
Para wanita cantik telah selesai membereskan meja makan dan siap untuk makan siang bersama, melihat lima pria datang Ayumi segera meninggalkan ruang makan.
“Kamu mau kemana Ayumi?” Stevent berdiri tepat di depan gadis itu.
“Maaf Tuan, saya telah selesai makan siang ketika berada di luar tadi.” Ayumi menunduk.
“Baiklah.” Stevent menyingkir dari hadapan Ayumi yang berjalan cepat menaiki tangga.
“Wah, menu khas Indonesia.” David terlihat kegirangan.
“Ini masakan Afifah.” Fauzan tersenyum memegang mangkuk berisi gulai kuning ikan, semua terkejut hingga menatap kearah dirinya.
“Aku sangat suka masakan ini.” Fauzan segera duduk di kursi tepat di depan gulai kuning.
“Siapa Afifah?” tanya David.
“Kakakku, Adikku.” Asraf dan Aisyah tersenyum dan saling pandang karena mengucapkan berbeda tetapi bersamaan.
“Hey, kalian membuat aku bingung.” David duduk di samping kiri Viona dan Fauzan di sebelah kirinya. Gadis itu berada diantara dua pria tampan.
“Asslamualaikum.” Suara datar terdengar dari pintu dapur.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.
“Suamiku.” Aisyah beranjak dari kursi dan memeluk Jhonny dihadapan semua orang.
“Ayo kita makan bersama.” Aisyah mengambil tas Jhonny dan meletakkan di atas meja sudut, ia menarik tanga suaminya menuju ruang makan.
“Apa Afifah akan seromantis itu pada Nathan?” Asraf melirik Aisyah.
“Tuan Fauzan, itu adalah masakan ku.” Aisyah tersenyum.
“Kalian adalah saudara jadi wajar saja memiliki kemampuan memasak yang sama.” Fauzan tersenyum.
Viona bingung untuk kedua kalinya ia mendengarkan nama Afifah, dan hari ini ia baru tahu jika Afifah adalah adik Dokter Aisyah, ia terus berpikir dan penuh tanda tanya, apakah Fauzan menyukai wanita itu yang pasti akan secantik dan secerdas Dokter Aisyah.
“Mungkin karena kami pernah tinggal di desa terpencil.” Aisyah mengambil nasi untuk Jhonny.
“Sayang, kamu mau lauk apa?” Nisa menyenokkan nasi untu Stevent.
“Hey, apa kalian berdua tidak sedang menghina kami bertiga?” David tersenyum dan melirik Viona.
“Mari kita makan.” Steventn memijit batang hidungnya melihat tingkah David yang tidak perduli pada apapun.
Kenzo dan istrinya hanya tersenyum dan saling pandang, mereka berdua adalah pasangan yang tenang. Ayesha mengambilkan nasi, lauk pauk dan sayuran untuk suaminya tanpa harus bertanya karena Kenzo bukanlah pemilih, ia bisa makan apa saja yang diberikan Ayesha.
“Bro, aku tidak sabar lagi ingin menikah.” David menepuk pundak Kenzo yang hanya tersenyum.
“Bagaimana dengan bidadari di sampingku ini, apakah kamu sudah punya kekasih?” David tersenyum kepada Viona dan gadis itu tersedak makanannya.
“David, kamu harus diam ketika berada di meja makan.” Kenzo menatap tajam pada sahabatnya.
“Maafkan aku cantik.” David dan Fauzan menyerahkan segelas air putih bersamaan kepada Viona. Gadis itu terdiam melihat dua gelas air di pegang oleh dua pria tampan di depannya.
“Terimakasih.” Viona mengambil gelas miliknya yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
“Pilihan yang tepat.” Fauzan meletakkan kembali gelasnya.
“Anda benar.” David meminum air dari gelas dan menikmati makanannya. Mereka makan bersama hingga selesai.
Ayumi duduk sendirian di bawah pohon fokus pada layar computer, hijabnya melambai-lambai tertiup angin ditemani jus buah segar dan cemilan ringan, menyelesaikan pekerjaannya dari jauh, Ia sedang melakukan meeting online bersama rekan bisnis.
“Kamu sangat sibuk.” Suara Fauzan mengejutkan Ayumi yang segera menutup rapat.
“Apa yang membawa anda kemari?” Ayumi mematikan layar computer.
“Kamu menyimpan banyak rahasia.” Fauzan menatap tajam pada Ayumi.
“Itu bukan urusan anda.” Ayumi menunduk dan membereskan komputernya.
“Apa tujuan kamu berada di dekat Viona?” Fauzan menghalangi Ayumi yang akan pergi.
“Anda mengkhawatirkan Viona, kenapa tidak menjadikan di kekasih?” Ayumi tersenyum.
“Dia terlalu muda dna hanya pantas menjadi adikku.” Fauzan menatap Ayumi.
“Sebagai seorang pangeran anda tidak bisa menentukan pilihan pendamping hidup, jadi jangan pernah memberikan harapan pada seorang wanita muda seperti Viona.” Ayumi memakai ranselnya.
“Saya tidak memberikan harapan kepada siapapun.” Fauzan memperhatikan Ayumi.
“Kadang tanpa sadar, seorang pria melakukan sesuatu yang membuat seorang wanita berpikir berlebihan kecuali diriku, permisi.” Ayumi tersenyum cantik dan berjalan meninggalkan Fauzan.
“Hai Ayumi.” David menghalangi langkah kaki wanita itu.
“Hai.” Ayumi tersenyum.
“Dengan senang hati.” Ayumi melewati David dan melanjutkan langkah kakinya.
“Oh my God, Tuan Fauzan apa kamu tidak tertarik pada wanita itu? Dia terlihat berbeda.” David duduk di depan Fauzan.
“Apa kamu menyukai Ayumi?” tanya Fauzan.
“Aku menyukai gadis lucu dan menyenangkan seperti dia.” David tersenyum melihat Viona berjalan mendekati mereka berdua.
“Dia masih terlalu muda.” Fauzan melihat kerarah Viona.
“Halo kak David dan Tuan Fauzan.” Viona tersenyum ia meletakkan kopi pahit dan the hangat.
“Halo Viona.” David tersenyum dan memandang lekat pada wajah gadis itu.
“Tuan Fauzan ini kopi pahit anda.” Viona meletakkan kopi di depan Fauzan.
“Kak Davit teh melati.” Gadis itu tersenyum ramah pada David.
“Hmmm, teh melati yang harum seharum dirimu.” David mencium aroma dari teh.
“Terimakasih.” Fauzan duduk dan meneguk perlahan kopi pahit miliknya.
“Duduklah Viona.” David menarik tangan Viona.
“Kamu tidak boleh menyentuh sembarangan tangan wanita!” Fauzan menatap tajam pada tangan David yang memegang pergelangan tangan Viona.
__ADS_1
“Maafkan aku.” David tersenyum dan melepaskan tangannya.
“Ya.” Viona mengusap tangannya dan duduk di samping David.
“Viona, kamu tidak boleh duduk terlalu dekat dengan pria, apa kamu tidak tahu?” Fauzan menatap pada Viona.
“Ah, maafkan aku.” Viona bergeser.
“Tuan Fauzan, kita duduk bersama dan di ruang terbuka.” David melihat tidak suka kearah Fauzan.
“Terserah dirimu.” Fauzan meneguk kopi miliknya.
“Tuan Fauzan kita akan melakukan meeting bersama di taman belakang.” Asraf menunduk.
“Baiklah.” Fauzan bernajak dari kursi dan membawa kopi pahit yang masih belum habis.
“Tuan David, anda juga harus ikut meeting.” Asraf melihat David yang masih duduk dan berbicara dengan Viona.
“Aku akan pergi sebentar lagi.” David kesal.
“Kak, sebaiknya kakak segera ikut meeting.” Viona tersenyum.
“Anda juga Nona Viona.” Asraf tersenyum dan Fauzan menoleh melihat Viona.
“Aku, kenapa?” tanya Viona bingung.
“Kita akan membahas perusahaan yang akan anda pegang, kami akan menjadi saksi dan memebrikan dukungan.” Fauzan menatap tajam pada Viona.
“Tetapi aku belum menyelesaikan kuliahku.” Viona berdiri.
“Sayang, kuliah kamu tinggal menghitung hari.” David mengedipkan matanya.
“Bagaimana kakak tahu?” tanya Viona.
“Apa kamu lupa aku adalah sahabat Kenzo dan dia perduli tentang dirimu.” David tersenyum.
“Sebaiknya kita segera menuju tempat meeting terbuka.” Asraf melihat Fauzan yang telah berjalan lebih dulu.
“Ayo Viona.” David tersenyum.
“Baiklah.” Viona segera berjalan bersama dengan David, ia terus melihat punggung Fauzan.
Mereka berada di taman belakang yang telah di rubah menjadi tempat meeting terbuka, udara berhembus sejuk, dihiasi taman bunga yang indah dan pepohonan yang rindang begitu menenangkan dan nyaman. Ada enam orang pria tampan dan dua orang wanita yaitu Ayesha dan Viona yang terlihat gugup. Ayumi melihat dari kejauhan, ia telah memasang alat perekam di bawah meja meeting.
Ayesha adalah wanita cerdas yang menguasai ilmu bisnis dan keuangan, ia juga seorang Dokter dan Viona adalah mahasiswi terbaik di kampus yang siap menjalankan bisnis keluarga.
Jadilah wanita mandiri dan serba bisa karena akan ada masanya dimana kita harus mengandalkan kemampuan diri sendiri. Hidup tidak selamanya indah, roda terus berputar, tetapi keindahan hidup kitalah yang ciptakan dengan rasa syukur kepada Tuhan.
***Love You All***
Jika Suka bisa berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Unfogettable Lady" cari di aplikasi Dream/ Innovel.
Baca juga Novel Kakakku atas nama Fitri Rahayu. Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.