Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Cemburu Lagi


__ADS_3

Seorang pria duduk di teras depan klinik, dengan celana blackhawk banyak saku berwarna hitam, kaos tanpa lengan memperlihatkan otot lengan yang keras membawa ransel di punggungnya.


" Valen " Sapa Dokter Aisyah.


" Iya Dok " Valentino beranjak dari kursi melihat lekat pada Nisa, dengan celana jeans dan kaos oblong membuat Nisa terlihat jauh lebih muda dari usianya, wajah yang imut dan lembut, Jilbab ukuran standar dari biasanya, sepatu Kets dan ransel kecil berwarna merah di punggungnya.


" Valen, perkenalan Dokter Nisa " Dokter Aisyah memperkenalkan Nisa kepada Valentino.


" Apa Seorang Dokter? berapa umur dia?" Valentino berpikir memandang wajah Nisa.


" Hai, perkenalan Annisa Salsabila, di panggil Nisa" Nisa tersenyum mengulurkan tangannya kepada Valentino.


" Hai, Valentino " Valentino menjabat tangan Nisa.


" Tangan yang lembut dan halus" Valentino tersenyum.


" Valen, tolong jaga Nisa, ia sedang terluka dan bantu dia menemukan tumbuhan ini" Dokter Aisyah memberikan contoh tumbuhan obat yang harus mereka dapatkan.


" Siap Dokter" Valentino memberi hormat dengan meletakkan tangannya di atas alisnya yang sangat lebat dan hitam.


" Nisa, kamu hati - hati di hutan, dan anggap saja Valentino sebagai adik sendiri, usianya masih sangat muda" Dokter Aisyah memeluk Nisa.


" tentu saja Dokter , terimakasih" Nisa melepaskan pelukannya.


Nisa berjalan bersama dengan Valentino Menuju hutan di kaki bukit belakang klinik.


" Apakah aku harus memanggil anda Dokter?" tanya Valentino membuka percakapan.


" Kamu panggil saya kakak atau kak Nisa saja" Nisa tersenyum.


" Berapa Usia kak Nisa?" tanya Valentino


" 25 tahun" Nisa berjalan mendahulukan Valentino.


" Apa ? 25 tahun ia sudah menjadi Dokter spesialis Bedah, padahal dari wajah dan postur tubuhnya ia lebih pantas jadi seorang mahasiswa" Valentino berbicara dengan hatinya .


" Seorang Lulusan kedokteran, kenapa bisa berada di desa terpencil seperti ini ?" Nisa berbalik melihat Valentino.


" Aku kagum pada Dokter Aisyah, menggunakan alam untuk pengobatan " Valentino tersenyum memperhatikan Nisa dari atas hingga bawah.


" Apakah kamu terluka?" tanya Valentino ia tidak berniat memanggil Nisa kakak.


" ya " Nisa melihat Valentino sekilas, mereka telah sampai di kaki bukit.


" Di mana?" tanya Valentino lagi.


" Diperut, hanya tergores pisau para preman jalanan " Nisa memejamkan matanya menghirup udara pagi menyegarkan.


Valentino terus memperhatikan Nisa dan memalingkan wajahnya ketika Nisa melihat dirinya.


" Senang sekali bisa menghirup udara pagi di perbukitan dan hutan yang masih lebat " Nisa kembali menghirup udara dari hidungnya dan membuangnya dari mulut.


" Aku sering kemari " Valentino segera menaiki bukit dan mengulurkan tangannya untuk Nisa.


" Tak apa aku bisa berpegangan pada kayu " Nisa tersenyum dan menolak bantuan Valentino.


" Ia benar-benar tidak tersentuh" Valentino tersenyum.


" Berapa usiamu?" tanya Nisa yang kesulitan menaiki bukit Karena perutnya terasa sakit.


" 20 tahun " Valentino memperhatikan Nisa dari atas, ia sudah terbiasa turun naik bukit,


" Wah, masih muda " ucap Nisa berpegang pada kayu.


" Beda 5 tahun " Valentino menyenderkan tubuhnya di kayu menunggu Nisa yang tertinggal.


Nisa menarik nafas, ia menyentuh perutnya, ingin melihat lukanya namun Valentino terus memperhatikan dirinya, mungkin ia sangat mengkhawatirkan Nisa.


" Kenapa, apa luka kamu sakit ?" Valentino turun dan mendekati Nisa.


" Ya terasa perih" ucap Nisa.


" Biar ku lihat " ucap Valentino.


" Tidak , tidak boleh" Nisa memegang perutnya.


" Berapa hari lukamu?" tanya Valentino memperhatikan Nisa


" 2 hari " Nisa duduk di batu dan mengambil air mineral dari tasnya.


" Tunggulah disini " Valentino meninggalkan Nisa.


" Valen " Nisa memanggil Valentino namun tidak perdulikan.


" Kemana anak itu ?" Nisa membuka sedikit baju dan melihat luka pada perutnya. Ia membuka plester dan membuang ramuan yang telah mengering.


" Padahal luka ini tidak dalam Kenapa lama sekali sembuh, mungkin aku terlalu sering bergerak atau karena semalam terhimpit Stevent" Nisa menutup kembali perutnya, ia tidak tahu Valentino melihat dirinya.


Nisa menyenderkan tubuhnya pada pohon yang menempel pada batu. Valentino menunggu beberapa menit agar Nisa perpikir ia baru datang.


Valentino membuka tas ransel mengeluarkan Mortar, ia menumbuk beberapa jenis dedaunan dan bunga yang telah ia campur.


Nisa memperhatikan Valentino, yang sedang menghaluskan beberapa tumbuhan. Nisa mendekat.

__ADS_1


" Apa itu?" tanya Nisa


" Obat untuk lukamu" Valentino terus melakukan aktivitasnya.


" Berbeda dengan yang digunakan Dokter Aisyah" ucap Nisa


" Tentu saja, Dokter Aisyah hanya menggunakan bahan yang ada di perkarangan klinik sedangkan bahan terbaik ada di hutan ini " jelas Valentino


" Tempelkan di lukamu" Valentino menyerahkan Mortar berisi ramuan yang telah halus.


Nisa menerima Mortar, namun ia tidak segera menggunakannya, ia tidak mau Valentino melihat perutnya.


" Kamu disini saja, aku akan mencarikan tumbuhan obat yang kamu butuhkan" Valentino kembali meninggalkan Nisa sendirian.


Nisa memperhatikan punggung Valentino yang semakin jauh dan menghilang di balik pepohonan, ia segera mengangkat kaosnya dan mengoleskan Ramuan yang telah dibuatkan Valentino.


Nisa merasakan dingin pada perutnya, menghilangkan rasa sakit secara perlahan, begitu nyaman.


" Luar biasa " Nisa sangat kagum pada Valentino. Suasa sejuk di dalam hutan membuat Nisa merasakan kantuk, Valentino belum kembali.


Nisa turun dari batu dan duduk di atas rerumputan, menyenderkan tubuh dan kepalanya pada pohon, memejamkan mata dan tertidur.


Tidur di dalam hutan terasa nyaman dengan Aroma khas dedaunan, lumut dan rumput menghipnotis mata untuk menikmati nyanyian hutan dan burung begitu tenang dan damai.


Entah berapa lama Nisa tertidur, Valentino duduk di depannya memperhatikan wajah cantik Nisa.


" Kamu sangat cantik, begitu sempurna" gumam Valentino pindah duduk di samping Nisa ikut memejamkan matanya.


***


Stevent terlihat gelisah, ia duduk di ruang tamu, melihat jam berwarna hitam di tangannya. Ia telah mendapatkan suntikan ampul ke 2.


" Dokter Aisyah siapa yang menemani Nisa ke hutan?" Pertanyaan ini baru keluar setelah Nisa setengah hari berada di hutan.


" Valentino" Dokter Aisyah meletakkan cemilan kesukaan Stevent yang di kemas oleh Jhonny.


" Siapa Valentino?" Stevent mulai berpikir


" Seorang Mahasiswa lulusan kedokteran, ia sedang melakukan penelitian" jelas Dokter Aisyah.


" Apakah mereka cuma berdua?' Stevent benar-benar khawatir.


" Pria ini akan jatuh cinta pada istriku" pikiran Stevent mulai kacau.


" Tenanglah, sebentar lagi mereka akan pulang" Dokter Aisyah melihat kekhawatiran Stevent.


Stevent keluar dari klinik berjalan ke belakang melihat bukit tujuan istrinya berdua dengan pria lain.


" Dia terlihat khawatir ketika tahu istrinya bersama pria lain" Dokter Aisyah menggelengkan kepalanya.


Stevent terus melihat jam tangannya dan bergantian melihat ke arah hutan, berharap istrinya segera muncul. Ia terus mondar-mandir di belakang klinik.


" Masuklah, kamu harus makan siang!" perintah Dokter Aisyah.


" Aku harus menunggu Nisa " Stevent terus memandang bukit.


" Jika kamu terlambat untuk pulih, sama saja kamu membuat susah Nisa " tegas Dokter Aisyah.


Mendengarkan ucapan Dokter Aisyah, Stevent segera masuk dan menuju ruang makan, ia segera menghabiskan makanannya.


Matahari berusaha melewati celah-celah dedaunan menyentuh wajah Nisa memberikan cahaya yang menyilaukan.


Nisa membuka matanya perlahan, ia terkejut, kepalanya berbaring di atas dada bidang Valentino. Dengan refleks Nisa memindahkan tubuhnya hampir jatuh ke bawah Melewati pepohonan, Dengan sigap Valentino menarik tangan Nisa.


" Apa yang kamu lakukan, kamu bisa jatuh ke jurang" Valentino menatap tajam pada Nisa.


" Maafkan aku, aku terkejut " Nisa berusaha naik dan di bantu Valentino.


" Terkejut? Apakah ada ular?" Valentino menarik tangan Nisa perlahan agar tidak tergelincir dan jatuh.


" Entahlah, mungkin aku bermimpi" Nisa mengalikan pembicaraan, ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia terkejut karena tidur di dada Valentino.


" Minumlah kita akan segera turun" Valentino merapikan ranselnya dan memasukkan bahan obat-obatan.


" Terimakasih" Nisa berjalan perlahan mengikuti Valentino menuruni bukit.


" Usianya masih muda tapi karena jiwa pertualang membuat ia lebih dewasa " Nisa memperhatikan punggung Valentino.


Terdengar adzan Zuhur Nisa dan Valentino baru berada di bawah bukit dan butuh 45 menit perjalanan untuk sampai ke klinik melewati hutan.


" Apakah kamu punya laboratorium untuk penelitian?" tanya Nisa, ia penasaran dengan Valentino, seharusnya diusia seperti sekarang Valentino akan menikmati indahnya dunia muda di kota.


" Tentu saja, aku memiliki segalanya " Valentino melihat Nisa dan tersenyum.


" Baiklah pasti dia anak orang kaya yang punya segalanya" Nisa berbicara di dalam hatinya.


" Terimakasih telah menemani dan membantu diriku" Nisa tersenyum ia benar-benar menganggap Valentino seperti seorang adik.


" Tidak perlu sungkan" Valentino tersenyum manis sekali.


Stevent menatap Nisa dan Valentino dengan tatapan penuh kecemburuan dan menahan emosi, ia melihat Nisa dan Valentino bercanda dan kadang tertawa bersama.


Nisa berjalan bersama Valentino mendekati Stevent,

__ADS_1


" Assalamualaikum " Nisa memberi salam


" Waalaikumsalam sayang " Stevent menarik tangan Nisa menjauh dari Valentino dan memeluknya.


Stevent dapat mencium aroma lain dari kerudung Nisa, ia menatap Valentino dengan kaos tanpa lengan memperlihatkan tubuh seksi dan berotot. Warna kulit yang berkilau memperlihatkan jiwa pertualang.


Pria yang termasuk kategori di cari banyak wanita, jika dia di kota maka Valentino akan masuk daftar Model masa depan paling dicari pada cover sebuah majalah.


" Aku harus membersihkan diri, jangan membuat kotor dirimu" Nisa melepaskan pelukan Stevent.


" Valen, masuklah, Dokter Aisyah pasti sudah menunggu di dalam" Nisa tersenyum.


" Baiklah, saya permisi Pak " Valentino melewati Stevent yang masih menatap tajam ke arah Valentino.


" Pak, apa Aku terlihat tua?" pikir Stevent


Nisa mau mengikuti Valentino namun dicegah Stevent.


" Kenapa aroma tubuhnya ada di jilbab kamu" Stevent menyelidiki.


" Ya Tuhan indera penciuman dia benar-benar tajam " Nisa menatap Stevent bingung harus menjawab apa.


" Aku hampir jatuh dan dia menyelamatkan ku " ucap Nisa


" Bagian mana yang ia sentuh ?" Stevent memeriksa tubuh istrinya.


Nisa mengulurkan tangannya, memperlihatkan merah pada lengannya bekas pegangan Valentino ketika menarik Nisa yang hampir jatuh ke jurang.


" Maafkan aku" Stevent merasa bersalah karena terlalu cemburu.


" Tak apa, aku harus membersihkan diri" Nisa berbisik, ia berjalan menuju kamar untuk mengambil pakaian dan membersihkan diri.


Stevent berjalan menuju laboratorium, ia melihat Dokter Aisyah dan Valentino meracik ramuan.


" hei, anak muda, terimakasih telah menyelamatkan istriku" Stevent melipat kedua tangannya di depan dada.


" Sama - sama" Valentino tersenyum ia dapat melihat kecemburuan di mata Stevent.


Nisa telah selesai mandi, ganti baju dan sholat Zuhur.


" Valen, kamu tidak membersihkan diri?" Nisa masuk ke dalam ruang laboratorium.


" Aku akan membantu Dokter Aisyah sebentar" Valentino tersenyum kepada Nisa.


Stevent terus memperhatikan Valentino.


" Nisa sebaiknya kamu makan siang" tegas Dokter Aisyah.


" Bagaimana dengan lukamu" Valentino melihat ke arah perut Nisa dan membuat mata Stevent memerah.


" Alhamdulilah, kamu luar biasa, lukaku tidak terasa sakit lagi " Ucap Nisa Bahagia.


" Aku telah membuatkan ramuan untukmu, oleskan setiap selesai mandi dan sebelum tidur" Valentino memberikan ramuan yang telah dihaluskan dan diletakkan dalam wadah tertutup.


" Wah, Terimakasih" Nisa menerima wadah tertutup dari tangan Valentino.


Stevent menatap penuh dengan kecemburuan, namun berusaha tetap tenang.


" Apakah ia melihat dan menyentuh perut Nisa ?"


" Sayang, kamu sudah makan" Nisa bisa membaca mata Stevent yang menyimpan kecemburuan.


" Sudah, tapi aku akan menemani kamu makan" Stevent menarik tangan Nisa dengan lembut menuju dapur.


Dokter Aisyah hanya diam, ia menahan tawa,


" Sepertinya suaminya Dokter Nisa sangat pencemburu" Valentino merapikan ranselnya.


" Terlalu banyak saingan" Dokter Aisyah akhirnya tertawa.


" Maksud Dokter? " tanya Valentino.


" Apa yang kamu pikirkan ketika melihat Nisa, jawab jujur sebagai pria dewasa" Dokter Aisyah menatap Valentino.


" Menawan" jawab Valentino singkat.


" Tentu saja, ia adalah wanita yang sempurna, bahkan aku pernah melihat dua orang pria berkelahi merebutkan Cinta Dokter Nisa " Dokter Aisyah membayangkan ketika Stevent dan Nathan berkelahi di depan klinik miliknya.


Valentino tersenyum dan mengangguk.


*


*


*


♥️ **Thanks for Reading 😊


Mohon dukungannya untuk selalu tinggalkan Like dan komentarnya 😘


💓Terimakasih banyak kepada Readers yang telah berbaik hati memberikan Vote kepada " Cinta Untuk Dokter Nisa" ♥️


♥️ Love You Readers 💓**

__ADS_1


__ADS_2