
Aisyah membuka matanya perlahan, ia melihat langit-langit kamar yang asing.
"Apa aku bermimpi melihat Jordan?" Aiysah memegang kepalanya.
"Kamu tidak bermimpi Sayang." suara Jordan mengejutkan Aisyah.
"Jordan, kamu masih hidup." Aisyah berusaha untuk duduk dan memperhatikan Jordan untuk menyakinkan dirinya.
"Tentu saja, aku masih hidup karena dirimu." Jordan ingin menyentuh Aisyah tetapi Aisyah segera menjauh.
"Kepada Aisyah?" Jordan menatap kecewa kepada Aisyah.
"Maafkan aku, Aku sudah menikah dengan Jhonny." Aisyah menundukkan kepalanya.
"Kami bohong Aisyah, kamu tidak bisa menikah tanpa Papa dan Mama kamu." Jordan berdiri.
"Aku sudah menikah dan sah menjadi istri Jhonny." tegas Aisyah.
"Kamu bohong." Jordan berteriak dan mencengkram tangan Aisyah.
"Apa ini akibat karena aku bercanda dengan Jhonny pagi tadi." gumam Aisyah.
Aisyah bercanda dengan keluguan Jhonny yang tidak paham dengan pernikahan mereka yang telah sah menjadi suami istri.
Mereka telah melakukan pernikahan di kantor agama dengan menggunakan wali hakim.
Jhonny tidak mengerti karena tidak ada pihak keluarga yang hadir dalam pernikahan mereka.
Jhonny melihat pernikahan dirinya berbeda dengan pernikahan Stevent.
"Maafkan aku." Aisyah menahan sakit pada lengannya.
"Kamu Bohong." Jordan berteriak membuat kedua orang tua mereka berlari.
"Jordan apa yang kamu lakukan?" Papi menarik tangan Jordan.
"Aisyah, ada apa, kenapa kalian bertengkar?" Mama memeluk Aisyah.
"Maafkan Aisyah Ma." Aisyah terisak.
"Jordan kenapa kamu menyakiti Aisyah?"tanya Mami.
Jordan diam, ia menatap Aisyah dengan tatapan tajam.
"Aku mau kami segera menikah," ucap Jordan.
"Baiklah, kalian segera menikah." ucap Papi.
"Tidak Ma, Aisyah tidak bisa menikah dengan Jordan." Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sayang?" tanya Mama bingung.
"Aisyah sudah menikah Ma." Aisyah menangis dalam pelukan Mamanya.
"Sayang, kamu menikah dengan siapa?" Mama melepaskan pelukannya dan memegang pundak Aisyah.
"Jhonny Ma, suami Aisyah adalah Jhonny." Aisyah terus menangis.
"Jhonny yang mau membunuh Jordan," ucap Mami.
"Tidak Mi, Jhonny tidak membunuh siapapun." Aisyah merasa kacau.
"Aiysah kamu tidak tahu masa lalu Jhonny, ia seorang pembunuh bayaran." Jordan mendekati Aisyah.
"Aisyah mohon, biarkan Aisyah bersama Jhonny." Aisyah merosot ke bawah dan memeluk kaki Mamanya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Mama menarik Aisyah dan memeluknya.
"Aisyah bagaimana kamu menikah tanpa restu kedua orang tua kamu, apa kamu berpikir kami sudah mati?" bentak Papa.
Aisyah terus menangis dalam pelukan Mama dan Mami mengusap punggung Aisyah.
"Aku tidak perduli, Aiysah tetap harus di bawa pulang bersama kita!" Jordan menarik tangan Aisyah.
"Jordan, lepaskan Aku!" Aisyah berteriak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jordan.
Jordan terus menarik tangan Aisyah memasuki lift yang mengantarkan mereka tepat di lobby depan.
Mami dan Mama kebingungan melihat putri dan putri mereka.
Papa mengurus pembayaran dan check out hotel.
Lift terbuka tepat di depan Stevent dan Jhonny.
Mata Jhonny melotot melihat tangan Aisyah yang di pegang Jordan.
"Lepaskan tangan Istriku." Jhonny berusaha menarik tangan Aisyah.
Asiyah mendorong tubuh Jordan dan berlari ke pelukan Jhonny.
"Apa yang kamu lakukan?" Jhonny membeku karena Aisyah memeluk dirinya.
"Aisyah kembali kepada ku!" perintah Jordan.
"Mereka telah menikah." Stevent menatap tajam ke arah Jordan.
"Tuan Stevent, Anda tidak usah ikut campur, dia hanya seorang jongos." Jordan tersenyum.
Jhonny masih membeku, kebingungan, baru tadi pagi Aisyah mengatakan semuanya tidak boleh.
"Aisyah, lepaskan kamu berpuasa." Jhonny tidak mau menyentuh Aisyah.
Aisyah mengeratkan pelukannya, pelukan pertama kalinya untuk mereka berdua.
"Kita sudah menikah, kita pasangan suami-istri." ucap Aisyah tidak melepaskan pelukannya.
Jhonny semakin bingung, Aisyah benar-benar mengacaukan pikiran Jhonny.
Jordan mau menarik tubuh Aisyah tetapi ditahan oleh Stevent.
"Jangan ganggu mereka." Stevent menatap tajam ke arah Jordan.
"Jhonny bawa Dokter Aisyah pergi!" perintah Stevent.
Aisyah menarik tangan Jhonny yang masih terdiam dan berlari meninggalkan Jordan dan Stevent.
Jhonny tersenyum melihat wanita yang ia cintai menarik tangannya dan berlari bersama.
Langkah kaki Aisyah terhenti, ia harus memperkenalkan Jhonny dengan orang tuanya.
"Kamu memegang tanganku." Jhonny melihat tangan Aisyah yang menggenggam tangannya.
"Jhonny, maafkan aku," ucap Aisyah lembut.
"Kenapa?"tanya Jhonny heran.
"Kita sudah sah menjadi suami istri, kamu boleh memelukku, menciumku dan tidur bersama diriku." Aisyah menundukkan kepalanya.
"Pagi tadi?" Jhonny bingung.
"Maafkan aku, Aku bercanda." Aisyah memeluk Jhonny.
"Bagaimana dengan puasa, apa kamu boleh memelukku ketika puasa?" tanya Jhonny.
"Tidak apa, sebentar saja." Aisyah tersenyum dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kita harus kembali." Aisyah kembali menarik tangan Jhonny.
"Kenapa?" Jhonny menahan tangan Aisyah.
"Bertemu Papa dan Mama ku." Aisyah tersenyum.
Jhonny terlihat gugup, ia tidak pernah bertemu dengan orang tua Aisyah. Ia merasa tidak percaya diri dan malu.
"Kemarilah, Stevent akan menahan Jordan." Aisyah menarik tangan Jhonny yang masih tidak bergerak.
"Apa mereka akan menerima diriku?" Jhonny menatap Aisyah.
Aisyah tersenyum dan mengangguk, kembali mengandeng tangan Jhonny dan berjalan bersama.
Papa dan Mama serta Papi dan Mami duduk di kursi depan hotel menunggu Aisyah dan Jordan.
"Aisyah." Mama dan yang lainnya berdiri bersama.
"Dimana Jordan?" tanya Mami mengkhawatirkan Jordan.
"Mama, Papa, Mami dan Papi, perkenalan Jhonny, suami Aisyah." Aisyah menarik tangan Jhonny agar berjabat tangan dengan keluarganya.
Tidak ada yang menerima uluran tangan Jhonny.
Aisyah merasa kecewa dengan sikap keluarganya, ia menggenggam tangan Jhonny.
Jhonny hanya terdiam, ia merasa sangat terhina dan berpikir rendah tentang dirinya.
"Aku tidak pantas untuk Aisyah." Jhonny berbicara dengan dirinya sendiri menundukkan kepalanya tidak berani menatap orang tua Aisyah.
"Maafkan Aisyah, sekarang Aisyah telah menikah dan akan ikut kemanapun suami Aisyah pergi." Aisyah memeluk lengan kekar Jhonny.
Memberikan kekuatan pada diri Jhonny, yang merasa terpuruk karena tidak diterima keluarga Aisyah.
"Aisyah Sayang, sebaiknya kamu pulang bersama kita," ucap Mami yang telah menganggap Aisyah seperti anak sendiri.
"Maafkan Aisyah Mi." Aisyah menundukkan kepalanya dan menarik tangan Jhonny berjalan menuju parkiran.
Jhonny hanya terdiam mengikuti Aisyah, tidak berbicara sepatah katapun.
Air mata Aisyah terus mengalir, ia dilema memilih Jhonny dan berpisah dengan orang tua lagi.
Kesedihan Aisyah semakin bertambah karena orang tuanya tidak menerima Jhonny sebagai suaminya.
Aisyah menghentikan langkah kakinya di tempat parkir.
Jhonny memperhatikan wajah Aisyah yang telah basah, ia tidak tahu harus melakukan apa, ia juga ragu untuk menyentuh atau sekedar mengusap air mata Aisyah.
Aisyah memeluk Jhonny, kini ia memiliki sandaran bersama.
Jhonny lebih membutuhkan Aisyah untuk mengisi hari-harinya yang kosong tanpa warna.
"Puasa kamu akan batal." bisik Jhonny di telinga Aisyah.
Aisyah tersenyum.
"Aku tidak puasa." balas Aisyah berbisik.
Jhonny melepaskan pelukannya dan menatap Aisyah.
"Kenapa kamu terus berbohong?" Jhonny menatap Aisyah.
"Aku tidak berbohong hanya bercanda." Aisyah kembali memeluk Jhonny.
"Puasaku yang akan batal." bisik Jhonny dan Aisyah segera melepaskan pelukannya.
"Baiklah, tidak boleh berpelukan lagi." Aisyah mengusap air matanya dan mencari mobil Jhonny.
"Dimana mobil kamu?" tanya Aisyah.
"Ah, aku tidak menyadarinya." Aisyah membuka pintu mobil Jhonny tetapi tidak bisa karena masih terkunci.
Jhonny berjalan mendekati Aisyah dan membukakan pintu untuk Aisyah.
Aisyah tersenyum, tetapi wajah Jhonny tetap sama tanpa ekspresi, walaupun di dalam hatinya ada kembang api yang sedang meledak.
Jhonny menutup pintu dan melihat ke arah lobby, ia masih menunggu Stevent.
***
Stevent memegang tangan Jordan dan memelintir ke belakang.
"Jangan pernah mengganggu kehidupan Jhonny dan Dokter Aisyah." bisik Stevent di telinga Jordan.
"Itu bukan urusan anda." Jordan tersenyum.
Stevent mendorong tubuh Jordan dan kembali masuk ke dalam lift.
"Tuan Stevent, sebaiknya anda menjaga Nisa." Jordan tersenyum.
Stevent emosi, ia tidak suka Jordan menyebutkan nama istrinya.
Pukulan keras mendarat di mulut Jordan hingga bibir Jordan pecah.
"Jangan pernah menyebutkan nama istriku di mulut kotor mu!" Stevent mencengkram kerah baju Jordan dan menekan tubuh Jordan ke dinding lift.
"Santai, Aku tidak tertarik dengan wanita lain selain Aisyah." Jordan tersenyum menantang.
"Aisyah sudah menikah, kamu tidak berhak memaksa Aisyah untuk menikah dengan dirimu." bentak Stevent.
"Kamu sendiri memaksa Nisa untuk menikah denganmu." Jordan mendorong tubuh Stevent.
"Kami benar tetapi dia masih sendiri berbeda dengan Aisyah yang sudah sah menjadi milik Jhonny jadi kamu sudah kalah.
Stevent memukul perut Jordan, mereka bertarung hingga satu sama lain memberikan luka pada wajah dan sakit pada seluruh tubuh.
Lift terbuka dan tertutup, hingga karena tidak ada angka yang ditekan.
Kedua pria keluar dari lift, dan dipisahkan oleh beberapa petugas keamanan hotel.
Fauzan berjalan bersama Ayesha dan melihat ke arah keramaian.
"Stevent." Fauzan menggandeng tangan Ayesha mendekati kerumunan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Fauzan heran.
Ayesha melihat dua orang pria yang terluka karena bekelahi.
"Tuan Stevent, Anda harus memikirkan Istri anda sebelum melakukan sesuatu." terdengar suara lembut Ayesha membuat Stevent mengangkat kepalanya, ia hampir mengira yang berbicara adalah Nisa.
Fauzan menarik tubuh Stevent duduk di kursi tunggu di lobby.
Jordan di bawa kedua orang tuanya untuk menemui petugas kesehatan hotel.
"Kenapa kamu seperti seorang preman?" Fauzan melihat emosi di wajah Stevent.
Stevent hanya terdiam, ia telah melakukan operasi dengan berkelahi dan akan membuat Nisa khawatir.
Ayesha membuka tas punggung miliknya yang berwarna hitam dan mengeluarkan beberapa obat-obatan.
Stevent memperhatikan Ayesha, gerakan tangan Ayesha sama persis dengan Nisa ketika akan mengobati orang terluka.
"Kak, kompres luka di wajahnya dengan cairan penghilang bengkak." Ayesha memberikan kepada Fauzan, ia tidak akan menyentuh Stevent.
Fauzan segera melakukan perintah Ayesha dan mengobati luka Stevent.
__ADS_1
"Jika Ayesha yang mengobati diriku, aku akan berpikir dia adalah Nisa." Stevent berbicara dalam hatinya.
Ayesha melihat jam di tangan kirinya, dan melihat luka pada wajah Stevent.
"Sebaiknya, Tuan Stevent kembali ke rumah ketika waktu berbuka," ucap Ayesha.
"Kenapa?" tanya Stevent.
"Apa kamu mau istrimu melihat wajah tampan yang hancur seperti ini?" Fauzan menatap Stevent.
"Wanita hamil akan khawatir berlebihan." Ayesha mengeluarkan beberapa botol cairan dan kain kasa.
"Terus kompres wajah anda dengan cairan obat menggunakan kain kasa." Ayesha menyerahkan kepada Fauzan.
"Ayesha kamu mau kemana?" tanya Fauzan melihat Ayesha bersiap pergi.
"Tuan Stevent bisa beristirahat di kamar kakak, aku kembali ke pesantren." Ayesha tersenyum dan meninggalkan dua pria tampan yang menatap dirinya.
"Jangan keluyuran!" tegas Fauzan dan memasukkan obat dan kain kasa yang Ayesha tinggalkan.
Mereka berjalan bersama menuju kamar Fauzan.
Fauzan bertanya kenapa Stevent tidak bisa menahan emosi untuk tidak berkelahi.
Ketika berpuasa bukan hanya menahan lapar yang dahaga tetapi segala hawa nafsu harus ditahan.
Stevent hanya terdiam, ia tidak mungkin mengatakan kepada Fauzan ini adalah puasa pertamanya.
Mereka sudah lama bekerjasama dan Fauzan tahu awalnya Stevent tidak mempercayai satu agama pun.
Fauzan yakin ini adalah puasa pertama Stevent dan di hari pertama ia telah mendapatkan cobaan yang cukup berat.
"Ini adalah kerjasama kita yang kedua, dan kamu telah berubah dari terakhir kali kita berjumpa di Arab." Fauzan menepuk pundak Stevent.
"Istirahatlah, ingat terus kompres wajah kamu , habiskan tiga botol itu." Fauzan tersenyum ia membuka pakaiannya dan menuju kamar mandi.
"Jangan lupa hubungi istrimu." lanjut Fauzan sebelum ia menutup pintu kamar mandi.
Stevent melihat wajahnya di cermin, dan mengingat perkataan Ayesha bahwa wanita hamil sangat mudah khawatir.
Perlahan tapi pasti wajah Stevent mulai membaik, memar dan bengkak memudar.
Stevent menghubungi Nisa untuk memberitahukan bahwa ia akan terlambat pulang dan menghubungi Jhonny mengatakan ia tidak usah ditunggu.
***
Jhonny masuk ke dalam mobil dan menatap tajam Aisyah.
"Bagaimana dengan Stevent?" tanya Aisyah.
"Ia bersama Tuan Fauzan." jawab Jhonny yang segera menghidupkan mesin mobilnya.
"Kita akan kemana?" tanya Aisyah.
"Kamu mau kemana?" Jhonny balik bertanya tanpa melihat Aisyah.
"Pulang ke rumah, aku akan memasak untuk dirimu." Aisyah tersenyum.
"Baiklah." Jhonny menjalankan mobilnya menuju rumah mereka.
Ayesha berada di tepi jalan ia akan kembali ke pesantren dan mempersiapkan menu berbuka puasa bersama pengajar di pesantren.
****
Kenzo duduk sendirian di ruangannya membaca berkas dari perusahaan Ayesha.
Ada beberapa perbedaan dari yang Ayesha persentasi kan.
"Ini adalah jebakan, kenapa ia melakukannya?" Kenzo mengingat kembali apa yang telah Ayesha sampaikan.
Kenzo mengusap kasar wajahnya, suara lembut dan tegas Ayesha mengingatkan dirinya pada wajah cantik yang sedang berbaring di atas tempat tidur pasien.
"Aku harus menghubungi Tuan Fauzan." Kenzo mengambil ponselnya.
Terdengar ketukan dan pintu terbuka, David dan Rolex masuk bersama.
Kenzo tidak jadi menghubungi Fauzan, ia melepaskan ponselnya di atas meja dan beranjak dari kursinya.
"Assalamualaikum." salam Rolex dan David mereka terlihat lelah.
"Waalaikumsalam." Kenzo duduk di sofa mendekati dua sahabatnya.
"Ada apa dengan kalian berdua?" Kenzo memerhatikan dua sahabatnya.
"Puasa." jawab David membuat Rolex dan Kenzo tertawa.
"Kamu bukan anak kecil." Rolex melemparkan bantal kursi ke wajah David.
"Kenzo, kamu akan berbuka dimana?" tanya Rolex.
"Di Masjid," jawab Kenzo.
"Hey, kamu mau makan gratis?" David melemparkan bantal ke arah Kenzo yang berhasil Kenzo tangkap.
"Aku sudah mengantarkan dana di masjid depan perusahaan, untuk mempersiapkan menu berbuka puasa untuk semua orang yang datang ke masjid." Kenzo tersenyum.
"Kamu tidak pulang?" tanya Rolex.
"Ah, ada masalah dalam penawaran kerjasama perusahaan Fauzan tetapi atas nama Ayesha." Kenzo beranjak dari sofa dan mengambil berkas di atas mejanya.
"Maksud kamu?" tanya Rolex dan David serempak.
"Sepertinya mereka sengaja melakukan perubahan dalam berkas kerjasama untuk melihat ketelitian kita." Kenzo memberikan berkas kepada Rolex dan David.
Dengan serius Rolex dan David kembali mempelajari berkas yang terlewatkan oleh mereka berdua.
"Ah, benar-benar cerdas." Rolex menepuk dahinya.
"Siapa cerdas? Kenzo?" tanya David.
"Kenzo teliti tetapi yang membuat berkas ini cerdas." Rolex mencari nama pembuat berkas.
"Ayesha." tegas Kenzo membuat David dan Rolex melihat kearahnya.
"Pantas saja." Rolex meletakkan berkas di atas meja.
Kini tatapan berpindah ke atas Rolex dengan penuh tanda tanya.
"Tuan putri Ayesha mendapatkan gelar Dokter termuda pada usia 17 tahun." Rolex bersemangat.
"Luar biasa." David ikut bersemangat.
"Beruntung sekali jika bisa menjadi suami Putri Ayesha." Rolex dan David mulai berkhayal.
"Aku akan menghubungi Fauzan, agar kerjasama ini cepat terjalin." Kenzo kembali ke meja kerjanya.
****
Selamat Menunaikan ibadah Puasa 🤗
Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan "Cinta Bersemi di ujung Musim"
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
__ADS_1