
(Favorit, like, komen, Vote, Bintang 5)
Angin berhembus kencang, Ombak menghempas bebatuan tinggi dan terjal sebagai dinding pembatas.
Air terjun yang langsung tumpah ke laut memberikan keindahan alam yang luar biasa.
Pantulan cahaya pada air memperlihatkan pelangi dengan warna warni menyilaukan.
Pemandangan alam yang sempurna ciptaan Tuhan, burung menari - nari di bawah langit kadang terbang menukik mengambil mangsa di lautan.
Beberapa anak kecil dengan pakaian lusuh dan kusam berlarian di pinggiran pantai tanpa alas kaki.
Bermain pasir menanti kedatangan orang tua mereka dari menangkap ikan.
Kulit hitam terbakar matahari tidak menghilangkan kebahagiaan para bocah di temani ibu mereka.
"Emak, kita mau bermain air terjun" teriak seorang bocah.
Seorang wanita paruh baya yang dipanggil emak hanya melambaikan tangannya tanda setuju.
Dengan kebahagian luar biasa para bocah berlari menuju air terjun raksasa.
"Kita main di tepi saja, sebelah sana bahaya" ucap salah satu yang telah remaja.
"Kak Dilo, apa itu?" seorang bocah hitam dengan rambut berantakan menarik baju kakaknya.
Mereka memperhatikan sesuatu yang ditunjukkan oleh adiknya.
"Itu tempat yang berbahaya" ucap remaja bernama Dilo.
"Kak Dilo jago berenang, pergilah mungkin itu harta Karun" ucap anak kecil bernama Lilo.
Dilo diam, ia berpikir, mungkin suatu saat nanti ia bisa keluar dari pulau terpencil ini.
Dilo segera membuka pakaiannya dan berenang melawan ombak melewati air terjun.
Tubuh Dilo sangat sakit bahkan terluka, tubuh yang terdorong ombak menghantam batu - batu penjaga pantai.
Dilo naik ke atas batu,dengan ragu ia mendekati tubuh manusia yang tidak bergerak.
Perlahan Dilo menyentuh dan membalikkan tubuh yang telah basah, wajah tampan dan pucat dengan mata terpejam.
Dilo meletakkan jarinya di atas lubang hidung pria yang tidak sadarkan diri.
Hembusan hangat nafas dapat Dilo rasakan.
"Ia masih hidup" ucap Dilo dan berpikir bagaimana cara membawa tubuh itu ke samping air terjun.
Tubuh Dilo yang jauh lebih kecil akan kesulitan membawa beban besar dan berat, ditambah lagi hantaman ombak yang ganas.
Dilo memperhatikan sekeliling bebatuan, ia melihat akar yang menjalar di atas batu pantai.
Menarik sekuat tenaga dan mengikat tubuh kekar pria itu pada tubuhnya dengan akar yang ia temukan.
Dilo kembari berenang perlahan dan berpegang pada tepian batuan, tubuhnya semakin sakit dan luka bertambah.
Darah mengalir dari tubuh Dilo dan pria yang berusaha ia selamatkan.
Para Bocah berteriak, "Aaaah Mayat" dan berlari menjauh dari Dilo.
"Hey Kembali bantu aku" teriak Dilo menahan sakit dan berat.
Dengan sedikit ragu para bocah kembali mendekati Dilo.
"Kemarilah tolong Kakak" ucap Dilo kesusahan.
"Apakah dia masih hidup? tanya Lilo
__ADS_1
"Ya, bantu Kakak bawa orang ini kerumah kita" ucap Dilo.
"Kak, tubuh kakak luka semua" ucap seorang bocah laki-laki.
"Ya, ini sangat perih" Dilo meringis menahan sakit.
"Aku akan memanggil emak" Lilo berlari menuju emak yang sedang membantu Ayah membawa hasil laut.
Dilo melepaskan tubuh pria dari punggungnya di atas pasir putih dan bersih.
"Emak, Ayah, Kak Dilo menemukan Manusia" ucap Lilo berlari membuat kaget semua orang.
"Apakah masih hidup?" tanya Ayah.
"Kata kak Dilo masih hidup" jawab polos Lilo.
"Bawakan hasil tangkapan pulang aku akan melihat Dilo" ucap Ayah kepada para ibu - ibu dan nelayan lainnya.
"Kami mau melihatnya" ucap seorang.
"Aku akan membawa pulang ke rumah kamu" ucap Ayah dan berlari mengikuti Lilo.
Dilo menekan perut pria yang ia temukan untuk mengeluarkan air.
Ayah mendekati Dilo.
"Iya masih hidup" ucap Dilo.
"Ayo kita bawa pulang" Ayah mengendong tubuh yang tidak sadarkan diri di punggungnya.
Walaupun tubuh ayah terlihat kecil tetapi tenaganya sangat kuat.
Ia berlari menuju perkampungan yang hanya terdiri atas 10 kepala keluarga.
Rumah - rumah panggung sederhana terbuat dari kayu yang hanya diikat dengan akar tumbuhan.
Membuka semua pakaian dan menggantikan dengan milik ayah yang kering.
Ayah dan Dilo menggosok tangan dan kaki pria itu dengan minyak yang dibuat alami dari tumbuhan di sekitar pulau.
Memberikan kehangatan pada tubuh putih bersih yang telah pucat dan berangsur-angsur kembali hangat dan merah.
Perlahan wajah tampan dengan bulu mata panjang membuka matanya.
Terbatuk-batuk dan tersedak memuntahkan air dari mulutnya.
"Syukurlah" Ayah menarik nafas lega.
"Minumlah" Ayah memberikan segelas air hangat yang dibuat dari rebusan dedaunan.
Pria asing dengan kulit putih bersih meminum habis air dari gelas.
"Tubuh kamu sangat kuat, siapa nama kamu nak?" tanya Ayah menepuk pundak kekar pria dengan pakai seadanya.
"Jordan" jawab pria itu tersenyum manis.
Senyuman kebahagiaan, ketika ia mengingatkan teriakan dan tangisan Aisyah untuk terakhir kalinya sebelum itu terjun ke jurang untuk menyelamatkan diri dari ledakan mobil.
"Aku tahu kamu peduli kepadaku" Jordan tersenyum dan berbicara di dalam hatinya.
Jordan merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya dalam senyuman.
Teringat kembali suara histeris Aisyah.
"Jorrdaaaaan"
Jordan membuka matanya.
__ADS_1
"Saya dimana Pak?" tanya Jordan.
"Pulau terpencil" Ucap Ayah.
"Terimakasih Anda telah menyelamatkan saya, saya akan membayar semuanya, membayar mahal untuk kehidupan kedua saya" ucap Jordan dan kembali duduk.
"Putra saya yang menolong anda" Ayah menunjukkan Dilo yang sedang diobati oleh emak. Seluruh tubuh Dilo penuh luka.
Jordan beranjak dari tempat tidur kayu dan berjalan mendekati Dilo.
"Aku akan memberikan semua yang kamu minta" Jordan mengusap kepala Dilo.
"Aku mau keluar dari pulau ini" ucap Dilo yakin.
"Kita akan keluar dari pulau ini, aku jadikan kamu sebagai putra angkat ku" Jordan memegang pundak Dilo dan tersenyum.
Dilo sangat bahagia mendengar ucapan Jordan.
"Bagaimana keluar dari pulau ini?" tanya Jordan.
"Beristirahat, kamu butuh tubuh yang sehat dan kuat untuk bisa keluar dari pulau ini" ucap Ayah.
"Baiklah, anggap saja saya sedang berlibur" Jordan tersenyum dan meregangkan otot-otot seksi miliknya.
Untuk bisa keluar dari pulau terpencil, mereka melewati dua jalur dan membutuhkan waktu berhari-hari.
Pertama jalur laut, dengan perahu nelayan, itu hanya bisa dilakukan jika angin tidak kencang dan gelombang kecil.
Kedua mendaki bukit terjal dan berbahaya, dengan hutan lebat dan rimbun.
Bertemu dengan hewan buas, ular besar dan hewan langka yang tidak bisa ditemukan di hutan lainnya.
Jordan benar-benar sangat bahagia karena ia masih diberi kesempatan untuk hidup.
Mengingat tatapan penyesalan Aisyah, dan teriakan ketakutan kehilangan dirinya adalah penyemangat Jordan untuk kembali.
Jordan berjalan sendirian ke tepi pantai, menikmati indahnya pemandangan yang masih alami.
Baju ayah yang tidak bisa dikancingkan memperlihatkan otot-otot kekar dan seksi.
Jordan duduk di atas batu menatap langit cerah dan tersenyum.
"Aisyah, kamu akan pulang ke rumah dengan sendirinya, membawa rasa bersalah dan penyesalan" Jordan memejamkan matanya.
Jordan berani terjun ke jurang karena ia melihat kesungguhan Aisyah yang ingin mengeluarkan dirinya dari dalam mobil.
Aisyah memberikan harapan kehidupan untuk Jordan.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
Mohon dukungannya untuk selalu tinggalkan Like, Komentar, Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊
__ADS_1