
Nayla mondar-mandir di dalam kamar, ia menggigit kuku jari telunjuk. Tangannya menggenggam erat ponsel, Nayla sangat kesal tidak bisa menghubungi Nathan dan tidak memiliki nomor ponsel Roy.
"Kenapa Semuanya meninggalkan diriku, Herry, Mama, Papa, Loly dan sekarang Nathan." Nayla mengacak rambutnya, ia berjalan menuju kamar miliknya.
"Aku menginginkan pria tampan dan kaya." Nayla merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aaarrg!" Nayla berteriak menghamburkan tempat tidur, melempar semua bantal dan guling kelantai.
Rambut Nayla berantakan, pakaian seksi memperlihatkan tubuh seksinya. Ia duduk di tepi tempat tidur memperhatikan wajahnya di depan cermin.
"Apa aku kurang cantik atau kurang seksi?" Nayla berjalan mendekati cermin raksasa yang ada di kamarnya.
"Fauzan, kamu pria nomor satu di dunia ini, kamu harus menjadi milikku." Nayla menyentuh cermin dan tersenyum.
"Aku akan naik ke ranjang kamu, bagaimanapun caranya." Senyuman mengerikan terlihat di wajah Nayla, ia membuka mini dress hingga hanya menggunakan bra dan celana dalam.
Nayla tersenyum melihat tubuh indah dan seksi yang terpantul dari cermin, begitu menggoda bagi pria.
"Aku akan mengambil formula di kamar Nathan." Nayla memakai lagi dress dan berjalan keluar kamar.
Nayla berlari menuruni tangga, mengendarai mobil menuju villa Nathan. Dengan tergesa-gesa Nayla turun dari mobil dan berlari menaiki tangga kamar saudara kembarnya.
Seorang pelayan rumah tangga mengikuti Nayla, ia khawatir dengan apa yang akan wanita itu lakukan di kamar Nathan.
"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan pria kepada Nayla.
"Bukakan pintu itu!" perintah Nayla kepada pelayan.
"Maaf Nona, pintu hanya bisa dibuka dengan sidik jari Tuan Nathan dan Roy." Pelayan menunduk.
"Sialan, kemana Nathan, dia tidak menjawab panggilan ku." Nayla menuruni tangga dan duduk di sofa ruang tengah Nathan.
Ponsel Nayla berdering, ia melihat nama Nathan di layar ponsel.
"Nathan kenapa kamu tidak pulang?" teriak Nayla di ponsel.
"Kami kecelakaan, tanganku cedera sekarang di rawat di klinik desa." Nathan kesal dengan Nayla yang tidak mengkhawatirkan dirinya
"Maaf, maafkan aku." Suara Nayla melemah.
"Coba berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan," tegas Nathan.
"Baiklah, aku akan berusaha untuk mendapatkan pria yang aku inginkan." Nayla tersenyum.
"Pergilah ke laboratorium, temui asisten lab, aku telah meminta ia membuat formula baru untuk dirimu." Nathan tersenyum, ia sangat menyayangi Nayla dan tidak tega membuat adiknya kecewa
"Terimakasih Nathan, aku mencintaimu." Nayla kembali bersemangat dan bergegas ke laboratorium.
***
Ayesha berdiri di balkon kamar, ia menatap cerahnya langit malam di kota Arab, ada rasa rindu di hati kepada saudara laki-laki yang paling dekat dengan dirinya.
Sepasang tangan kekar dan tubuh hangat memeluk dari belakang, membuat Ayesha sedikit terkejut dan tersenyum ketika ia menyadari, pelukan dari suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan Humairah ku?" Kenzo mencium lekuk leher Ayesha yang terbuka.
"Maafkan aku suamiku." Tangan lembut Ayesha menyentuh pipi kasar Kenzo yang ditumbuhi rambut di wajahnya.
Rambut yang terawat dan rapi menambah ketampanan Kenzo, menggoda untuk menyentuhnya.
__ADS_1
"Kenapa Sayang?" Kenzo memutar tubuh Ayesha menghadap dirinya, menatap wajah cantik dan lembut.
"Aku merindukan kakak ku." Ayesha menunduk, ia sangat malu kepada Kenzo.
"Aku sangat cemburu." Kenzo tersenyum dan memeluk Ayesha.
"Maafkan aku." Ayesha menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Kenzo.
"Aku bisa mengerti itu, kamu tidak pernah jauh dari Fauzan." Kenzo mencium dahi Ayesha.
"Apa istriku mau menyusul kakaknya ke Indonesia?" Kenzo menyentuh pipi merah Ayesha.
"Tidak, aku akan selalu bersama suamiku dan besok kita akan pergi melakukan penerbangan dan berbulan madu keliling dunia." Ayesha tersenyum menatap wajah Kenzo.
Kenzo mencium lembut bibir merah merona tanpa lipstik. Ayesha membalas ciuman Kenzo, menikmati kenikmatan dalam cinta yang halal.
Tangan Ayesha menyentuh lembut telinga dan rambut Kenzo. Tangan Kenzo bermain di pinggang ramping istrinya dan naik ke atas menyentuh leher jenjang Ayesha.
Ciuman hangat dengan durasi begitu lama pada pasangan yang tidak pernah berpacaran, bahkan sentuhan keduanya adalah pertama bagi mereka berdua yang dulunya malu-malu kini sudah terbiasa dan selalu begitu mesra ketika mereka hanya berdua saja.
Kesempatan berdua selalu dinikmati dengan kemesraan dan ciuman setiap waktunya. Kenzo begitu romantis dan senang menggoda Ayesha yang sangat sensitif, sentuhan Kenzo selalu membuat tubuh Ayesha menggeliat hebat.
Rasa geli dan sensitif pada tubuh Ayesha beralih pada hasrat dan rasa panas yang membuat dirinya membalas setiap perlakuan mesra Kenzo.
Kenzo sangat senang dengan reaksi yang Ayesha berikan pada dirinya, kadang Ayesha harus berlari dan tertawa geli untuk menghindari gangguan suaminya.
"Bibir kamu sangat manis dan lembut." Kenzo menatap mata indah Ayesha yang tersenyum dan berusaha mengatur napasnya.
"Benarkah?" Ayesha mencubit hidung Kenzo.
"Ya, seperti ada madu yang sangat lengket sehingga tidak ingin aku lepaskan." Kenzo kembali mencium bibir Ayesha dan menggendongnya ke atas tempat tidur yang sangat luas dan empuk.
Ayesha membenamkan wajahnya pada dada berambut lembut tanpa penutup yang sangat kekar berotot, jari Ayesha memainkan butiran kecil berwarna merah.
"Jangan menggodaku sayang." Kenzo mengeratkan pelukannya membuat wajah Ayesha mencium tubuh dengan aroma maskulin, ia memejamkan matanya membiasakan diri dengan pelukan Kenzo setiap malamnya.
***
Stevent mematikan lampu kamar, Nisa tersenyum melihat suaminya yang telah membuka pakaian bersiap untuk tidur.
"Berapa lam lagi aku harus menahan diri?" Stevent naik ke tempat tidur dan memeluk Nisa yang tersenyum menahan tawa.
"Apa kamu tidak menghitungnya?"Nisa menyentuh pipi Stevent.
"Aku merasa sudah satu tahun." Stevent menatap tajam kepada Nisa.
"Jika satu tahun anak kita sudah berlari di perkarangan rumah." Nisa mencubit hidung Stevent.
"Sayang, aku sudah mempersiapkan rumah baru untuk kita dan mengajak Jhonny tinggal bersama." Stevent mencium dahi Nisa.
"Apa pengantin baru itu mau tinggal serumah dengan kita?" Nisa mendongak menatap wajah suaminya.
"Mereka bisa tinggal di lantai atas yang kedap suara untuk bercinta." Stevent tersenyum mengingat cerita malam pertama Jhonny.
"Kenapa kamu tersenyum, apa ada yang lucu?" Nisa menatap Stevent manja.
"Tentu saja, Jhonny menghancurkan tempat tidur pada malam pertamanya." Stevent benar-benar tertawa.
Nisa segera menutup mulut Stevent dengan tangannya dan tersenyum.
__ADS_1
"Apa kamu menanyakan malam pertama Jhonny?" Nisa menatap tajam kepada Stevent dengan tangan masih menutupi mulut suaminya.
"Dia menceritakan kepada ku." Stevent mencium tangan Nisa.
"Jhonny membuat ku iri," bisik Stevent di telinga Nisa.
"Kenapa?" Nisa pemasaran.
"Ia mendapatkan banyak tanda merah di lehernya buatan dokter Aisyah." Stevent mencium telinga Nisa.
Nisa menutup mulutnya agar tidak berteriak dan menahan tawa dengan ucapan Stevent.
"Setelah berpuasa dalam bercinta aku mau mendapatkan banyak tanda merah dileher." Stevent memeluk erat tubuh Nisa.
"Sayang, itu memalukan." Nisa menggigit telinga Stevent.
"AW, jangan lakukan itu, aku tidak bisa menahan diri." Stevent melotot dan menyentuh telinganya.
"Maafkan aku." Nisa menarik hidung Stevent dengan lembut.
"Aku akan membalasnya dengan sepuluh ronde dalam semalam." Stevent tersenyum nakal.
"Apa kamu mau membunuh diriku?" Nisa melotot kepada Stevent.
"Tidak sayangku, kita bermain dengan pelan dan kamu akan ketagihan." Tangan Stevent menyentuh tubuh Nisa.
"Sayang, bersabarlah." Nisa tersenyum dan menahan tangan Stevent.
"Berikan aku ciuman!" Stevent memancungkan bibirnya.
"Kemarilah!" Nisa memindahkan tangannya di kepala Stevent dan memberikan ciuman halal pada bibir tipis suaminya.
Tangan Stevent kembali bergerilya, menyentuh bagian terlembut dari tubuh Nisa.
"Itu milik anak kita." Nisa tersenyum.
"Kapan akan kembali menjadi milikku?" Stevent kembali mencium bibir Nisa.
"Setelah dua tahun." Nisa menahan tawa melihat ekspresi Stevent.
"Mereka merebut dirimu dariku." Stevent mengeratkan pelukannya.
"Sayang, bisakah kamu berbagai?" Stevent memejamkan mata.
"Bisa." Nisa membenamkan wajahnya dalam pelukan Stevent.
"Malam hari kamu adalah milikku." Stevent tersenyum.
"Aku selalu menjadi milikmu." Nisa memejamkan matanya menghirup aroma tubuh yang selalu ia rindukan dalam setiap waktunya.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1