Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Sesak di Dada


__ADS_3

Nisa selesai melakukan pemeriksaan, ia dan calon bayi kembarnya sehat, Nisa sangat bahagia dan bersyukur kepada Allah, Dokter Nada menemani Nisa berjalan di koridor hingga sampai ke parkiran.


Samuel memperhatikan Nisa dari gedung tingkat kantornya, dan Erick memperhatikan Samuel.


Nisa berpelukan dengan Dokter Nada dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pesantren Abi dan Umi.


Dari atas gedung Samuel bisa melihat tujuan Nisa, bahkan ia bisa melihat pesantren yang tidak jauh dari Rumah Sakit.


Nisa memasukkan mobilnya hingga perkarangan rumah.


Umi tidak mengenali mobil baru Nisa, ia melihat Nisa keluar dari mobil.


Umi segera berlari dan memeluk Nisa, ia sangat merindukan Nisa dan tidak tahu jika Nisa mengalami kecelakaan.


"Assalamualaikum,Umi" Nisa tersenyum dan memeluk Umi.


"Waalaikumsalam, Sayang, apa kabar Nak?" tanya Umi lembut.


"Alhamdulillah, Nisa dan Calon cucu Ini dan Abi juga sehat" Nisa tersenyum Cantik penuh kebahagiaan.


"Masya Alloh, Nisa sudah hamil?" Umi melepaskan pelukannya dan memegang perut rata Nisa.


"Alhamdulilah, sudah dan ada dua janin" Nisa meneteskan air mata bahagia.


"Alhamdulilah ya Allah" Umi kembali memeluk Nisa.


"Ayo Sayang kita masuk, ada Mama Maria" Umi menggandeng tangan Nisa dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Nisa melihat Mama Maria berkeliling melihat foto-foto Nisa yang terpajang di dinding ruangan. Wanita dengan menggunakan dress peach sebatas lutut dan atasan dengan beazer hitam.


"Halo Ma," Sapa Nisa, ia tahu Mama Maria bukan seorang Muslimah jadi Nisa tidak menyapanya dengan salam.


"Halo Sayang" Mama Maria tersenyum, berjalan mendekati Nisa dan memeluknya.


"Apa kabar Sayang?" Mama Maria mencium dahi dan pipi Nisa.


"Alhamdulilah, Nisa sehat, Mama apa kabar?" tanya Nisa tersenyum.


"Mama juga sehat" mereka berjalan bersama menuju ruang tamu.


"Nyonya Maria, kita akan punya cucu" ucap Umi bahagia.


"Benarkah?" Mama Maria melihat Nisa yang mengangguk.


"Oh Syukurlah" Maria kembali mencium dahi Nisa.


Nisa bersama Mama Maria berkeliling pesantren melihat para santri dan santriwati yang sedang belajar, dan kembali ke rumah Umi untuk menyiapkan menu makan malam.


Umi, Nisa dan Mama Maria membuat menu makan siang bersama. Mereka tertawa, bercanda bersama.


Nisa sangat bahagia memiliki dua ibu yang mencintainya, ia juga berharap Mama Maria bisa hidup bersama dengan Papa Mark.


Selesai memasak makanan untuk makan siang Umi dan Nisa sholat Zuhur, Mama Maria menunggu Mereka di ruang Makan.


Abi pulang ke rumah setelah sholat Zuhur berjamaah di masjid pesantren dan ikut makan siang bersama. Umi dan Abi selalu makan bersama dari satu piring.


Abi memperlihatkan kemesraan di hadapan Nisa dan Maria, Abi dan Umi selalu romantis Dimana pun mereka berada.


Usia mereka sudah tidak muda lagi dan rambut telah memutih, tetapi cinta kasih dan kemesraan selalu terjaga hingga akhir hayat.


Makan siang telah selesai, Nisa pamit pulang, Nisa memberikan alamat rumah utama Stevent kepada Mama Maria.


Mama Maria mengendarai mobilnya menuju toko dan perusahaan perhiasan miliknya dan Nisa mengendarai mobilnya menuju perusahaan Stevent.


Sebuah mobil mewah limited edition berwarna merah memasuki parkiran perusahaan.


Semua mata melihat kagum dan penasaran ke arah mobil, mereka ingin tahu orang akta mana yang mampu membeli mobil yang harus di pesan dulu jauh - jauh hari.


Nisa tidak perduli dengan mobil yang di hadiahkan Stevent, ia tidak tahu harga dan tipe mobil, ia hanya menerima dan menggunakan.


Ketika Nisa keluar dari mobil, penasaran mereka terjawab sudah, tidak heran jika itu adalah seorang Nyonya Stevent, tidak ada yang tidak bisa ia beli, karena setengah dari seisi dunia hampir dikuasai seorang Stevent.


Semua kembali menunduk ketika Nisa berjalan masuk dan menuju resepsionis.


"Selamat Siang Nyonya" sapa seorang resepsionis dan memberi hormat.


"Selamat Siang, Apakah Suamiku ada di ruangannya?" tanya Nisa tersenyum Cantik.


"Maaf Nyonya, hari ini Tuan Stevent dan Tuan Jhonny belum datang ke Perusahaan" jelas wanita itu.


"Oh, terima kasih" Nisa kembali tersenyum.

__ADS_1


"Apakah Anda ingin menunggu di Ruangan Tuan Stevent?" tanya seorang lagi.


"Tidak usah, saya akan menghubungi suami saya" Nisa berjalan menuju ruang tunggu dekat pintu masuk.


Dua orang resepsionis mulai khawatir, Nyonya besar duduk di ruang tunggu untuk umum, mereka takut Stevent akan marah.


Mereka segera menghubungi sekretaris Jhonny dan mengatakan kedatangan Nyonya Stevent yang menunggu di lobby dan tidak mau ke ruangan Stevent.


Nisa menghubungi nomor ponsel Stevent, namun tidak ada jawaban, Nisa melakukan panggilan berkali-kali.


Nisa menarik nafas panjang dan Permisi meninggalkan perusahaan kepada dua orang resepsionis.


Sekretaris Jhonny yang terburu - buru berlari dari lift menuju lobby, ia hanya bisa melihat punggung Nisa yang telah masuk ke dalam mobil mewah berwarna merah.


Nisa telah memacu mobilnya membelah jalanan kota, ia tidak tahu harus kemana, ia merasa bosan, rindu kepada Stevent tetapi Stevent entah dimana.


Nisa mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan, mobil terus melaju hingga sampai di penghujung jalan, sebuah restoran berbentuk perahu besar di pinggir jalan berhadapan langsung dengan laut dan sebagian tubuh perahu berada di atas laut.


Nisa memarkirkan mobilnya di tempat parkir, kafe terlihat tidak begitu ramai hanya ada beberapa pengunjung.


Nisa berjalan dan memilih kursi di tepi pantai, ia melihat daftar menu yang tergeletak di atas meja.


Nisa tersenyum, ada banyak menu seafood yang sangat ia sukai. Ia bisa melupakan rasa rindu dengan Stevent dan ganti dengan menikmati makanan laut.


Seorang pria mendekati Nisa dengan membawa buku untuk mencatat pesanan Nisa.


"Selamat Siang Nona, silahkan menulis menu pesanan Anda" pria sebagai pramusaji menyerahkan buku kepada Nisa.


Nisa menerima buku dan menulis menu makanan yang sangat ingin dia makan, pria itu memandang kagum kepada kecantikan Nisa dengan wajah yang putih bersih dan halus.


Terlihat Senyuman yang manis dan tulus dari wajah Nisa yang menampilkan deretan rapi gigi putih dan bersih.


"Terimakasih" Ucap Nisa tersenyum bahagia dan mengembalikan buku kepada pria itu.


"Tunggu sebentar Nona, pesanan Anda akan tersedia" ucap pria itu dan meninggalkan Nisa.


Nisa melihat sekeliling, restoran Terbuka di tepi pantai itu sangat luas, dan lebar. Selain restoran ada juga tempat penginapan seperti kamar - kamar yang berada di atas laut. Sangat Indah dan unik.


Ini pertama kalinya Nisa berada di restoran di atas laut. Ia tersenyum, Nisa tidak tahu jika dirinya telah jauh dari pusat kota.


Seorang pramusaji telah menatap menu makanan yang dipesan Nisa, perut Nisa sangat lapar setelah mengendarai mobilnya.


Nisa telah menghabiskan makanan yang tertata rapi di atas meja, ia segera melakukan pembayaran, Nisa bertanya tempat sholat karena ia mau melaksanakan sholat Ashar.


Sebuah ruangan tepat di samping dapur adalah tempat sholat, Nisa segera melaksanakan sholat ashar.


"Aku akan berkeliling sebentar" pikir Nisa.


Nisa tersenyum bahagia berjalan di atas perahu besar hingga sampai ke ujung. Ia melihat Stevent sedang berbicara dengan seorang wanita yang berpakaian sangat seksi. Senyuman Nisa sirna.


Wanita itu tersenyum menggoda Stevent yang tanpa ekspresi. Nisa mematung melihat Stevent yang sedang menikmati makan siang ditemani seorang wanita seksi menampilkan dada hampir keluar sepenuhnya dan paha tidak tertutup sama sekali.


Wanita itu terlihat sangat bahagia dapat makan siang bersama seorang Stevent Lu Alexander, pria yang tidak tersentuh.


Tidak ada Jhonny di sana, Nisa merasakan dadanya sesak, dan tanpa perintah butiran bening telah mengalir dari sudut matanya.


Nisa sesegukan, seorang pria berjalan hampir menabrak Nisa.


"Maaf Nona" Jhonny sangat kaget ketika melihat wanita itu adalah Nisa dengan wajah yang telah basah dengan air mata, ia kebingungan.


"Nyonya" ucap Jhonny gugup.


Nisa menoleh ke arah Jhonny dan Berlari menuju mobilnya, ia tidak memperdulikan Jhonny dan Stevent.


Jhonny kebingungan, ia harus mengejar Nisa atau memberitahu Stevent.


Jhonny segera berlari ke arah Stevent, yang menatap tajam ke arah Jhonny.


"Nyonya Nisa" ucap Jhonny menunjukan jarinya kearah mobil yang telah berputar dan meninggalkan restoran.


"Kenapa dengan Nisa?" tanya Stevent terkejut, hingga makanan yang ada di atas meja tumpah berantakan.


Stevent melihat mobil merah yang sangat ia kenal telah meninggalkan lokasi parkiran.


" Oh shit" Stevent segera berlari menuju Mobilnya dan mengejar Mobil Nisa.


Wanita yang bersama dengan Stevent ingin mengejar Stevent tetapi di cegah Jhonny.


Air mata Nisa terus mengalir, ia terus mengusapnya agar tidak menghalangi pandangan matanya.


Nisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak tahu kemana ia berkendara, ia seakan lupa jalan tidak tahu arah dan tujuan.

__ADS_1


Stevent dapat melihat mobil Nisa yang melaju dengan kencangnya, Stevent semakin kesal, isterinya dalam bahaya jika terus berkendara tanpa stabil.


Stevent tidak tahu cara menghentikan mobil Nisa, ia hanya bisa mengikuti Nisa entah sampai ke mana.


Jika ia memotong Nisa di depan itu akan berbahaya.


Stevent berusaha menyeimbangkan kecepatan mobilnya dengan mobil Nisa dan dengan perlahan memepet mobil Nisa ke samping.


Untungnya Nisa mengendarai mobil ke jalanan sepi menuju arah puncak dan semakin jauh dari perkotaan.


Mobil Nisa berhenti di ujung jalan hampir menabrak pohon.


Stevent segera keluar dari mobil, ia sangat khawatir.


Nisa terdiam di dalam mobil, pintu masih terkunci, ia merebahkan kepalanya di atas stir tidak ingin melihat Stevent.


Stevent terus menggedor - gedor kaca mobil dan berusaha membuka pintu.


Nisa tidak memperdulikan Stevent, ia merasakan sesak di dadanya, dan air mata terus mengalir.


"Sayang, buka pintunya" Stevent berteriak di luar dan tidak terdengar oleh Nisa, seakan mata dan telinganya tertutup oleh cemburu yang melukai hatinya.


"Sayang, aku akan memecah kaca ini!" Stevent benar-benar kesal.


Ia meninju kaca mobil dengan tangannya, hingga kaca berwarna merah, namun tidak pecah sama sekali.


"Aarrghhh" Stevent berteriak di luar mobil.


Nisa tertidur karena kelelahan berkendara dan menangis.


Sejak kehamilannya ketika Nisa kelelahan ia akan langsung tertidur tanpa bisa di tahan.


Stevent makin khawatir ketika ia melihat Nisa yang tidak memperdulikan dirinya dan bahkan tidak bergerak sama sekali.


Stevent tidak ingin melukai Nisa dengan memecahkan kaca mobil, ia berpikir keras apa yang harus ia lakukan, ia benar-benar merasa bodoh.


Stevent tidak merasakan sakit pada tangannya yang telah mengeluarkan banyak darah.


Stevent membuka laci mobilnya, ia memiliki sebuah alat peretas mobil "repeater tanpa kunci". Sebuah perangkat genggam kecil dengan antena untuk membuka kunci pintu samping pengemudi.


Tidak butuh beberapa lama pintu mobil Nisa terbuka otomatis.


Stevent membuka lebar pintu mobil dan melihat Nisa tertidur di atas stir mobil.


Stevent mengendong Nisa dan memindahkan ke mobil Stevent.


Stevent mengendarai mobil dengan kecepatan sedang hingga sampai ke rumah utama.


Nisa terbangun ketika mobil berhenti di depan pintu rumah.


Dengan cepat Nisa turun dari mobil tanpa menunggu Stevent, ia berjalan cepat menaiki tangga dan menuju kamar Viona yang kosong.


Nisa mengunci pintu, ia melaksanakan shalat Magrib dan isya sekaligus karena telah melewati waktu Magrib dan isya.


Stevent Berlari mengejar Nisa, dan mengetuk - ngetuk pintu kamar yang telah terkunci.


Stevent memerintahkan semua orang untuk mencari kunci pengganti, jika tidak ada segera hubungi ahli kunci atau robohkan saja pintu kamar.


***


**


*


*Terimakasih


*


**


**


Thanks for Reading.


Mohon dukungannya untuk berikan Jempol, Komentar dan Vote yang banyak, terimakasih.


Dukungan Vote dari Readers adalah Penyemangat Author untuk Update.


Terimakasih kepada Readers yang selalu setia memberikan Like komentar dan Vote, semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin.


Love You Readers**

__ADS_1


__ADS_2