya, Stevent tidak mau kamu jauh dari Abi dan Umi." Aisyah tersenyum.
"Sudah berapa rumah yang ia beli?" Nisa menatap Aisyah.
"Stevent itu terlalu khawatir dengan dirimu, ia bahkan tidak percaya dengan rumah orang tuanya." Aisyah meletakkan Azzura di tempat tidur.
"Assalamualaikum." Viona membuka pintu ruangan bayi.
"Waalaikumsalam." Aisyah dan Nisa menjawab bersama.
"Umi, Viona." Nisa tersenyum bahagia melihat Umi dan Viona, ia membaringkan Azzam di dalam keranjang bayi.
Memberikan pelukan dan ciuman pelepas rindu dan kasih sayang.
"Kak di luar ada Fauzan dan assitennya, tetapi mereka tidak boleh masuk," ucap Viona.
"Tunggu kakak kamu dan Jhonny, pasti mereka tidak mau masuk." Nisa tersenyum.
"Nisa benar, Fauzan tidak akan mau masuk jika tidak ada Stevent dan Jhonny." Umi tersenyum.
"Viona ada apa dengan tangan kamu?" Nisa menyentuh tangan Viona dengan lembut.
"Aku memecahkan peralatan dapur restoran karena gugup, aku langsung menyentuh pecahan kaca dengan ceroboh." Nisa menunduk.
"Kamu harus berhati-hati." Nisa menyentuh pipi Viona.
Viona dan Umi menengok Azzam dan Azzura, menggendong dan mencium bayi kembar, tetapi Viona tidak berani, ia hanya bisa melihat saja
Stevent dan Jhonny berjalan bersama, mereka baru kembali dari memantau rehab rumah baru.
"Hey, Fauzan." Stevent melihat Fauzan sedang duduk dan memainkan ponselnya.
"Assalamualaikum Stevent, apa kabar?" Fauzan berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Waalaikumsalam, aku baik." Stevent berjabat tangan dengan Fauzan.
"Apa yang kamu lakukan di rumah sakit?" Stevent menatap tajam kepada Fauzan.
"Aku mengantarkan Viona berobat, tangannya terluka." Fauzan tersenyum.
"Apa yang terjadi kepada Viona?" Stevent masuk ke dalam ruangan bayi.
"Kakak." Viona terkejut.
"Apa yang terjadi pada tangan kamu?" Stevent menarik tangan Viona.
"Aku memecahkan piring." Viona gugup.
"Apa yang kamu lakukan hingga memecahkan piring?" Fauzan menatap tajam kepada Viona.
"Viona berada di dapur restoran." Umi melihat Stevent.
"Apa yang kamu lakukan di dapur?" Fauzan terus menyerang Viona dengan banyak pertanyaan.
"Sayang, Viona bukan anak kecil yang harus berdiam diri di dalam rumah, ia juga pasti mau mencoba sesuatu yang baru." Nisa menarik tangan Stevent.
"Aku bosan tidak melakukan apapun, jadi aku mau melihat chef restoran memasak." Viona menunduk.
"Sayang, jika Viona tidak mencari pengalaman, ia tidak akan pernah bisa menjadi dewasa." Nisa menyentuh tangan Stevent dengan lembut.
Nisa tahu Stevent selalu membatasi Viona dan ada banyak peraturan yang tidak boleh dilarang.
"Istri kamu benar, jika kamu tidak membiarkan adik kamu menentukan pilihan, sampai kapan pun ia tidak akan pernah bisa menjadi wanita dewasa yang mandiri." Fauzan masuk bersama Jhonny dan Asraf.
Stevent menatap tajam kepada Fauzan, ia tahu Fauzan memiliki adik perempuan yang mandiri dan luar biasa dengan usia yang tidak begitu jauh dari Viona.
__ADS_1
"Stevent dan Nyonya Nisa selamat atas kelahiran bayi kembar kalian, maaf saya tidak membawa hadiah karena saya baru tahu dari Viona." Fauzan mengambil dua lembar cek dan menyerahkan kepada Stevent.
"Terimakasih, anda tidak perlu repot." Stevent menatap cek masing-masing lima ratus juta.
"Semoga hadiah ini bermanfaat." Fauzan berjalan mendekati tempat tidur bayi, ia menyentuh kepala Azzam dan Azzura.
"Bayi laki-laki ini akan menjadi pria yang dingin dan gadis kecil ini akan menjadi wanita yang hangat." Fauzan tersenyum.
"Semoga mereka berdua menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah." Fauzan tersenyum.
"Terimakasih atas doa dan hadiahnya." Nisa tersenyum.
Senyuman itu membuat Stevent cukup cemburu, apalagi pria yang mendapatkan senyuman itu adalah seorang Fauzan.
"Sama-sama, Umi kami akan kembali ke hotel." Fauzan melihat Umi.
"Umi akan ikut kalian." Umi tersenyum.
"Aku juga." Viona bersemangat.
"Jhonny yang akan mengantarkan Umi dan Viona, Nisa pasti masih mau bersama kalian." Stevent mencium dahi Nisa dan berjalan mendekati Fauzan.
"Baiklah, kami permisi." Fauzan diikuti Asraf dan Jhonny keluar ruangan.
"Hah, pria itu sangat tampan." Aisyah berbisik di telinga Viona.
Wajah Viona memerah, ia terlihat gugup khawatir Aisyah akan menyadari perasaannya.
"Nisa, aku sampai tidak bisa berkata-kata dengan ketampanan dan Wah dia sangat royal." Aisyah melihat cek yang tergeletak di atas pangkuan Nisa.
"Apa itu?" Viona mendekati Aisyah.
"Total satu milyar, anak kalian luar biasa." Aisyah tersenyum.
"Alhamdulillah, rezeki Azzam dan Azzura." Nisa tersenyum.
Stevent menyusul Fauzan yang berjalan menuju tempat parkir.
"Tunggu sebentar." Stevent berada di samping Fauzan.
"Ada apa Tuan Stevent, Jhonny sudah cukup untuk mengantarkan kami, jagalah istri kamu yang baru melahirkan dan dalam tahap pemulihan." Fauzan menepuk pundak Stevent.
Fauzan melihat kearah Jhonny yang menunduk, dan sikap itu dapat dipahami oleh Fauzan.
"Aku hanya mau mengawasi pabrik Kenzo." Fauzan tersenyum.
Asraf memperhatikan Jhonny dan Stevent, ia memahami situasi yang terjadi, ada rahasia yang disembunyikan.
"Terimakasih, maaf merepotkan Anda." Stevent berjabat tangan dengan Fauzan.
"Tak apa, aku hanya mau Ayesha dan Kenzo bisa berbulan madu " Fauzan melanjutkan langkahnya dan melambaikan tangan.
Asraf memberi hormat kepada Jhonny dan Stevent, ia segera menyusul Fauzan.
"Apa terjadi sesuatu di pabrik?" Stevent menatap tajam kepada Jhonny.
"Ya Tuan, tetapi Anda tidak perlu khawatir, Tuan Fauzan akan menyelesaikannya untuk Nona Ayesha." Jhonny menunduk
"Baiklah." Stevent kembali ke ruangan bayi diikuti Jhonny.
Fauzan masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi penumpang samping Asraf.
"Kita mau kemana Tuan?" tanya Asraf.
"Pabrik, apa kamu sudah tahu lokasinya?" Fauzan menoleh ke arah Asraf.
"Insyaallah." Asraf tersenyum, ia menyalakan mesin mobil dan melaju kendaraan menuju pabrik Kenzo.
Tidak butuh waktu lama, mobil hitam Fauzan telah berada di tempat parkir pabrik.
Pabrik berhenti beroperasi karena mesin yang telah rusak akibat kebakaran.
Fauzan dan Asraf keluar dari mobil berjalan menuju pabrik.
"Tuan, Tuan Muda." Seorang wanita paruh baya berlari mendekati Fauzan.
Asraf menahan wanita itu agar tidak menyentuh Fauzan.
__ADS_1
"Ada apa?" Fauzan melihat ke arah wanita yang berpakaian sederhana.
"Saya ingin menanyakan kabar Nona Ayesha dan Tuan Kenzo." wanita itu terlihat gugup.
"Mereka berdua sudah menikah." Fauzan tersenyum.
"Syukurlah, kami sangat sedih dengan musibah kebakaran ini, kenapa ada orang jahat yang sengaja membakar pabrik." Wanita itu menunduk.
"Tidak apa kami akan segera memperbaiki pabrik." Fauzan tersenyum.
"Alhamdulillah, anda siapa tuan Kenzo dan Ayesha?" tanya wanita itu.
"Aku kakak kandung Ayesha." Fauzan tersenyum.
"Masya Allah, Anda sangat tampan dan berwibawa pasti Nona Ayesha sangat cantik." Wanita itu tersenyum.
"Terimakasih, kami permisi." Fauzan tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju bagian mesin pabrik.
"Untunglah kebakaran ini tidak menjala ke kantor." Fauzan berkeliling.
"Ini berkat bantuan warga sekitar dan karyawan pabrik yang dengan sigap memadamkan api." Asraf mengikuti langkah Fauzan.
"Kamu telah berhasil menyelidiki kasus ini." Fauzan tersenyum.
"Alhamdulillah Tuan, pelakunya adalah orang suruhan Tuan Zayn." Asraf yakin.
"Bagus, kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya, aku akan membalas ini secara halus dan cerdas sehingga ia tidak tahu siapa yang ia lawan." Fauzan berjalan menuju kantor perusahaan.
"Kamu boleh berkeliling." Fauzan tersenyum.
"Baik Tuan, saya harus menghubungi kakak saya." Asraf menunduk.
"Ah, siapa nama kakak kamu?" tanya Fauzan mengentikan langkahnya.
"Afifah." Asraf menunduk.
"Nama yang cantik." Fauzan melanjutkan langkahnya.
"Terimakasih Tuan, kakak ku juga sangat cantik." Asraf berjalan keluar dari pabrik.
Fauzan memasuki ruangan karyawan pabrik yang telah kosong, ia melihat seorang wanita dengan pakaian seksi duduk di salah satu kursi.
"Apa yang anda lakukan di ruangan ini?" Fauzan memperhatikan wanita dari belakang.
"Menunggu kamu." Wanita cantik tersenyum kepada Fauzan.
"Siapa Anda?" Fauzan berusaha mengingat wajah wanita di depannya.
"Nayla." Senyuman manis dan menggoda.
"Maaf aku tidak mengenali anda." Fauzan keluar dari ruangan.
"Fauzan tunggu." Nayla berteriak tetapi Fauzan tidak memperdulikannya.
Fauzan mempercepat langkah kakinya, wanita seksi lebih berbahaya dari penjahat.
Seorang pria akan kesulitan melawan wanita karena ia tidak akan tega menyakitinya yang begitu lemah dan lembut.
"Aku tidak mau menyakiti atau melukai wanita tetapi sentuhan seorang wanita akan menyakiti diriku." Fauzan terus mempercepat langkahnya hingga keluar dari pabrik.
Bahkan ia tidak perduli ketika Nayla terjatuh dan berteriak minta tolong.
"Aku tidak mau terjebak oleh seorang wanita, fitnah lebih kejam dari pembunuhan." Fauzan masuk ke dalam mobilnya dan menghubungi Asraf.
Asraf berlari dari pinggir jalan, ia menikmati jajanan jalanan khas Indonesia.
"Maafkan saya Tuan." Asraf masuk ke dalam mobil.
"Cepat tinggalkan tempat ini, ada sebuah ancaman di dalam pabrik." Fauzan melihat sekeliling.
"Baik Tuan." Asraf segera mengendarai mobil meninggalkan pabrik.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.