Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Situasi Berbahaya Fauzan


__ADS_3

Nisa sedang memberikan Asi untuk Azzam di atas tempat tidur mereka, Stevent menggendong Azzura di taman, Azzam sangat tenag ketika menikmati Asi dari Ibunya, ia mmejamkan mata tetapi tidak ingin melepaskan walaupun ia telah tidur.


Azzura telah merasa lapar, saudara laki-lakinya telah sangat lama menerima Asi dari Mama mereka, ia mulai merengek dan menangis, Stevent terlihat khawatir dan kebingungan, ia segera membawa putrinya ke kamar untuk mendapatkan giliran Asi.


“Sayang.” Stevent melihat istrinya terlelap bersama putra mereka di atas tempat tidur, ia membaringkan Azzura di samping Azzam dan menyentuh pipi lembut Nisa.


“Sayang, Azzura kelaparan.” Stevent berbisik di telinga Nisa, ia melihat putranya tersenyum dalam tidur tanpa melepaskan Asi.


“Putraku tidak mau berbagi.” Stevent memisahkan mulut Azzam dari dada Nisa.


“Sayang, dimana Azzura?” Nisa duduk.


“Azzam memonopoli dirimu dan tidak mau membagi dengan Aku dan Azzura.” Stevent tersenyum.


“Pindahkan Azzam keranjangnya!” Nisa mengangkat Azzam dan memberikan kepada Stevent.


‘Setelah Azzura, kamu harus menidurkan diriku.” Stevent mencium kepala Nisa dan berjalan menuju kamar putra dan putri mereka.


Nisa hanya tersenyum dan memberikan Asi untuk Azzura yang telah merengek dan mengisap jarinya.


“Maafkan mama sayanga.” Nisa mencium pipi dan dahi Azzura. Tidak butuh waktu lama Azura lebih cepat kenyang dan terlelap, ia bisa melepaskan Asi dengan mudah berbeda dengan Azza yang seakan tidak ingin melepaskan Asi Nisa walapun ia telah tidur.


Nisa menggendong Azzura dan meletakan di atas ranjangnya, ia melihat Stevent berbaring di sofa panjang yang ada di kamar anak mereka.


“Sayang, apa kamu tidak pergi ke perusahaan?” Nisa mengusap kepala Stevent.


“Aku mau bersama dengan dirimu sepanjang waktu ketika AA sedang tidur.” Stevent menarik pinggang Nisa hingga terjatuh di atas tubuhnya.


“AA?” Nisa menatap Stevent.


“Azzaam dan Azzura.” Stevent tersenyum.


“Berikan aku ciuman!” Stevent melihat zipper Nisa yang masih terbuka dan tidak menggunakan hijab.


“Sayang, sangat padat berisi.” Stevent menyentuh bagian lembut di dada Nisa yang terlihat begitu menggoda. Nisa segera menutup zipper gamisnya dan tersenyum.


“Tentu saja karena berisi makanan dan minuman yang bergizi untuk AA.” Nisa mencubit hidung Stevent.


“Apa aku boleh mencobanya?” Stevent menatap mata nisa dengan nakal.


“Apa kamu mau?” Nisa berbisik di telinga Stevent.


“Hm.” Stevent mengangguk dengan cepat.


“Jadi bayi.” Nisa mencubit kedua pipi Stevent.


“Aku adalah bayi besar yang tampan.” Stevent melingkarkan tanganya di leher Nisa.


“Benarkah, sepertinya Azzam akan mengalahkan ketampanan dirimu.” Nisa tersenyum.


“Ahhh, aku juga merasa begitu, wajahnya perpaduan dirimu dan diriku begitu sempurna.” Stevent menekan leher Nisa hingga bibir mereka saling bersentuhan, bermain lembut dengan lidah dan gigitan ringan.


“Pukul berapa sekarang?” Stevent melepaskan ciumannya dan melihat jam di tangan kirinya.


“Jam makan sianga.” Nisa beranjak dari tubuh Stevent dan berjalan menuju dapur.


“Astaga, dimana ponselku sayang?” Stevent berjalan menuju kamar mereka.


“Kamu meninggalkan di ruang kerja.” Nisa menggunakan celemek, menyerahkan ponsel dan computer jinjing kepada Stevent dengan senyuman cantiknya.


“Terimakasih Sayang, kamu bahkan telah menchargernya.” Stevent mengmabil ponsel dan mencium Nisa.


“Apa kamu akan pergi?” Nisa menatap Stevent.


“Tidak, Aku akan bekerja di kamar AA.” Stevent mencium kepala Nisa yang telah menggunakan hijab.


“Aku akan membuatkan makan siang.” Nisa tersenyum dan meninggalkan Stevent.


“Sayang, apa kamu butuh pelayan?” Stevent menahan tangan Nisa.


“Jika sudah ada waktu jemputlah Salsa.” Nisa tersenyum dan kembali ke dapur.


“Ah, aku lupa papa Mark mau memberikan Robot kembar untuk Azzam dan Azzura.” Stevent berjalan ke kamar baby twins.


Nisa sibuk di dapur, ia membuat makanan untuk makan siang dirinya dan Stevent, Jhonny dan Aisyah berada di perusahaan menggantikan Stevent untuk sementara dan ada banyak orang kepercayaan yang bekerja untuk Stevent, walaupun tidak sedikit musuh yang ingin menghancurkan Stevent.


Aroma masakan Nisa telah memenuhi ruang dapur tetapi tidak akan masuk ke dalam kamar dan ruangan lainnya. Dengan kemampuan desain dan pemilihan bahan yang tepat rumah Stevent selalu sempurna.


“Sayang, aku sudah sangat lapar.” Stevent memeluk Nisa dari belakang.


“Duduklah!” Nisa menarik tangan Stevent agar duduk di kursi.


“Aku benar-benar lapar tidak bisa memakan dirimu.” Wajah Stevent memelas manja.


“Suamiku tercinta, makan siang siap.” Nisa memngambilkan nasi untuk Stevent.


“Baiklah sayangku.” Stevent mencium tangan istrinya.


“Habiskan makanan kamu.” Nisa mencium kepala Stevent yang tersenyum manja dan menggoda.


***


Kantor Stevent.


Aisyah duduk di sofa masih memikirkan gadis yang ia temui tidak sadarkan diri di jalanan depan supermarket, ia curiga akan kondisi tubuh yang tidak biasanya.


“Siapa gadis itu dan apa hubungan dengan Nathan, ini pertama kalinya aku melihatnya.” Aisyah memperhatikan Jhonny yang sangat fokus bekerja sehingga melupakan istri yang cantik di depannya dan jam makan siang. Pekerjaan Jhonny sangat banyak karena Stevent yang tidak masuk ke kantor.


“Ehem.” Aisyah melihat jam cantik di dinding kantor, ia sudah lapar karena melewati jam makan siang setelah melakukan perjalanan bisnis dengan Jhonny.


“Pria ini benar-benar gila kerja sama saja dengan Stevent.” Aisyah beranjak dari sofa dan duduk di meja kerja Jhonny.


“Apa kamu akan terus membiarkan aku kelaparan?” Aisyah menutup computer dan mendekatkan wajahnya pada Jhonny yang menelan ludah memperhatikan Aisyah menjilati bibirnya dengan seksi dan menggoda.


“Jika kamu tidak mau aku akan makan sendirian di kantin perusahaan.” Asiyah turun daru meja dan tersenyum kepada Jhonny.

__ADS_1


Jhonny menarik tangan Aisyah dan mencium mesra bibir yang telah mengganggu dan menggoda dirinya yang sedang bekerja. Jhonny dan Aisyah berciuman begitu berhasrat dan sangat panas.


“Hentikan, kita telah melewati jam makan siang hari hampir sore.” Aisyah menutup mulut Jhonny dengan tangan lembutnya.


Jhonny menarik tangan Aisyah dan kembali mencium bibir yang masih basah oleh dirinya dan memberikan sedikit gigitan, bermain dengan lidah yang terus masuk ke dalam sela-sela gigi menikmati kehangatan yang lengket dan berlendir.


“Mari makan.” Jhonny menatap Asiyah.


“Astaga, pria ini sangat ganas sekali.” Aisyah menyentuh bibirnya yang terasa berubah bentuk dan mengambil tisu, ia merasa mulutnya lengket.


“Lagi?” Jhonny melihat bibir Aisyah.


“Aku sangat lapar.” Aisyah tersenyum dan menggandeng tangan Jhonny berjalan menuju lift yang membawa mereka ke kantin perusahaan.


***


Mobil Fauzan yang dikendarai Asraf telah memasuki areal parkir hotel, mereka berdua baru kembali dari pabrik dan supermarket.


“Asraf, tidakkah kamu mendengar suara yang memanggil nama kamu di Supermarket tadi?” Fauzan keluar dari mobil.


“Aku mendengarkan samar-samar suara Afifah, aku pikir aku terlalu memikirkan dirinya.” Asraf keluar dari mobil.


“Aku juga berpikir itu seperti suara Afifah.” Fauzan tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mereka berjalan bersama menuju kamar masing-masing.


“Asraf, apakah kamu sudah menghubungi Afifah?” Fauzan menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Asraf.


“Dia tidak mengangkat panggilan dariku.” Asraf terlihat khawatir.


“Apa kamu tidak memiliki nomor ponsel lain selain milik Afifah?” Fauzan tidak jadi membika pintu kamarnya.


“Tidak ada Tuan, aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa?” Asraf menunduk.


“Jika ada waktu kita bisa kembali ke desa.” Fauzan tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya.


“Terimakasih Tuan.” Asraf terlihat bersemangat dan bahagia.


Fauzan melepaskan jas kerja, dasi dan meletakkan pada tempatnya, ia sangat lelah dan gerah berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, membuka semua pakaian dan hanya menggunakan boxer berada di bawah shower menyegarkan diri dengan air yang dingin.


Aroma maskulin begitu menggoda dari tubuh seksi dan berotot, ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk berwarna putih yang melingkar di pinggangnya. Air yang masih mengalir di tubuh, wajah dan rambut Fauzan menambah keseksiannya.


Fauzan berjalan menuju lemari pakaian dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ia letakkan di kepalanya, sehingga ia tidak melihat ada sepasang mata yang tergoda akan dirinya. Wanita itu tersenyum puas dapat melihat kesempurnaan seorang pria dengan wajah tampan dan tubuh yang atletis.


Sepasang tangan memeluk dan mengunci tubuh Fauzan yang sedang mencari pakaian di depan lemari. Dengan reflek Fauzan membuka tangan dan memutar tubuhnya, ia melihat seorang wanita cantik pakaian seksi tersenyum puas karena berhasil memeluk Fauzan.


“Siapa anda?” Fauzan mencengram tangan Nayla dengan kuat.


“Apa kamu melupakan diriku?” Nayla menahan sakit pada tangannya, ia cukup puas bisa menyentuh Fauzan, pria yang tidak tersentuh.


“Apa yang kamu lakukan di kamarku?” Fauzan menatap tajam pada Nayla.


“Mendapatkan tubuh pria yang aku inginkan.” Nayla tersenyum memandang wajah tampan dan tubuh seksi yang terekspos dengan gratis.


“Kamu perempuan gila.” Fauzan mendorong tubuh Nayla hingga jatuh ke lantai.


“Wanita murahan seperti dirimu tidak pantas mendapatkan kelembutan, harusnya kamu menjaga kehormatan seorang wanita.” Fauzan mengambil piyama dari dalam lemari .


“Apa kamu tidak tahu derajat seorang wanita itu sangat tinggi dan memiliki kelebihan yang luar biasa yang telah Tuhan berikan.” Fauzan berjalan menuju tempat tidurnya untuk memakai piyama.


Nayla beranjak dari lantai dan mendorong tubuh Fauzan hingga terjatuh di tempat tidur dengan wanita berpakaian seksi di atasnya tersenyum puas karena berhasil menyentuh tubuh berotot Fauzan yang belum tertutup sehelai benangpun hanya handuk yang masih melingkar kuat di pinggangnya.


“Sudah aku katakan aku akan naik ke ranjang kamu.” Nayla menyuntikkan jarum pada paha Fauzan yang terbuka.


“Wanita gila.” Fauzan mendorong tubuh Nayla hingga kembali jatuh ke lantai.


“Apa yang kamu suntikkan?” Fauzna menyentuh pahanya dan menyabut jarum yang masih melekat.


“Fauzan, kamu akan membutuhkan diriku untuk memuaskan diri karena obat itu.” Nayla tersenyum.


“Diamlah!” Fauzan membungkus tubuh Nayla dengan Sepray.


“Lepaskan aku!” Nayla berteriak.


Fauzan dapat merasakan efek dari obat perangsang yang telah disuntikan Nayla pada dirinya, ia segera, mengambil ponsel dan keluar dari kamar menuju kamar Asraf.


“Asraf, tolong kau.” Wajah Fauzan telah merah.


“Apa yang terjadi pada Anda?” Asraf melihat Fauzan yang hanya menggunakan handuk dengan tubuh mengeluarkan keringat.


“Wanita gila itu telah menyuntikkan obat perangsang pada tubuhku.” Fauzan terduduk di lantai.


“Sebaiknya Anda masuk kedalam bathup dan berendam dalam air dingin.” Asraf membantu Fauzan ke kamar mandi dan mengisi air dingin. Asraf membuatkan susu untuk mengurangi efek obat pada tubuh Fauzan.


“Habiskan susu ini Tuan!” Asraf memberikan susu kepada Fauzan dan meminum habis.


“Asraf tanyakan pada Stevent atau Jhonny, apakah dia memiliki kenalan ahli kimia yang dapat menetralkan efek dari obat ini, aku sangat tersiksa.” Fauzan menahan dirinya dengan susah payah.


“Baiklah Tuan.” Asraf mengambil ponselnya dan menghubungi Jhonny.


Jhonny yang sedang bersiap untuk kembali kerumah dan berada di dalam mobil bersama istrinya segera menerima panggilan dari Asraf yng terdengar khawatir.


“Dia membutuhkan bantuan dirimu.” Jhonny memberikanponselnya kepada Aisyah.


“Halo, ada yang bisa saya bantu?” Aisyah menerima panggilan dari Asraf yang langsung menjelaskan keadaan Fauzan tersiksa dan sangat membutuhkan bantuan.


“Tuan Fauzan butuh bantuan, Kita harus segera ke laboratorium tanaman obat.” Aisyah menyerahkan ponsel kepada Jhonny.


“Berpeganglah!” Jhonny mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga sampai pada rumah mereka. Aisyah segera berlari menuju kebun obat yang berada di belakang rumah mereka.


“Aku harus meracik obat ini dan menjadikan jus, agar Fauzan bisa meminumnya langsung.” Aisyah menuju laboratorium dengan membawa beberapa jenis tanaman obat.


Jhonny mengikuti langkah Aisyah dan memperhatikan istrinya yang serius meracik obat sehingga menghasilkan jus berwarna ungu. Ia memasukan cairan obat alami dari tumbuhan ke dalam botol kaca dan menutupnya dengan rapat.


“Kita harus cepat atau efek obat perangsang akan mengganggu kesehatan organ reproduksi Fauzan.” Aisyah memasukan botol kaca dan beberapa tanaman obat dalam tasnya dan menariki tangan Jhonny kembali ke mobil.


Beberapa pelayan kebingungan melihat majikan mereka yang tergesa-gesa bahkan tidak menyapa sama sekali, mereka berdua sudah cukup lama tidak pulang kerumah karena sibuk membantu Stevent dan Nisa. Jhonny kembali mengendarai mobil sport miliknya dengan kecepatan tinggi menuju hotel.

__ADS_1


Mobil Jhonny yang memasuki gerbang Hotel hampir menabrak Viona yang sedang berlari dari pesantren menuju restoran Abi. Aisyah segera keluar dari mobil dan menarik tangan Viona agar menyingkir dari hadapan mobil Jhonny.


“Kenapa kamu semakin ceroboh Viona.” Aisyah menatap tajam pada Viona karena khawatir.


“Maafkan aku.” Viona menunduk.


“Berhati-hatilah!” Aisyah mengusap kepala Viona dan tersenyum dan berjalan mendekati Jhonny.


“Dokter Aisyah, anda mau kemana?” Viona melihat Jhonny dan Aisyah.


“Menolong Fauzan.” Aisyah menggandeng tangan Jhonny dan berlari menuju hotel.


“Fauzan, ada apa dengan Fauzan?” Viona ikut berlari mengejar Aisyah dan Jhonny.


Mereka sampai di kamar Asraf yang telah menunggu di depan pintu dengan wajah khawatir karean kasihan melihat Fauzan yang kesakitan menahan diri dari efek obat yang sangat berbahaya.


“Dimana Tuan Fauzan?” tanya Aisyah.


“Ia di kamar mandi.” Asraf berjalan diikuti Aisyah dan Jhonny menuju kamar mandi.


“Tuan Fauzan tidak berpakaian.” Asraf melirik Aisyah dan Viona.


“Baiklah berikan jus ini, dan habiskan dengan cepat!” Aisyah menyerah botol kaca berisi cairan berwarna ungu.


“Baik Nyonya, terimakasih.” Asraf berjalan menuju kamar mandi untuk memberikan jus obat kepada Fauzan.


“Asraf dimana dapur kamu, aku akan membuatkan bubur untuk Fauzan.” Aisyah menghentikan langkah Asraf.


“Disana nyonya.” Asraf menunjukan jarinya pada sebuah ruangan di samping kamar mandi.


“Dokter Aisyah apa yang terjadi?” Viona kebingungan dan khawatir.


“Duduklah, nanti kamu juga akan tahu.” Aisyah tersenyum dan berjalan menuju dapur di temani Jhonny.


Viona duduk di Sofa dengan perasaan cemas dan penasaran, ia ingin tahu apa yang terjadi pada Fauzan yang berada di kamar mandi dan harus meminum jus obat dari Dokter Aisyah. Viona berdiri dan modar-mandir ia melirik ke pintu kamar mandi yang terbuka.


Mata Viona melotot, tanpa sengaja melihat tubuh kekar dan seksi Fauzan yang hanya menggunakan handuk basah keluar dari bathup. Otot-otot terlihat mengeras dan berwarna merah karena menahan efek obat perangsang.


“Asraf, ambilkan pakaian ganti untuk diriku.” Fauzan merasa lebih baik.


“Baik Tuan, Anda jangan keluar kamar mandi karena ada Nona Viona dan Dokter Aisyah.” Asraf memberikan handuk kepada Fauzan.


“Viona, kenapa dia ada disini?” Fauzan menggantikan handuknya.


“Dia datang bersama Tuan Jhonny dan istrinya.” Asraf keluar dari kamar mandi dan Viona segera duduk di sofa, ia merasakan wajahnya panas dan memerah.


“Maaf Nona, saya harus ke kamar Tuan Fauzan untuk mengambil pakaian ganti.” Asraf berbicara dengan Viona yang menunduk menyembunyikan wajah malunya.


“Em ya.” Viona gugup.


“Ya Tuhan, dia sangat seksi dengan tubuh yang sempurna.” Viona menutup wajahnya dengan kecua tannya, ia merasakan hidungnya kan berdarah karena panas melihat tubuh Fauzan.


Aisyah membawa semangkuk bubur panas berwarna ungu dan meletakkan di atas meja di depan Viona yang masih menutup wajah dengan tangan.


“Apakah Tuan Fauzan belum keluar dari kamar mandi?” Aisyah duduk di samping Viona.


“Maaf nyonya, saya baru mengambilkan pakaian ganti.” Asradf berjalan ke kamar mandi.


Fauzan keluar dengan menggunakan kemeja tangan panjang berwana biru langit dan celana panjang dasar berwarna hitam, ia tersenyum tampan melihat kearah Aisyah dan Jhonny.


“Bagaimana keadaan anda Tuan Fauzan?” Aisyah tersenyum cantik pada Fauzan.


“Alhamdulilah, terimakasih Nyonya Jhonny, saya tidak tahu apa yang akan terjadi bila anda dan Jhonny tidak datang.” Fauzan duduk di depan Viona.


“Makanlah bubur ini untuk memulihkan tubuh anda!” Aisyah memberikan mangkuk berisi bubur kepada Fauzan dengan senyuman.


Jhonny menatap Aisyah tanpa ekspresi tetapi ada kecemburuan yang membakar di dalam hati, istrinya tersenyum ramah pada pria yang jadi idola wanita di seluruh dunia termasuk Aisyah.


“Terimakasih, saya tidak menyangka istri Jhonny adalah seorang ahli tanaman obat.” Fauzan tersenyum dengan perlahan ia memakan bubur.


“Tuan Fauzan, jika anda telah baik kami permisi.” Jhonny berdiri dan menggenggam tangan Aisyah.


“Tunggu sebentar Tuan Jhonny, saya harus membayar semua bantuan istri anda.” Fauzan berdiri.


“Tidak apa Tuan Fauzan , kami iklas membantu anda.” Aisyah tersenyum.


“Aku merasa tidak nyaman.” Fauzan meletakkan manggkuk di atas meja.


“Lupakan saja, saya senang bisa membantu anda.” Jhonny melirik Aisyah.


“Viona, apa kamu tidak pulang?” Aisyah melihat Viona yang terus menatap Fauzan.


“Ah ya, aku ikut.” Viona segera berdiri dan menggandeng tangan Asiyah.


Mereka bertiga meninggalkan kamar Asraf, Nayla telah pergi entah kemana dengan kamar Fauzan yang terbuka tanpa dikunci.


“Aku kan menuntut dan menutup hotel ini.” Fauzan duduk di sofa dan menghabiskan bubur obatnya.


“Siapa yang melakukan ini kepada anda?” tanya Asraf.


“Nayla, pasti ada orang dalam hotel yang membantu dia sehingga cctv tidak berfungsi dan ia bisa masuk ke kamar diriku dengan mudah.” Fauzan mengepalkan tanganya.


“Mereka akan menerima akibat atas perbuatan yang telah dilakukan kepada diriku.” Mata Fauzan memerah, ia sangat kesal dan marah dengan apa yang telah terjadi pada dirinya.


Kemanpun kita melangkah, dimanapun kita berada walaupun itu rumah dan kamar sendiri tetap harus berhati-hati. Setelah meninggalkan rumah periksalah setiap sudut ruangan, jika tidak ada hewan yang berbahaya mungkin ada manusia jahat yang siap mengancam keselamatan penghuni rumah.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2