Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Obat Bius


__ADS_3

Nisa Melakukan aktivitas seperti biasanya, ia selalu menyelesaikan pekerjaan rumah, sholat Dhuha dan akan berangkat bekerja setelah berpamitan dengan Abi dan Umi.


Nisa berjalan menuju garasi mobilnya yang telah ia hidupkan di pagi sekali. Nisa mengendarai mobilnya perlahan meninggalkan perkarangan rumah. Sebuah mobil sport hitam berada tepat di depan pintu gerbang, dan menghalangi mobil Nisa untuk keluar.


Nisa membunyikan klakson mobilnya, tapi mobil pemilik mobil tidak perduli. Nisa memperhatikan mobil yang berada di depan mobilnya.


" Stevent " gumam Nisa yang segera membuka pintu dan keluar dari mobilnya mendekati Mobil sports hitam. Nisa berjalan menuju pintu pengemudi menundukkan tubuhnya dan mengetuknya.


Kaca mobil terbuka, wajah tampan seorang pria dengan senyuman yang menyegarkan bagi wanita yang melihatnya namun terasa menyebalkan di mata Nisa.


" Morning Sayang " sapa manja dan mesra dari Stevent


" Morning, tolong pindahkan mobilmu, aku mau lewat. Stevent membuka pintu mobilnya dan keluar. Nisa pindah dari depan pintu ke belakang.


" Kamu tidak perlu membawa mobil sendiri aku akan mengantar jemput dirimu setiap hari kemanapun kamu mau " Stevent menutup pintu mobil dan menyenderkan tubuhnya pada pintu.


" Aku mohon, kita tidak boleh terlalu sering bersama apalagi berdua di dalam satu mobil " Jelas Nisa sabar


" Baiklah, mulai besok aku akan mengajak Jhonny " Stevent tersenyum


" Jhonny sama saja dengan patung " pikir Nisa dalam hati


" Bisakah kamu memundurkan sedikit mobilmu , aku mohon " Nisa memelas dengan sangat cantik dan manis sehingga mencairkan gunung Es di kutub Utara. Stevent dengan patuh masuk ke mobilnya dan memberi jalan untuk mobil Nisa.


" Aku harus seperti kucing imut yang jinak dan menggemaskan " Nisa berbicara sendiri di dalam mobilnya


Setelah mendapatkan jalan Nisa segera memacu mobilnya menuju rumah sakit, ia ada jadwal operasi siang nanti.


Mobil Nisa berhenti tepat di lokasi Stevent tertembak dan hampir jatuh ke jurang. Ia melihat ada kendaraan yang bertabrakan di depan. Nisa keluar dari mobil dan mendekat, namun tidak ada siapa-siapa di sana.


" Halo Dokter Cantik " Suara seorang pria mendekati Nisa


" Omg, aku ngak tega nyakitin seorang bidadari" seorang lagi datang dan mau menyentuh wajah Nisa, belum sampai tangannya Nisa dengan cepat menangkap dan memelintirnya, hingga pria itu berteriak kesakitan.


Keempat pria lainnya terkejut, Wajah cantik bak bidadari itu adalah wanita sadis yang mengerikan. Nisa tidak suka dengan para preman yang sering melecehkan perempuan.


Nisa kewalahan, 5 pria bukan tandingan seorang wanita. Namun ia tetap berusaha dan berharap Tuhan akan mengirimkan ia penolong. Seorang pria menancapkan sebuah jarum ke lengan Nisa tak beberapa lama membuat Nisa lemas yang berusaha bertahan untuk tetap membuka matanya.


" Untung kita membawa obat bius " seorang bicara yang terdengar samar di telinga Nisa.


Sebuah mobil sport hitam dengan kecepatan tinggi mendekat dan berhenti mendadak hingga menghasilkan decitan yang menyakitkan telinga dengan tergesa-gesa ia keluar dari mobil. Ia melihat Nisa yang berusaha untuk sadarkan diri, Stevent berang hingga matanya memerah.


Tanpa peringatan ia langsung menghajar semua berandalan tanpa ampun hingga 1 orang tak bernyawa lagi, sedangkan yang lainnya melarikan diri ketakutan melihat Stevent seperti orang gila yang tak sadar pria yang ia hajar telah meninggal.


Stevent melempar kasar pria pria yang tak bernyawa ke jurang, ia mengeluarkan pistol dan menembak ban mobil para preman hingga mobil kehilangan kendali menabrak pembatas jalan.


Stevent mau mengejar para preman dan menghabisi semuanya, Ketika akan masuk ke mobil ia melihat Nisa yang telah tergeletak di atas aspal tak sadarkan diri.


Stevent melempar pistolnya ke jurang, ia segera mengangkat tubuh Nisa membawanya ke dalam mobil. Stevent mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju istananya.


Sesampai di rumah ia memarkirkan mobilnya sembarangan, menggendong Nisa menuju kamarnya, kamar tepat di depan tangga yang tidak pernah ada seorang pun berani masuk kamar itu. Kamar yang hanya di gunakan Stevent di malam hari


Stevent merebahkan tubuh si atas tempat tidur yang sangat besar. Ia menghubungi nomor dokter pribadinya, Lucas dan mengatakan agar Lucas membawa perawat wanita. ia tidak mau Lucas menyentuh Nisa.


Stevent menatap wajah cantik yang sedang tertidur pulas, perlahan Stevent menyentuh pipi yang halus mulus dan lembut, hidung mancung, dan bibir merah jambu yang basah.


Stevent mengambil tisu, membersihkan wajah Nisa yang berkeringat dan sangat kelelahan.


Lucas dan seorang perawat mengetuk daun pintu uang memang terbuka sejak Stevent masuk membawa Nisa.


" Masuklah " perintah Stevent


Lucas dan perawat tercengang melihat isi kamar Stevent yang tidak bisa di gambarkan begitu mewah.

__ADS_1


" Cepatlah" Stevent mulai emosi melihat Lucas yang masih terdiam di pintu.


Lucas dan perawat berjalan menuju tempat tidur dan melihat seorang gadis cantik dengan jilbab berwarna putih tertidur pulas bagaikan Putri tidur di dalam dongeng.


Stevent memperhatikan Lucas


" apa kamu sudah bosan hidup" Stevent mengepalkan tangannya, Lucas gelagapan segera mengambil perlengkapan medis dan akan memeriksa Nisa.


" Jangan sentuh " Stevent menahan tangan Lucas


" Hei Bro, bagaimana aku memeriksanya jika tidak menyentuh ?" Lucas menepis tangan Stevent hingga membuat Stevent marah dan mendorong Lucas hingga terjatuh dan terkejut.


" Periksa Dia !" perintah Stevent menatap perawat wanita yang dari tadi memandang Stevent dan belum melihat Nisa.


Perawat mendekat.


" Dokter Nisa " suara perawat terdengar oleh Stevent dan Lucas


" Kau mengenalnya " Lucas berusaha berdiri dan mendekat.


" Jangan melangkah lagi !" Stevent menatap tajam ke Lucas


" Tentu saja Dokter Lucas, semua orang mengenalnya " perawat segera memeriksa Nisa dengan teliti.


" Bagaimana keadaannya ?" Stevent khawatir


" Dia hanya kelelahan dan sepertinya dia diberi obat tidur " jawab perawat dan memandang Stevent penuh kagum. Pria tampan yang sempurna.


" Apa yang harus kita lakukan ?" Tanya Stevent dan duduk di samping Nisa


" Nanti dia akan bangun dengan sendirinya tuan, Ketika bangun berikan dia minum air putih yang banyak, karena Dokter Nisa aduan dehidrasi " perawat tersenyum manis kepada Stevent.


" Baiklah " Stevent menyentuh pipi Nisa dengan jari - jari kekarnya dan menutupi tubuhnya Nisa dengan selimut miliknya


" Ayo turun " Stevent mempersilahkan Lucas dan perawat meninggalkan kamarnya dan menutup pintu kamar.


" Hei Steve, biarkan aku melihat Dokter Nisa sekali lagi " Lucas memelas, perawat masih memandang Stevent.


" Bagaimana Dokter Nisa bisa berada di rumah ini ?" pikir perawat yang bernama Stella


" Jika kamu mau buta setelah itu aku izinkan" ucap Stevent dan duduk di Sofa


" pulanglah !" usir Stevent


" Aku akan pulang tapi sebelumnya, apa hubungan kamu dengan Dokter Nisa " Lucas memicingkan matanya menyelidiki


" Dia Istriku " jawab Stevent santai


" Apa ?" Lucas terkejut begitu juga dengan Stella, yang ia tahu Dokter Nisa belum menikah


" Kau bohong , tidak ada pesta" ucap Lucas


" Aku akan mengadakan pesta meriah dan megah bulan depan, sekarang pulanglah, sebelum aku mengisirmu dengan petugas keamanan " Stevent beranjak dari kursi meninggalkan Lucas dan Stella, ia kembali ke kamarnya.


" Bos Gila " Lucas kesal berjalan keluar menuju mobilnya yang telah di siapkan pelayan.


" Dok, apa benar Dokter Nisa Istri Tuan Stevent ?" Stella penasaran, dan ini adalah berita yang menggemparkan, akan ada banyak Pria dan wanita yang patah hati.


" Dokter Nisa memang beruntung " pikir Stella


" Entahlah tidak ada yang mengerti apa yang Stevent lakukan atau ia pikirkan, dia selalu bertindak sesuka hati " Lucas sangat mengenal sepupunya itu.


Stevent duduk di samping Nisa dan terus menatap wajah wanita yang masih tertidur pulas, sesekali Stevent mengusap wajahnya dengan kedua tangannya,, ia menahan gejolak yang mulai menggoda naluri seorang pria.

__ADS_1


Stevent tak tahan lagi ia segera beranjak menjauhkan diri dari Nisa dan duduk di sofa mewah dengan jarak 10 meter dari tempat tidurnya.


" Kenapa wanita ini sangat menggoda, hanya melihat wajahnya saja membuat aku gila " Stevent merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang dan memejamkan mata


Ini pertama kalinya ia bisa menatap lama wajah Nisa namun tidak memberikan kepuasan, ia masih terus terbayang dengan wajah cantik Nisa walaupun ia menutup mata.


Stevent kembali mendekat dan kembali duduk di samping Nisa.


" Aku benar-benar gila " Stevent kesal dengan perasaannya yang tidak bisa ia kendalikan, kecerdasannya seakan hilang.


Perlahan Nisa membuka matanya dan terkejut melihat wajah Stevent yang begitu dekat hingga Nisa refleks mendorong tubuh Stevent sekuat tenaga membuat tubuh Stevent terhempas kuat ke lantai.


Stevent dapat merasakan tubuhnya sakit terbentur lantai. Nisa segera duduk, ia memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing dan merasa perih di punggung telapak tangannya yang mengeluarkan darah, bekas jarum impuls yang tercabut paksa.


Nisa menatap sekeliling ruangan, ia ingat kejadian di jalan.


Kemudian ia melihat Stevent yang masih terduduk di lantai dan menatap tajam ke Nisa.


" Stevent " suara rendah terdengar dari mulut Nisa


Stevent beranjak dari atas lantai, berdiri dan berjalan mendekat.


" Apakah kamu mau menyakiti dirimu sendiri" Stevent menarik tangan Nisa dan membersihkan darah dengan tisu.


" Maaf, aku tidak sengaja " Nisa menarik tangannya


" Minumlah " Stevent mengambil segelas air putih dari atas meja dan memberikan kepada Nisa.


" Aku sedang berpuasa " Nisa menunduk, ia merasakan tubuhnya sangat lelah dan lemah


" Apakah kamu masih, berpuasa ketika sudah di suntikan obat bius dan mendapatkan asupan makanan dari jarum ini " Stevent memandang Nisa dan menyingkirkan selang impuls yang tergeletak di atas tempat tidur


Nisa segera mengambil gelas dari Stevent dan meminum habis air dalam gelas, tentu saja puasanya batal karena telah dimasukkan cairan pengganti makanan dan minuman ke tubuhnya.


" Pukul berapa sekarang ?" ia tidak melihat jam tangannya yang telah di buka ketika Stella memasang Impuls.


" Pukul sebelas " jawab Stevent yang kembali duduk di Sofa


" Dimana ponselku, aku harus menghubungi Dini " Nisa tidak akan bisa melakukan operasi dengan keadaan seperti ini.


Stevent mengambil tas dan menyerahkan kepada Nisa.


" Terimakasih " Nisa mengambil ponsel dari tas dan melakukan panggilan, ia meminta Dini untuk menghubungi Dokter lain menggantikan Nisa karena ia tidak bisa melakukan operasi, Nisa mengatakan dia kecelakaan namun tidak apa-apa hanya saja ia tidak bisa melakukan operasi siang ini.


Seorang pelayan mengetuk pintu, Stevent mendekati pelayan dan mengambil baki berisi makanan dan air putih.


" Makanlah !" Stevent menyuapkan bubur hangat


" Aku bisa makan sendiri " Nisa mau mengambil mangkuk


" Aku bisa melakukannya, duduk diam dan makanlah, jangan membuatku marah " tatapan tajam Stevent melemas tubuh Nisa yang memang masih lemas setelah berkelahi dan di beri obat tidur.


Nisa menurut saja dan menghabiskan bubur di mangkuk hingga tak bersisa.


Stevent memberikan gelas berisi air putih.


Nisa menghabiskan semua yang Stevent berikan.


" Istirahatlah, aku tidak akan menggangu " Stevent keluar dari kamar meninggalkan Nisa sendirian dengan pintu tertutup.


🤗 **Thanks for Reading 😊


Dukung terus Author dengan tinggalkan komentar, like dan Vote supaya Author semangat untuk update setiap hari 💪

__ADS_1


💓 Love you Readers 💓**


__ADS_2