
Rumah Rahasia
Mobil Stevent telah terparkir di garasi, ia membukakan sabuk pengaman Nisa.
" Jangan bergerak, Aku akan membukakan pintu" tegas Stevent dan mencium sekilas bibir Nisa.
Stevent keluar dari mobilnya dan membuka pintu untuk Nisa, ia kembali menggendong Nisa, Pintu rumah terbuka otomatis.
" Selamat Sore Tuan Putri Nisa" sebuah Robot hadiah dari Papa Mark menyambut mereka di depan pintu.
" Apakah kamu tidak memberi salam kepadaku?" Stevent menatap sinis Robot wanita yang sedang memberi hormat.
" Tuan Putri hanya ada satu yaitu Nona Nisa" jawab Robot.
" Menyebalkan" ucap Stevent melewati Robot, Nisa menahan tawa.
Robot buatan Mark di rancang untuk Putrinya Nisa dan hanya akan mematuhi perintah Nisa.
Stevent mengendong Nisa sampai ke kamar, ia menurunkan Nisa perlahan di atas tempat tidur.
" Sayang, ayo kita mandi bersama" Stevent membuka jas hitam miliknya dan meletakkan pada keranjang pakaian.
" Aku sudah selesai mandi di Rumah Sakit" jawab Nisa tersenyum beranjak dari tempat tidur, ia membantu melepaskan dasi dan membuka kancing kemeja Stevent.
Nisa meletakkan kemeja dan dasi di keranjang baju kotor.
" Sayang, apa kamu masih marah padaku?" tanya Stevent memandang istrinya.
" Aku tidak Marah, mandilah, sebentar lagi waktu Magrib tiba" Nisa mendorong tubuh Stevent masuk ke kamar mandi.
Nisa telah mempersiapkan pakaian ganti untuk Stevent yang ia letakkan di atas meja di samping tempat tidur.
Nisa turun ke lantai bawah menuju dapur, ia memasak nasi, setelah magrib baru mempersiapkan menu makan malam.
" Tuan Putri, apa yang harus Salsa lakukan?" tanya Robot wanita Kepada Nisa.
"Tidak ada " jawab Nisa.
Terdengar suara azan Nisa kembali ke kamar, agar bisa melaksanakan sholat Maghrib bersama dengan Stevent.
Selesai sholat Magrib Nisa dan Stevent mempersiapkan menu makan malam bersama dengan bumbu kemesraan dan penuh cinta.
Mereka makan malam setelah sholat Isya, merapikan dan membersihkan peralatan makan bersama.
Nisa dan Stevent duduk santai bersama di ruang tengah ditemani Salsa sang Robot.
" Sayang, bisakah Robot ini menjauh, aku merasa di awasi" Stevent menatap tajam kepada Salsa.
" Salsa, kembali ke kamar !" perintah Nisa.
" Baik Tuan Putri" Salsa segera meninggalkan Nisa dan Stevent berjalan menuju kamar dirinya.
" Sayang, untuk menebus kesalahan aku hari ini, katakan permintaan dirimu akan aku penuhi" Stevent menatap Nisa serius.
" Benarkah?" Nisa tersenyum seakan berpikir.
" Asalkan jangan Minta berpisah dengan diriku" Stevent menampilkan wajah sedihnya.
" Kamu apaan, tidak boleh berbicara seperti itu!" Nisa menutup mulut Stevent dengan tangan lembutnya.
Nisa berpikir, ia teringat dengan permintaan Dini.
" Sayang, apa kamu pernah dengar tentang Konser Amal?" Nisa merebahkan kepalanya di dada bidang Stevent.
" Ya, Apa kamu mau menonton konser?" Stevent menatap heran pada Nisa, karena setahu Stevent Nisa tidak suka dan tidak tertarik dengan dunia hiburan.
" Apakah Aku terlihat ingin nonton konser?" Nisa balik bertanya.
" Kurasa tidak " jawab Stevent.
" Dini mau Aku ikut dalam daftar Dokter Bedah, operasi gratis dan Ia menjadi assisten diriku" Jelas Nisa.
__ADS_1
" Jika kamu mau , perusahaan aku juga bisa melakukan operasi gratis" Stevent memeluk tubuh Nisa.
"Dini mau bertemu dengan idol bernama Leo" Nisa memainkan dagu lancip Stevent yang sedikit kasar seakan ada jarum tajam.
" Bagaimana dengan dirimu, apa kamu juga mau bertemu dengan Leo?" Stevent mulai Cemburu.
" Apakah aku terlihat seperti wanita yang tergila-gila pada seorang idol ?" Nisa mengangkat kepala dan melihat mata suaminya.
" Kamu tidak tergila-gila kepada mereka tapi aku takut mereka yang akan tergila-gila kepada dirimu" Stevent mencubit hidung mancung Nisa.
" Sayang, aku hanya akan berada di ruangan operasi dan kamu bisa menemani diriku, jika kamu ada waktu" Nisa tersenyum.
" Pasien di ruangan Operasi tidak ada yang sadarkan diri" lanjut Nisa.
" Dimana mereka melakukan konser Amal dan kegiatan operasi gratis?" Tanya Stevent, ia mulai mengecek ponselnya.
"Aku tidak tahu" jawab Nisa singkat
" Lihat" Stevent bersama Nisa melihat layar ponsel tentang pengumuman konsep amal.
" Apa kamu ingin aku daftarkan?" tanya Stevent.
" Biarkan Dini saja, ia sangat antusias" Nisa mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Dini.
Nisa Membaca berita tentang Konser Amal di layar ponsel Stevent.
Konser akan di adakan sehari sebelum operasi gratis di lapangan terbuka, dan Kegiatan operasi gratis di laksanakan pada sebuah rumah sakit swasta yang tidak jauh dari Perusahaan entertainment milik Leon.
Stevent memperhatikan Nisa yang begitu konsentrasi ketika membaca.
" Ayo kita tidur " Stevent menggendong Nisa menaiki tangga menuju kamar.
" Apa kamu tidak lelah menggendong diriku turun naik tangga?" Nisa memegang leher Stevent.
" Untuk apa aku melatih otot tubuh jika tidak punya kekuatan untuk mengendong bidadari ku yang cantik ini " Stevent Mencium sekilas bibir Nisa.
Ia menurunkan Nisa perlahan di atas tempat tidur dan menindihnya.
Stevent tidak perlu minta izin , ia mulai melahap Nisa, dimulai dari telinga berjalan dengan lidah dan giginya menikmati makan malam yang kedua.
Hanya desahan dan erangan yang terdengar begitu menggoda menambah kemesraan dan kehangatan yang tercipta di atas tempat tidur tanpa ada yang menggangu.
***
Kamar Dini
Dini terus berdoa berharap Stevent akan mengizinkan Nisa masuk dalam daftar Dokter Bedah pada Konser Amal.
Terdengar nada dering pesan dari ponsel Dini, dengan cepat ia membuka kunci layar, 1 pesantren dari Nisa.
Dini membuka pesan seakan membuka kado undian, perlahan ponsel yang sedikit di jauhkan, dengan perasaan harap - harap cemas.
Pesan terbuka, hanya ada satu kalimat yang tidak terbaca oleh Dini karena ponselnya terlalu jauh.
" Ah" Dini mendekatkan ponsel ke wajahnya.
" Silahkan Daftarkan, Nama saya pada Konser Amal"
" Aaaaaaa, Terimakasih Tuhan" Dini berteriak dan meloncat di atas kasur tak lupa ia sujud syukur.
" Terimakasih" Dini membalas pesan Nisa, ia kembali berteriak bahagia, loncat-loncat di atas kasur,, lari ke sana ke mari di kamar kost miliknya, seperti orang yang sedang kesurupan.
Dini segera mendaftarkan nama Nisa, sebagai asisten Nisa tentu Dini memiliki data pribadi dan foto Nisa.
" Ya Tuhan aku sangat Bahagia" Dini benar-benar bahagia hingga air mata kebahagiaan mengalir begitu saja.
Ia memeluk poster Leo yang memenuhi dinding kamarnya.
" Oh Bintang ku, Bagaimana ketampanan dirimu saat ini" Dini mencium bibir Leo pada poster raksasa yang menempel penuh di dinding.
***
__ADS_1
Laboratorium
Jhonny berjalan masuk ke dalam rumah, Ia sangat lelah, hari ini Jhonny dimarah Stevent karena tidak mengingatkan jam Nisa pulang.
Jhonny pasrah karena mereka berdua sama - sama gila kerja hingga lupa waktu dan lupa Bosnya sudah punya isteri.
" Apakah dia sudah tidur?" Jhonny berjalan melewati kamar Aisyah, ia membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Jhonny turun ke bawah, ia tidak melihat Aisyah dari Sebelum berangkat kerja hingga ia pulang di malam hari.
Ada rasa rindu karena tidak melihat Aisyah marah. Jhonny tersenyum sendiri, ia tidak sadar pelayan menatap aneh pada dirinya.
" Bibi, dimana Dokter Aisyah? Apakah dia sudah tidur?" tanya Jhonny dengan gaya dan nada cuek meneguk kopi yang disuguhkan bibi.
" Nona Aisyah ada di laboratorium bersama seorang pria tampan, Tuan" ucap bibi sopan.
Jhonny terdesak kopi ketika mendengar kata bersama pria tampan.
" Pelan - pelan Tuan" bibi segera berlari ke dapur dan mengambilkan air mineral untuk Jhonny.
" Pria tampan? Apakah dia membawa kekasihnya kerumah ku?" Jhonny berbicara dalam hati dan meminum air mineral yang diberikan bibi.
Ia segera berjalan cepat menuju laboratorium yang di bangun di belakang Rumah Jhonny, tersembunyi.
Dokter Aisyah dan Valentino sedang asyik meracik bahan - bahan obat, Mereka tertawa dan bercanda bersama, Dokter Aisyah telah menjadikan Valentino adik angkatnya.
" Apakah itu kekasihnya? lihat Ia bisa tertawa bahagia" Guman Jhonny ia masih berdiri di depan pintu laboratorium menyaksikan kedekatan Valentino dan Dokter Aisyah.
" Pria itu terlihat masih muda dan Tampan" Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia meninggalkan laboratorium dan kembali ke kamarnya.
" Apa - Apaan ini , Dia membawa kekasih ke rumah ku?" Jhonny menggerutu.
Jhonny membuka pintu dan masuk, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, ia terbayangkan senyum manis dan tawa lepas Aisyah ketika bersama Valentino.
Jhonny merasakan sesak dan sakit di dada.
" Ah, apakah aku terserang penyakit jantung" Jhonny mengusap dadanya.
" Banyak orang meninggal di usia muda karena jantungan" Jhonny berbicara sendiri.
" Aku harus konsultasi ke Dokter secepatnya" Jhonny mematikan lampu dan berusaha memejamkan mata, namun bayang - bayang Aisyah seakan menari di dalam kepalanya.
***
" Dokter sepertinya malam telah larut" Valentino melihat alroji di lengan kanannya.
" Ah, kamu benar, kita bekerja sampai lupa waktu" ucap Dokter Aisyah.
Mereka berdua bergegas meninggalkan laboratorium lengkap dengan kebun tanaman obat.
Valentino tidur di kamar Tamu, Nisa tidur di kamarnya yang tidak jauh beda kamar Jhonny.
Jhonny keluar kamar pelahan melihat Nisa masuk ke kamarnya.
" Apakah dia tidak mencari diriku? tidak minta izin untuk kekasihnya menumpang di sini?" menggerutu dalam hati merasa kesal.
Cemburu di hati Jhonny membuat ia lupa tentang Valentino yang akan datang dari desa menginap, dan membantu di laboratorium, serta membawa bibit obat.
***
*
*
Thanks for Reading
Terimakasih Like dan Komentar pada setiap episode.
Terimakasih Vote dan jangan lupa Vote lagi yang banyak ( Author ikut ngelunjak kayak minta up 🤭)
Love You Readers
__ADS_1