
Penjara Nathan.
Tubuh Loly yang tidak tertutup sehelai benang terlihat penuh dengan luka akibat cakaran dari kukunya sendiri.
Nathan tersenyum melihat tubuh luka Loly yang tidak berdaya.
"Apakah menyenangkan menikmati nafsu seksual seorang diri?" Nathan menutupi tubuh Loly dengan selimut.
"Nathan, maafkan saya." Suara Loly serak dan berat.
"Memaafkan dirimu, itu tidak mungkin."Nathan mencengkram leher Loly memberikan bekas merah.
"Aku baru saja menemukan sebuah racun yang akan aku uji coba pada dirimu." Nathan tersenyum.
Loly semakin ketakutan, ia tahu Nathan bisa melakukan apa saja tanpa belas kasih, menyesal sudah tidak ada gunanya.
Ponsel Nathan berdering, panggilan dari Roy yang sudah kembali lebih dulu ke kota.
Nathan masih menghabiskan waktu di penjara dan melakukan pelatihan fisik.
Latihan yang keras untuk meningkatkan kemampuan diri.
"Ada apa?" Nathan menerima panggilan dari Roy.
"Aku sedang berada di gudang manusia, telah terjadi sesuatu di sini." Roy tetap terdengar tenang.
"Pindahkan saja ke gudang lama, aku akan langsung kesana!" Nathan berjalan keluar dari penjara meninggalkan Loly dengan tubuh yang hanya tertutup selimut tebal.
"Baiklah Tuan." Roy mematikan panggilan.
Gudang lama berada di sebuah desa yang jauh dari perkotaan.
Nathan membersihkan diri, ia merasa jijik setelah bertemu dengan Loly.
Pria tampan dengan tubuh kekar terlihat tampan menggunakan kemeja berwarna biru langit pas dibadan dan celana bahan berwarna hitam.
Mobil sport berwarna merah milik Nathan melaju dengan kecepatan tinggi.
Gudang organ berada di ujung desa mendekati hutan.
Untuk sampai di Gudang Nathan harus melewati banyak desa yang ramai akan penduduk dengan tradisi yang unik.
Mobil Nathan harus melambat ketika melewati pasar tradisional di sebuah desa tradisional bernama desa Sinjay.
Ia memperhatikan sekeliling, terlihat beberapa warga tersenyum dan menyapa Nathan.
Melihat keramahtamahan warga desa Nathan membuka kaca mobilnya.
Warga kagum melihat mobil merah Nathan yang berkilau cantik dan mewah.
Mereka menawarkan jualan kepada Nathan dengan senyuman.
Pandangan Nathan tertutup pada seorang wanita dengan gamis panjang menyapu tanah dan hijab melewati dadanya berjalan penuh semangat.
Senyuman manis dan ramah menyapa semua orang yang ia temui di jalanan.
Afifah, wanita Sholehah yang cantik dan suka membantu semua.
"Cantik." Nathan tersenyum.
Wajah putih berseri dengan dengan gigi tersusun rapi, hijab melambai tertiup angin.
Nathan menghentikan mobilnya di tempat parkiran. Ia melihat buah-buahan segar hasil pertanian lokal.
Nathan memperhatikan wanita cantik yang disambut baik oleh semua penjual.
"Sepertinya semua orang mengenal dan menyukainya." Nathan keluar dari mobil dan menyenderkan tubuhnya di pintu mobil.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan, sepertinya anda dari kota." Seorang pria muda menyapa Nathan dengan ramah.
"Ya, siapa wanita itu?" Nathan menunjukkan jarinya ke arah Afifah.
"Dia Bu guru Afifah dan juga seorang perawat, wanita sempurna serba bisa dan sangat baik." Pria itu itu tersenyum melihat Afifah.
"Ah, dia sangat cantik." Nathan tersenyum, ia berjalan mendekati penjual buah dan membeli beberapa macam buah lokal segar.
Nathan kembali ke dalam mobil, ia kehilangan Afifah.
"Kenapa wanita berjilbab terlihat cantik dan mempesona?" Nathan melihat sekeliling mencari Afifah
"Nisa, Ayesha dan Afifah, mereka sungguh luar biasa." Nathan tersenyum.
"Aku akan bertemu lagi dengan dirinya." Nathan menjalankan mobilnya menuju gudang.
Afifah kuliah di jurusan perawat, selesai itu di hari Sabtu dan Minggu ia kuliah di Universitas Terbuka jurusan Pendidikan Sekolah Dasar selama menjadi Guru honor di sekolah negeri.
Setahun mengajar sebagai guru honorer, Afifah menjadi pegawai Negeri sipil dan bersertifikat Guru Profesional.
Pagi hari Afifah mengajar di Sekolah Dasar, sorenya ia menjadi pengajar di TPA dan malam hari menjadi asisten Dokter Desa.
Semua warga mengenalinya, ia di sukai banyak orang dari anak-anak dan dewasa.
Bu guru cantik adalah panggilan untuk Afifah, ia sangat menyukai bunga, sehingga rumahnya yang sederhana memiliki taman bunga yang indah.
"Assalamualaikum." Afifah tersenyum kepada ibu penjual sayur.
"Waalaikumsalam, Bu guru cantik." Penjual sayur tersenyum kepada Afifah.
"Ada banyak sayur dan buah-buahan segar dari desa kita." Afifah memilih sayuran dan buah-buahan.
"Bu guru terlihat sangat senang." Penjual sayur tersenyum.
"Adikku akan pulang, aku sangat merindukan dirinya." Afifah tersenyum bahagia.
"Dia hanya mengunjungi diriku sebentar, dan akan kembali bekerja." Afifah tersenyum.
Afifah berkeliling berbelanja keperluan rumah tangganya.
"Bu Guru." Seorang anak kecil menarik gamis Afifah.
"Assalamualaikum, kesayangan Bu guru." Afifah berjongkok dan mengusap kepala siswanya.
"Waalaikumsalam Bu Guru." Anak kecil tersenyum malu.
"Biasakan salam ketika bertemu seorang." Afifah mencubit pipi chubby anak kecil.
"Baik Bu guru, maafkan Doni." Doni menunduk.
"Iya." Afifah mengacak rambut Doni.
"Bu guru belanja banyak sekali." Ibu Doni tersenyum
"Asraf akan pulang ke rumah, aku akan memasak untuk dirinya." Afifah tersenyum dan berdiri.
"Wah, sudah lama tidak melihat Asraf, ia pasti semakin tampan." Ibu Doni tersenyum.
"Terimakasih, Aku pamit pulang dulu, assalamualaikum." Afifah tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawab Ibu Doni.
"Sampai bertemu di Sekolah Doni." Afifah mencium kepala Doni.
"Sampai bertemu lagi Bu guru cantik." Doni tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Afifah yang berlalu meninggalkan mereka.
Afifah di hormati dan dihargai warga karena ketulusan hati dan keramahtamahan.
__ADS_1
Sebuah motor matic berwarna merah terang berada di tempat parkir.
Afifah mengendarai motornya kembali ke rumah.
Sebuah rumah yang sangat sederhana, dengan taman bunga, sayuran dan buah-buahan terawat di halaman belakang dan depan.
Rumah Afifah sangat sejuk dengan pepohonan yang rindang.
Halaman yang ditutupi rumput hijau dengan bunga berwarna kuning, dan pagar kayu di cat putih dengan lilitan tanaman rambat.
Rumah yang sangat menyegarkan mata dan pernapasan.
Afifah membuka pintu pagar dan masih bersama motornya berhenti di depan pintu.
Memulai aktivitas setiap hari Minggu, membersihkan rumah dan lingkungan sekitar.
Merapikan dan merawat tanaman, hari libur adalah waktu untuk Afifah bersama dengan rumah dan tanamannya.
***
Fauzan dan Asraf berada di ruang meeting room hotel.
Mereka sedang membahas untuk membalas kerusakan yang terjadi pada pabrik.
Fauzan telah memesan peralatan dan mesin baru agar pabrik bisa beroperasi kembali.
Mereka mengalami sedikit kerugian atas kebakaran yang terjadi pada pabrik.
Asraf menampilkan beberapa perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Zayn, salah satunya perusahaan Alexander.
"Asraf setelah selesai dengan urusan pabrik, aku akan menemani kamu kembali ke desa untuk bertemu dengan kakak kamu." Fauzan melihat Asraf yang sangat serius bekerja.
"Terimakasih Tuan." Asraf memberi hormat.
"Baiklah apa yang kamu temukan untuk membalas Zayn?" Fauzan memperhatikan layar monitor.
"Jika Anda benar-benar mau membalas Tuan Zayn, ini akan berdampak pada perusahaan lain dan karyawan." Asraf menampilkan kemungkinan yang akan terjadi.
"Hm, menganggu perekonomian negara dan warganya." Fauzan memutarkan pena dengan jarinya.
"Benar sekali Tuan." Asraf melihat kearah Fauzan.
"Aku tidak mungkin membuat karyawan Zayn kehilangan pekerjaan mereka." Fauzan berpikir keras.
"Saya tahu anda tidak mungkin melakukan itu." Asraf duduk, ia membuka berkas yang ada di atas meja.
"Bagaimana jika anda langsung menemui Zayn?" Asraf menyerahkan berkas kepada Fauzan.
"Meminta ganti rugi atau membuat ia rugi." Fauzan menatap Asraf.
"Anda benar Tuan, kita memiliki banyak bukti kejahatan Zayn dan cukup untuk membawa ia ke meja hijau." Asraf tersenyum.
"Kamu benar, kita menyerang dirinya sendiri dan bukan perusahaan." Fauzan tersenyum.
"Ya Tuan." Asraf tersenyum puas karena Fauzan setuju dengan ide nya.
"Baiklah, Zayn masih di rawat, kita bisa ke desa kami terlebih dahulu." Fauzan merapikan berkas dan menyerahkan kembali kepada Asraf.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1