Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Melupakan Janji


__ADS_3

Nisa Bangun lebih awal, ia melaksanakan shalat tahajud, dan dilanjutkan dengan membaca Alquran, sayup-sayup suara lembut Nisa masuk ke dalam telinga Stevent. Stevent membuka matanya sedikit dan kembali tertidur.


Nisa berjalan menuruni tangga menuju taman belakang rumah, ia merasa bosan di dalam kamar.


Menunggu waktu Subuh, Nisa duduk di ayunan, menghirup udara pagi yang menyegarkan. Rumah besar di kelilingi pagar tinggi. Tidak ada orang luar yang bisa melihat Bangunan mewah dari balik pagar.


Hari ini Nisa akan bertemu Dokter kandungan, temannya di rumah Sakit tempat ia bekerja.


Nisa tidak jadi di pecat bahkan surat pengunduran diri di tolak, ia mendapatkan cuti dan waktu istirahat selama 6 bulan dan akan di tambah cuti melahirkan.


Terdengar suara azan, Nisa berjalan kembali ke kamarnya, dan membangunkan Stevent untuk melaksanakan shalat subuh bersama.


Setelah sholat Nisa menuruni tangga menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan tanpa ikan. Semua sayuran dan buah- buahan.


***


Ponsel Stevent berdering, panggilan dari Jhonny.


"Ada apa?" Tanya Stevent menjawab panggilan tanpa salam.


"Aku berada di Penjara bawah tanah, kemarilah." Ucap Jhonny.


"Baiklah,". Ucap Stevent.


Jika seseorang telah di bawa ke penjara bawah Tanah berarti orang tersebut telah melakukan kesalahan yang fatal.


Pelaku rencana pembunuh Nisa atau orang yang membuat Stevent meninggalkan Nisa karena membuat masalah pada cabang perusahaan di Jepang.


Stevent telah selesai mandi dan menggantikan pakaian, Stevent segera menuruni tangga dan menuju Ruang Makan.


Ia melihat istrinya telah duduk di kursi, menunggu dirinya, Stevent mencium dahi dan pipi Nisa, mereka duduk berhadapan dan mulai sarapan bersama.


Selesai makan Nisa kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan bersiap ke rumah sakit.


Nisa mencari Stevent di setiap sudut ruangan, ia berjalan ke garasi dan mobil Stevent sudah tidak ada lagi.


Rasa kecewanya menyesakkan dada, di hari pertama bertemu Dokter Stevent telah melupakan janjinya yang baru saja ia ucapkan semalam.


Nisa menahan butiran bening yang akan melewati sudut matanya, ia melihat mobil merah yang masih diikat pita terparkir rapi di samping garasi.


Nisa kembali kerumah dan meminta para pelayan untuk mempersiapkan mobilnya.


Tidak butuh waktu lama mobil baru berwarna merah siap di kendarai. Seorang pelayan menemui Nisa yang sedang duduk di sofa mencoba menghubungi nomor Stevent namun tidak ada jawaban.


" Nyonya, mobil anda telah siap" ucap seorang pelayan laki - laki.


" Terimakasih" Nisa tersenyum dan beranjak dari sofa menuju mobil baru hadiah dari Stevent.


"Aku terlahir mandiri jadi aku tetap harus menjadi wanita kuat dan mandiri" gumam Nisa tersenyum menguatkan hatinya.


Mobil merah terang telah keluar dari perkarangan rumah, Nisa tidak lupa membaca doa dan sholawat, beberapa bodyguard yang selalu siap mengikuti Nisa dari jarak aman telah berada di belakang mobil Nisa.

__ADS_1


Tidak beberapa lama mobil Nisa telah memasuki lahan parkir rumah sakit, Nisa tersenyum melihat rumah sakit tempat ia bekerja, ada rasa rindu di hatinya bertemu dengan rekan kerja dan para pasien.


Nisa berjalan menuju meja resepsionis, dan bertemu dengan dua orang wanita yang sudah sangat ia kenal.


" Selamat pagi Dokter Nisa, apakah anda sudah siap bekerja?" tanya Dinda tersenyum melihat Nisa yang semakin cantik.


"Selamat pagi, Dinda, saya mau bertemu dengan Dokter Nada" jawab Nisa tersenyum Cantik.


"Anda bisa langsung menemui Dokter Nada, Dok" Dinda tersenyum.


"Terimakasih, aku hanya ingin menyapa kalian berdua" ucap Nisa dan berlalu meninggalkan Dinda dan temannya.


"Terimakasih Dokter" jawab Dinda.


Dua orang wanita resepsionis sangat kagum kepada Nisa, sudah jadi Nyonya besar istri dari Stevent Lu Alexander, ia tetap tidak berubah masih seperti Dokter Nisa yang dulu.


Nisa tetap terlihat sederhana, walaupun pakaian yang ia gunakan adalah keluaran butik ternama dan limited edition, karena semua Stevent yang berikan.


Nisa tidak perlu pergi ke mall atau pasar, semua akan tersedia dengan jentikan jari, tidak ada yang tidak bisa Stevent berikan untuk Nisa.


Nisa berjalan melewati koridor ia harus menuju bagian kandungan, menemui Nada di ruangnya. Ia bertegur sapa dengan para perawat dan pasien bahkan ia masih sempat menjenguk beberapa pasien yang menyapa dirinya dari ruangan perawatan.


Mereka sangat rindu dengan Dokter Nisa, yang ramah, baik dan sangat suka membantu. Nisa terlalu baik, dengan gajinya ia membantu pasien yang tidak mampu.


Nisa kembali berjalan menuju ruangan Dokter Nada.


"Halo Dokter Nisa" sapa Erick,


"Halo" jawab Nisa tersenyum melihat dua orang pria tampan di depannya, Samuel dan Erick.


" Dokter, Anda mau kemana?" tanya Erick.


"Saya mau bertemu dengan Dokter Nada" ucap Nisa tersenyum.


"Kapan kamu akan kembali bekerja?" tanya Samuel yang tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Nisa.


" Saya mendapatkan cuti, ketika cuti saya selesai saya akan segera kembali" ucap Nisa tersenyum.


"Dokter Nisa, apakah Anda sedang hamil, karena Dokter Nada adalah Dokter kandungan" ucap Erick melirik ke arah perut Nisa.


"Iya, Bolehkah saya permisi untuk bertemu dengan Dokter Nada?" tanya Nisa yang mulai risih dengan Erick.


" Kenapa suami kamu tidak menemani dirimu?" Samuel menatap tajam wajah Nisa, Pertanyaan itu membuat Nisa ingat dengan Stevent yang melupakan janjinya, ingin rasanya Nisa marah.


" Suami saya ada pekerjaan yang lebih penting" ucap Nisa dan melanjutkan langkah kakinya untuk bertemu dengan Dokter Nada.


"Tidak ada yang lebih penting dari menemani istri bertemu dengan Dokter kandungan" tegas Samuel yang semakin menyesakkan dada Nisa.


" Anda benar, Terimakasih, " Nisa menahan kesal, ia kembali melanjutkan langkah kakinya dan menguatkan hati untuk melupakan janji Stevent.


"Hey, Apakah kamu masih menyimpan rasa pada istri Stevent?" tanya Erick menyelidiki.

__ADS_1


" Tidak" jawab Samuel dan berjalan menuju ruangannya.


Nisa telah berada di depan pintu ruangan Dokter Nada, ia mengetuk pintu dan Dokter Nada membuka pintu untuk Nisa.


"Assalamualaikum Dok" sapa Nisa tersenyum.


"Waalaikumsalam Nisa, mari masuk" Dokter Nada adalah senior Nisa dan mereka berteman.


Nisa dan Dokter Nada berpelukan melepaskan rindu, meski bekerja di tempat yang sama, tetapi mereka jarang berjumpa, apalagi Nisa telah cuti.


"Apa kabar kamu Nisa?" tanya Dokter Nada ketika ia telah mempersilakan Nisa duduk.


"Alhamdulilah, aku sehat" ucap Nisa tersenyum.


"Dimana suami kamu, dia tidak menemani dirimu untuk pemeriksaan pertama kalinya" tanya Dokter Nisa dan pertanyaan itu seakan memberikan rasa sesak di hati Nisa.


"Dia sangat Sibuk" ucap Nisa yang berusaha tersenyum.


"Kuharap dia memberikan waktu untuk kamu dan calon bayinya, ingat Nisa, anak harus merasa bahagia sejak dalam kandungan" tegas Dokter Nada.


" Terimakasih" ucap Nisa.


Dokter Nada telah mempersiapkan peralatan medis yang akan di gunakan untuk melakukan pemeriksaan pada ibu dan calon bayi, peralatan canggih.


Nisa sangat sehat begitu juga dengan janin kembarnya, sangat sehat dan kuat.


Nafsu makan Nisa yang sangat baik bahkan terhitung melebihi normalnya, membuat ia dan calon bayinya semakin sehat dan kuat dengan pertumbuhan yang baik dan sempurna.


Nisa sangat bahagia dan bersyukur, telah Allah titipkan dua janin sekaligus di dalam rahimnya.


Kehidupan yang begitu sempurna yang telah Allah berikan kepada dirinya. Ia adalah wanita mandiri yang kuat, dan jangan pernah berharap kepada sesama manusia berharaplah kepada Allah yang selalu ada untuk hamba-nya.


***


**


*


*Terimakasih


*


**


**


Thanks for Reading


Mohon dukungannya untuk Selalu meninggalkan Like dan komentarnya di setiap episode.


Mohon untuk memberikan Vote yang sebanyak-banyaknya dan seikhlas-Ikhlasnya.

__ADS_1


Terimakasih kepada Readers semua yang selalu memberikan Like, komentar dan Vote untuk Author, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan Rezeki yang melimpah, Aamiin.


Love You Readers, muuach**


__ADS_2