
Nathan duduk di kursi melihat ponsel dan kotak perhiasan berisi, gelang, cincin dan kalung berhiaskan berlian putih yang ia belikan untuk Afifah.
“Apa kamu tahu Afifah senyuman dirimu telah menghapuskan kenanganku tentang Nisa.” Nathan menyenderkan tubuhnya menatap langit cerah yang indah di malam hari.
“Kehadiran dirimu bagaikan magnet yang menarik diriku untuk membuka lembaran baru bersama cinta yang berbeda.” Nathan menarik napas dengan berat.
Ponsel Nathan berdering, sebuah nama yang tidak asing muncul di layar ponselnya yaitu Samuel, pemilik rumah sakit tempat Dokter Nada bekerja.
“Halo Sam, ada apa kamu menghubungi diriku?” Nathan menerima panggilan.
“Nayla terluka dan tidak sadarkan diri, ia baru dipindahkan dari IGD.” Samuel berada di ruangan Nayla.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Nathan tenang.
“Entahlah, datang dan lihatlah kondisi adik kamu, aku akan menunggu dirinya.” Samuel tidak jadi pulang, ia menemani Nayla.
“Baiklah, aku akan segera ke rumah sakit.” Nathan memutuskan panggilan dan membawa semua hadiah yang telah ia berikan kepada Afifah kembali ke Villa.
Nathan mengetuk pintu kamar Afifah yang tidak terkunci, ia masuk dan mencari wanita itu di setiap sudut ruangan yang ada di dalam kamar hingga masuk ke dalam kamar mandi.
‘Kemana dia?” Nathan meletakan kotak perhiasan di atas meja rias dan kembari menuruni tangga, memanggil kepala pelyan.
“Ada apa Tuan muda?” Kepala pelayan memberi hormat dan tersenyum.
“Dimana Afifah?” tanya Nathan khawatir.
“Nona ada di ruang baca.” Kepala pelayan mengangkat kepalanya melihat wajah tuan muda yang sedang jatuh cinta.
Nathan berjalan menuju perpustakaan pribadi miliknya yang dilengkapi dengan banyak koleksi buku dari berbagai jenis, tetapi yang paling banyak adalah kesehatan dan pengobatan. Seorang wanita duduk dengan anggun sedang membaca buku penuh dengan konsentrasi.
“Afifah.” Nathan berdiri di depan Afifah.
“Ya.” Afifah tetap fokus membaca.
“Adikku terluka, aku harus kerumah sakit.” Suara Nathan terdengar lembut.
“Rumah Sakit mana?” Afifah menutup buku dan melihat kearah Nathan yang menatap dirinya dengan sendu.
“Bukan, ini milik temanku Samuel.” Nathan tersenyum.
“Bagaimana keadaan adik kamu, apa dia baik-baik saja?” Afifah beranjak dari sofa dan meletakkan kembali buku pada tempatnya.
“Aku belum tahu, apa kamu mau ikut bersama dengan diriku?” Nathan memperhatikan Afifah.
“Aku tidak mau merepotkan dirimu.” Afifah melihat kea rah Nathan.
“Aku sangat senang jika kamu mau menemani diriku.” Nathan duduk di sofa.
“Baiklah, aku akan ikut.” Afifah tersenyum cantik.
Nathan sangat bahagia melihat senyuman cantik Afifah yang bisa dengan mudah melupakan kejadian yang baru saja terjadi, penolakan lamaran untuk yang kesekian kalinya tetapi itu tidak menyakiti dirinya selama Afifah terus berada di sampingnya.
Mereka berdua berjalan bersama menuju mobil dan duduk berdampingan di kursi bagian depan, Afifah memasang sabuk pengaman dan melihat kerah jendela memperhatikan jalanan kota yang sangat terang dan indah. Sesekali Nathan melirik wanita di sampingnya.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit Samuel hingga memasuki tempat parkir yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit. Afifah membuka sabuk pengaman dan bersiap membuka pintu.
“Afifah, bawa ponsel ini bersama kamu.” Nathan menyerahkan ponsel berwarna merah terang kepada Afifah dan ia segera keluar dengan cepat dari mobil agar bisa membuka pintu untuk wanitanya.
“Terimakasih, tetapi aku bisa melakukannya sendiri.” Afifah tersenyum.
“Aku senang bisa melayani dirimu.” Nathan tersenyum bahagia, ingin rasanya ia memeluk wanita di depannya tidak perduli beratus kali ia akn ditolak.
“Nathan.” Suara lembut dari seorang wanita berjalan mendekat kearah Nathan dan Afifah.
“Hai Dokter Nada, apakah kamu bersiap pulang?” Nathan tersenyum ramah.
“Ya.” Dokter Nada tersenyum, ia melihat tangan Nathan memegang gamis Afifah.
“Nathan, apa yang membawa kamu ke rumah sakit ini?” Dokter Nada tersenyum.
“Samuel menghubungi diriku dan mengatakan Nayla terluka.” Nathan melirik Afifah yang tersenyum memperhatikan Nada, ia tidak ingat dengan wanita yang berbicara dengan Nathan.
“Oh, apakah aku boleh ikut?” Dokter Nada tersenyum.
“Tentu saja tetapi Nayla adalah wanita yang tempramentalnya buruk.” Nathan menarik gamis Afifah.
“Nathan, siapa gadis cantik di samping kamu?” Dokter Nada benar-benar penasaran dengan Afifah, Nathan terlihat sangat perhatian seakan tidak mau mengalihkan pandangan dari wajah gadis imut itu.
“Dia calon istriku.” Nathan tersenyum melihat kearah Afifah yang diam tidak membantah, ia tidak mau membuat pria itu malu.
“Oh, selamat ya.” Dokter Nada tersenyum menutup kesedihan dan luka di dalam hatinya.
“Dia bercanda.” Afifah berbisik di telinga Dokter Nada dan tersenyum cantik memberikan harapannya.
Mereka berjalan bersama melewati koridor hingga sampai pada ruangan VIP, dimana Nayla terbaring dan berteriak kesal karena wajahnya yang dipenuhi perban dan rasa sakit yang luar biasa. Kebencian semakin memuncak kepada Viona yang telah membuat ia mengalami cidera.
“Afifah sebaiknya kamu tidak usah masuk ke dalam.” Nathan menatap Afifah dengan khawatir.
“Kenapa?” Afifah terlihat bingung.
“Adikku adalah wanita yang kasar, aku tidak mau dia menyakiti dirimu, apalagi ketika ia dalam kondisi yang tidak stabil, emosinya tidak terkontrol.” Nathan benar-benar mengkhawatirkan Afifah.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menunggu di luar.” Afifah tersenyum.
“Terimakasih, maafkan aku.” Nathan merasa bersalah meninggalkan Afifah sendirian.
“Aku akan menemani dirimu.” Dokter Nada tersenyum.
“Tidak usah, kamu bisa masuk bersama Nathan.” Afifah memegang tangan Dokter Nada dengan lembut.
“Jangan pergi kemanapun.” Nathan menarik gamis Afifah agar duduk di kursi.
“Apa aku oleh ke taman itu?” Afifah meninjukan jarinya pad ataman yang ada di samping kamar Nayla.
‘Tentu saja, hanya di taman.” Nathan tersenyum.
“Ya.” Afifah berjalan menuju taman yang terlihat indah dengan lampu berwarna warni dan air mancur yang berkilau bagaikan permata.
“Siapa gadis itu dan berapa umurnya, Nathan menatapanya penuh dengan cinta.” Dokter Nada berbicara di dalam hatinya dan ikut Nathan masuk kedalam kamar.
“Nayla, apa yang terjadi pada wajah kamu?” Nathan berjalan mendekati Nayla yang telah duduk.
“Nathan, Viona telah menghancurkan wajahku, kamu harus membalasnya dengan melakaukan hal yang sama pada gadis itu.” Nayla memeluk Nathan.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” Nathan melihat kearah Samuel.
“Aku tidak tahu, ketika aku akan pulang, seorang pria menggendong Nayla dan mengantarnya ke ruang IGD, setelah itu ia pergi.” Samuel melihat Nayla yang memeluk erat tubuh Nathan.
“Bisakah tinggalkan kamu berdua?” Nathan melihat kearah Dokter Nada dan Samuel.
“Tentu saja teman, hubungi aku jika kamu butuh sesuatu.” Samuel menepuk pundah Nathan dan berjalan keluar ruangan.
“Aku pulang dulu.” Dokter Nada melihat Nayla sekilas.
“Terimakasih.” Nathan melihat Dokter Nada dan Samuel telah meninggalkan ia dengan Nayla, ia mau bertanya semua kejadian yang telah dialami oleh adiknya sehingga wajah menjadi hancur.
“Dokter Nada, apa anda baru mau pulang?” tanya Samuel pada Dokter Nada.
“Iya Tuan, saya permisi.” Dokter Nada berjalan meninggalkan Samuel yang masih duduk di kursi tunggu.
“Apa yang terjadi kepada Nayla?” Samuel melihat seorang gadis dengan gamis dan hijab berwarna merah duduk seorang diri memainkan air di tengah-tengah taman.
“Siapa gadis itu, di terlihat cantik denga pakain berwarna merah terang di bawah sinar lampu.” Samuel berjalan mendekati Afifah.
“Selamat malam nona, apa yang kamu lakukan duduk seorang diri disini?” Samuel melihat wajahcantik dan putih bersih tersenyum kepada dirinya.
“Ya Tuhan, gadis ini cantik sekali bagaikan peri kecil dari negeri dongeng.” Samuel tersenyum.
“Aku hanya menunggu teman yang sedang mengunjungi adiknya.” Jari-jari cantik Afifah memainkan bunga teratai yang ada di dalam kolam.
“Tidak apa.” Afifah menyentuh ikan kecil yang keluar dari dalam kolam.
“Apa kita boleh berkenalan?” Samuel mengulurkan tangannya.
“Tentu saja tetapi maafkan aku jika tidak bisa mengingat nama kamu.” Afifah tersenyum.
“Samuel, pemilik rumah sakit ini.” Samuel tersenyum.
“Afifah.” Afifah menerima uluran tangan Samuel sekilas.
“Berapa usia kamu?” tanya Samuel penasaran.
“Apa kamu berpikir aku adalah gadis remaja berusia 18 tahun.” Afifah tersenyum cantik.
“Ya, jika hanya melihat wajah kamu tetapi cara kamu berbicara kamu adalah wanita dewasa.” Samuel memperhatikan Afifah dari atas hingga kebawah.
“Kamu benar, aku bukan gadis remaja seperti banyak orang pikirkan.” Afifah tersenyum, karena sering dikira gadis sekolahan.
“Malam semakin larut, apa kamu tidak mau pulang?” Samuel terus memperhatikan wajah cantik dengan bibir mungil berwarna merah.
‘Temanku akan menjemput diriku disini, aku telah berjanji untuk tetap menunggu hingga ia datang.” Afifah beranjak dari pinggir kolam dan duduk di ayuanan tali yang tergantung di pohon.
“Dimana adik teman kamu di rawat?” Samuel berjalan mendekati Afifah.
“Ruangan itu.” Afifah menunukkan jarinya pada ruangan Nayla.
“Apakah kamu datng bersama Nathan?” Samuel penasaran.
“Ya, apa kamu mengenali dirinya?” tanya Afifah.
“Kami berteman.” Samuel tersenyum dan duduk di samping Ayunan.
“Kalian luar biasa, sama-sama memiliki rumah sakit.” Afifah tersenyum dan mulai berayun.
“Apakah kamu sudah lama berteman dengan Nathan?” Samuel memperhatikan Afifah dari samping.
“Entahlah, aku rasa belum genap satu bulan, aku tidak ingat tepatnya.” Ayunan Afifah semakin kencang, hijab dan gamisnya melayang di udara.
***
Nathan melepaskan pelukan Nayla dan mendengarkan cerita memalukan yang dilakukan adiknya di kamar hotel hingga terjadi perkelaian dengan Viona.
“Tidurlah, aku harus bertemu dengan dokter yang merawat luka pada wajah kamu.” Nathan memperhatikan wajah Nayla yang terluka parah.
__ADS_1
“Sepertinya batang hidung kamu patah?” Nathan menyentuh dagu Nayla.
“Aku bahkan kehilangan dua gigi.” Nayla berteriak dan menangis.
“Jangan berteriak, itu akan menambah kerusakan pada wajah kamu.” Nathan memegang pundak Nayla agar ia berbaring.
“Besok aku akan kembali.” Nathan mencium dahi Nayla dan keluar dari ruangn. Ia membuka layar ponsel dan melihat lokasi Afifah.
“Dia masih di taman.” Nathan tersenyum, ia berjalan menuju taman.
Langkah kaki Nathan terhenti, ia melihat Samuel yang sedang berbicara dan terus menatap Afifah dengan tatapan keinginan untuk memiliki. Api cemburu menyala di dadanya karena Afifah hanya miliknya.
“Sam, kenapa kamu belum pulang.” Nathan menghentikan ayunan Afifah dengan kedua tangannya.
“Aku melihat seorang wanita cantik duduk sendirian di taman.” Samuel tersenyum.
“Oh, dia adalah kekasihku.” Nathan menarik gamis Afifah.
“Benarkah, aku tidak percaya.” Samuel tersenyum.
“Sayang, ayo kita pulang malam sudah larut.” Nathan tersenyum kepada Samuel.
“Kami pulang dulu, terimaksih telah menemani saya.” Afifiah menunduk dan tersenyum.
“Dia milikku.” Nathan berbisik di telingan Samuel.
“Kamu selalu menemukan berlian yang indah lebih dulu dari diriku.” Samuel tersenyum kecut melihat Afifah dan Nathan berjalan bersama meninggalkan diirnya sedirian.
“Bagaiamana kabar adik kamu?” Afifah masuk ke dalam mobil.
“Sepertinya, ia harus melakukan operasi pada wajah.
“Lukanya sangat parah.” Afifah memasang sabuk pengaman.
“Lumayan, ia suka gegabah dalam bertindak sejak tidak ada Herry disamping dia.” Nathan menajalankan mobil meninggalkan rumah sakit.
"Mungkin ia terlalu dimanja." Afifah melihat kearah Nathan.
"Kamu benar, karena sikap dirinya aku tidak suka dengan wanita manja tetapi aku senang bisa memanjakan dirimu." Nathan tersenyum.
"Aku tidak terbiasa diperlakukan seperti itu." Afifah menoleh kearah kaca jendela mobil.
"Kamu akan terbiasa, katakan apa yang harus aku lakukan untuk dirimu?" Nathan melihat Afifah sekilas dan kembali fokus ke jalanan.
"Mengantarkan aku kembali ke desa." Afifah berbicara tanpa melihat Nathan.
Tiba-tiba mobil berhenti di pinggir jalan, Afifah melihat kearah Nathan, yang terlihat menahan emosi, pahatan wajahnya mengeras.
"Apa kamu mau meninggalkan diriku?" Nathan menatap tajam kepada Afifah.
"Itu adalah tempat aku berasal dan kota ini terasa asing bagiku, aku yakin kamu bukanlah kekasihku." Afifah menatap Nathan tanpa rasa takut.
"Aku adalah kekasih kamu sejak kita bertemu dan kamu tidak bisa menolak itu." Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah.
"Kenapa kamu memaksakan kehendak kepada diriku?" tanya Afifah.
"Karena aku mencintai dan menginginkan dirimu." Nathan tersenyum wajahnya semakin dekat, tubuh Afifah telah terkunci di didinding pintu mobil.
"Kamu telah menolak menikah dengan diriku tetapi kamu tidak akan pernah bisa menolak untuk tidak tinggal bersama dengan diriku selamanya." Nathan tersenyum dan hembusan napasnya dapat Afifah rasakan.
"Aku rasa wanita tadi menyukai dirimu." Afifah mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak perduli karena yang aku inginkan adalah Afifah, gadis yang ada di depan ku saat ini." Nathan kembali menjalankan mobilnya hingga sampai ke villanya.
"Aku telah membeli sebuah villa di pinggir pantai, apa kamu mau pindah ke sana?" Nathan menahan sabuk pengaman Afifah.
"Apa aku bisa menolaknya?" Afifah menatap tajam kepada Nathan.
"Tidak." Nathan membuka sabuk pengaman Afifah.
Afifah berjalan cepat menuju kamarnya, ia tidak mau berlama-lama dengan Nathan yang bisa bertindak berlebihan ketika sedang marah.
"Aku harus keluar dari villa ini dan pergi jauh dari pria itu." Afifah berbicara di dalam hatinya.
"Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku karena aku tidak akan pernah memberikan kesempatan itu." Nathan tersenyum melihat Afifah yang telah masuk ke dalam kamarnya.
"Ketika aku telah jatuh cinta, aku tidak akan pernah melepaskannya." Nathan masuk ke kamar dirinya.
Cinta akan terus terjaga bersama dengan pemilik hati untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan dari pasangannya.
Cinta bukanlah mencari kesempurnaan tetapi menemukan pasangan yang menyempurnakan cinta.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1