
Mobil Stevent melaju santai menuju Rumah Sakit tempat Nisa pernah bekerja.
Stevent menggandeng tangan Nisa berjalan menuju kamar Angel, senyum, sapa dan salam terbiasa Nisa lakukan ketika bertemu dengan semua orang.
Nisa mengetuk dan membuka pintu kamar Angel, 3 pasang mata melihat ke arah Nisa dan Stevent.
Nyonya Davina beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Nisa.
" Dokter Nisa, apa kabar?" Nyonya Davina mengulurkan tangan dan memeluk Nisa.
" Alhamdulilah, saya sehat, Nyonya apa kabar?" tanya Nisa balik.
" Saya baik, ini siapa?" Tanya Nyonya Davina.
" Perkenalkan Nyonya, suami saya, Stevent Lu Alexander" Nisa memperkenalkan Stevent.
" Halo Tuan Stevent, rasanya nama Anda sangat familiar" Nyonya Davina berjabat tangan dengan Stevent.
" Tentu saja, nama saya familiar, saya adalah pemilik perusahaan raksasa yang ada hampir di seluruh Negara" Stevent melirik Samuel.
" Ya Tuhan, Anda adalah Tuan Stevent, Saya sangat beruntung bertemu Anda" Nyonya Davina terkejut.
" Tapi lebih beruntung saya mendapatkan istri seorang Dokter Nisa" Stevent mencium dahi Nisa yang tersipu malu dan Nyonya Davina tersenyum.
" Nyonya, bolehkah kami menemui Angel?" tanya Nisa lembut.
" Tentu saja, Silahkan" ucap Nyonya Davina.
Nisa menarik tangan Stevent dan menggenggamnya berjalan menuju tempat tidur Angel.
" Oh ya, kalian berdua silahkan keluar !" perintah Stevent.
Tanpa bicara sepatah kata pun Samuel segera meninggalkan ruangan ditemani Erick.
Nisa mendekati Angel, menggenggam tangannya.
" Angel Sayang, Apa kabar?" Nisa berbisik di telinga Angel dan mencium dahi Angel.
Perlahan mata Angel terbuka dan tersenyum kepada Nisa.
" Mama Nisa" Suara Angel lembut.
Mata Stevent melotot, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan.
" Sayang, perkenalan ini Suami Dokter, namanya Om Stevent" Nisa menyatukan tangan Stevent dengan Angel.
Stevent dapat merasakan tangan lembut dan dingin.
" Halo Om, nama saya Angel" Angel tersenyum.
Stevent hanya tersenyum memandang wajah pucat Angel dan mengusap dahi Angel, untuk menghapus bekas ciuman Nisa.
Stevent tidak mau seseorang akan mengambil ciuman istri yang tertinggal di dahi Angel.
" Angel sudah janji mau sembuh, kenapa sekarang sakit lagi?" Nisa mengusap rambut pirang Angel.
" Angel Marah sama Papa karena pecat Mama Nisa" Angel hampir menangis.
Nisa bingung, Papa Angel adalah Samuel berarti ia direktur sekaligus presedir Rumah Sakit.
" Tidak apa, Om senang Papa kamu pecat Istri Om" Stevent merangkul dan mencium pipi Nisa.
Nyonya Davina tersenyum melihat kemesraan Stevent dan Nisa.
" Kenapa?" tanya Angel heran.
" Supaya Dokter Nisa hanya akan merawat Om saja" Stevent tersenyum puas.
" Angel Sayang, coba Dokter periksa dulu" Nisa mengeluarkan peralatan medis miliknya dan mulai memeriksa Angel.
Nyonya Davina mendekat, ia memperhatikan Nisa dalam memeriksa pasien dengan telaten dan lembut.
" Kondisi Angel sudah stabil, besok sudah bisa pulang" ucap Nisa merapikan peralatan medis.
Angel sangat senang ketika mendengar Papanya berkata Dokter Nisa akan datang menjenguk dirinya, rasa bahagia dapat memberikan sugesti kesembuhan lebih cepat.
" Mama Nisa, Maukah menemani Angel lagi bermain di taman sebelum Angel pulang ke rumah ?" tanya Angel penuh harap.
" Tentu saja, dan Om Stevent akan ikut bersama kita, boleh kan ? tanya Nisa melirik Stevent dan Angel mengangguk.
__ADS_1
Nyonya Davina mengambil kursi roda, Stevent menggendong Angel dan meletakkan di atas kursi roda.
Nisa ingin mendorong Angel, namun Stevent melarangnya.
" Sayang berjalan di sampingku" bisik Stevent.
Mereka berjalan melewati Samuel dan Erick yang diam mematung melihat Angel bersama orang lain.
" Bro, sepertinya Angel lebih pantas menjadi putri mereka berdua" Erick menepuk pundak Samuel.
" Apakah kamu sudah bosan hidup?" Samuel memelototi Erick.
" Tidak, Aku hanya kasihan kepada pria sempurna di samping ku ternyata ada yang lebih sempurna lagi dari dirinya " Erick berjalan perlahan menjauhi Samuel agar tidak menerima amukan Samuel.
Samuel mengambil jarak aman untuk bisa melihat Angel bersama Nisa dan Stevent.
Mereka bertiga telah sampai di taman belakang, taman yang indah, sejuk dan nyaman.
" Sayang, ternyata ada taman di rumah Sakit" Stevent mengusap kepala Nisa yang ditutupi kerudung.
" Tentu saja, pertama aku datang kemari taman ini tidak terawat dan hampir terbuang, aku mengajak petugas kebersihan dan tukang kebun, untuk kembali memanfaatkan taman ini" jelas Nisa.
Stevent membantu menurunkan Angel dari kursi roda dan duduk bersama di atas rumput.
Angel menyentuh pipi Stevent dan Nisa,
" Andai Angel punya keluarga lengkap, pasti sangat bahagia" Angel tersenyum.
Stevent menarikan salah satu alisnya, ia berpikir arti kalimat Angel.
" Angel, punya Oma, Papa dan Om Erick, mereka semua adalah keluarga dan cukup lengkap untuk Angel" Nisa mengusap pipi lembut Angel.
" Apa Angel pernah melihat anak kecil meminta - minta di jalanan?" tanya Nisa dan Angel mengangguk.
" Mereka, tidak punya rumah, tidak punya orang tua, bahkan tidak punya apa-apa" Nisa menggenggam tangan Angel. Stevent memperhatikan Istrinya yang berusaha untuk menghibur gadis kecil Sakit.
" Dimana mereka tinggal, bagaimana Mereka hidup?" tanya Angel sedih.
" Mereka tinggal di mana saja, ada di bawah jembatan, di pinggir jalan, dekat tempat sampah, yang penting mereka bisa berteduh dan berusaha menjalani kehidupan dengan tabah" jelas Nisa.
" Angel punya segalanya, yang harus Angel lakukan adalah mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan dengan selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan" Nisa mengusap rambut pirang Angel.
" Angel jauh lebih beruntung dari anak-anak jalanan, jadi Angel harus bersemangat untuk sembuh dan sehat kembali, bisakan?" Nisa meletakkan kedua tangan lembutnya di pipi Angel dan menatap langsung bola mata Angel.
" Anak hebat" Nisa mencium pipi Angel dan Stevent langsung mengusap pipi Angel dengan tangan untuk menghilangkan bekas ciuman Nisa.
Nisa hanya tersenyum melihat tingkah Stevent.
Dua orang pria mengintip di balik pohon.
Samuel berharap ia yang berada di samping Nisa dan Angel, namun itu tidak mungkin, ia ingin melihat dan merasakan kebahagiaan Putrinya dari dekat.
Sepasang mata tajam menatap Nisa dari gedung lantai dua di balik jendela kaca, ia tersenyum menahan rindu yang mendalam.
" Kamu semakin cantik" ucap Pria yang telah mencintai Nisa sejak mereka berjumpa di kampus kedokteran.
Pria tampan penuh wibawa dan kecerdasan luar biasa dalam bidang Kimia, tidak ada yang menyangka ada jiwa pembunuh di balik kelembutannya.
Pemilik beberapa rumah Sakit Swasta, dan bekerjasama dengan Samuel dalam pemasokan obat-obatan dan organ yang dibutuhkan. Mereka berdua telah bersahabat sejak kuliah.
Erick melihat layar ponselnya, sebuah pesan dari sekretaris Samuel.
" Bro, Nathan sudah menunggu di ruang pribadi kamu " Erick berbisik di telinga Samuel.
" Baiklah, ayo temui Nathan" Samuel dan Erick meninggalkan Stevent, Nisa dan Angel di taman, Nyonya Davina duduk di kursi tunggu di koridor memperhatikan Putranya.
Samuel dan Erick berjalan cepat menuju ruang meeting.
Pintu terbuka Samuel melihat Nathan berdiri di balik kaca jendela melihat seorang di bawah, Roy duduk di Sofa dan segera berdiri ketika melihat Samuel dan Erick datang.
" Halo Nathan, Apa kabar? " sapa Samuel mengulurkan tangannya.
" Halo Sam" Nathan menerima uluran tangan Samuel dan mereka berpelukan.
Samuel dan Nathan adalah teman satu kampus sejak Nathan pindah ke luar negeri, meninggalkan Nisa dan mereka Terus bekerjasama sama dari sejak kuliah hingga saat ini.
" Bagaimana kabar putrimu" tanya Nathan duduk di samping Samuel.
Roy pindah, ia berjabat tangan dengan Erick dan berbincang berdua, tidak ingin mengganggu dua sahabat.
__ADS_1
" Putriku baik, ia sudah selesai di operasi dan sekarang masa pemulihan" jelas Samuel .
" Syukurlah" Nathan menepuk pundak Samuel.
" Bagaimana dengan Cinta pertama kamu? apakah sudah bertemu kembali?" Samuel memandang Nathan.
" Aku tidak bisa memiliki dirinya" Nathan menyenderkan punggungnya ke Sofa.
" Apakah dia sudah menikah?" tanya Samuel penasaran.
" Yah" Jawab Nathan singkat.
" Aku lebih sial lagi, di jebak seorang wanita sehingga memiliki Putri diusia muda" kesal Samuel.
" Kamu telah merasakan nikmatnya bercinta Bro" Nathan menepuk pundak Samuel dan menahan tawa.
" Melakukan dengan pengaruh obat tidak ada nikmatnya, terasa terpaksa, seakan tidak sadar kita telah bercinta Tidak ada kepuasan sama sekali " ucap Samuel kesal.
" Hahaha" Nathan tertawa.
" Makanya Bro, jangan bermain dengan wanita" Nathan meneguk minuman kaleng yang telah tersedia di meja.
" Bagaimana dengan penyambutan diriku?" tanya Samuel.
" Malam ini, Tempat biasa, aku akan kenalkan kamu dengan adik gilaku Nayla dan banyak lagi wanita di sana" ucap Nathan.
" Dirimu, sudah punya kekasih baru?" tanya Samuel.
" Aku belum bisa menemukan yang seperti dia" Nathan memejamkan matanya.
" Kamu bahkan tidak ingin menyebutkan namanya kepadaku" ucap Samuel kesal.
" Aku tidak mau menambah daftar Pria yang jatuh cinta kepadanya" Nathan tersenyum.
" Baiklah, Baiklah, sekarang kita bicarakan bisnis, para wanita bisa merusak bisnis kita" tegas Samuel.
" Roy, tunjukkan stok obat yang kita punya" perintah Nathan.
Erick segera mengunci pintu dan menutup semua gorden.
Roy menyambungkan laptop dengan proyektor.
Menampilkan jenis obat dan kegunaannya, dan Virus berbahaya yang dapat digunakan untuk membunuh tanpa meninggalkan jejak serta daftar organ tubuh manusia yang dapat di pesan.
Samuel sama seorang ahli kimia sama dengan Nathan, Namun ia tidak mendalami ilmunya karena harus mewarisi perusahaan dari orang tuanya dan menjadi pengusaha sukses dalam bidang kesehatan.
Bisnis dalam bidang Kesehatan adalah peluang besar untuk mendapatkan keuntungan.
Semua orang pasti sakit, semua orang butuh obat dan berobat. Kesehatan itu mahal harganya.
Kerjasama yang sempurna antara Samuel dan Nathan, pembisnis di dunia kesehatan.
Tidak ada yang bisa menghentikan bisnis besar yang mereka berdua jalankan, Bisnis saling menguntungkan, bisnis ilegal di balik perusahaan legal.
Sahabat saling berpelukan, menghitung keuntungan yang mereka dapatkan dari memeras orang kaya yang menginginkan kesembuhan dan kesehatan.
Memanfaatkan orang-orang yang membutuhkan uang demi melanjutkan kehidupan dan rela menjual murah anggota keluarga mereka yang sedang sakit parah dan tidak memiliki Biaya pengobatan.
****
***
**
*
*** *Terimakasih ***
*
**
***
***
Thanks for Reading
Terimakasih atas Like, komen dan Vote yang banyak.
__ADS_1
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin.
♥️ Love You Readers 💓**