Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Hari Pertama Perawatan


__ADS_3

Kamar dengan cahaya remang - remang terlihat romantis, Nisa membuka matanya.


Merasakan sesak di dadanya, tangan kekar Stevent mengunci dirinya.


Nisa tersenyum dan menyentuh lembut pipi Stevent.


"Sayang, bangun sebentar lagi waktu subuh." Nisa mengusap rambut Stevent dan memainkan hidung Stevent dengan jarinya yang cantik.


"Mmm, Apakah sudah pagi?" Stevent semakin mengeratkan pelukannya.


"Bangunlah, Perutku terhimpit." Nisa mencubit pinggang Stevent hingga ia merasa geli.


"Sayang, jangan biarkan Matahari terbit." Stevent membuka matanya dan menatap Nisa yang tersenyum menahan tawa.


"Aku masih mau memeluk dirimu." Mata tajam Stevent terlihat sendu.


"Sayang." Nisa menatap Stevent manja meminta Stevent segera beranjak dari tempat tidur.


"Mmm, baiklah." Stevent melepaskan pelukannya dan duduk di tepi tempat tidur.


"Mandi, sholat, mengaji dan sarapan." Nisa duduk di pangkuan Stevent.


Stevent menggendong Nisa ke kamar mandi.


"Aku akan memandikan dirimu hingga bersih, duduk diamlah." Stevent mendudukkan Nisa di atas tempat duduk keramik.


Stevent keluar untuk mengambil handuk dan pakaian ganti Nisa dari lemari dan kembali lagi.


Nisa telah membuka pakaiannya, ia hanya menggunakan pakaian dalam.


Stevent membuka keran shower secara perlahan, membasahi tubuh Nisa dari rambut hingga kaki.


Mereka hanya terdiam tanpa bicara, seakan menahan sesak yang ada di dada.


Stevent mengambil shampoo dan menyentuh lembut rambut panjang Nisa yang berwarna hitam.


Air mata Nisa bertemu dengan air yang keluar dari shower, Nisa tertuduk menahan Isak tangisnya.


Stevent membersihkan seluruh tubuh Nisa dengan spon lembut yang telah di berikan sabun cair dengan aroma bunga yang lembut.


Nisa seperti anak kecil yang sedang dimandikan kakaknya. Patuh tanpa membantah, bahkan ia tidak berbicara sedikit pun.


Stevent mengeringkan rambut dan tubuh Nisa, melilitkan handuk pada tubuh Nisa, mata merah karena menangis terlihat jelas.


"Sayang, maafkan aku yang telah menyusahkan dirimu." Nisa tidak bisa lagi menahan Sesak di dadanya.


Stevent yang terlihat rapuh telah menghancurkan pertahanan Nisa, ia bisa menjalani semuanya tetapi bagaimana dengan Stevent.


Nisa tidak takut dengan kematian karena itu adalah takdir Tuhan, tetapi bagaimana dengan Stevent yang baru saja mengenal Tuhannya.


Stevent mengendong Nisa ke atas tempat tidur dan mengambil pakaian untuk memakaikannya pada Nisa.


"Sayang, mandilah aku akan menunggu dirimu untuk sholat bersama." Nisa tersenyum dan menahan tangan Stevent.


Stevent terus diam, ia segera berjalan menuju kamar mandi.


"Ya Allah jagalah iman suamiku, agar ia selalu berada di jalan Mu." Nisa memakaikan pakaiannya.


Air mata yang berusaha Nisa tahan tanpa perintah terus mengalir.


"Astaghfirullah ya Allah, ampuni dosa hamba yang begitu rapuh dan lemah." Nisa mengusap air matanya dan tersenyum.


Nisa berjalan keluar kamar untuk berwudhu di mushola kecil di samping kamar mereka.


Menghirup udara pagi mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, oksigen gratis setiap detiknya.


Stevent membasahi seluruh tubuhnya, ia mengepalkan tangannya, harta benda dan kekuasaan yang ia miliki benar-benar tidak berguna.


Ia tidak bisa membeli kuasa Tuhan, ia tidak bisa bernegosiasi dengan sang Pencipta.


"Aku akan menghancurkan Dunia Mu." Stevent menyelesaikan mandinya.


Stevent berpakaian, ia melihat Nisa yang duduk di teras mushola dan memandang langit yang masih dipenuhi Bintang.


Nisa menoleh ke arah Stevent dan tersenyum Cantik, ia melambaikan tangannya menyapa Stevent untuk segera melaksanakan sholat berjamaah.


Stevent tersenyum dan berjalan menuju mushola, mereka melaksanakan sholat berjamaah, membaca Alquran hingga cahaya Matahari masuk ke dalam musholla.


Nisa berusaha beranjak dari duduknya, ia merasakan pusing dan mual, seakan perutnya bergejolak.


Tubuh Nisa semakin lemah, hanya saja ia terus berusaha menguatkan dirinya agar tidak menambahkan kekhawatiran Stevent.


"Sayang." Stevent mencium dahi Nisa membuka mukenah dan menggendong Nisa menuju rumah Abi.


Sarapan special untuk Nisa yang sedang hamil selalu Umi siapakah dengan sempurna.

__ADS_1


Selesai makan Nisa mengajak semuanya duduk bersama di ruang tengah.


Nisa mengatakan kepada Umi dan Abi ia akan melakukan perawatan intensif di Rumah Sakit Nathan.


Lokasi yang lumayan jauh dari rumah dan kantor Stevent.


Aisyah, Valentino dan Dokter Nada akan merawat Nisa.


Stevent hanya diam mendengarkan penjelasan Nisa.


"Sayang, nikahkan segera Aisyah dan Jhonny, Umi dan Abi bisa menjadi wali mereka." Nisa menggenggam tangan Stevent yang hanya diam.


"Apakah orang tua mereka tidak ada?" tanya Abi.


"Jhonny tidak punya keluarga tetapi Nisa tidak tahu dengan Aisyah, mungkin Umi bisa menanyakannya." Nisa tersenyum.


"Baiklah Sayang." Umi tersenyum.


"Umi, Abi halalkan Aisyah dan Jhonny, tidak usah menunggu Nisa." ucap Nisa lembut.


"Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu?" mata Stevent memerah, aura dingin dari Stevent kembali lagi.


"Sayang, Aisyah telah berjanji, setelah menyelesaikan formula, ia akan menikah dengan Jhonny." Nisa menyatukan jari - jari tangan mereka berdua.


"Baiklah." tegas Stevent.


"Sebaiknya, kita segera berangkat ke rumah sakit, Abi dan Umi selalu mendoakan dirimu nak." Ucap Abi.


"Nisa tahu itu." Nisa tersenyum.


"Umi akan memberitahukan Mama Maria." ucap Umi.


"Sayang, hubungi Papa Mark." Nisa menatap Stevent.


Stevent mengambil ponselnya dan menghubungi Papa Mark.


Nisa ingin semua orang yang dicintai dan mencintai dirinya berkumpul bersama.


Menyambut kebahagiaan kedatangan keluarga baru atau kesedihan karena kehilangan seorang anggota keluarga.


Nisa terus menelan ludahnya, untuk menekan pergolakan yang ada di dalam perutnya.


Calon bayi kembar yang semakin tumbuh besar dan kuat, melakukan banyak pergerakan di usia kandungan enam bulan.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Stevent mengikuti Nisa yang menutup mulutnya dan berjalan menuju kamar mandi tamu.


Nisa memuntahkan semua makanan yang ia makan ketika sarapan.


"Sayang." Stevent semakin khawatir, ia melihat Nisa kesusahan dan tersiksa karena mual dan muntah. Ia mengusap punggung Nisa.


Abi dan Umi berlari menuju kamar mandi, dan hanya bisa berdoa agar Nisa terlepas dari cobaannya.


"Sayang." Stevent terus mengusap punggung Nisa yang membersihkan wastafel dan mulutnya.


Nisa mengerikan tangan dan wajahnya, ia tersenyum kepada Stevent dan memejamkan matanya tidak sadarkan diri.


"Nisaaaa." teriak Stevent memeluk Nisa.


"Ya Allah." Abi dan Umi terkejut.


Stevent menggendong Nisa dan menuju mobil.


"Masuk mobil Abi!" perintah Abi membukakan pintu belakang untuk Stevent.


Stevent dan Nisa berada di belakang, Umi dan Abi di depan.


Abi segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit Nathan.


"Nisa, Sayang aku mohon bangun, bangun Nisa." Stevent mengusap lembut wajah Nisa yang tersenyum dalam tidurnya.


Umi menoleh kebelakang, ia sangat khawatir dan ingin memeluk Nisa, tetapi melihat Stevent begitu terpukul, Umi menahan sedihnya.


Mobil telah memasuki area parkir, Nathan, Valentino, Aisyah, Viona dan Dokter Nada telah menunggu di depan pintu dengan cemas.


Semua terkejut ketika melihat Stevent menggendong Nisa yang tidak sadarkan diri.


Kandungan yang hampir memasuki usia tujuh bulan rentan dengan bayi prematur.


Brankar telah di siapkan, Stevent meletakkan Nisa perlahan, matanya memerah menahan kepedihan dan kesedihan.


Dengan cepat Valentino dan Nathan mendorong brankar menuju ruang perawatan Nisa yang telah disiapkan Nathan sebaik-baiknya.


Semua mengikuti brankar Nisa, menahan isakan tangis.


Stevent menatap Nisa, yang telah masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Viona memeluk dan menangis di dada Stevent, ia tidak mengira bertemu dengan Nisa dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Semua peralatan medis telah dipasang pada tubuh Nisa, ruangan dengan dinding kaca tebal dapat sehingga keluarga dapat melihat Nisa dari luar.


Nisa tersenyum dalam tidur tenangnya, tidak ada lagi sakit yang ia rasakan.


Nathan telah menyuntikkan Ampul pertama untuk Nisa.


Nisa sendirian di dalam ruangan, yang dipenuhi peralatan medis, ada banyak layar monitor.


Jhonny berlari menuju Stevent yang masih terduduk diam di kursi tunggu.


Papa Alexander dan Mama Veronika berjalan bersama dengan tergesa-gesa.


Semua wajah tertunduk sedih, air mata yang mengalir dengan sendirinya.


"Aisyah, Nisa mau kamu segera menikah dengan Jhonny." ucap Umi lembut.


" Tidak disaat Nisa sakit." ucap Aisyah.


"Nisa mau kamu menepati janji kamu pada Jhonny." tegas Abi.


Aisyah melirik ke arah Jhonny yang berdiri di samping Stevent.


"Kami bisa menunggu Nisa sembuh." ucap Jhonny.


"Menikahlah, itu perintah Nisa." bentak Stevent mengejutkan semua orang.


Abi berjalan mendekati Stevent.


"Istighfar Nak." Abi mengusap punggung Stevent.


Viona memeluk Mamanya, ia benar-benar takut kehilangan Nisa dan calon keponakannya.


Papa Alexander melihat Nisa dari balik kaca dan tersenyum.


"Sepertinya Aku tidak perlu mengotori tanganku." ucap papa Alexander dalam hatinya.


"Nisa akan baik-baik saja, kita hanya perlu berdoa, formula akan bekerja dengan baik ketika Nisa tidak melakukan banyak pergerakan." ucap Valentino menenangkan Semua orang.


"Apa yang Valentino katakan benar, kenapa Nisa harus di tinggal sendirian, agar ia mendapatkan ketenangan selama perawatan, semuanya tidak perlu khawatir." sambung Nathan.


Seorang wanita cantik dan seksi berlari dengan sepatu kets menuju ruangan Nisa.


Maria, Mama kandung Nisa, ia sangat khawatir setelah mendapatkan panggilan dari Umi.


Mama Maria memeluk Umi dan berkenalan dengan semuanya.


"Alexander." Maria menatap tajam pada Alexander yang menghindari Maria.


Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua pada waktu dulu.


Stevent tidak memperdulikan semua orang, ia hanya memandang Nisa dari balik dinding kaca.


"Aku ingin memeluk dirimu, berbaring bersama di tempat tidur itu, aku tidak mau kamu sendirian." Stevent berbicara di dalam hatinya.


Satu persatu keluarga meninggalkan rumah sakit mereka harus melakukan aktivitas seperti biasanya.


Tinggal Stevent, Viona, Jhonny, Abi dan Umi, dan tim medis Nisa.


"Viona, pergilah ke kampus!" perintah Jhonny.


"Baiklah." Viona menyalami Abi dan Umi yang juga pergi kembali ke rumah.


Hanya Stevent dan Jhonny di ruangan tunggu.


"Kembalilah ke perusahaan, urus semuanya, minta bantuan Om Robert." Ucap Stevent tanpa melihat Jhonny.


"Baiklah." Jhonny meninggalkan Stevent sendirian.


Ruangan hening, tanpa suara, mereka berdua terpisah oleh dinding kaca.


"Jangan pernah meninggalkan diriku, Aku tidak mengizinkan dirimu." ucap Stevent.


Cintai Manusia sewajarnya, jangan melebihi cinta kamu pada sang Pencipta. Karena Cinta Manusia ada batasnya.


****


Mohon dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Baca juga "Arsitek Cantik" dan "Nyanyian Takdir Aisyah"


Love You All 💓 Thanks for Reading 😊

__ADS_1


__ADS_2