
Stevent akan bangun ketika Matahari terbenam dan Nisa masih setia menemani Stevent memperhatikan setiap sudut wajah suaminya.
Terdengar ketukan pintu, Nisa beranjak dari kursi dan membuka pintu.
" Kepala Pelayan" Nisa tersenyum, ia melihat koper di tangan kepala pelayan.
" Maaf Nyonya Muda, saya diperintahkan Tuan Jhonny untuk mengantarkan pakaian ganti, keperluan mandi dan makan malam untuk anda" Kepala pelayan wanita segera masuk membawakan koper diikuti pelayan lainnya yang langsung menatap makanan di atas meja.
Kepala pelayan berjalan menuju kamar mandi untuk menata perlengkapan mandi Nisa.
" Nyonya Muda, makanan ini di masak oleh koki terkenal yang direkrut Tuan Stevent untuk menyiapkan makanan untuk anda setelah pernikahan" Jelas kepala pelayan
" Kenapa harus repot-repot, saya bisa makan apa saja dan dimana saja " Nisa tersenyum ramah, ia melihat meja yang telah di penuhi banyak makanan.
" Aku harus mengajak orang lain untuk menghabiskan semua makanan ini " pikir Nisa.
" Nyonya muda, Nyonya Veronika pergi ke Jepang, Tuan Aleksander melakukan perjalanan bisnis menggantikan Tuan Stevent, Nona Viona di larang keluar oleh Tuan Jhonny, Tuan Ramadhan beserta istrinya pergi ke puncak untuk mengawasi pekerjaan Tuan Fathur" kepala pelayan menjelaskan panjang lebar.
" Apakah ada lagi yang Nyonya Muda butuhkan?" tanya kepala pelayan.
" Tidak ada, Terimakasih banyak, sampai salam ku kepada Viona " Nisa tersenyum ramah, sebenarnya ia tidak ingin merepotkan orang lain.
Kepala Pelayan beserta pelayan lainnya segera meninggalkan ruangan Stevent.
Nisa melihat makanan di atas meja, aku akan berkeliling membagikan kepada orang yang membutuhkan.
Nisa berjalan mendekati Stevent dan berbisik.
" Sayang, aku tinggal kamu sebentar untuk berbagi makanan, agar mereka mendoakan kesembuhan dirimu" Nisa mencium bibir Stevent sekilas.
Nisa meletakkan makanan yang terbungkus rapi di atas meja dorong, ia hanya meninggalkan satu piring untuk dirinya dan Stevent.
Karena berada di kawasan elite, Nisa harus berjalan lumayan jauh dari kamar Stevent agar bisa memberikan makanan kepada yang membutuhkan.
Sebagai Dokter yang bekerja di rumah Sakit tentu saja Nisa tahu kondisi rumah sakit dan pasien.
Seorang perawat melihat Nisa berjalan membawa meja dorong dan mendekati Nisa.
" Selamat Sore Dokter Nisa, ada yang bisa saya bantu?" perawat tersenyum ramah, mereka yang bekerja di bangsal 3 sangat mengenal Nisa.
" Tolong bagikan makanan ini kepada keluarga pasien" Nisa tersenyum.
" Bagaimana dengan peralatan makannya?" tanya perawat ia dapat melihat peralatan yang berkelas dan pasti Mahal
" Berikan saja kepada mereka, katakan jika tidak mau menggunakannya, ini bisa di jual" Nisa tersenyum tulus.
" Baiklah Dokter" Perawat memandang Nisa, ia hanya berpikir Nisa adalah seorang Malaikat tidak bersayap yang Tuhan kirimkan ke Bumi untuk membantu orang yang membutuhkan.
" Terimakasih, aku harus kembali menjaga suamiku" Nisa menepuk lembut pundak perawat dan berjalan cepat menuju kamar Stevent.
Nisa membuka pintu dan menguncinya, Terdengar azan magrib dari ponsel Nisa, ia harus membersihkan diri sebelum Stevent bangun. Nisa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi, menikmati segarnya air menyentuh tubuh Indah putih dan bersih.
Nisa membuka pintu kamar mandi dan mendekati Stevent, aroma manis dari tubuhnya masuk ke dalam indera penciuman Stevent. Nisa mencium bibir Stevent dengan bibi basahnya.
Ketika wajah Nisa masih berada di atas wajah Stevent membuka matanya, ia dapat merasakan sentuhan lembut bibir dan bulu mata lentik milik Nisa yang menggelitik mata Stevent.
Nisa tersenyum.
" Selamat sore suamiku" ia dapat melihat senyum bahagia di wajah Stevent.
"Kamu mencuri ciuman dari ku?" Stevent menggoda ia belum menyadari tubuhnya yang tidak bisa di gerakan.
" Aku tidak mencurinya, karena semua milikmu halal untuk diriku " Nisa mengecup pipi dan kening Stevent.
Stevent ingin menarik Nisa untuk lebih lama menciumnya namun baru menyadari ia tidak bisa menggerakkan tangannya.
Nisa dapat melihat emosi dan khawatir di wajah Stevent. Ia menggenggam tangan Stevent dan berbisik di telinga Stevent.
" Kamu sedang sakit, aku akan merawat dirimu" Nisa mencium telinga suaminya.
__ADS_1
" Tidak, aku tidak boleh sakit, aku tidak pernah sakit " Stevent mulai emosi dan tidak menerima kenyataan bahwa ia bisa sakit. Seumur hidupnya ia selalu menjaga kesehatan dan tidak ingin sakit, ia selalu berusaha tidak akan pernah sakit dan itu dapat ia lakukan, ia tidak pernah di rawat di rumah Sakit seperti saat ini.
Nisa melihat raut depresi di wajah Stevent, ia segera menenangkan suaminya. Nisa naik ke tempat tidur yang lumayan bisa untuk berdua, berbaring di samping suaminya, menyentuh pipi Stevent.
" Dengarkan aku sayang" Suara lembut Nisa terdengar menenangkan Stevent. Nisa menempel wajahnya dengan wajah Stevent. Hidung mancung Nisa bersentuhan dengan pipi Stevent.
"Sebagai seorang Muslim kita harus bersyukur masih di berikan sakit oleh Allah karena ketika sakit Allah menghapuskan dosa - dosa kecil hambaNya" Nisa mengelus pipi Stevent dengan jari-jari lembutnya.
Stevent merasakan ketenangan di hatinya, ia sangat bahagia mendapatkan dekapan, sentuhan dan ciuman dari Nisa. Ia mulai mengumpulkan ingatan sebelum ia tidur dan Ketika kadang - kadang ia terbangun namun tidak bisa membuka mata dan berbicara.
" Sekarang kamu harus sholat Magrib, aku akan membantu dirimu " Nisa beranjak turun dari tempat tidur.
Stevent melaksanakan sholat dengan isyarat dan bacaan, Karena ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
" Sayang, aku sakit apa?" Stevent bertanya penasaran.
Nisa menatap Stevent, Ia hanya berpikir, merasakan sakit saja Stevent sangat depresi bagaimana jika ia tahu yang membuat ia sakit adalah Nathan.
" Aku tidak akan bisa berdiskusi dengan Stevent masalah Nathan" Nisa berbicara di dalam hatinya.
" Sayang kenapa kamu diam ?" Stevent menahan kesal dengan kondisi tubuhnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa, ingin rasanya Stevent meronta dan mengamuk.
Nisa menekan tombol tempat tidur agar tubuh Stevent terangkat sedikit.
Nisa meletakkan tangannya di kiri dan kanan pipi Stevent dengan lembut, ia beradu pandang dengan Stevent. Nisa tersenyum.
" Aku baru tahu ternyata kau sangat tampan " Nisa mengalikan pembicaraan.
" Benarkah? mmmm cium bibirku!" Stevent ingin mereda emosi dan kesal yang ada di hatinya. Ia tahu ini bukan sakit biasa, ketika ia tertidur kelima indera Stevent dapat berfungsi dengan baik.
Nisa mendekat wajahnya pelahan, ingin sekali Stevent menarik cepat wajah Nisa dan menciumnya namun ia tidak bisa menggerakkan tangannya. Nisa menempel bibirnya pada bibir Stevent dan mencium lembut.
" Aku belum makan malam " Stevent dapat merasakan hangatnya nafas Nisa dan turun dari tempat tidur.
" Makanlah!" ucap Stevent, ia akan menunggu Nisa mengatakan penyakitnya, ia bisa mendengarkan percakapan Nisa dengan Jhonny.
" Apa kamu mau makan?" aku akan menyuapkan dirimu" Nisa mengambil sepiring nasi dengan sedikit sayuran dan lauk pauk berjalan mendekati Stevent.
" Kamu mau kemana?" Stevent memperhatikan Nisa.
" Aku akan mencuci tangan" Nisa tersenyum.
" Apa kamu akan meninggalkan diriku dan pergi kepada Nathan, aku tahu kamu tidak bisa melihat aku sakit, meskipun kamu tidak mencintai diriku" Stevent berbicara dalam hati menatap punggung Nisa.
Nisa kembali dan Stevent masih menatap tajam ke arah Nisa.
" Kenapa kamu melihat aku seperti itu? Apa kamu marah padaku?" tanya Nisa
" Tidak!" jawab Stevent singkat.
" Buka mulutmu" Nisa mengambil makanan dengan tangannya tanpa sendok, Stevent memperhatikan Nisa dan tidak membuka mulutnya.
Nisa memasukkan makanan ke mukanya sendiri dan tersenyum.
" Ka... " belum sempat Stevent menyelesaikan bicaranya, Nisa memasukkan makanan ke mulut Stevent.
Ketika makan Nisa tidak akan berbicara. Stevent mengunyah makanannya perlahan.
Mereka telah menyelesaikan makan malam berdua di kamar rumah sakit. Nisa membersihkan mulut Stevent. Mengelap tubuh Stevent dengan kain yang telah di basahi dengan air hangat.
Stevent memperhatikan Nisa, ia masih mengunggu Nisa mengatakan kebenaran tentang Nathan. Bola matanya mengikuti setiap gerakan Nisa.
" Kenapa kamu melihatku seperti itu" Nisa mengancing piyama Stevent.
" Apakah kamu akan meninggalkan diriku?" Stevent menatap tajam ke arah Nisa.
" Kenapa aku harus meninggalkan dirimu" Nisa membereskan baskom berisi air hangat dan meletakkan di atas wastafel.
" Untuk kesembuhan diriku" Nisa terdiam ia melihat Stevent.
__ADS_1
" Bagaimana ia mengetahui hal itu " pikiran Nisa bingung.
" Kenapa kamu diam? apa tebakan diriku benar?" Stevent mulai memperlihatkan wajah emosinya.
Nisa berjalan mendekati Stevent.
" Apa kamu ingin aku meninggalkan dirimu?" Nisa balik bertanya.
" Lebih baik aku lumpuh seumur hidup bersama dengan dirimu daripada melihat kamu hidup bersama Nathan" wajah Stevent memerah.
" Aku akan berusaha menyembuhkan dirimu dan akan selalu berada di samping kamu, bersabarlah " Nisa berbisik di telinga Stevent.
" Bagaimana kamu mengetahui semuanya?" Nisa memperhatikan Stevent.
" Aku bisa mendengar, mencium dan merasakan" Stevent tersenyum puas dan Nisa pun tersenyum membuat Stevent bingung, ia berharap Nisa akan terkejut.
" Kenapa kamu tersenyum" Stevent bertanya heran
" Setidaknya kamu bisa mendengarkan bisikan, sentuhan dan aroma tubuhku" Nisa berjalan meninggalkan Stevent di tempat tidur dan duduk di Sofa.
Ia mengambil Anggur hitam yang telah ia cuci dan menyuapkan kepada Stevent.
" Aku rela sakit jika yang merawat ku dirimu" Stevent tersenyum, Nisa naik ke tempat tidur berbaring di samping Stevent, ia memeluk tubuh kekar Stevent. meletakkan salah satu tangannya di atas dada bidang dan keras milik suaminya. Stevent merasakan ketenangan dalam jiwanya.
Terdengar nada dering panggilan dari ponsel Nisa, Stevent membuka matanya, Nisa turun perlahan dari tempat tidur dan mengambil ponsel yang berada di atas meja tamu.
" Siapa ?" tanya Stevent mulai curiga, ia menebak pasti Nathan.
" Nathan" jawab Nisa singkat.
" Tidak usah di jawab" Stevent sangat marah dalam kebencian.
" Mana ponselku?" tanya Stevent kepada Nisa
" Mungkin ada pada Jhonny" Nisa selalu bisa tenang dengan segala yang ia hadapi.
"kamu ingin menghubungi siapa?" Nisa berjalan mendekati Stevent.
Ponsel Nisa masih berdering dengan nada sholawat terdengar lembut tidak menggangu pendengaran.
Stevent terdiam, ia tidak berani menjawab pertanyaan Nisa, Karena ia akan menghubungi anak buahnya khusus menangani pembunuhan.
Ia akan memerintahkan anak buahnya untuk segera membunuh Nathan, dengan cara mengenaskan.
" Jhonny, hubungi Jhonny" Stevent berbohong.
" Apa ada nomor Jhonny di ponselku?" Nisa membuka daftar nomor kontak.
" Tidak usah, biarkan saja nanti Jhonny akan menghubungi dirimu" Stevent memejamkan matanya. Ia masih kesal memendam kebencian terhadap Nathan.
" Kenapa musuhku harus seorang ahli kimia?" pikir Stevent dalam hati.
Malam kian larut, Nisa dan Stevent merasakan kantuk. Nisa naik ke atas tempat tidur, memeluk tubuh suaminya.
" Selamat malam" bisik Nisa di telinga Stevent,
" Jangan tinggalkan aku, kumohon" Suara pelan terdengar dari mulut Stevent dengan mata terpejam.
" Aku tidak akan meninggalkan dirimu" Nisa mengecup pipi Stevent dan tertidur.
*
*
*
😊 Thanks for Reading ♥️
Jangan lupa like dan komentar
__ADS_1
dikasih Vote alhamdulilah 😘
♥️ Love you Readers 💓