Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Berkuda dan Memanah


__ADS_3

Nathan berjalan cepat diikuti Roy, ia tidak tahu harus kemana.


Ia ingin mengeluarkan emosi yang ada di dalam hatinya.


Mencintai wanita yang tidak akan pernah bisa ia miliki sangat menyiksa batinnya.


Ancaman dari Fauzan membuat Nathan menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan Nisa yang telah mencintai Stevent.


Kecerdasan Nathan hilang begitu saja ditutupi cinta buta kepada Nisa.


"Anda mau kemana Tuan?" tanya Roy mengikuti langkah Nathan menuju mobil.


"Membunuh seseorang." ucap Nathan kesal.


Roy terdiam, Nathan sudah lam tidak mengotori tangannya sejak Nisa sakit karena ia menghabiskan waktunya di dalam laboratorium.


"Cepatlah, bawa aku ke tempat pacuan kuda!" Hans duduk di kursi samping pengemudi.


Roy segera masuk ke mobil dan mengendarai mobil menuju tempat olahraga pacuan kuda dan memanah.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju lapangan olahraga.


Roy segera memarkirkan mobil pada tempatnya dan Nathan berjalan menuju pintu masuk.


"Maaf Tuan, hari ini lapangan telah di sewa oleh dua orang." seorang petugas menahan Nathan.


Roy segera mendekati petugas keamanan, karena ia khawatir Nathan akan marah dan memukul orang.


Roy berbicara dengan petugas, Nathan melihat ke dalam lapangan.


Seekor Kuda hitam berlari di atas pacuan kuda dan seorang wanita berjubah, berjilbab dan bercadar hitam memacu kuda dengan kencangnya.


Anak panah dan busur berada di punggung Ayesha.


Olahraga berkuda dan memanah adalah kesukaannya karena diwajibkan oleh keluarga kerajaan.


Semua mata tertuju kepada wanita bercadar yang kini telah siap melesatkan anak panah pada sasaran yang tepat.


Kemampuan luar biasa yang telah terlatih dari ia masih kecil.


Semua bersorak, tetapi Ayesha tidak perduli, ketika ia melakukan sesuatu ia selalu fokus demi keberhasilan dan keselamatan dirinya.


"Siapa perempuan itu, pertama kalinya ada wanita berjilbab pandai memacu kuda dan memanah." Nathan berjalan memasuki pintu penonton.


"Anda bisa menonton Tuan, tetapi tidak bisa menggunakan lapangan." jelas petugas.


"Baiklah, terima kasih." ucap Roy melihat Nathan yang memperhatikan seseorang di lapangan.


Roy segera menyusul Nathan memasuki pintu penonton.


Mata Nathan fokus pada seorang wanita bercadar yang memacu kuda dengan kencang dan terlatih.


"Siapa wanita itu?" tanya Roy.


"Aku pertama kalinya melihat wanita dengan jagonya berkuda hanya tangan satu." kagum Nathan.


Melihat seorang wanita yang menutupi seluruh tubuhnya dan ahli dalam berkuda dan memanah menjadi hiburan tersendiri bagi Nathan.


Seekor Kuda putih mengejar Ayesha, seorang pria tampan dengan kemeja putih yang tidak terkancing semua siap bertanding dengan adik kesayangan.


"Pangeran Fauzan." ucap Roy refleks dan ia saling berpandangan dengan Nathan.


"Ayesha." mereka berdua serempak dan segera berjalan mendekati pacuan yang dibatasi pagar besi.


Pangeran Fauzan, pria paling sempurna dari kerajaan Arab.


Ayesha tersenyum melihat Fauzan yang dengan gagahnya melewati dirinya.


Tubuh kekar dan seksi terlihat jelas, para pengunjung wanita berteriak keras, terpesona akan ketampanan Fauzan.


Hari ini lapangan berkuda dan memanah menjadi milik mereka berdua, tidak ada seorangpun yang boleh masuk.


Tidak ada yang tahu jika dua orang dilapangkan itu adalah seorang pangeran dan tuan putri dari kerajaan Arab.


Mereka berdua siap bertanding, Ayesha belum mampu menandingi Fauzan, tenaga seorang wanita akan berbeda dengan pria yang terlatih.


Fauzan tertawa melihat kekalahan Ayesha, ia selalu berhasil menjatuhkan busur Ayesha.


"Dia benar-benar sempurna dalam segala hal." gumam Ayesha yang berhenti di garis finis.


"Kenapa berhenti?" tanya Fauzan menatap Ayesha.

__ADS_1


"Balapan kuda tanpa memanah." ucap Ayesha.


"Baiklah." Fauzan tersenyum, para wanita yang menonton dari balik pagar berteriak histeris dan pingsan melihat senyuman manis pria tampan tidak tersentuh.


Fauzan tidak terpengaruh sama sekali oleh teriakan para wanita yang terdengar menjijikkan di telinganya.


Ia tidak melirik sama sekali, apalagi menoleh ke arah penonton.


Fauzan menyapa seorang penjaga lapangan untuk memberikan aba - aba perlombaan berkuda.


Pria paruh baya bersiap menembakkan pistol ke udara.


Ayesha dan Fauzan telah siap di atas kuda mereka.


"Dor."


Kuda berwarna hitam serasi dengan gamis Ayesha dan Kuda Putih serasi dengan kemeja Fauzan telah berlari kencang.


Kuda berlari beriringan, Ayesha terus mempertahankan jarak dirinya dan Fauzan yang terlihat biasa saja dalam memacu kudanya.


Ketika telah mendekati garis finish, Fauzan merubah gaya memancunya hingga meninggalkan Ayesha.


"Aku tahu dari tadi ia hanya mengimbangi kudaku."gumam Ayesha.


Fauzan tersenyum dan turun dari kuda, ia menyerahkan kuda kepada tukang kandang begitu juga dengan Ayesha.


"Jangan banyak bermain." Fauzan mengusap kepala Ayesha yang tertutup hijab.


Ayesha tersenyum dari balik cadarnya, Kakaknya benar ia lebih banyak bermain dari pada latihan.


Fauzan menarik tangan Ayesha untuk beristirahat dan minuman.


"Kita akan melakukannya sekali lagi." ucap Fauzan dan Ayesha mengangguk.


Nathan memperhatikan Ayesha, ia berharap angin akan menerbangkan cadar yang menutupi wajah wanita keturunan Arab campuran itu.


Fauzan membukakan botol mineral dan memberikan kepada Ayesha.


Ayesha memasuki botol melalui bagia bawah cadarnya dan minum setengah dari isi botol mineral.


Tidak sedikitpun air tumpah dan membasahi jilbab dan cadarnya. Bisa karena terbiasa.


Seorang petugas berlari ke arah Nathan dan menyampaikan pesan Fauzan.


Dengan senyuman penuh kebahagiaan Nathan masuk ke dalam area pacuan ditemani Roy.


Nathan bersalaman dengan Fauzan dan tidak dengan Ayesha yang telah berada di kudanya.


Ayesha tidak tertarik untuk sekedar melirik apalagi melihat kearah Nathan, ia segera memacu kudanya meninggalkan Fauzan bersama Roy dan Nathan.


Fauzan tersenyum, ia tahu ketidaksukaan Ayesha pada Nathan, selain bisnis ilegal juga tatapan tajam Nathan yang seakan ingin menerkam Ayesha.


"Apa kabar Tuan Fauzan." Roy memberi hormat.


"Alhamdulilah, bagaimana dengan Tuan Nathan, apakah masih mengganggu Stevent dan istrinya?" Fauzan tersenyum.


"Tidak Tuan." jawab Roy yang melihat kearah Nathan.


Nathan memperhatikan Ayesha yang sedang berpacu dengan kudanya dan memanah.


"Nathan, ayo kita bertanding." Fauzan menepuk pundak Nathan menyadarkan Nathan dari tatapannya pada Ayesha.


"Tentu saja." ucap Nathan.


Fauzan melambaikan tangannya kepada Ayesha agar berhenti.


Ayesha mengehentikan kudanya dan turun dibantu Fauzan.


"Aku akan bertanding dengan Nathan, apa kamu mau ikut?" tanya Fauzan merapikan cadar dan jilbab Ayesha.


Ayesha menggelengkan kepalanya dan memberikan kudanya kelas Fauzan, ia berjalan menuju tempat istirahat.


Roy memperhatikan Ayesha yang tidak berbicara sama sekali, jangankan wajahnya, suaranya saja membuat orang penasaran.


Fauzan mengikat kuda yang Ayesha gunakan, ia segera menaiki Kuda putihnya.


"Pilihlah kudamu." ucap Fauzan.


"Aku akan menunggangi kuda ini." Nathan tersenyum dan melepaskan tali kuda yang digunakan Ayesha.


Ayesha melihat kuda yang akan digunakan Nathan dan tanpa sengaja mata mereka bertemu.

__ADS_1


Ayesha segera mengalihkan pandangan dan meminum air mineral miliknya.


"Matanya yang sangat Indah." gumam Nathan dalam hati dan menaiki kuda.


Dua orang pria gagah telah siap di atas kuda yang berdiri di atas lintasan pacuan berkuda dan memanah.


Terdengar suara tembakan dan dua ekor kuda yang ditunggangi dua orang pria tampan telah berlari kencang di lintasan.


Ayesha melihat kakaknya dari tempat duduknya, sesekali Roy mencuri pandang melihat bola mata besar berwarna biru kecoklatan yang dihiasi bulu mata yang panjang dan lentik.


Mata yang sangat indah diantara lekukan batang hidung yang mancung dan bentuk bibir yang terlihat dari balik cadar.


Ayesha tersenyum, Nathan tidak mampu melawan Fauzan, kemampuan berkuda dan memanah yang luar biasa tidak tertandingi.


Roy geleng-geleng kepala melihat kemahiran Fauzan dalam berkuda dan memanah.


Ponsel Ayesha berdering, ia melihat sebuah nama di layar ponselnya.


"Mama." ucap Ayesha pelan, ia segera menggeser icon berwarna hijau.


"Assalamualaikum." suara lembut Ayesha membuat Roy refleks melihat kearah Ayesha.


"Apa, kenapa suaranya mirip Dokter Nisa?" gumam Roy yang mengeluarkan ponselnya untuk merekam suara Ayesha.


Ayesha terus berbicara dengan mamanya yang sangat mengkhawatirkan dirinya.


Ratu sangat merindukan Putri semata wayangnya.


"Apa yang kamu lakukan di sana Sayang?" tanya Ratu.


"Ayesha berkuda dan memanah, besok kita akan mencari tempat olahraga berpedang." ucap Ayesha lembut.


Lama ia berbicara dengan Mamanya, untuk memenangkan naluri seorang Ibu yang selalu mengkhawatirkan putri bungsu kerajaan Arab.


Fauzan memenangkan pertandingan jauh di atas Nathan.


"Aku rasa dengan Ayesha saja kamu masih kalah." Fauzan tersenyum.


"Bagaimana jika kita buktikan." ucap Nathan melirik Ayesha.


"Tanyakan saja pada dirinya." Fauzan membawa kudanya ke pinggir.


Nathan mengikat kuda dan berjalan mendekati Ayesha.


"Bagaimana jika kita bertanding?" tanya Nathan melihat Ayesha.


"Aku rasa kudanya telah lelah dan butuh istirahat." ucap Ayesha lembut dan berjalan mengambil kuda mengantarkan ke kandangnya.


Fauzan tersenyum, kamu tidak akan pernah bisa mendekati Ayesha." ucap Fauzan dalam hati.


"Sampai jumpa lagi, jika kamu tertarik berbisnis dengan diriku, kamu bisa menghubungi diriku." Fauzan memberikan kartu namanya kepada Nathan.


Nathan masih terdiam melihat punggung wanita berjilbab hitam menjauh dari pandangannya dan disusul Fauzan.


"Tuan mereka akan pergi ke tempat olahraga berpedang." Ucap Roy.


" Bagaimana kamu tahu itu?" tanya Nathan.


Roy memberikan rekaman suara lembut Ayesha yang sedang berbicara dengan mamanya.


"Kirimkan suara rekaman itu ke ponseku." ucap Nathan dan mereka berjalan bersama meninggalkan lapangan berkuda dan memanah.


Ayesha dan Fauzan telah memasuki mobil mereka.


"Mama telpon." Ayesha memasang sabuk pengamannya.


"Apa yang Mama tanyakan?" Fauzan memasang sabuk pengamannya.


"Semuanya." Jawab Ayesha dan Fauzan tersenyum.


Mobil melaju kembali ke Villa, karena sudah waktunya makan siang dan sholat Zuhur.


Mobil Nathan mengikuti mobil Ayesha dan Fauzan hingga sampai ke Villa.


***


Semoga Suka, Mohon Dukungan rekan semua dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan " Cinta Bersemi di ujung Musim"


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


__ADS_2