Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kegelisahan Kenzo


__ADS_3

Kenzo berbaring di kamarnya, wajah Ayesha terus terbayang olehnya.


Pertemuan ia dengan Ayesha dengan cara yang berbeda, wanita pertama yang ia sentuh adalah Ayesha, bahkan Nisa yang satu rumah dengan dirinya tidak pernah mereka bersentuhan.


"Apa yang aku lakukan, bahkan aku dengan refleks menarik tubuh Ayesha ke pelukan ku di atas kuda." Kenzo mengusap wajahnya.


"Fauzan akan membunuh ku." Kenzo beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar.


"Ayesha telah menggangu pikiranku, bahkan Nisa hanya membuat diriku rindu." Kenzo berjalan berkeliling pesantren.


"Aku mencintai Nisa karena aku menghabiskan waktu ku bersama dengan dirinya dan berpikir kami akan berjodoh, dan Ayesha dia membuat diriku tertarik sejak kami bertemu." Kenzo menghentikan langkahnya.


Ia mendengarkan suara yang tidak asing dan Kenzo tertarik untuk mengintip.


Ayesha sedang memberikan pelajaran di dalam kelas santriwati.


"Dia sangat lembut ketika bersama anak-anak." Kenzo memerhatikan setiap gerakan Ayesha.


Ayesha menyelesaikan kelasnya dan seorang santriwati bertanya.


"Kak Ayesha, Apakah kakak juga seorang Dokter?" tanya santriwati.


"Ya, apa kamu mau kakak periksa?" Ayesha tersenyum.


"Biasanya, setiap sebulan sekali Kak Nisa akan memeriksa kesehatan kami." ucap seorang lagi.


"Apa kalian mau kakak meminta Kak Nisa kemari?" Ayesha tersenyum.


"Tidak kak, kak Nisa sedang sakit, apa kakak bisa menggantikan kak Nisa untuk memeriksa dan mengobati kami?" tanya seorang santriwati.


"Jika kalian menginginkannya, kakak akan melakukan untuk kalian." Ayesha tersenyum.


"Terimakasih kak." semua santriwati tersenyum bahagia.


Ayesha keluar dari ruang kelas ia melihat Kenzo duduk di bawah pohon menatap dirinya.


"Apa kamu akan terus menghindari diriku." Kenzo menghentikan langkah kaki Ayesha yang akan melewati Kenzo.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Ayesha tanpa menoleh.


"Kenapa pria itu ingin melukai dirimu?" tanya Kenzo.


"Karena dia menginginkan diriku." ucap Ayesha.


"Apakah dengan cara mencelakai dirimu?" tanya Kenzo lagi.


"Dia mau menyentuhku agar bisa menikah dengan diriku." ucap Ayesha berjalan meninggalkan Kenzo.


"Bagaimana dengan diriku, bukankah aku sudah dua kali menyentuh dirimu." Kenzo memperhatikan Ayesha yang kembali berhenti.


"Kita akan menikah jika kamu menginginkannya, tetapi tidak sekarang." ucap Ayesha.


"Apa kamu mau menikah dengan diriku?" tanya Kenzo.


"Kenapa tidak, mungkin Allah mempertemukan kita karena kita berjodoh, bagaimana dengan dirimu?" tanya Ayesha.


"Hanya pria bodoh yang akan menolak dirimu." Kenzo tersenyum.


"Mungkin kamu satu diantara pria bodoh itu." ucap Ayesha meninggalkan Kenzo.


"Kamu sangat unik dan berbeda." Kenzo tersenyum.


Fauzan memperhatikan Ayesha dan Kenzo dari kejauhan, ia sangat penasaran dengan pembicaraan Ayesha dan Kenzo yang terlihat serius.


"Apa mereka berbicara tentang bisnis?" Fauzan duduk di atas bagian depan mobilnya dan melihat Ayesha berjalan mendekati dirinya.


"Aku mau kembali ke Kairo." ucap Ayesha duduk di samping Fauzan.


"Kenapa, bukankah kamu memberikan kesempatan satu Minggu untuk Kenzo dan Stevent?" Fauzan memerhatikan mata Ayesha.


"Kakak bisa melakukannya, Aku rindu Mama." ucap Ayesha.


"Kamu sedang tidak berbohong?" tanya Fauzan menyelidiki.


"Apa aku terlihat berbohong?" Ayesha menatap Fauzan.


"Kamu tidak berbohong rindu Mama tetapi Kakak yakin kamu merahasiakan sesuatu dari Kakak." Fauzan menatap tajam kepada Ayesha.


"Cepet atau lambat kakak akan mengetahui sendiri." Ayesha tersenyum.


"Baiklah, aku akan mencari tahu semuanya, kapan kamu mau pulang?" tanya Fauzan.


"Besok, setelah melakukan pengecekan kesehatan para santri dan santriwati." Ayesha tersenyum.


"Kakak akan mengantarkan dirimu sampai bandara." Fauzan mengusap kepala Ayesha.


"Terimakasih." Ayesha tersenyum dan memeluk lengan kekar Fauzan dan menyenderkan kepalanya di bahu Fauzan.


Kenzo melihat Ayesha, ada gelisah dihatinya, ia bahkan membandingkan rasanya kepada Ayesha dan Nisa, ada perbedaan yang tidak bisa diungkapkan.


***


Ayesha pamit dengan Abi dan Umi serta anak-anak pesantren, mereka sangat sedih.


Ayesha telah mengambil hati semua orang untuk mencintai dirinya.


Ia melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil, beberapa Santi dan santriwati menangis.


Umi berusaha menahan air matanya agar tidak menangis.


Mobil Fauzan melaju membelah jalanan menuju Bandara.


Kenzo sedang menyelesaikan tugas yang Ayesha diberikan mencari tempat tinggal untuk korban gusur perusahaan.


Ia tidak tahu Ayesha telah pulang ke Kairo Mesir karena dirinya sibuk dengan urusan pekerjaan.


Ayesha telah berada di pesawat dan melakukan penebangan kembali ke istana Fauzan.


Penjemputan telah disiapkan untuk Ayesha di bandara internasional Kairo Mesir.


Fauzan kembali ke hotel, ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya, di beberapa negara secara online.


"Apa yang Ayesha sembunyikan dariku?" Fauzan masih memikirkan Ayesha.


"Aku melupakan sesuatu." Fauzan mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter Syifa.

__ADS_1


Dokter Syifa sangat terkejut ketika melihat nama Fauzan muncul di layar ponselnya.


Pria pujaan sejuta wanita itu tidak pernah menghubungi dirinya.


Dokter Syifa berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawab panggilan Fauzan.


"Assalamualaikum, Tuan." salam Dokter Syifa berusaha tenang.


"Waalaikumsalam, Dokter Syifa aku mau bertanya tentang kecelakaan Ayesha, aku telah melewatkan sesuatu." tegas Fauzan.


"Silahkan Tuan, saya akan menjawab dengan sebenarnya." ucap Dokter Syifa.


"Bagaimana Ayesha kerumah sakit, sendiri atau ada yang mengantarkan dia?" tanya Fauzan membuat jantung Syifa berdetak kencang.


"Tuan Putri di antar dan digendong oleh seorang pria, ia bahkan meninggal kartu namanya." Ucap Syifa pelan, ia tidak akan pernah berani berbohong kepada Fauzan.


"Kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku dari awal?" tanya Fauzan yang tetap tenang.


"Anda tidak bertanya Tuan." ucap Syifa.


"Kamu benar, maafkan saya, Tolong kamu foto kartu nama pria itu dan kirim kepada ku." ucap Fauzan


"Baik Tuan." suara Syifa lembut.


"Terimakasih Dokter Syifa, assalamualaikum." Fauzan mengakhiri panggilan.


"Waalaikumsalam." Syifa meletakkan ponselnya di atas meja, ia terdiam menahan rasa bahagia karena bisa berbicara dengan Fauzan walaupun hanya lewat Ponsel.


"Tuhan menciptakan dirimu terlalu sempurna." Dokter Syifa tersenyum, ia segera mencari kartu nama Kenzo uang ia simpan di laci mejanya.


"Mungkin pria ini jodoh kamu Ayesha dan Dia sangat tampan." Dokter Syifa segera mengirimkan foto kartu nama Kenzo.


Fauzan menunggu pesan dari Dokter Syifa dengan terus memandangi layar ponselnya.


Sebuah pesan masuk dari Dokter Syifa dan foto kartu nama yang tidak asing muncul di layar ponsel.


"Kenzo." Fauzan melihat nama dan nomor ponsel di foto kartu nama.


Untuk meyakinkan dirinya Fauzan segera menghubungi nomor Kenzo.


"Assalamualaikum Tuan Fauzan." jawab Kenzo.


"Waalaikumsalam, Kamu dimana?" suara Fauzan terdengar tertekan.


"Aku di pabrik." jawab Kenzo yang merasakan sesuatu berbeda dari suara Fauzan.


"Baiklah, lanjutkan pekerjaan kamu." ucap Fauzan dengan aura dinginnya.


"Aku rasa inilah penyebab Ayesha terus menghindar Kenzo, karena Kenzo pernah menyentuh dirinya, kamu sudah berani menyembunyikan ini dariku." Fauzan tersenyum.


"Sepertinya Kenzo terlalu beruntung atau sudah kehendak Allah, mereka selalu didekatkan." Fauzan tersenyum.


"Untung saja, Kenzo pria cerdas dan baik." ucap Fauzan.


"Tunggu dulu, Kenzo tidak memiliki keluarga dan tidak tahu asalnya, ia hanya dibesarkan di panti pesantren." Fauzan harus memikirkan Raja dan Ratu yang tidak mungkin merestui Ayesha Menikah dengan pria biasa - biasa saja.


"Lupakan, Ayesha sudah kembali ke Kairo." Fauzan kembali fokus dengan pekerjaannya.


***


Ada rasa rindu di hatinya yang membuat Kenzo tersenyum sendiri.


"Kenapa rasa ini berbeda, ketika aku bersama Nisa, ada sesuatu yang menggelitik hatiku." Kenzo tersenyum sendiri.


Rasa cinta berbeda yang Kenzo rasakan pada Nisa dan Ayesha.


Kenzo selalu ingin melindungi Nisa dengan cara selalu bersama Nisa dan menjadikan Nisa istrinya.


Namun, rasa pada Ayesha berbeda, rasa ingin melindungi, ingin bersama dan ingin memiliki satu sama lain.


Kenzo merasakan hatinya yang berdetak kencang ketika mengingat Ayesha, suaranya, tingkahnya, marahnya dan senyuman yang ia sembunyikan di balik cadarnya.


"Apa yang membedakan rasa ku pada Nisa dan pada Ayesha?" Kenzo memijit batang hidungnya.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Kenzo kembali ke pesantren untuk melaksanakan sholat isya dan tarawih bersama di pesantren.


Kenzo berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat, ia sangat lelah.


Fauzan menahan tangan Kenzo hingga ia menoleh, tatapan dingin yang Kenzo dapatkan dari Fauzan.


"Tuan Fauzan, ada apa?" tanya Kenzo.


"Berapa lama kamu merencanakan untuk mendapatkan Ayesha?" tanya Fauzan menatap tajam pada Kenzo.


"Apa maksud Anda?" Kenzo bingung.


"Apakah kamu yang menabrak Ayesha dan mengantarkannya ke rumah sakit?" Fauzan terus menatap Kenzo.


"David yang menabrak dan aku yang menggendong Ayesha, itu pertemuan kami yang pertama kalinya." jelas Kenzo tidak berbohong.


"Kenapa kamu tidak mengatakan kepada diriku" tanya Fauzan.


"Ayesha melarang diriku untuk berbicara tentang kecelakaan itu." Kenzo tampak serius.


"Kamu sangat menuruti kemauan Ayesha, padahal kami akan rugi." Fauzan tersenyum.


"Aku tidak mau dia marah dan membenciku." tegas Kenzo.


"Baguslah, apakah itu pertama dan terakhir kalinya kamu menyentuh Ayesha atau ada yang lain?" tanya Fauzan menyelidiki.


Kenzo terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa, habis sudah dirinya.


"Sepertinya ada yang lain?" Fauzan mendekati wajahnya.


"Dua kali." jawab Kenzo tenang.


"Kamu benar-benar beruntung, aku terus menjaga Ayesha dan ada pria lain yang merebutnya dariku." Fauzan menepuk pundak Kenzo.


"Apa kamu mau menikahi Ayesha, dan kamu bisa menolaknya." Fauzan tersenyum.


"Apa aku harus menjawabnya sekarang?" Kenzo balik bertanya.


"Apa kamu butuh waktu untuk menolak atau menerima lamaran ku?" tanya Fauzan.


"Aku akan menikahi Ayesha!" tegas Kenzo.

__ADS_1


"Bagus, persiapkan dirimu dan Ayesha belum tahu tentang ini." Fauzan meninggalkan Kenzo yang terdiam membeku tidak percaya apa yang ia dengarkan.


Seorang pangeran melamar dirinya untuk menikahi seorang putri bernama Ayesha.


Kenzo melihat para pengajar wanita kembali ke kamar mereka tetapi tidak ada Ayesha.


"Kemana Ayesha? haruskah aku bertanya kepada Tuan Fauzan?" Kenzo melihat punggung Fauzan yang telah menghilang dari pandangan.


"Dimana Ayesha? aku bahkan tidak memiliki nomor ponselnya." Kenzo gelisah, ia berjalan menuju kamarnya.


Kenzo tidak bisa tidur, sehari semalam ia tidak melihat dan mendengarkan suara Ayesha.


Pagi-pagi sekali setelah subuh ia telah berangkat ke sekolah lokasi pabrik dan pulang di waktu isya.


Ada kerinduan di hati Kenzo, pada wanita bercadar yang telah menggangu hati dan pikirannya.


"Kenapa aku merasa gelisah, apa yang aku rasakan pada Ayesha, seakan tidak bisa aku pahami, jika ini cinta kenapa rasa ini berbeda ketika aku mencintai Nisa?" Kenzo gelisah dengan rasa yang ada di hatinya.


"Apakah cinta ku kepada Nisa bukan cinta kepada lawan jenis, tapi cinta seorang kakak kepada adiknya seperti cinta Fauzan kepada Ayesha yang terus berusaha melindungi Ayesha." Kenzo mengusap wajah.


Selama ini Kenzo tidak pernah membuka hatinya kepada wanita lain, ia bahkan tidak pernah melihat wanita disekitarnya.


Ayesha adalah wanita pertama yang telah mengalihkan pandangan Kenzo dari Nisa.


Untuk pertama kalinya Ayesha telah mengalihkan dunia sempit Kenzo tentang rasa cinta.


"Aku tidak bisa tidur." Kenzo mengambil wudhu dan membaca Al-Qur'an untuk memenangkan diri dari kegelisahan tentang rasa yang ada di hatinya.


***


Pagi telah tiba, Kenzo tidak bisa menahan rindunya, ia bersiap bekerja sebelum berangkat ia mencari Ayesha tetapi Kenzo tidak menemukan Ayesha dimanapun.


Kenzo berjalan menuju rumah Umi, ia melihat Umi yang duduk seorang diri.


"Assalamualaikum Umi." salam Kenzo.


"Waalaikumsalam." Umi tersenyum.


"Umi, dimana Ayesha? Aku tidak melihatnya dari kemarin." Kenzo melihat ke arah pintu.


"Ayesha sudah pulang ke negaranya." ucap Umi.


"Apa?" Kenzo terkejut tetapi ia tetap berusaha untuk tenang.


"Apa dia menghindari diriku?" Kenzo bertanya kepada hatinya.


"Ayesha merindukan Mamanya." ucap Umi.


"Ooh." Kenzo tersenyum.


"Apa dia tidak tahu aku merindukan dirinya, apa aku merindukan Ayesha." Kenzo mengacak rambutnya.


"Apa yang kamu lakukan nak?" tanya Umi melihat Kenzo.


"Ah, kepalaku gatal." Kenzo tersenyum dan merapikan rambutnya, ia pamit pada Umi untuk berangkatkKerja.


"Apa kamu mencari Ayesha?" Fauzan menyenderkan tubuhnya di pintu mobilnya.


"Apa aku seperti sedang mencari Ayesha?" Kenzo balik bertanya.


"Aku akan mencari Ayesha karena aku mencintainya." tegas Fauzan.


"Apa aku sangat terlihat sedang mencari Ayesha?" Kenzo berbicara dalam hatinya.


"Bagaimana tugas yang Ayesha berikan?" tanya Kenzo menatap tajam kepada Kenzo.


"Insya Allah dalam waktu kurang dari tiga hari kita akan menandatangani kerjasama ini." Kenzo sangat yakin.


"Baguslah, Aku tidak bisa lama disini tanpa Ayesha." Fauzan tersenyum.


"Apa anda akan pergi?" tanya Kenzo.


"Tentu saja." tegas Fauzan.


"Hmm kamu benar-benar beruntung, aku telah menjaganya selama ini dan kamu langsung mengambilnya dariku." Fauzan masuk ke dalam mobil meninggalkan Kenzo yang kebingungan.


"Apa yang mereka rencanakan, membuka proyek baru dan meninggalkan begitu saja." Kenzo masuk ke dalam mobil.


"Dan adiknya, setelah mengacaukan hati dan pikiran ku ia pergi begitu saja tanpa sepatah katapun." Kenzo memijit kepalanya.


Mobil Kenzo keluar dari gerbang pesantren dan sebuah mobil sport berwarna merah menghalangi mobilnya.


Natha keluar dari mobil dan menatap tajam ke arah Kenzo.


"Apa yang ia inginkan?" Kenzo keluar dari mobil.


"Apa yang kamu lakukan di sana, singkirkan mobil kamu!" perintah Kenzo.


"Aku hanya mau bertemu Ayesha dan melihat wajah cantiknya." Nathan tersenyum duduk di atas mobilnya.


"Sayangnya kamu tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu." Kenzo melipat tandasnya di depan dadanya.


"Tidak mungkin." Nathan tersenyum.


"Ayesha akan menjadi milikku dan kami akan segera menikah." tegas Kenzo.


"Kamu hanya menggertak diriku." Nathan menatap tajam kepada Kenzo.


"Kamu bisa menanyakan langsung kepada Tuan Fauzan." Kenzo kesal dan masuk ke dalam mobil.


"Singkirkan mobil kamu!" perintah Kenzo.


Nathan memindahkan mobilnya sehingga Mobil Kenzo bisa lewat.


"Aku mau melihat wajah Ayesha dan membandingkan dengan Nisa." Nathan tersenyum.


***


Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like, Komentar, Vote, dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Nyanyian Takdir Aisyah" dan "Cinta Bersemi di ujung Musim (Fitri Rahayu)"


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Terimakasih yang sudah memberikan Tips, Vote, Like dan Komentar 😘😘

__ADS_1


__ADS_2