
Pesawat Jet pribadi milik Fauzan telah mendarat di bandara internasional.
Fauzan didampingi Asraf, pria cerdas yang masih sangat muda.
Tubuh terawat dengan keseluruhan biaya kehidupan di tanggung oleh Fauzan.
Sebuah mobil dari hotel tempat Fauzan menginap telah menunggu di depan pintu keluar bandara.
"Silahkan Tuan." Seorang sopir membuka pintu untuk Fauzan dan Asraf.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Hotel Star 5.
Asraf memperhatikan sekeliling jalanan, telah lama ia tidak kembali ke Indonesia.
"Apa kamu senang bisa kembali ke negara asal kamu?" Fauzan tersenyum melihat ke arah Asraf.
"Alhamdulillah Tuan, selama bisa bersama Anda kemana saja saya akan selalu bahagia." Asraf tersenyum.
"Aku tidak mengikat kamu, jika kamu mau bebas dan memilih tujuan sendiri silahkan." Fauzan tersenyum.
"Terimakasih Tuan, Insha Allah saya akan terus bersama anda sampai anda tidak menginginkan saya lagi." Asraf serius.
"Baiklah, aku telah memberikan kamu pilihan." Fauzan memperhatikan jalanan.
"Terimakasih Tuan." Asraf menoleh ke jalanan.
"Katakan dimana tempat tinggal kamu, selesai masalah pabrik kita bisa berkunjung." Fauzan menoleh ke arah Asraf.
"Apakah kamu punya saudara?" tanya Fauzan.
"Aku yatim pintu dan memiliki seorang kakak perempuan." Asraf melihat ke arah Fauzan.
"Apakah kamu masih berhubungan dengan kakak kamu?" tanya Fauzan.
"Masih Tuan, dia menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan guru mengaji." Asraf tersenyum.
"Alhamdulilah, semuanya adalah amal jariyah." Fauzan menepuk pundak Asraf.
"Terimakasih Tuan." Asraf tersenyum.
Mobil telah memasuki tempat parkir Hotel Star 5.
"Apakah Anda menginap di sini Tuan?" tanya Asraf keluar dari mobil.
"Ya." Fauzan tersenyum.
Asraf tidak percaya seorang pangeran yang memiliki banyak uang menginap di hotel sederhana.
"Kenapa anda memilih hotel ini?" tanya Asraf heran.
"Atas permintaan Ayesha." Fauzan tersenyum berjalan menuju resepsionis.
"Kamu menginap di kamar Ayesha, masih belum check out." Fauzan meminta kunci kamar dan menyerahkan kepada Asraf.
"Baik Tuan." Asraf mengikuti langkah kaki Fauzan menuju kamar.
***
Viona bermain ayunan di depan rumah Abi Ramadhan, ia tidak bisa pergi ke rumah sakit karena di larang Stevent.
"Viona, apa kamu mau ikut ke Restoran Abi?" Umi keluar dari rumah.
"Mau, aku bisa membantu Abi dan Umi di restoran." Viona turun dari ayunan, menggandeng tangan Umi.
"Kita makan siang bersama Sayang." Umi mengusap kepala Viona.
Viona sangat bahagia bersama Umi, tetapi ada rasa rindu dan sedih karena telah lama tidak bertemu dengan Mama Veronika.
Viona dan Umi berjalan bersama menuju restoran.
"Duduklah di sini." Umi menarik kursi untuk Viona pada meja dekat dari pintu.
"Baik Umi." Viona tersenyum, ia melihat kearah restoran.
"Apakah Fauzan akan kembali ke Indonesia?" Viona merebahkan kepalanya di atas meja.
Dua pria tampan berjalan menuju restoran dan memilih meja di samping pintu bersebelahan dengan meja Viona.
"Aku berhalusinasi melihat Fauzan dengan seorang pria tampan." Viona tersenyum.
__ADS_1
Fauzan dan Asraf duduk dan memesan makanan.
"Kenapa dia begitu nyata?" Viona tersenyum memandang Fauzan.
"Aaah, aku bisa gila." Viona berteriak membuat Fauzan dan pengunjung melihat ke arah Viona.
"Maaf." Viona tersenyum dan menutup wajahnya.
Fauzan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Viona.
"Dia selalu bertingkah seperti anak kecil sangat lucu." Fauzan tersenyum.
"Apa anda mengenalnya Tuan?" tanya Asraf.
"Apakah kamu sudah membaca data tentang Zayn?" Fauzan balik bertanya.
"Sudah Tuan, ada empat nama yang menjadi fokus kita, Stevent, Alexander, Zayn dan Viona." Asraf serius.
"Gadis itu adalah Viona." Fauzan melirik ke arah Viona yang masih menyembunyikan wajahnya di balik tangannya.
"Baik Tuan, saya akan mengingatnya." Asraf ikut melihat Viona.
Pelayan mengantarkan makanan ke meja Viona dan menyusun dengan rapi.
"Silahkan Nona Viona." Pelayan menunduk dan pamit.
"Dimana Umi?" Viona menahan tangan pelayan.
"Umi di ruangan Abi." Pelayan meninggalkan Viona.
"Terimakasih." Viona melihat ke arah meja Fauzan yang tersenyum kepada dirinya.
"Aku bisa gila, melihat semua pria seakan melihat Fauzan." Viona tidak membalas senyuman Fauzan, ia meneguk jus alpukat.
"Tuan, sepertinya Nona Viona tidak mengenali Anda." Asraf melihat Viona yang tidak perduli kepada Fauzan.
"Mungkin dia tidak melihat diriku, sebaiknya kita memesan makanan." Fauzan membuka daftar menu yang ada di atas meja.
Abi dan Umi berjalan mendekati Viona untuk makna bersama.
"Viona Sayang, maaf membuat kamu menunggu." Umi mengusap kepala Viona.
Viona melihat sekeliling, menyakinkan matanya yang tidak bisa menghapus bayangan Fauzan.
"Kamu mencari siapa nak?" Abi melihat Viona.
"Ah, tidak Abi, mari makan." Viona tersenyum, ia segera membaca doa sebelum makan.
"Hanya pria itu yang terlihat seperti Fauzan." Viona kembali kearah Fauzan hingga berkali-kali.
"Ya Tuhan, apakah dia pangeran Fauzan." Viona terus memperhatikan Fauzan berulangkali untuk menyakinkan matanya.
"Viona, tidak baik memainkan makanan." Umi menyentuh tangan Viona.
"Maaf Umi." Viona segera menikmati makanannya dan berusaha melupakan bayangan Fauzan.
Pesanan Fauzan dan Asraf telah tertata rapi di meja, menu makanan Indonesia.
"Apa kamu merindukan masakan Indonesia?" Fauzan tersenyum melihat Asraf.
"Ya Tuan, Terimakasih." Asraf tersenyum.
"Anda adalah pria yang sangat baik seperti seorang malaikat." Asraf tersenyum.
"Kamu berlebihan." Fauzan tersenyum.
"Silahkan Tuan." Pelayan hampir tidak ingin mengalihkan pandangan dari dua pria tampan.
"Terimakasih." Fauzan bahkan tidak melihat kearah pelayan.
Fauzan dan Asraf menikmati makan siang bersama tanpa ada yang berbicara, begitu elegan.
Viona telah menyelesaikan makan bersama Abi dan Umi.
Ia membantu pelayan restoran membersihkan meja makan.
"Viona, jika kamu mau menyusul Umi, mintalah pelayan untuk mengantar dirimu." Umi tersenyum.
"Baik Umi, Aku mau bekerja di restoran di selama liburan apa boleh?" tanya Viona.
__ADS_1
"Tentu saja, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu suka tetapi dalam batasannya." Abi tersenyum.
"Siap Abi." Viona memberi hormat penuh semangat.
Abi dan Umi bergandengan dengan mesra berjalan bersama menuju ruang kerja Abi.
Viona membereskan peralatan makan dan membersihkan meja
Ia melakukan semua pekerjaan yang bisa ia lakukan. Viona merasa bosan terus berada di pesantren tanpa melakukan apapun.
Viona berada di dapur dan mendengar beberapa pelayan yang sedang berbicara tentang dua pria tampan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Viona penasaran.
"Nona Viona, lihatlah dua pria di dekat pintu mereka sangat tampan." Seorang pelayan wanita menunjukkan jarinya.
"Kamu benar, satu orang tampan dengan wajah pria dewasa dan satunya seperti anak sekolah, mereka seperti selebritis saja." Seorang lagi berbicara.
"Aku rasa salah satu dari pria itu mirip pangeran Fauzan." Viona memandang Fauzan dari kejauhan
"Siapa pangeran Fauzan?" tanya para pelayan wanita serempak.
"Kalian bisa mencari di google." Viona melanjutkan pekerjaannya.
Para pelayan segera berselancar di dunia maya dan mencari sebuah nama Pangeran Fauzan.
"Aaah." Mereka kompak berteriak, membuat gelas di Viona terjatuh karena terkejut.
"Ya Allah." tangan Viona bergetar.
"Nona Viona apak kamu baik-baik saja?" Seorang segera membantu Viona membersihkan pecahan gelas.
"Apa Abi akan marah?" Viona gugup.
"Tidak usah khawatir Abi dan Umi sangat baik, mereka pasti lebih khawatir pada dirimu." Seorang pelayan menyentuh pundak Viona.
"Terimakasih." Viona tersenyum.
"Nona Viona, pria itu benar Pangeran Fauzan." Seorang pelayan menunjukkan gambar di layar ponselnya.
"Apa?" Gantian Viona yang berteriak, ia merebut ponsel dari tangan pelayan.
Hingga rekan lain ikut memecahkan gelas dan piring, bahkan beberapa pengunjung sampai menoleh ke arah dapur.
Seakan sedang ada keributan di dapur sehingga semua orang terkejut.
"Apa yang terjadi?" Seorang chef mendekati dapur dan terkejut melihat pecahan gelas dan piring yang berserakan di lantai.
"Maaf, maafkan saya." Viona ketakutan.
"Apa yang terjadi?" Chef mengulangi pertanyaannya.
"Aku yang telah membuat dapur berantakan." Viona ketakutan, baru pertama kali ia masuk ke dapur dan sudah membuat kekacauan.
"Bersihkan semua serpihan kaca dengan hati-hati jangan sampai terluka." Chef wanita meninggalkan mereka yang terdiam.
"Aku akan membersihkannya." Viona segera mengambil pecahan gelas dan piring tanpa sarung tangan.
Ia tidak tahu harus melakukan apa karena kebingungan dan ketakutan.
"Aw." Tangan Viona berdarah, luka sobekan pada telapak tangan dan jarinya.
"Nona Viona hati-hati." Seorang pelayan menarik tangan Viona.
Air mata telah membasahi wajah Viona, ia merasakan perih di telapak tangannya.
"Ya Tuhan, lukanya sangat lebar dan dalam, apa kamu tidak pernah ke dapur?" pelayan lain menarik Viona keluar dari dapur.
Viona hanya menggelengkan kepalanya, air mata terus mengalir, tangannya gemetar.
"Tenanglah, duduk di sini." Seorang membungkus tangan Viona dengan kain berlari ke ruangan Abi.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.