
Negara X
Veronika mulai bosan dengan perjalanan bisnis yang ia lakukan bersama Alexander, tidak biasanya Alexander menetap di suatu negara untuk menyelesaikan proyek.
Salah satu perusahaan Alexander yang di ambil kembali dari perusahaan Stevent.
Alexander berusaha membangkitkan kembali perusahaan yang hampir bangkrut dan belum di perdulikan Stevent.
Menurut Stevent, kehilangan satu perusahaan cabang tidak akan memberikan kerugian yang besar.
Perusahaan yang hampir tidak beroperasi lagi, akan kehilangan karyawan dengan sendirinya, sehingga ia tidak perlu membayar gaji karyawan.
Stevent lebih fokus pada perusahaan yang ia bangun sendiri, perusahaan pemberian Papa Alexander hampir tidak ia sentuh.
Stevent tidak membutuhkan perusahaan warisan, karena ia jauh lebih mampu untuk mengurusnya perusahaan miliknya sendiri.
Veronika memperhatikan sikap Alexander yang kembali sibuk mengurus perusahaan.
Alexander kembali ke rumah larut malam, dan akan langsung tidur.
Mereka hanya bertemu di tempat tidur, kamar dan ruang makan.
Veronika telah mempersiapkan keperluan Alexander untuk ke kantor.
Pria paruh baya yang terlihat tampan hampir menyamai Stevent hanya saja ia sudah tidak semuda putranya.
Alexander telah selesai mandi dan bersiap berpakaian dibantu oleh istrinya.
"Sayang, kapan kita kembali ke rumah kita?" tanya Veronika.
"Aku masih banyak pekerjaan" Ucap Alexander.
"Kenapa kamu kembali bekerja?" tanya Veronika lagi.
"Stevent tidak mengurus perusahaan Milik kita" jawab Alexander sedikit kesal.
"Maksud kamu?" Veronika bingung.
"Stevent melepaskan perusahaan kita dari perusahaan miliknya dan membiarkan orang lain yang mengurusnya" kesal Alexander.
"Aku harus kembali bekerja keras untuk mengelola Kembali perusahaan ku agar kembali bisa bersaing" lanjut Alexander.
Veronika tidak tahu jika Stevent tidak pernah mengambil alih perusahaan Papanya, ia hanya menjadikan perusahaan Papanya dengan cabang dari perusahaan Stevent dan tidak di jadikan perusahaan Utama.
"Sayang, mungkin Stevent tidak bisa lagi mengurus terlalu banyak perusahaan" Veronika berusaha menenangkan suaminya.
Ia tidak ingin Suami dan anaknya menjadi musuh dalam dunia bisnis, Alexander dan Stevent memiliki sifat yang keras dan selalu ingin menang dalam dunia bisnis.
Veronika ingin sekali memberitahukan tentang kehamilan Nisa kepada Alexander dan ia ingin kembali ke rumah Stevent untuk merawat Nisa selama kehamilannya.
Dengan situasi yang seperti ini, Veronika mengurungkan niatnya untuk memberikan kabar bahagia kepada Alexander.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Alexander menyelidiki.
"Aku hanya rindu anak dan menantu kita" Veronika tersenyum.
"Ah, apakah Nisa sudah hamil?" tanya Alexander yang sedang merapikan dasinya di depan cermin.
Veronika sangat bahagia mendengarkan pertanyaan Alexander, ia berpikir setidaknya Alexander masih peduli.
"Sayang, aku ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada dirimu tapi karena kamu sangat sibuk, dan kita jarang berbicara" Veronika memeluk tubuh suaminya dari belakang.
Alexander membalikkan tubuhnya dan menghadap Veronika.
"Katakan?" perintah Alexander.
__ADS_1
"Nisa sedang hamil anak kembar" Ucap Veronika bersemangat penuh kebahagiaan.
Alexander tersenyum puas, baginya itu benar-benar kabar bahagia, dia mendapatkan dua cucu sekaligus, pewaris kerajaan Alexander dan keturunan langsung dari sang Raja Stevent Lu.
Veronika memperhatikan wajah Alexander yang tersenyum menyimpan sebuah rencana yang mengerikan.
"Sayang, kapan kita akan kembali ke rumah Stevent?" tanya Veronika berharap.
"Jika pekerjaan ku selesai kita akan segera kembali, kita harus ada pada hari kelahiran cucu kita" ucap Alexander bersemangat, ia mencium sekilas bibir istrinya yang cantik dan seksi.
Mereka berjalan menuju meja makan untuk menikmati sarapan.
Alexander telah berangkat ke kantor, ia bertemu dengan orang kepercayaannya.
Berani berkhianat maka kematian menunggu, Alexander memiliki banyak anak buah, mata - mata dari sahabat - sahabat rekan bisnisnya.
Alexander duduk di ruangnya, seorang pria paruh baya memberi salam dan duduk berhadapan dengan Alexander.
"Bagaimana kabar Robert?" tanya Alexander kepada pria yang bernama Letto.
"Tuan Robert telah keluar dari rumah sakit" ucap Letto.
"Hahaha, ternyata putra ku masih punya hati, ia tidak membunuh Robert" Alexander tertawa puas.
"Jika seorang pemimpin masih memiliki hati yang lembut itu akan menjadi awal kehancuran untuk dirinya" tegas Alexander.
"Bagaimana dengan rencana pembunuhan menantu anda?" tanya Letto hati - hati.
"Batalkan" ucap Alexander tersenyum.
"Wanita itu harus melahirkan cucu - cucuku terlebih dulu, aku akan sabar menunggu hingga hari kelahiran mereka" Alexander tersenyum puas dengan rencananya.
"Jika bukan dengan wanita itu Stevent tidak akan pernah memberikan diriku pewaris" Alexander tersenyum puas.
"Wanita itu sangat berguna sebagai pemberi keturunan untuk Stevent" Alexander benar-benar bahagia dengan kabar Edi berikan Veronika.
"Dengan kematian wanita yang dicintainya, aku akan mengembalikan Stevent yang dingin dan kejam tanpa belas kasih" ucap Alexander lagi.
"Apa Anda tidak takut Tuan Stevent akan murka?" tanya Letto.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, menghancurkan aset yang telah Aku bangun sendiri, hahaha" Alexander Tertawa puas.
Letto tersenyum, kehancuran Stevent adalah kehancuran Alexander, karena pemegang kekuasaan tertinggi ada di tangan Stevent.
Letto tahu benar kemampuan Alexander masih di bawah Stevent, jiwa muda terlatih dan penuh semangat.
Kunci kendali Stevent kini ada di tangan istrinya.
Letto tidak tertarik untuk membunuh Nisa, ia hanya ingin mengendalikan wanita lembut itu sebagai remote control untuk Stevent.
Pria itu keluar dari ruangan Alexander dengan senyuman.
"Alexander kamu terlalu Serakah, Stevent jauh lebih baik daripada dirimu" Letto berbicara dengan dirinya sendiri dalam senyuman.
Letto telah lama mengamati Dunia bisnis, ia paham benar dengan kemampuan Stevent.
Perusahaan raksasa Stevent tidak akan mudah di hancurkan, Stevent memiliki lebih banyak orang yang mempercayai dirinya.
Banyak perusahaan yang bergantung pada keberhasilan perusahaan atas nama Stevent Lu Alexander.
Kehancuran perusahaan Stevent akan menghancurkan banyak perusahaan di bawahnya.
"Aku akan mendukung orang yang menguntungkan" gumam Letto.
Perusahaan Letto hancur ketika Stevent melepaskan perusahaan Papa Alexander, dan sebenarnya itu adalah kesalahan Alexander yang meminta kembali kepemilikannya.
__ADS_1
Letto lebih ingin menghancurkan Alexander dibandingkan dengan Stevent.
Menghancurkan Alexander lebih mudah daripada Stevent
Letto melakukan penerbangan untuk bertemu dengan Robert yang telah kembali ke rumahnya.
***
Robert orang kepercayaan Stevent dan Papa Alexander, tetapi tanpa sadar ia telah berkhianat kepada Stevent.
Rebecca Putri Robert, seusia dengan Viona, ia pernah tumbuh bersama dengan Viona dan melihat Stevent dari kejauhan.
Rebecca tidak pernah berani mendekati Stevent, dari kecil saja tatapan Stevent telah begitu mengerikan. Membekukan setiap orang yang melihatnya.
Robert tidak memberitahu kepada Rebecca, jika ia di hajar oleh Stevent karena kesalahannya, masih untung ia tidak di bunuh Stevent.
Stevent membiarkan Robert tetap hidup karena ia masih mengingat jasa - jasa Robert.
Robert sangat bersyukur masih di berikan kesempatan hidup oleh Stevent, jika ia mati siapa yang akan membiayai kuliah Rebecca. Alexander pasti tidak akan perduli.
Letto telah sampai di rumah Robert, mereka adalah sahabat lama dan sebagai rekan bisnis.
Robert menceritakan perbuatan yang telah ia lakukan dan ia sesali.
"Aku tidak seharusnya menuruti perintah Alexander dan melawan Stevent" ucap Robert penuh penyesalan.
"Aku tahu, Alexander terlalu Serakah" tegas Letto.
"Apa yang membawa dirimu kemari?" tanya Robert penasaran.
"Alexander memiliki sebuah rencana berbahaya" Ucap Letto.
"Maksud kamu?" tanya Robert lagi.
"Ia ingin menghancurkan kehidupan Stevent melalui Nisa" jelas Letto.
"Istri Stevent sedang hamil" Robert khawatir.
"Kamu benar dan Alexander hanya menginginkan cucunya, ia akan menghancurkan Stevent dengan membunuh wanita yang dicintai Stevent" jelas Letto lagi.
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu, aku juga memiliki seorang putri" tegas Robert.
Rebecca mendengarkan pembicaraan Ayah dan paman Letto.
Ia mencintai Stevent dari kecil tapi ia menyadari dirinya tidak pantas bersanding dengan Stevent.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
Thanks for Reading
Selalu Dukung Author dengan tinggalkan Like, komentar dan Vote yang banyak 😘
Terimakasih atas kunjungan dan dukungnya.
__ADS_1
Love You Readers 💓 muuach