Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Penolakan


__ADS_3

Ruang perawatan Stevent, Dini dan Reno mengetuk pintu dan masuk di ikuti seorang dokter wanita.


"Selamat pagi Tuan Stevent, bagaimana keadaan anda hari ini?" Dokter tersenyum mendekati diri tepat di samping Stevent.


Tidak ada jawaban ia menatap tajam kearah Dokter.


Jhonny berjalan mendekati Dokter.


"Selamat pagi dokter, Tuan saya sudah lebih baik" jawab Jhonny.


"Permisi" Dokter itu akan menyentuh dada Stevent, karena ia mau memeriksa perkembangan jahitan pasca operasi, tapi Stevent menepis tangan dokter.


"Dimana dokter saya" Stevent menatap tajam.


"Dokter anda?" Dokter wanita bernama Yuliana mengusap tangannya terasa sakit, ia melihat Dini dan Reno.


"Dokter Nisa sedang membantu Dokter Daniel Operasi" jawab Dini.


"Tuan Stevent saya hanya mau memastikan, luka anda telah kering, karena Dokter Nisa berpesan anda sudah bisa pulang hari ini." jelas dokter Yuliana.


"Biarkan perawat itu yg melakukannya" Stevent menunjuk ke arah Roni.


"Baik Tuan" Roni mendekat dan segera membuka balutan kain kasa pada dada Stevent. Ia memeriksa luka jahitan pasca operasi.


" Luka anda sudah pulih, anda hanya perlu memberikan salep penghilang bekas luka" Reno menjelaskan.


"Baiklah," Jawab Stevent.


"Maaf Tuan, kami akan membantu Anda merapikan dan melepaskan peralatan medis" ucap Roni


"Silahkan" jawab Jhonny, Stevent merebahkan tubuhnya.


"Baiklah Tuan Jhonny saya permisi" Dokter Yuliana berlalu keluar Ruangan, ia sangat kesal mendapatkan penolakan dari Stevent, hingga membuat tangannya sakit.


"Apakah dia juga pemuja Nisa? menjijikkan" kesal Yuliana dalam hati.


"Tuan, ini resep dari Dokter Nisa" Dini menyerahkan secarik kertas kepada Jhonny.


"Kenapa ia tidak menyerahkan resep itu sendiri kepadaku? " Stevent menatap Dini.


"Maaf Tuan, Dokter Nisa telah melakukan operasi dari pagi tadi dan belum keluar sampai sekarang" jelas Roni.


"Kami permisi" Dini dan Reno keluar dari kamar Stevent.


"Tuan , apakah kita pulang sekarang?" tanya Jhonny.


"Tidak, tunggu Dokter itu selesai operasi, awasi dia, perintahkan dia datang kemari" tegas Stevent.


"Baik Tuan" jawab Jhonny


Terdengar suara ponsel Jhonny, ia melihat dan membaca pesan masuk.


"Tuan, Anak buah kita telah menemukan keluarga Fathur bahkan sebelum kita mencarinya"


"Bagus, pergi awasi dokter Nisa!" perintah Stevent, Jhonny berjalan keluar ruangan ia segera menuju ruang Nisa.

__ADS_1


Nisa di temani Dini berjalan menuju ruangnya dan melihat Jhonny berdiri di depan pintu.


"Selamat pagi, ada perlu apa, Tuan?" Dini bertanya.


"Saya mau bertemu dengan Dokter Nisa" Jhonny melihat ke arah Nisa, wanita berkerudung dengan wajah cantik, putih dan bersih tersenyum manis.


"Maaf Nona, Tuan saya ingin anda datang ke ruangannya" ucap Jhonny


"Maaf , seharusnya Tuan anda sudah pulang ke rumah sejak tadi" Nisa tersenyum dan membuka pintu ruangannya.


Ia berjalan masuk melepaskan jas Putihnya, dan duduk di kursi. Jhonny dan Dini ikut masuk kedalam.


"Tuan saya hanya ingin mengucapkan terimakasih" ucap Jhonny


"Tidak perlu, itu adalah tugas saya sebagai seorang dokter dan tentu saja, sebagai sesama manusia kita harus saling membantu" jelas Nisa dan tersenyum.


"Mari Tuan" Dini mengantar Jhonny keluar ruangan hingga di depan pintu.


"Kenapa dokter Nisa tidak mau bertemu dengan Tuan Stevent?" tanya Jhonny kepada Dini.


"Karena itu tidak perlu" jawab Dini singkat dan Dini masuk ke dalam ruangan tapi tangannya di tahan oleh Jhonny.


"Maaf, bolehkah saya bertanya lagi?" ucap Jhonny.


"Tentu" jawab Dini.


"Apakah dokter Nisa sudah menikah" Tanya Jhonny.


"Jangankan menikah punya pacar saja tidak" Dini tersenyum.


"Karena terlalu banyak pilihan" Dini tertawa.


"Baiklah apa anda melihat banyak bunga dan parcel di dalam ruangan tadi?" tanya Dini.


"Ya" jawab Jhonny singkat.


"Itu semua dari penggemar, pencinta dan pemuja Dokter Nisa" Dini kembali tertawa dan masuk ke dalam ruangan, ia berpikir mungkin Jhonny juga sudah jatuh cinta kepada Nisa.


Tapi jika pikiran Dini benar, Jhonny tak akan berani, Karena Stevent telah mengikrarkan


Nisa adalah miliknya dan tidak akan ada manusia di dunia ini berani mendekati, apalagi menyentuh milik Stevent.


Jhonny kembali ke ruangan Stevent yang telah rapi dengan stelan jas hitam, dasi biru langit terikat rapi pada kemeja putihnya, Jhonny masuk ke dalam kamar, ia mengatakan semua yang telah ia dengar, ia lihat dan alami hari ini.


Stevent tersenyum licik, ia geram, hingga mengepalkan tangannya, ia telah di tolak, dan Stevent benci penolakan.


"Apakah saya harus menghancurkan rumah sakit ini?" tanya Stevent yang tidak butuh jawaban.


"Antarkan saya ke ruang dia" perintah Stevent yang mendapatkan anggukan dari Jhonny, dua orang bodyguard menunggu di depan pintu mengikuti Stevent dan Jhonny.


Biasanya Stevent hanya menunggu dan orang akan datang kepadanya tapi hari ini ia harus datang sendiri kepada seorang dokter wanita.


Jhonny dan bodyguard menunggu di depan pintu. Stevent masuk tanpa mengetuk pintu, hingga membuat Nisa terkejut, Stevent melihat ruangan di penuhi buket bunga dan parcel buah, Nisa baru saja akan keluar dari balik mejanya, tapi Stevent sudah berada di depannya.


Stevent menekan kedua tangannya di kiri dan kanan kursi putar milik Nisa, hingga Nisa kembali terduduk.

__ADS_1


Stevent mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa hingga ia bisa merasakan hangatnya hembusan nafas dari hidung dan mulut Stevent, ingin sekali Nisa mendorong dada Stevent tapi itu akan membuat luka pasca operasi terbuka.


Nisa hanya bisa terdiam membeku. Nisa berusaha untuk tidak melakukan gerakan apa pun, agar tidak bersentuhan dengan Stevent. Jika ia beranjak dari kursi maka wajahnya akan menabrak wajah Stevent.


"Kenapa kamu menolakku?" tanya Stevent menatap wajah Nisa, ia meneliti setiap sudut wajah Nisa dari, alis tebal, bulu mata lentik bola mata bulat , hidung mancung, dan bibir seksi berwarna merah muda.


Nisa memejamkan matanya dan mengeluarkan bulir bening melalui sudut matanya, ia hanya berdoa di dalam hati berharap Tuhan akan selalu melindunginya, dan berharap Stevent tidak bertindak lebih jauh lagi.


Melihat ada butiran bening yang membasahi pipi putih dan mulus, Stevent melepaskan tangannya dari kursi dan mundur beberapa langkah.


Merasa terlepas dari bahaya Nisa membuka matanya perlahan, Ia menatap tajam sekilas ke arah Stevent yang kini berjarak lima langkah dari tempat duduk Nisa.


Ada guratan kebencian di mata Nisa, ia segera menundukkan pandangannya.


"Apa yang Anda inginkan?" tanya Nisa menarik nafas yang dari tadi ia tahan.


"Aku menginginkan kamu" jawab Stevent.


"Maaf saya tidak bisa, dan saya harap anda segera meninggalkan ruangan saya" Nisa tetap berusaha berbicara lembut, menahan kesal dan sesak di dadanya. Ini pertama kali ia bertemu dengan seorang seperti Stevent.


Mata Stevent memerah ini pertama kali ia di usir dan yang mengusirnya adalah seorang wanita berjilbab, selama ini ia selalu bertemu dengan wanita seksi yang berusaha menggodanya, Stevent mau maju mendekati Nisa.


"Jangan mendekat" perintah Nisa ia telah menekan tombol keamanan yang berada di atas meja tanpa sepengetahuan Stevent.


Stevent mengepalkan tangannya, ia terasa kacau dan bingung.


Terdengar keributan di depan pintu ruangan Nisa, Jhonny menenangkan bodyguard Stevent agar tidak terjadi perkelahian. Petugas keamanan masuk ke dalam ruangan Nisa.


"Bawa Tuan ini keluar dari ruangan saya" Nisa menahan emosi.


Tidak ada petugas keamanan berani menyentuh Stevent, dengan tatapan tajam Stevent melihat Nisa yang menundukkan kepalanya, Nisa tidak melihat Stevent yang berjalan meninggalkan ruangan Stevent.


Dini yang dari tadi di tahan di luar dan di larang masuk oleh Jhonny sangat khawatir, ia segera mendekat ke Nisa yang terduduk di kursinya.


"Dokter, apa yang terjadi?" tanya Dini.


"Entahlah, tubuhku sangat lemas, pria itu telah mengisap semua tenagaku, aku tidak ingin lagi bertemu dengannya, sangat mengerikan." ucap Nisa.


"Dokter bisa beladiri" ucap Dini.


"Semua kekuatan ku hilang" Nisa membuka parcel buah, mengambil buah anggur mencuci dengan air minum dan memakannya dengan lahap.


"Sepertinya Dokter Nisa bertemu dengan penggemar fanatik dan Gila." bisik Dini dalam hati, ia melihat Nisa seakan depresi setelah menghadapi Stevent.


***


Stevent tiba di istananya, di sambut oleh adiknya. Stevent langsung menuju kamarnya untuk beristirahat dan menenangkan pikirannya yang telah kacau oleh Dokter Nisa.


" Aku akan mendapatkan dirimu, secepatnya" Stevent tersenyum.


πŸ€— Thanks for reading 😊


🀭Baru segini jari Kelingking terasa keriting 🀭


Mohon dukungannya, tinggalkan Like, komentar dan Vote. Terimakasih.

__ADS_1


Love You Readers πŸ’“


__ADS_2