
Kamar Indah yang telah lama mereka tinggalkan.
Sebuah lengan kekar memeluk tubuh yang tidak langsing lagi, ada janin kembar yang masih betah tertidur di rahim Nisa menunggu jadwal keberangkatan hadir di dunia.
Nisa memindahkan lengan Stevent, memperhatikan wajah tampan yang terlihat lelah.
Tubuh pria kaya itu seakan baru bertemu dengan tempat tidurnya, selama di rumah sakit mereka berdua harus berbagi tempat tidur pasien yang sempit dan tidak nyaman.
Nisa melihat jarum pada jam dinding raksasa yang unik dan klasik telah menunjukan pukul tiga dini hari.
"Sayang, bangunlah." Nisa mengusap wajah Stevent dengan jari lembutnya.
"Hmm." Stevent menarik tangan Nisa dan meletakkan di lehernya.
Stevent tidak mau membuka matanya, ia benar-benar baru merasakan tidur yang sebenarnya.
Nisa mencubit hidung Stevent dan mencium dahi suaminya.
"Sayang, aku masih mengantuk." ucap Stevent tanpa membuka matanya.
"Sayang, hari ini adalah sahur pertama kita." bisik Nisa di telinga Stevent.
"Hmm." Stevent membuka matanya perlahan.
Nisa berusah untuk beranjak dari tempat tidur, ia kesulitan perut yang semakin besar.
Stevent segera beranjak dari tempat tidur dan membantu Nisa.
"Terimakasih Sayang." Nisa tersenyum.
"Maafkan aku." ucap Stevent menemani Nisa berjalan menuju kamar mandi.
"Kita sholat dulu sebelum sahur." ucap Nisa.
Setelah melaksanakan shalat Tahajud, Nisa dan Stevent keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
Makanan telah tersedia di atas meja, tetapi kursi masih kosong. Nisa menatap Stevent
"Duduklah Sayang." Stevent menarik kursi untuk Nisa.
Stevent meninggalkan Nisa dan menaiki tangga menuju kamar Viona.
Ketukan pintu yang keras dan kasar dan panggilan suara yang menggetarkan kamar dan mengacaukan mimpi indah Viona.
Viona segera membuka mata dan berjalan menuju pintu.
"Kakak." ucap Viona mengucek matanya.
" Kamu akan sahur atau tidak?" tanya Stevent menatap tajam kepada Viona.
"Tentu saja aku akan sahur." Viona berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Stevent berdiri di depan pintu kamar Papa Alexander, tangannya terasa berat untuk mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya.
Namun, jika ia tidak melakukannya maka Nisa akan naik ke atas.
Viona berjalan mendekati Stevent yang masih mematung di depan pintu.
"Aku akan membangunkan Papa dan Mama, kakak temani kak Nisa." ucap Viona.
Tanpa sepatah kata Stevent segera turun dan berjalan menemui Nisa yang duduk sendirian di kursinya.
"Sayang." Stevent mencium dahi Nisa.
"Dimana yang lainnya?" tanya Nisa.
"Sebaiknya kita segera sahur." Stevent mengambilkan nasi untuk Nisa.
"Sayang." Nisa menahan tangan Stevent dan mengambilkan nasi untuk Stevent.
"Kita akan sahur bersama Papa, Mama dan Viona, kamu akan memimpin doa makan." ucap Nisa tersenyum.
Stevent tersenyum mengusap kepala Nisa, ia menahan emosi yang mulai meluap.
Stevent tidak pernah menunggu siapapun hanya untuk makan, begitu juga dengan meeting, ia selalu datang sesuai dengan yang telah di jadwalkan.
Viona turun bersama Mama dan tidak ada Papa Alexander.
Stevent menatap tajam ke arah Mama dan Viona, ia benci menunggu.
__ADS_1
"Maafkan Mama sayang." ucap Mama duduk di kursi.
"Papa dimana ma?" tanya Nisa lembut.
"Tidak usah tanyakan jika dia tidak mau." tegas Stevent.
Semua diam, Nisa melihat sedih kepada Stevent, ia tidak tahu masalah yang ada di antara dua pria itu sehingga mereka terlihat saling membenci.
Stevent memimpin doa sahur dan doa makan, mereka menikmati sahur pertama bersama tanpa Papa Alexander.
Setelah selesai makan Nisa yang Stevent memakan buah-buahan menunggu waktu imsak.
Segelas besar susu coklat khusus ibu hamil sebagai penutup sahur Nisa.
Viona dan Mama kembali ke kamar mereka untuk membersihkan diri dan menggosok gigi.
Nisa dan Stevent berada di dalam kamar mandi untuk mandi dan gosok gigi.
Mereka menunggu waktu Subuh dengan membaca Alqur'an bersama.
Terdengar adzan subuh Nisa dan Stevent segera melaksanakan shalat berjamaah.
Setelah sholat subuh Nisa dan Stevent membaca surah Al-waqiah bersama.
Udara subuh yang menyejukkan, menemani Nisa dan Stevent berjalan - jalan pagi di perkarangan yang luas.
"Sayang, selama berpuasa kamu tidak usah melakukan olahraga yang berat." ucap Nisa melihat Stevent yang telah berkeringat karena lari pagi.
"Sayang, aku tidak akan kelaparan dan kehausan." Stevent melakukan peregangan otot di samping Nisa yang berjalan santai.
"Apa kamu akan ke kantor?" tanya Nisa.
"Ya, dan kamu di rumah Abi." ucap Stevent.
"Aku di sini saja bersama Viona dan Mama." ucap Nisa.
"Tidak sayang, kamu lebih aman dirumah Abi." Stevent mencubit pipi Nisa yang semakin menggemaskan.
"Anak Papa, jangan tidur - tiduran jaga Mama kalian." Stevent mengusap perut Nisa.
Nisa tersenyum dan tidak akan membantah Stevent.
***
"Kak Nisa mau kemana?" tanya Viona.
"Aku akan ke rumah Abi." Jawab Nisa.
"Apa Aku boleh ikut?" tanya Viona melirik Stevent.
"Apakah ada Kenzo?" tanya Stevent dan Viona menggelengkan kepalanya.
"Masuklah!" perintah Stevent.
Mereka menggunakan mobil yang lebih besar agar Nisa tidak kesulitan.
Mobil Stevent melaju dengan kecepatan sedang memasuki perkarangan rumah Abi.
Seorang wanita bercadar sedang menyapu dedaunan yang gugur di halaman rumah.
"Ayesha." ucap Stevent refleks membuat Nisa dan Viona melihat kearahnya.
"Kamu mengenalinya?" tanya Nisa.
"Tentu saja, dia adik Fauzan, pria yang membuat Nathan tidak berani lagi mendekati dirimu." Stevent tersenyum.
"Kakak, kakak mengenali pangeran Fauzan." Viona berteriak membuat Stevent melotot kearah Viona.
"Maafkan aku." Viona segera membuka pintu dan keluar.
Stevent keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Nisa.
"Hati - hati Sayang." Stevent membantu Nisa.
Ayesha tersenyum melihat Nisa yang sedang hamil, ia sudah pernah melihat Nisa di rumah sakit tetapi tidak menyadari kedatangan Ayesha bersama Fauzan.
"Assalamualaikum." Ayesha memberi salam dan mendekati Nisa.
"Waalaikumsalam." Nisa tersenyum dan mereka saling berpelukan.
__ADS_1
"Dimana Tuan Fauzan?" tanya Stevent yang melihat sebuah mobil di samping mobilnya.
"Aku di sini." jawab Fauzan tersenyum tampan.
Stevent berjalan mendekati Fauzan dan saling berjabat tangan.
"Terimakasih telah membantuku." ucap Stevent.
"Itu adalah yang terbaik untuk wanita hamil, buatlah istrimu selalu bahagia." Fauzan menepuk pundak Stevent.
Viona diam membeku di samping mobil, ia sangat mengagumi Fauzan seperti seorang fans pada Aktor idolanya.
Umi dan Abi berjalan bersama keluar dari rumah dan akan pergi ke restoran.
"Nisa." Umi berteriak dan segera memeluk Nisa.
"Assalamualaikum Umi." Nisa memeluk Umi dengan erat melepaskan kerinduan diantara anak dan ibu.
Fauzan dan Stevent menyalami Abi dan mencium punggung tangan Abi.
"Apakah kalian saling kenal?" tanya Abi.
"Tentu saja, Tuan Fauzan adalah rekan bisnis ku." Stevent tersenyum.
"Ya Tuhan, ini benar-benar takdir yang Indah, hadiah di hari pertama aku berpuasa." Viona menunduk menutupi wajahnya.
"Tuan Fauzan perkenalkan istriku, Anisa Salsabila." Stevent menarik lembut Nisa.
Fauzan tersenyum dan tidak bersalaman, ia hanya mendekap kan tangannya di depan dada.
"Dan adik saya, Viona Alexander." Stevent mencari Viona.
"Ah Iya." Viona gugup.
"Sepertinya adik kamu harus lebih hati-hati dalam mengendarai mobil." Fauzan tersenyum.
"Dia tidak aku izinkan mengendarai mobil sendirian." tegas Stevent menatap Viona.
"Baiklah, lupakan, sebaiknya kita berangkat ke kantor kamu dan bertemu dengan beberapa klien." Fauzan merangkul Stevent.
"Aku harus pamit dengan istri ku." ucap Stevent dan Fauzan mengangguk.
"Sayang, jangan melakukan kegiatan yang melelahkan, aku berangkat dulu." Stevent mencium dahi Nisa.
"Hati - hati Sayang." Nisa tersenyum dan melambaikan tangannya.
Viona mencuri pandang melihat Fauzan yang tidak melihat dia sama sekali.
Stevent dan Fauzan berangkat bersama menuju perusahaan Stevent Lu Alexander menggunakan mobil Stevent.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya Stevent.
"Aku kira kamu tidak akan menikah." Fauzan tertawa.
"Dan sekarang kamu yang tidak akan menikah." ucap Stevent.
"Aku belum memikirkan wanita sama sekali, aku harus menjaga Ayesha dan memastikan dia menikah dengan pria yang tepat." ucap Fauzan tersenyum.
"Berapa usia adikmu?" tanya Stevent.
"Dia masih sangat muda, di usia 17 tahun sudah mendapatkan gelar dokter, sekarang usianya baru 22 tahun." jelas Fauzan.
"Tidak berbeda jauh dengan adikku Viona." tegas Stevent.
"Aku rasa adikmu masih sangat muda, ia terlihat seperti anak - anak." Fauzan tersenyum.
"Ya, dia masih kuliah dan nilainya selalu bagus." Stevent tersenyum.
Mobil terus melaju menuju perusahaan Stevent.
Mereka akan melanjutkan meeting yang sempat tertunda dengan beberapa pengusaha yang akan menawarkan kerjasama dengan Fauzan dan Stevent.
***
Selamat Menunaikan ibadah Puasa 🤗
Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan " Cinta Bersemi di ujung Musim"
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇