Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kangen Kak Nisa


__ADS_3

Pesantren Ramadhan


Hari telah petang, setelah sholat ashar anak-anak boleh bermain di halaman, ada yang olah raga, dan bela diri.


Abi dan Umi duduk di depan rumah, melihat santri dan santriwati bermain bersama di halaman pesantren.


Umi melihat Nana menangis di bawah pohon sendirian, anak yatim piatu berusia 7 tahun yang di temukan di usia 3 tahun di jalanan.


" Abi, Nana kenapa menangis" Umi berjalan mendekati Nana.


" Assalamualaikum, Nana Sayang" Umi yang terlihat tidak muda lagi berjongkok di depan Nana.


" Waalaikumsalam salam Umi" Nana mengusap air matanya, ia ingin menyembunyikan kesedihannya.


" Nana Sayang, kenapa sendirian di sini?" tanya Umi menyentuh kedua pipi putih bersih Nana dengan kedua tangannya.


" Nana, kangen Kak Nisa" Nana menunduk dan kembali menangis.


Umi dapat merasakan kerinduan Nana dan mungkin anak-anak lainnya, karena Umi juga sangat merindukan Nisa, rasanya sudah lama sekali Nisa tidak berkunjung ke pesantren dan bermain atau hanya sekedar memeriksa kesehatan anak-anak di pesantren.


" Nana Sayang, coba Nana berdoa kepada Allah, supaya Kak Nisa datang ke mari, Doa anak Sholehah akan dikabulkan Allah" Umi memberikan semangat kepada Nana.


" Umi, Nana adalah anak Sholehah, Nana rajin solat dan mengaji, Nana juga selalu menuruti perintah Ustadz dan ustazah" Nana tersenyum semangat, ia mulai mengangkat kedua tangan mungilnya.


" Ya Allah, Nana kangen Kak Nisa, datangkan Kak Nisa kepada Nana, Nana janji akan jadi anak yang baik" air mata Nana mengalir, ia merindukan kasih sayang Nisa bagaikan seorang ibu, begitu tulus.


Nisa menemukan Nana bersama saudara kembarnya Nino di jalanan pingsan di samping tempat sampah, Mereka kelaparan, Nana dan Nino melihat Nisa bagaikan seorang malaikat.


Umi ikut menangis melihat Nana yang berdoa dengan tulus.


Sebuah Mobil putih memasuki perkarangan pesantren di ikuti mobil Van kotak berisi banyak barang.


Seorang Pria Tampa dengan pakaian rapi membukakan pintu untuk Nisa, wanita cantik dengan gamis panjang dan jilbab lebar berwarna merah muda.


Berjalan bersama mendekati Abi yang sedang duduk melihat kedatangan mereka.


" Assalamualaikum Abi" salam lembut Nisa dan mencium tangan Abi bergantian dengan Stevent.


" Waalaikumsalam, putriku" jawab Abi tersenyum bahagia.


Umi dan Nana melihat ke arah Mobil Nisa,.


" Umi, Allah mengabulkan doa Nana" Nana segera berlari ke arah Nisa.


" Kak Nisa Nana kangen" Nisa menoleh ke arah Nana yang berlari dengan lincah.


" Hati - hati Sayang" Nisa berjalan mendekati Nana, ia berjongkok dan langsung mendapatkan pelukan erat dari Nana.


Tangan kecil melingkar di leher Nisa, Nana mencium pipi Nisa.


" Oh no, apa yang dilakukan anak itu,, dia sangat kotor dan, dia memeluk dan mencium Istriku" Stevent mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia menarik gadis kecil dan melemparnya jauh dari Nisa.


"Hey, gadis kecil menjauhlah dari wanitaku" Stevent berteriak di dalam hatinya, ia menatap tajam ke arah Nana.


Umi berjalan mendekati Nisa.


" Apa kabar sayang" Umi mengusap kepala Nisa yang tertutup hijab.


" Alhamdulilah sehat Umi" Nisa beranjak dari tanah dan menggedong Nana dengan air mata yang telah membasahi Jilbab Nisa.


" Oh tidak sayang, apa yang kamu lakukan menggendong anak orang" Stevent hanya bisa menahan diri dan mengumpat di dalam hati.

__ADS_1


" Mari Nak, kita masuk" Abi mengajak Stevent untuk masuk ke rumah.


" Tidak apa Abi saya akan menunggu Istri saya" jawab Stevent, ia ingin mengawasi Nisa.


Seorang anak laki-laki berlari dan memeluk kaki Nisa, hampir membuat Nisa terjatuh karena kehilangan keseimbangan.


Dengan sigap Stevent menahan tubuh Nisa.


" Hei bocah, kamu bisa melukai Istriku" mata tajam Stevent menatap bocah laki-laki yang langsung menangis ketakutan melihat Stevent.


" Sayang, jangan menangis " Nisa menurunkan Nana dari gendongannya dan berjongkok memeluk Nino kembaran Nina.


" Nini takut sama Om jahat" Nino mengeratkan pelukan menyembunyikan wajahnya.


Stevent semakin geram, melihat anak laki-laki memeluk erat Nisa dan pura-pura takut kepada dirinya.


Nino menjulurkan lidahnya kepada Stevent memancing emosi Stevent, yang mengepalkan tangannya, ia benar-benar ingin menarik bocah itu dari pelukan Nisa dan melemparnya ke lautan.


" Sayang, baju kamu kotor, ayo kita masuk ke rumah" Stevent menekan suaranya memelototi Nino.


" Kak Nisa, kepala Nino sakit" Nino membaringkan kepalanya di pundak Nisa.


" Ayo kita kembali ke kamar" Nisa menggedong Nino dan Nana berjalan menuju asrama.


" Sayang" Stevent membeku, ia melihat gamis Nisa terlihat kotor, Nino melambaikan tangannya kepada Stevent.


" Bocah nakal , kamu telah merebut perhatian istriku" Stevent mengepalkan tangannya.


" Ayo kita minum kopi di dalam" Abi merangkul pundak Stevent.


Dengan kesal Stevent masuk ke dalam rumah dan duduk bersama Abi.


" Nak Stevent, jika kamu ingin istirahat ke kamar di atas" ucap Umi.


Kamar sederhana, sebuah tempat tidur, lemari pakaian, dan meja rias, sebuah ruangan khusus sholat.


Kamar yang sejuk dan nyaman,, membuat Stevent merasa ngantuk.


Stevent melepaskan jaketnya dan kemeja, meletakkan di gantungan.


Stevent merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seorang perawan yang kini menjadi miliknya.


Stevent tertidur dengan nyenyak, ia sangat bahagia dapat berada di kamar Nisa.


***


Nisa menggantikan pakaian Nino yang terlihat kotor, dan mengeluarkan perlengkapan kesehatan dari tasnya.


Nisa sengaja mengajak Stevent ke pesantren karena telah lama Tidak memeriksa dan berkunjung.


" Kak Nisa adalah malaikat Nino dan Nana " dua saudara kembar memeluk Nisa.


" Nino dan Nana harus jadi anak yang Sholeh dan Sholehah" Nisa mengusap kepala kedua anak kecil.


" Semuanya tunggu di Aula kakak akan membagikan hadiah" Nisa tersenyum.


" yeeee" semua berteriak Bahagia.


Nisa meminta beberapa pengawal mengeluarkan barang-barang yang ada di mobil dan meletakkan di aula pesantren.


Nisa kembali ke rumah, ia ingin Stevent membagi hadiah untuk anak-anak.

__ADS_1


" assalamualaikum" Nisa berjalan masuk dan melihat rumah sepi, Abi dan Umi membantu menurunkan barang-barang.


" Sayang, kamu dimana?" Nisa mencari Nisa setiap sudut ruangan.


" Apakah dia di kamar ku?" pikir Nisa yang segera menaiki tangga kamarnya.


Nisa melihat Stevent tertidur pulas di atas tempat tidurnya.


" Sayang, bangun, kita bagikan hadiah untuk anak-anak" Nisa mengusap rambut Stevent.


Dengan sigap Stevent menarik tangan Nisa hingga jatuh di pelukannya.


" Lihat, kamu sangat kotor,, ih " Stevent memicingkan matanya.


" Kenapa kamu memelukku?" Nisa tersenyum.


" Karena kamu istriku" Stevent mengeratkan pelukannya.


" Lepaskan, aku akan mandi dan ganti pakaian" Nisa turun dari tempat tidur.


Stevent menatap Nisa, ia memperhatikan gamis jilbab Nisa yang kotor.


Dengan cepat Nisa mandi dan menggantikan pakaiannya.


Stevent memeluk Nisa,


" Ini baru Istri cantikku" Stevent mencium pipi Nisa.


" Ayo, Kita turun" Nisa menarik tangan Stevent menuruni .


Stevent melihat anak-anak di Aula, dengan sangat bahagia menerima hadiah, kebahagiaan yang tidak pernah Stevent lihat sebelumnya.


Barang yang dianggap Stevent tidak berharga namun begitu bermakna dan dibutuhkan oleh mereka


Senyuman dan ketulusan.


" Om, Terima kasih atas hadiahnya" seorang gadis kecil menarik celana Stevent.


Stevent tersenyum melihat gadis kecil dengan kuncir Kudanya.


" Kapan aku punya anak?" pikir Stevent menggendong Gadis kecil.


Nisa tersenyum melihat Stevent menggendong gadis kecil terlihat bahagia mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


Stevent membalas senyuman Nisa dengan senyuman Aneh, ia berjalan mendekat Nisa dan berbisik.


" Kapan kamu akan memberikan aku bayi cantik dan tampan?" Stevent Mencium sekilas pipi Nisa dan gadis kecil mencium pipi Stevent.


*****


****


***


**


*


*"*"*"*"*"*"*"*"*"*""*"*"*"*"*"*"*"*"*"*"*


**Thanks for Reading

__ADS_1


Tinggalkan Like , Komentar dan Vote yang banyak, Terimakasih.


Love You Readers**


__ADS_2