
Malam Takbiran
Terdengar gema takbir, Nisa dan Stevent berada di dalam ruangan perawatan, mereka berdua duduk di sofa, Stevent terlihat tampan dengan busana muslim.
“Alhamdulilah, kita bisa melewati ramadhan dan lebaran bersama tahun ini walaupun di rumah sakit.” Nisa memeluk Stevent.
“Sayang, maafkan aku membuat lebaran pertama kamu di rumah sakit.” Nisa tersenyum dengan wajah sedih.
“Apa yang kamu katakan, aku sangat bahagia bisa berpuasa dan berlebaran bersama dirimu, dimanapun berada.” Stevent menguatkan pelukannya.
“Sayang, tahun unu benar – benar istimewa.” Nisa tersenyum.
“Ya, kamu adalah kado istimewa untuk ku.” Stevent mencium bibir Nisa. Terdengar ketukan pintu ruangan kamar Nisa.
“Sayang apa kamu belum mendapatkan suntikan?” Stevent menghentikan ciumannya dan berjalan mendekati pintu.
“Sudah Sayang.” Nisa tersenyum melihat Stevent membuka pintu.
“Assalamualaikum.” Umi dan Abi berdiri di depan pintu dan mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam.” Stevent tersenyum dan membuka lebar pintu kamar Nisa.
“Abi Umi.” Nisa sangat bahagia melihat Abi dan Umi yang datang mengunjungi mereka.
“Nisa sayang.” Umi meletakan tempat makanan di atas meja dan memeluk Nisa.
“Umi dan Abi, apa kabar?” Air mata Nisa menetes tanpa sadar.
“Alhamdulilah, Nak.” Umi mengusap kepala Nisa.
“Stevent kemarilah, cicipi masakan Umi.” Abi merangkul Stevent.
Pintu kembali di ketuk dan Stevent berjalan menuju pintu dan membukanya, ia melihat Papa Mark dan Mama Maria berdiri di depan pintu.
“Selamat malam Stevent.” Salam Papa Mark.
“Malam silahkan masuk Papa dan Mama.” Stevent memberikan jala untuk Papa dan Mama Nisa.
“Papa, Mama.” Nisa sangat bahagia, ia memiliki dua pasang orang tua yang sangat baik.
“Halo sayang.” Mama Maria memeluk Nisa dan bergantian dengan Papa.
“Ya Allah, Nisa sangat senang semua berkumpul bersama.” Nisa mengusap air matanya yang mengalir.
“Bagaimana jika kita makan bersama?” Umi membuka makanan khas lebaran yang ia bawakan.
Stevent menghubungi nomor ponsel Viona agar ia segera kembali ke kamar Nisa untuk ikut makan bersama.
Viona duduk di taman Rumah sakit melihat kembang api yang begitu indah berada di langit.
Mereka makan malam bersama dengan rasa kebahagian yang tidak terkira bagi Nisa, melihat orang tua yang ia cintai dapat berkumpul bersama.
Tidak ada yang tahu, air mata Viona mengalir membasahi pipinya. Ia merasa sedih dan bahagia bercampur aduk.
Kesedihan yang ia rasakan karena tidak bersama dengan papa dan mamanya, kebahagiaan ketika ia bersama keluarga baru Nisa.
Malam semakin larut, Papa dan Mama Mark pulang bersama, begitu juga Umi dan Abi.
__ADS_1
"Viona, bagaimana jika malam ini kamu menginap di rumah Umi?" Umi menyentuh pipi Viona.
"Apa boleh?" Viona melihat Stevent.
"Tentu saja, kamu bisa tidur di kamar Nisa." Stevent tersenyum.
"Baiklah, Terima kasih Kak." Viona memeluk Stevent dan Nisa.
Abi, Umi dan Viona pamit pulang, ia sangat bersemangat tidur di rumah Umi.
Viona merasa keberadaannya mengganggu kakaknya yang mau bermesraan dengan Nisa
Ruangan Nisa dan Stevent kembali sepi hanya tinggal mereka berdua.
Stevent segera mengunci pintu, agar mereka berdua bisa segera tidur, Nisa butuh banyak istirahat.
"Sayang, sebaiknya kita membersihkan diri sebelum tidur." Stevent membantu Nisa berhak menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka serta berwudhu.
"Sayang, aku sangat lelah." Nisa naik ke tempat tidur dibantu Stevent.
"Tidurlah, aku tidak akan menggangu dirimu, berikan aku ciuman saja." Stevent tersenyum.
"Tentu saja." Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent dan mencium bibir Stevent dengan lembut penuh kemesraan.
"Tidurlah." Stevent mengecup kening Nisa dan memeluknya.
Mereka berdua memejamkan mata dalam damainya cinta kasih suami istri.
***
Viona memerhatikan setiap sudut ruangan yang berisi peralatan sederhana.
Ia duduk di tepi ranjang dan mengambil ponsel baru yang dibelikan oleh Stevent.
Viona membuka layar ponsel dan melihat nomor ponsel Fauzan.
"Aku akan mengirimkan ucapan hari raya." Viona tersenyum dan mulai mengetik pesan untuk Fauzan dan mengirimkannya.
Viona terus menatap layar ponselnya menunggu balasan dari Fauzan.
"Aku akan kecewa." Viona meletakkan ponselnya di atas meja dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Terdengar nada pesan dari ponselnya, dengan cepat Viona membuka ponselnya.
"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Aku berencana lebaran di negara kalian tetapi gagal, bagaimana lebaran di sana?" Fauzan.
"Aaaaa." Viona berteriak kegirangan menerima balasan dari Fauzan hingga mengejutkan Umi yang berlari ke kamar.
"Viona, ada apa?" Umi segera membuka pintu karena khawatir.
"Maaf Umi, aku sedang memainkan ponselku dan terkejut jadi aku berteriak, maaf kan aku." Viona menunduk.
"Baiklah, Umi hanya khawatir." Umi tersenyum.
"Terimakasih Umi." Viona tersenyum.
"Tidurlah." Umi menutup pintu Viona.
__ADS_1
"Ya Umi." Viona tersenyum, ia tidak tahi ketika Umi masuk ia telah menekan icon panggilan video.
Fauzan hanya bisa melihat langit - langit kamar, karena ponsel Viona yang terletak di atas meja.
"Memalukan, kenapa aku harus berteriak kegirangan." Viona mengambil ponselnya dan memperhatikan layar ponselnya dengan wajah Fauzan.
"Sejak kapan aku menggantikan wallpaper ini dengan wajah Fauzan." Viona tersenyum dan menatap wajah Fauzan dari layar ponselnya, ia benar-benar tidak tahu bahwa itu adalah panggilan video.
"Kamu sangat tampan." Viona tersenyum dan menyentuh layar ponselnya.
"Terimakasih, kamu sangat lucu mengatakan langsung apa yang kamu ingin kamu ungkapkan." Fauzan tersenyum.
"Apa, Aaaaaah." Viona kembali berteriak dan meletakkan ponselnya di atas kasur.
"Ya Tuhan, aku benar-benar gila, bagaimana aku tidak tahu itu panggilan video, bodoh - bodoh." Viona menepuk dahinya.
Viona berlari ke pintu dan melihat apakah Umi kembali naik ke kamarnya.
"Untunglah aku segera menutup mulut." Viona kembali mengambil ponselnya, melihat layar dengan perlahan.
"Kamu menghubungi diriku tetapi kamu terus berteriak dan meninggalkan ponsel kamu." Fauzan menatap tajam kepada Viona.
Viona terdiam, ia hanya memandang wajah Fauzan dari layar ponselnya, ia masih tidak percaya bahwa Fauzan akan menjawab panggilannya.
"Apa kamu akan terus diam?" Fauzan meletakkan ponselnya di atas meja sehingga Viona bisa melihat setengah dari tubuh Fauzan.
"Maafkan aku, sebenarnya aku tidak sengaja melakukan panggilan, aku kira kamu tidak akan menerima panggilan dari ku." Wajah Viona merona.
"Kenapa tidak, kamu adalah adik temanku." Fauzan tidak terlalu memperhatikan Viona, ia terlihat sibuk dengan layar komputernya.
"Maafkan aku telah mengganggu dirimu." Suara Viona lembut, ia terus memperhatikan wajah Fauzan.
"Tidak apa, aku bisa melakukan panggilan dan bekerja." Fauzan tersenyum.
"Terimakasih, sekali lagi aku mohon maaf." Viona tersipu malu mengingat kebodohannya.
"Baiklah akan kamu butuh sesuatu?" Fauzan melihat Viona sekilas.
"Aku hanya mau mengucapkan selamat hari raya idul Fitri 1441Hijriyah." Viona tersenyum malu.
"Ah, sama - sama dan sampai jumpa." Fauzan tersenyum dan mematikan ponselnya.
"Aaaah." Viona sangat bahagia hingga ia guling - guling di atas tempat tidur.
"Ya Tuhan, dia sangat tampan." Viona menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia merasakan wajahnya sangat panas.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin 🤗
***Baca Novel Baru Author***
(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih. Baca juga “Arsitek Cantik”
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Putih Abu – abu ( Sohibul Iksan) Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1