Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Belajar Memasak


__ADS_3

Nathan duduk di ruang kerjanya, ia menunggu Roy untuk melaporkan hasil pencarian dua wanita yaitu kekasih Candra dan Afifah wanita yang telah berhasil menghapuskan Nisa dari hatinya dengan sangat mudah. Mata tajam Nathan menatap lekat pada layar komputr yang ada di depannya.


Roy mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan, menarik napas dan berusaha tetap tenang agar tidak mengecewakan Nathan karena ia tidak pernah gagal dalam mencari informasi seseorang. Yang harus Roy lakukan adalh memberikan informasi tentang Afifah dan berharap Nathan lupa tentang kekasih Candra.


“Berikan computer kamu kepadaku!” Nathan menatap tajam kepada Roy.


“Tuan, ada sesuatu yang sangat penting yang harus anda ketahui tentang Afifah.” Roy meletakkan computer di depan Nathan.


“Apa?” Nathan terlihat penasaran.


“Afifah memiliki panyakit langka, aku telah menemukan catatan medisnya.” Roy menyerahkan beberapa helai kertas yang telah ia print.


“Apa ini?” Nathan menaikan salah satu alisnya dan terkejut.


“Afifah phobia kegelapan, buta arah pada tempat baru dan lupa pada nama dan wajah orang yang jarang ia temui.” Roy menatap pada Nathan yang terllihat khawatir.


“Semakin lama aku tidak bertemu dengan dirinya berarti ia akan melupakan aku.” Nathan tersenyum.


“Kenapa anda tersenyum Tuan?” Roy heran, seharusnya Nathan khawatir jika Afifah melupakan dirinya.


“Tentu saja kabar itu sangat bagus, ia hanya akan menjadi milikku, ketika berada dirumah ini dan tidak akan pernah bisa lari, hanya mengingat diriku dan melupakan semua orang.” Nathan memperhatikan Roy.


“Ia tidak pernah melupakan adiknya, satu-satunya yang selalu Afifah ingat adalah Asraf.” Roy membuka komputernya.


“Asraf?” Nathan memperhatika kembali kertas yang diberikan Roy.


“Pria yang memeluk Afifah adalah Adikknya.” Roy duduk di depan Nathan.


“Aku akan membuat Afifah melupakan adiknya.” Nathan tersenyum baginya penyakit Afifah adalah keberuntungan untuk dirinya.


“Ah Roy, aku tidak suka kamu memanggil Afifah dengan sebutan nama yang terlihat akrap, kamu bisa menyebutknya Nona Afifah sebelum ia menjadi nyonya Nathan.” Nathan tersenyum.


“Baik Tuan.” Roy memperhatikan komputernya dan berusaha menyembunyikan kebenaran Afifah adalah wanita yang disukai Candra, ia yakin Afifah telah melupakan Candra.


“Kapan Fauzan meninggalkan desa itu?” tanya Nathan.


“Sepertinya besok, mereka akan kembali ke kota karena harus mengurusi pabrik Kenzo.” Roy menyerahkan komputernya kepada Nathan.


“Ketika mereka kembali ke kota kita akan ke desa dengan helicopter untuk membawa Afifahku ke rumah ini.” Nathan beranjak dari kursinya dan berjalan keluar ruangan.


“Apakah tidak terlalu mencolok jika menculik Nona Afifah dengan helicopter.” Roy mengikuti Nathan dan meninggalkan computer miliknya.


“Aku tidak menculiknya tetapi menjemput calon istri seorang Nathan, tidak ada lagi kegagalan dalam cinta, Afifah harus menjadi milikku dan jika ada pria lain yang berani menyentuh atau menginginkan dirinya, akan aku pisahkan semua anggota tubuhnya.” Nathan melirik Roy dan kembali berjalan menuju kamar baru yang telah disiapkan untuk Afifah.


‘Kamu tidak boleh masuk kamar ini!” Nathan menutup pintu kamar dan meninggalkan Roy.


“Aku rela melihat Afifah bersama anda asalkan ia bahagia Tuan.” Roy kembali ke ruangan kerja.


Nathan membuka pintu dan tersenyum aroma terapi mawar dengan menggunakan metode nebulizer menyambut setiap orang yang masuk ke dalam kamar, ia melihat ruangan yang sangat indah dan elegan, dengan sebuah rak buku yang terisi penuh, lemari pakaian berukuran raksasa yang telah terisi penuh dengan gamis cantik dan mahal, meja rias dengan ukiran unik, lemari kaca yan berisi tas dan sepatu bermerek.


“Aku tidak pernah berpikir untuk berbelanja keperluan wanita.” Nathan membuka lemari dan menyentuh semua gamis syari yang masih terbungkus plastik.


“Afifah, kamu akan menjadi seorang ratu di rumah ini, senyuman dirimu akan menemani hari-hariku, aku tidak akan meninggal dirimu sendirian di desa terpencil itu.” Nathan mengelilingi kamar memeriksa semuanya agar benar-benar sempurnya.


Kamar mandi yang sangat luas dan mewah berwarna emas dan perak, dengan perlengkapan mandi seorang wanita, di hiasi bunga segar dan pernak-pernik berkilau, lampu yang sangat indah tergantun di langit kamar mandi dan aroma terapi menyegarkan pikiran yang disebarkan dengan gelombang ultrasonic sehingga menghasilkan uap dingin dan wangi membuat betah berlama-lama didalamnya.


“Sempurna untuk wanitaku.” Nathan tersenyum, puas dengan kerja Kepala pelayan yang telah melayani dirinya dari kecil. Ia keluar dari kamar dan mengunci pintu dengan sidik jarinya.


Nathan menuruni tangga mencari Roy di ruang tengah ataupun ruang tamu tetapi tidak ada, ia merasa ada perubahan pada sikap Roy sejak kembali dari desa. Nathan dapat menyadari tatapan berbeda pada Afifah begitu lembut dan perhatian.


“Aku harap kamu tidak jatuh cinta kepada Afifah atau ada rahasia yang kamu sembunyikan dari diriku.” Nathan mengepalkan tangannya, ia sangat mengenal Roy.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” kepala pelayan mendekati Nathan yang sedang berdiri di depan pintu utama.


“Bagaimana kabar Nayla?” tanya Nathan pada kepala pelayan.


“Sejak hari itu Non Nayla belum pernah datang ke rumah,Tuan.” Kepala pelayan memberi hormat.


“Baguslah.” Nathan tersenyum, ia berjalan keluar dari Vila.

__ADS_1


“Aku akan mencari Villa yang dekat dengan pantai.” Nathan tersenyum dan duduk di bawah pohon manga membuka ponselnya untuk mencari Villa mewah yang akan ia jadikan asset pribadi bersama Afifah.


Sebuah email dari Roy masuk ponsel Nathan, ia segera melihat apa yang assiten pribadinya kirim kepada dirinya. Nathan tersenyum, ada banyak foto Afifah yang muncul di layar ponsel.


“Darimana kamu mendapatkan semua foto cantik itu?” Nathan langsung menghubungi Roy.


“Aku masuk dalam nomor ponselnya dan semua foto dikirimkan kepada Asraf adiknya.” Roy tidak mau Nathan semakin mencurigai dirinya.


“Hapus semua foto Afifah dari ponsel dan computer kamu setelah dikirimkan kepada diriku!” Suara Nathan terdengar ada tekanan untuk Roy.


“Apakah anda yakin Tuan?” tanya Roy, jika semua foto Afifah dihapus dari komputernya berarti menghilangkan bukti bahwa Afifah adalah wanita yang Candra sembunyikan.


“Tentu saja, aku tidak mau salah sangka dengan dirimu dengan menyimpan dan melihat foto wanita yang aku cintai.” Nathan tersenyum sinis yang tidak bisa dilihat oleh Roy.


“Baik Tuan, akan saya lakukan perintah anda dan anda tidak perlu khawatir, saya telah bersumbah untuk selalu setia kepada anda seumur hidup saya.” Roy menyakinkan dirinya dan Nathan.


“Baguslah.” Nathan tersenyum, ia memutuskan panggilan dan memperhatikan foto-foto Afifah.


“Senyumannya sangat manis dan cantik.” Nathan mencium layar ponselnya.


***


Fauzan dan Asraf duduk di teras rumah Afifah di temani segerlas kopi pahit dan jus buah tomat, beberapa gadis melewati rumah tersenyum kepada dua orang pria yang sangat tampan dengan gaya pria kota.


‘Semua wanita pasti terpesona pada ketampanan seorang pria tetapi tidak dengan Afifah, aku rasa ia bukan buta arah tatapi rabun.” Fauzan tersenyum sendirian.


“Apakah anda tertarik dengan gadis-gadis desa Tuan?” Asraf memperhatikan Fauzan yang tersenyum tanpa sebab.


“Ah tidak.” Fauzan meneguk kopinya.


Afifah dengan motor maticnya masuk ke dalam perkarangan rumah, ia terlihat cantik dan anggun dengan pakaian dinas seorang guru.


“Pasti siswanya sangat bersemangat diajarkan oleh guru yang cantik dan baik.” Fauzan memperhatikan Afifah yang mengendarai motornya ke samping rumah, ia turun dari motor dan berjalan mendekati Fauzan dan Asraf.


“Assalammualaikum.” Afifah tersenyum, ia melepaskan sepatu dan meletakan pada tempatnya.


“Waalaikumsalam.” Fauzan dan Asraf menjawab serentak.


“Aku tidak tahu apa yang harus kami lakukan.” Asraf mengikuti langkah Afifah dan memluknya dari belakang.


“Asraf, lepaskan kakak harus mandi dan mnegganti pakaian.” Afifah mencubit hidung Asraf dan berjalan menuju kamarnya.


“Kak, malam nanti aku dan Tuan Fauzan harus kembali ke kota.” Kalimat Asraf menghentikan langkah kaki Afifah, ia merasakan sesak di dadanya, belum hilang rasa rindu pada adik satu-satunya orang yang ada dalam hidup Afifah.


Afifah menarik napas untuk menenangkan hatinya dan menahan agar air mata tidak turun dan membasahi wajahnya. Ia memutar tubuhnya dan tersenyum kepada Asraf.


“Kakak akan mempersiapkan makan siang setelah mandi, petiklah beberapa buah segar dan sayuran untuk di bawa ke kota.” Afifah menyentuh lembut wajah Asraf dan masuk kekamar meninggalkan adiknya yang menampakan wajah sedih.


Afifah menutup pintu kamar dan duduk di depan meja rias, ia tersenyum untuk menahan rasa sedih di dalam hatinya tetapi butiran bening tetap berhasil melewati sudut mata dan membasahi pipi mulus dan merah.


“Ya Allah, mungkin hidup sendiri adalah takdirMu untukku.” Afifah mengusap air matanya, ia membuka pakaian dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan diri.


Afifah keluar dari kamar dengan menggunakan gamis rumahan yang santai dengan jilbab langsung menutupi dada, Fauzan yang berada di ruan tengan dapat mencium aroma buah yang manis dari tubuh wanita yang melewati dirinya menuju dapur.


“Aku akan melihat dia memasak agar aku bisa mencobanya di kota.” Fauzan beranjak dari Sofa dan berjalan menuju dapur.


“Apa yang kamu lakukan di dapur ini?” Afifah bertanya tanpa melihat Fauzan.


“Aku mau belajar memasak.” Fauzan memperhatikan gerakan lincah tangan Afifah.


“Masakan desa tidak seenak masakan kota dan restoran mahal.” Afifah tersenym sekilas melihat Fauzan dan untuk beberapa detik mereka saling pandang.


“Masakan kamu berbeda dan enak, aku sangat menyukainya.” Fauzan terus memperhatikan Afifah.


“Kamu masakan apa? Ikan, sayuran atau daging?” Afifah mengambil sebuah buku dari dalam lemari yang ada di atasnya.


“Ada banyak makanan yang kamu masak, aku bahkan tidak tahu namanya tapi satu masakan yang paling aku suka ikan yang berwarna kuning.” Fauzan tersenyum.


“Ikan gulai kuning , asam nanas pedas manis.” Afifah meletakkan buku di atas meja makan dan membuka lemari penyimpanan.

__ADS_1


“Kita akan memasak ini sebagai pepisahan.” Afifah tersenyum dan meletakkan ikan di atas wadah besar.


“Perpisahan?” Fauzan bingung.


“Mari masak bersama.” Afifah memberika celemek kepada Fauzan.


“Perhatikan!” Afifah mulai membersihkan ikan yang cukup besar, tangan putihnya terlihat telah berwarna merah terkena darah ikan.


“Dia luar biasa terlihat lembut tetapi mampu melakukan pekerjaan yang luar biasa memotong dan membersihkan ikan yang besar.” Fauzan berbicara dalam hati dan terus memperhatika gerakan tangan Afifah.


Ikan telah bersh dan berada di penyaringan, Afifah mengambil semua bumbu yang dibutuhkan untuk memasak ikan dan meletakakan di atas meja keramik tempat ia memasak.


“Apa kamu mengenali nama-nama bumbu ini?” Afifah tersenyum dan melihat Fauzan yang menggeleng.


“Untuk memasak gulai kuning, kamu membutuhkanm, lada, lengkuas, kunyit, cabe rawit, terasi, buah nanas mentah sebagai asam, dan bumbu penyedap seberti garam, micin dan gula secukupnya.” Afifah tersenyum menjelaskan secara detail kepada Fauzan.


“Kamu benar-benar seorang guru yang hebat.” Fauzan tersenyum tanpa sadar ia terus memperhatikan Afifah.


“Dia cantik, wajahnya terlihat imut walaupun usianya telah dewasa.” Fauzan berbicara di dalam hatinya.


“Kamu mau menggunakan blender atau peralatan tradisional?” Afifah mengangkat lumpang di depan wajah Fauzan sehingga menghalangi pandangan.


“Aku tidak bisa menggunakan ini.” Fauzan tersenyum.


“Kita blender saja.” Afifah segera menghaluskan semua bumbu yang telah dibersihkan.


“Jika menumis masakan akan lebih enak jika kamu menghaluskan bumbu menggunakan lupang atau cobek karena tidak tercampur air atau blender tanpa air, aromanya akan lebih harum.” Afifah tersenyum.


“Gulai kuning juga dua macam bisa ditumis bumbunya dengan minyak atau langsung rebus bersama air, kamu mau yang mana?” tanya Afifah kepada Fauzan.


“Malam itu aku makan yang mana?” Fauzan balik bertanya.


“Gulai kuning tumis bumbu, berarti sekarang kita memasak tanpa tumis bumbu.” Afifah mengambil panci mengisi dengan air dan bumbu yang telah dihaluskan, mengiris buah nanas tua dan memasukan ikan, meletakkan di atas kompor.


Afifah melanjutkan dengan memasak sayur darat buah pepaya mentah, tumis batang keladi, ia merebus lalapan dan membuat sambal. Fauzan memperhatikan Afifah yang sibuk dengan pekerjaanya. Tanpa sadar makanan telah tertata rapi di atas meja dengan cepat Afifah telah selesai memasak.


“Silahkan menikmati.” Afifah tersenyum dan membuka celemeknya, ia mencuci tangan dan meninggalkan Fauzan yang terduduk di kursi memperhatikan makanan yang ada di atas meja.


“Apakah ia seorang koki?” Fauzan melihat Afifah yang berjalan keluar menuju lahan belakang, ia menyusul Asraf.


Afifah melihat adiknya duduk di bawah pohon mangga yang sedang berbuah lebat dan hampir matang, keranjang buah dan sayuran masih kosong, entah apa yang ada di dalam pikiran Asraf.


“Mana buah dan sayuran yang akan kamu bawa ke kota?” Afifah mengambil keranjang dari tangan Asraf dan segera memetik buah Stroberry.


“Kak, ikutlah bersamaku.” Asraf memeluk Afifah dari belakang.


“Kita masih bisa bertemu, kamu akan kembali kerumah ini.” Afifah menyentuh pipi Asraf dengan lembut.


“Aku mau kita bersama selamanya, aku mohon ikutlah bersamaku ke kota.” Asraf mengeratkan tangannya dipinggang Afifah.


“Kamu tidak pernah memaksa kakak seperti ini?” Afifah menyentuh tangan Asraf.


“Mereka seperti sepasang kekasih.” Fauzan melihat Afifah dan Asraf dari pintu dapur.


“Hey, petiklah manga itu sangat enak dibuat rujak.” Afifah melepaskan pelukan Asraf.


“Cepatlah naik.” Afifah mendorong tubuh Asraf agar menaiki batang manga yang tidak terlalu tinggi.


“Baiklah.” Asraf segera naik ke atas pohon dan memetik beberapa buah manga dan melihat wajah cantik Afifah yang tersenyum manis dan menggemaskan, ia lebih pantas menjadi adik Asraf, walaupun wajahnya imut Afifah memiliki sikap dan sifat dewasa.


***


(Stevent-Nisa dan Jhonny-Aisyah, tunggu pindah rumah baru )


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2