Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Viona dan Valentino


__ADS_3

Aisyah dan Viona telah selesai melaksanakan shalat subuh bersama.


Viona membuka pintu belakang untuk menghirup udara pagi yang menyegarkan, tetapi ia di sambut oleh wajah tampan dan senyuman yang menyegarkan dari seorang Valentino.


"Ahhh, kamu mengejutkan ku." Viona memukul lengan kekar Valentino yang terbuka karena menggunakan kaos tanpa lengan.


"Aw, sakit sekali." Viona mengusap tangannya.


"Kamu yang memukul diriku kenapa tangan kamu yang sakit?" Valentino masuk ke dalam rumah melewati Viona yang masih berdiri di depan pintu.


"Lengannya keras sekali." Viona tersenyum dan kembali masuk ke rumah.


"Dokter Aisyah, apakah sudah siap?" Valentino melepaskan ranselnya.


"Masuklah makanan dan minuman ini di dalam tas kamu!" perintah Dokter Aisyah dan Valentino menurutinya.


"Mereka benar-benar seperti saudara." Viona memperhatikan Aisyah dan Valentino.


"Apakah kamu sudah siap?" tanya Valentino kepada Viona.


"Ya, apakah kita akan berangkat sekarang?" tanya Viona, ia melihat tanah yang masih gelap.


"Sebentar lagi cahaya Matahari akan segera menerangi bumi." ucap Valentino tersenyum.


Valentino menggendong tas ransel besar di punggungnya, Aisyah membawa ransel ukuran sedang sebagai tempat tanaman obat dan Viona membawa tas punggung kecil yang hanya berisi minuman.


"Bagaimana cara aku menjaga dua wanita sekaligus?" ucap Valentino.


"Kamu cukup menjaga Viona, kamu tahu aku kan?" Dokter Aisyah tersenyum.


"Aku hanya bercanda, siapa yang bisa mengalahkan Dokter Aisyah." ucap Valentino.


Dokter Aisyah berjalan paling depan, diikuti Viona dan paling belakang Valentino.


"Ah, segar sekali." Viona menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya.


"Lihatlah langkah kaki mu dan berhati-hati." ucap Valentino.


Viona tersenyum mendengarkan perhatian Valentino.


Aisyah dan Valentino sudah terbiasa mendaki bukit tanpa kendala, mereka sudah menguasai medan yang dilalui.


Valentino tersenyum melihat Viona yang kesusahan berjalan di jalanan sempit di antara semak belukar dan pepohonan.


"Kenapa kamu tidak menunggu di klinik saja?" tanya Valentino.


"Aku mau melihat air terjun di bukit, aku tidak pernah punya kesempatan untuk melakukan perjalanan dan pendakian." ucap Viona.


" Stevent pasti sangat melindungi dirimu." ucap Valentino.


"Sangat kemanapun aku melangkah ada bodyguard yang menemani diriku, tidak ada pria yang berani mendekati diriku, tapi aku menikmati itu karena kak Stevent menyayangi diriku." Viona tersenyum.


Matahari telah memberikan cahaya hangat untuk mengeringkan embun di dedaunan.


Mereka bertiga telah berada di kaki bukit dan siap mendaki.


Viona duduk di atas rumput, ia kelelahan berjalan dari klinik sampai kaki bukit.


Aisyah tersenyum melihat Viona, dan mengusap kepala Viona yang tertutup hijab berwarna peach.


"Valen, jaga Viona, aku akan naik terlebih dahulu." ucap Aisyah.


"Maafkan aku, Dokter Aisyah." ucap Viona, keringat telah membasahi wajahnya.


"Tidak apa, aku sudah terbiasa." Aisyah meninggalkan Valentino dan Viona.


Viona melirik Valentino, tubuh yang telah bekilau karena keringat yang terpantul cahaya Matahari.


Otot-otot tubuh yang seksi terlihat jelas, begitu sempurna.


"Luruskan kaki kamu." Ucap Valentino.


"Em." Viona memalingkan wajahnya ketika Valentino melihat dirinya.


"Seharusnya kamu melakukan pemanasan terlebih dahulu." Valentino tersenyum manis.


"Maafkan aku, Apa aku bisa ikut naik ke atas?" Viona memelas, ia benar-benar berharap bisa mendaki.


"Tentu saja, jika kamu mau aku akan membantu dirimu." ucap Valentino.


"Baiklah, setidaknya aku bisa mendaki walaupun cuma sekali ini saja." Viona berdiri perlahan.


"Naik dan berpeganglah pada dahan pohon di kiri dan kanan kamu." Valentino mencontohkan untuk Viona dan kembali turun.


Viona melakukan gerakan yang diajarkan oleh Valentino.


"Berikan kekuatan pada tangan kamu untuk menarik tubuh agar tidak kesulitan untuk mendaki." jelas Valentino.

__ADS_1


"Pelan - pelan saja." Valentino mengkhawatirkan Viona, ia berada di belakang Viona.


Mereka masih di dasar dan bukit belum begitu curam.


Valentino memperhatikan Viona dan kasihan melihat Viona yang bersusah payah.


Viona terus berusaha payah mendaki dan berpegang pada setiap pohon.


"Jangan terlalu ke kanan." ucap Valentino.


Mereka telah berada setengah perjalanan, hampir sampai puncak.


"Kita akan menurun setelah sampai puncak dan di sebelah sana ada air terjun." Valentino berdiri di samping Viona.


"Apakah masih tinggi?" tanya Viona ngos-ngosan.


"Sedikit lagi, bersemangat lah." Valentino tersenyum manis.


Viona semakin bersemangat, mendaki di temani pria tampan dan tubuh seksi berotot.


Ia melanjutkan langkah kakinya untuk mendaki hingga mereka sampai puncak.


Valentino membantu Viona untuk naik ke atas anti besar agar ia bisa melihat pemandangan indah dari atas bukit.


"Wah, indah sekali." wajah Viona yang telah dibasahi keringat terlihat bahagia, rasa lelahnya hilang begitu saja.


"Aa, itu air terjun." Viona berteriak melihat Air terjun yang indah dari atas batu bukit.


"Berhati-hatilah, batu itu licin." ucap Valentino yang menunggu di bawah.


"Aku mau turun, dan melihat air terjun." Viona tergesa-gesa turun dari batu hingga kakinya tergelincir.


"Aah." Viona berteriak dan ketakutan, Valentino berusaha menangkap tubuh Viona agar tidak jatuh ke samping jurang.


"Viona." Valentino berteriak.


Tubuh Viona jatuh menimpa tubuh Valentino.


"Arg." Valentino merasakan sakit di punggungnya karena terbentur batu dan kayu.


"Valen, maafkan aku." Viona masih berada di atas tubuh Valentino.


"Turunlah." ucap Valentino pelan.


"Maaf, maafkan aku." Viona gugup.


Viona melihat tubuh seksi Valentino yang tergores batu.


"Punggung kamu terluka." ucap Viona khawatir.


"Tak apa, duduk diam dan jangan bergerak." ucap Valentino yang beranjak meninggalkan Viona.


"Apa, Apakah dia marah sehingga meninggalkan diriku." Viona masih terdiam, ia melihat sekeliling dan ada rasa takut.


Seekor ular merah berada di atas dahan dekat dengan kepala Viona.


"Aaaah." Viona berteriak sehingga Valentino berlari kepadanya.


Valentino melihat ular melingkar di atas kepala Viona dan bersiap untuk terbang.


"Diamlah, jangan bergerak, jika kamu bergerak ular itu akan menyerang dirimu." ucap Valentino.


"Tolong aku." Viona menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ular merah segera terbang turun ke bawah bukit.


"Ularnya sudah tidak lagi." Valentino mendekati Viona.


"Kamu jahat, kamu meninggalkan diriku sendiri, aku ketakutan." Viona memukul - mukul dada bidang bertelanjang Valentino.


"Kamu jahat." Viona menangis.


"Aku tidak meninggalkan dirimu, aku hanya mengambil rumput obat." Valentino mengambil Mortar dari dalam ranselnya.


Valentino menghanguskan tumbuhan obat yang ia bawakan.


Viona terdiam, ia melihat punggung Valentino yang terluka karena dirinya dan dada Valentino merah karena ia pukul.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Viona.


"Aku harus menempelkan Obat ini di lukaku agar cepat sembuh dan tidak infeksi." ucap Valentino yang kesulitan meletakkan obat di punggungnya.


Viona mengambil Mortar dari tangan Valentino dan membantu mengoleskan ramuan herbal di punggung Valentino.


Mereka berdua hanya terdiam, Valentino dapan merasakan lembutnya tangan Viona menyentuh tubuhnya.


Viona terus melumuri tubuh Valentino dengan ramuan yang ada di dalam Mortar hingga habis.

__ADS_1


"Sudah selesai." ucap Viona.


"Terimakasih." Valentino mengambil Mortar dari tangan Viona dan menyimpannya kembali ke dalam ransel.


Valentino menggendong ranselnya.


"Apa kamu masih bisa berjalan?" tanya Valentino melihat Viona yang masih duduk di tanah.


"Aku bisa, bagaimana dengan dirimu?" Viona berusaha berdiri.


"Aku sudah terbiasa, jangan khawatir, khawatirkan diirmu sendiri." Valentino tersenyum.


"Baiklah." Viona berjalan di samping Valentino.


"Hati-hati, turun lebih sulit daripada mendaki." ucap Valentino.


"Aku akan berhati-hati." ucap Viona dan mulai turun.


"Berpeganglah pada pohon di dekat dirimu, jika kamu tergelincir kamu akan langsung jatuh ke air." tegas Valentino.


"Dimana Dokter Aisyah?" tanya Viona.


"Pasti ia sudah menunggu di dekat air terjun." ucap Valentino.


"Aw." Viona masih berpegang pada pohon.


"Fokuslah pada langkah kaki mu." ucap Valentino.


"Maafkan aku." ucap Viona.


"Tidak usah minta maaf, berusaha untuk menjadi wanita mandiri dan berani." ucap Valentino.


Viona terdiam, ia sedikit tersinggung dengan perkataan Valentino, ia juga mau menjadi wanita kuat dan berani seperti Nisa tetapi apa boleh buat Stevent membuat dirinya ketergantungan pada orang lain.


Viona melangkah kakinya dengan emosi, ia kesal dengan ucapan Valentino.


"Berhati-hatilah." ucap Valentino yang memperhatikan Viona dari belakang, ia tidak bisa melihat wajah cemberut Viona.


"Jangan terlalu ke kiri, kita sedang mengitari bukit." ucap Valentino.


"Aku tahu." Viona menoleh ke arah Valentino dengan emosi hingga kakinya nyangkut di akan rambat yang melilit di batu dan kayu.


"Aaah." Viona kembali berteriak karena ia terguling ke bawah dan menyangkut di akar - akar dan pohon.


"Viona." Valentino berteriak melepaskan ranselnya, berlari ke arah Viona yang masih tersangkut di pohon dan kakinya terikat akar.


Viona merasakan punggungnya dan pergelangan kakinya sakit.


"Viona bertahanlah." Valentino kembali ke atas mengambil pisau Kecil di ranselnya untuk memotong akar rambat.


Pergelangan kaki Viona luka dan bengkak, seperti ia terkilir.


Valentino menggendong Viona di belakangnya dan turun perlahan mendekati air terjun.


Viona meringis menahan perih dan sakit pada pergelangan kakinya.


"Duduklah di sini, nikmati pemandangan." ucap Valentino dan kembali ke atas untuk mengatasi ranselnya.


Viona duduk di atas batu dan tersenyum memperhatikan air terjun alami yang indah, berkilau memberikan warna pelangi karena pantulan cahaya Matahari.


Udara dingin dan sejuk, kicauan burung, bunga hutan yang indah dan kupu-kupu cantik bertebaran benar-benar memberikan ketenangan.


Valentino duduk di depan Viona, ia membuka sepatu Viona.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Viona.


"Mengobati kakimu." ucap Valentino tanpa melihat Viona.


Valentino membuka ransel, mengambil Mortar dan beberapa tumbuhan yang ada di pinggir air terjun.


Viona memperhatikan Valentino yang fokus menghaluskan tumbuhan obat dengan Mortar.


Valentino membalur, tumbuhan yang telah halus di pergelangan kaki Viona dan membungkusnya dengan kain kasa.


"Kamu tidak boleh mandi." ucap Valentino.


"Terimakasih." Viona menatap Valentino yang telah berdiri.


****


Mohon dukungannya dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊


Baca juga Arsitek Cantik dan Nyanyian Takdir Aisyah. terimakasih 😘


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


__ADS_2